
Cuaca pagi yang cerah telah menerangi seluruh alam di kota tempat tinggal Alberto. Dan, pagi ini pastinya mentari sudah menampakkan cahayanya yang begitu indah.
Alberto yang lebih awal bangun dibandingkan Ziya, menoleh ke arah samping dan melihat wajah cantik Ziya yang tertidur pulas di sampingnya itu.
" Sepertinya dia belum sanggup untuk mengimbangi nafsu hasrat yang aku miliki," Ucap Alberto yang menatap wajah cantik Ziya sambil menciumi bibir Ziya dengan lembut.
Setelah mencium bibir Ziya dengan lembutnya Alberto segera melangkahkan kakinya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Di dalam kamar mandi Alberto yang sedang di bawah shower dan semua air yang mengalir dari shower telah mengalir sempurna menyegarkan tubuhnya saat ini.
Alberto berpikir apa yang dimaksudkan dari perkataan Daniel padanya dan kenapa kepala Ziya sering sakit dan menyebabkan dirinya pingsan saat menahan rasa sakit itu.
" Kenapa, dia sering merasakan sakit di kepalanya dan karena, rasa sakit itu membuat dirinya sering pingsan." Ucap Alberto sambil berpikir lebih dalam lagi tentang keadaan yang terjadi pada Ziya.
" Bukan hanya kali ini aku melihatnya, semenjak kepalanya dibenturkan oleh wanita sial itu menggunakan guci, sampai saat ini kepalanya sering merasakan sakit." Pikir Alberto yang telah terjadi dalam keadaan Ziya
Memang benar selama ini Alberto memang sudah seringkali melihat Ziya yang menahan rasa sakit di kepalanya. memang bukan hanya kali ini saja, melainkan sudah sering, yang pertama saat Alberto memeluk tubuhnya di dalam kamar Demian disaat itu Ziya mengatakan bahwa kepalanya masih terasa sakit.
Memang benar saat itu kepalanya terasa sakit dikarenakan lukanya masih basah dan belum mengering. Yang kedua dimana saat Alberto menyentuh tubuhnya untuk pertama kalinya, di malam itu Ziya juga merasakan sakit yang sama seperti malam ini. Alberto berpikir bahwasanya disaat dirinya pertama kali menyentuh Ziya itu, pada malam itu Ziya juga terlihat sedang menahan rasa sakit di kepalanya.
" Ooohhh Sh. it kenapa aku tidak menyadarinya," Ucap Alberto yang merutuki kebodohan sendiri.
Lalu, disaat kejadian mengenaskan yang menimpa Ziya, Alberto yang sedang memeriksa keadaan di kamarnya melalui layar CCTV ia juga melihat bahwa sebelum Ziya pingsan, Ziya juga merasakan hal yang sama yaitu menahan sakit di kepalanya.
" Ooohhh,, Damn it, kenapa aku bodoh sekali,," Gerutu Alberto pada dirinya sendiri.
Alberto menyadari bahwa selama ini perilaku dinginnya terhadap Ziya, perlakuan kasarnya pada Ziya menyebabkan suatu penyesalan terbesar pada dirinya.
" Seharusnya, aku tidak berbuat seperti itu padanya,," Ucap Alberto yang merasa bahwa dirinya telah bersalah.
" Aku akan segera bertanya pada Daniel," Ucap Alberto seketika lalu terputus.
Sesaat Alberto berpikir bahwa dibandingkan dengan Daniel saja lebih baik dirinya juga menghubungi adiknya yang begitu pintar dalam penelitian tubuh manusia yaitu Axeloe. Jadi, kemungkinan dia akan mendapatkan dua ide dan dua cara terbaik untuk mengobati Ziya.
Di saat ini Alberto lebih mendapatkan suatu ide yang terbaik bagi dirinya dalam hal mengetahui rasa sakit yang selalu dialami oleh Ziya !
" Tapi jika hanya memberitahu Daniel maka aku hanya mendapatkan satu kemungkinan besar saja, lebih baik aku segera menyuruh Axeloe kembali." Ucap Alberto yang berpikir bahwa saat ini dirinya lebih baik banyak mendapatkan suatu hal yang terbaik untuk Ziya.
Setelah selesai berencana di dalam mandinya itu, Alberto segera keluar dari kamar mandi dan membuka lemari pakaiannya. Setelah mendapatkan pakaian yang sesuai untuk dirinya hari ini, Alberto kembali menuju ke tempat tidur dan melihat keadaan Ziya. Ternyata, Ziya masih tertidur dengan pulasnya.
Dalam seketika Alberto tersenyum melihat Ziya yang masih tertidur pulas itu, lalu Alberto segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar, untuk melihat keadaan Demian, apakah Demian sudah terbangun dari tidurnya dan pastinya Demian segera mencari Mommynya.
Ternyata benar, baru saja Alberto membukakan pintu kamarnya, suara nyaring Demian sudah terdengar di luar pintu.
" Daddy,, buka pintunya,," Teriak Demian yang sengaja mengetuk pintu kamar Alberto.
Dalam satu putaran kunci, Alberto sudah membukakan pintu kamarnya. Terlihatlah wajah lucu Demian yang segera masuk ke dalam kamarnya itu.
" Daddy mana Mommy,," Oceh Demian yang mendongakkan kepalanya menatap wajah Alberto.
Alberto memberikan tanda di wajahnya dengan meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri bahwa saat ini Demian tidak berteriak yang nyaring untuk menanyakan keberadaan Ziya.
" Ssssstttt,, Mommy masih tidur, Demi,," Ucap Alberto di hadapan Demian.
Demian seolah mengerti maksud dari perkataan Alberto padanya itu. Sehingga dengan senyuman lucunya Demian menganggukkan kepalanya.
" Oohh,, jadi Mommy masih tidul ya Dad,," Tanya Demian dengan mengecilkan volume suaranya.
" He'eh,," Jawab Alberto mengangguk.
" Demi mau pelgi sekolah dan sebelum pelgi Demi ingin cium Mommy Dad,," Ucap Demian meminta izin dari Alberto untuk menemukan dirinya dengan Ziya.
" Ok, Demi boleh bertemu dengan Mommy dan cium Mommy asal jangan ganggu Mommy yang masih tertidur." Bilang Alberto yang membuat Demian teriak penuh keceriaan.
" Holeee,, Thank you Dad,," Ucap Demian pada Alberto.
" Heemm, Come,," Ajak Alberto pada Demian sambil menuntun tangan Demi untuk masuk ke dalam ruang tempat tidurnya.
Setelah sampai ke ruang tempat tidurnya, Demi melihat bahwa memang benar Ziya masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Sesaat Demian tersenyum polos melihat Ziya yang masih tertidur itu. Lalu, Alberto segera menggendong Demi dan meletakkannya di atas tempat tidur tepat di samping Ziya.
" Daddy bolehkan Demi pamit dulu pada Mommy,," Tanya Demian menatap wajah Alberto dengan tatapan memelas.
" Iya sayang,, cium dan peluk Mommy," Ucap Alberto yang menyuruh Demian untuk memeluk dan mencium Ziya.
" Yes Dad,," Jawab Demian girang.
Dengan segera Demian mendekatkan tubuhnya pada tubuh Ziya lalu, mencium pipi Ziya dan terakhir memeluk Ziya.
" Mommy, Demi pelgi sekolah dulu ya, nanti setelah Demi pulang sekolah kita main belsama lagi." Ucap Demi dengan wajah lucu yang segera memeluk tubuh Ziya.
Ziya yang sungguh nyenyak dalam tidurnya itu, sama sekali tidak mengetahui tindakan Demi yang sengaja datang ke kamar ini untuk berpamitan pergi ke sekolah.
Setelah selesai memeluk dan mencium Ziya, dengan segera Demi merentangkan kedua tangannya pada Alberto menandakan bahwa dirinya ingin turun dari tempat tidur dan akan pergi ke sekolah.
" Daddy,," Ucap Demi merentangkan kedua tangannya.
Alberto segera menyambut tubuh Demian dan menggendongnya. Lalu, Alberto segera membawa Demian keluar dari kamar dan mengantar Demi ke depan pintu untuk pergi ke sekolah.
" Daddy, kenapa Mommy seling sakit dan sekalang Mommy tidak bisa lagi mengantal Demi sekolah,," Ucap Demian menanyakan tentang keadaan Ziya dengan wajah sendunya.
" Heemm,, Demian tidak usah sedih, Mommy tidak apa-apa, karena, Mommy baru saja sembuh dari sakitnya, Oleh sebab itu Mommy tidak bisa mengantar Demi sekolah, jika Mommy sudah sembuh pasti Mommy akan mengantar Demi sekolah ya,," Ucap Alberto yang berjalan keluar dari kamarnya sambil membujuk Demian.
" Yes Dad, semoga Mommy cepat sembuh,," Ucap Demian sebelum turun dari gendongan Alberto.
Setelah sampai di depan pintu kamarnya Alberto. Dengan segera Alberto menurunkan Demian, dan dengan pintarnya Demian juga berpamitan dengan Alberto.
" Daddy, Demi pelgi sekolah dulu ya,," Ucap Demi yang berpamitan pada Alberto.
" Heemm,," Jawab Alberto mengangguk.
Setelah melihat Demian pergi ke sekolah, dengan segera Alberto memerintahkan kepada pelayannya untuk membawa sarapan ke dalam kamarnya.
" Bawakan sarapan pagi," Ucap Alberto yang memerintahkan pada pelayannya untuk segera membawakan sarapan pagi untuk dirinya dan juga Ziya di dalam kamar.
" Baik Tuan,," Jawab semua pelayan Alberto.
Semua pelayan seakan mengerti maksud dari perintahan Alberto. Alberto segera kembali masuk ke dalam kamarnya, Tak lama kemudian pelayan berdatangan ke depan kamar Alberto dan mengantarkan sarapan sesuai pesanan Tuan Besarnya itu.
Setelah selesai meletakkan makanannya dan seperti biasa mencicipinya terlebih dahulu sebelum dimakan oleh Alberto, semua pelayan pun keluar dari kamar. Tinggallah Alberto sendiri yang sengaja membuka pintu ruangan tempat tidurnya dengan ruangan santai di kamarnya itu.
Alberto, segera melangkahkan kakinya mendekati Ziya yang masih tertidur pulas.
Heemmm,, Pagi ini Ziya bangun sedikit kesiangan dan merasa bahwa tubuhnya seakan remuk karena, sesi bercintanya tadi malam, Ziya merasa bahwa dirinya telah tertidur sendiri di atas tempat tidur.
" Eemmm,, kemana,," Ucap Ziya yang masih memejamkan matanya sambil mencari-cari keberadaan Alberto.
Ziya meraba-raba tubuh Alberto di sampingnya ternyata tidak ada, tapi, kenapa aroma tubuh Alberto terasa begitu dekat dengan cuping hidungnya.
" Bau tubuhnya ada tapi kemana orangnya,," Ucap Ziya lagi yang membuat Alberto tersenyum sendiri melihat tingkah laku Ziya yang sengaja mencari dirinya.
" Bangunlah,, apa kau masih mau tertidur." Ucap Alberto pada Ziya yang menatap kelakuan Ziya yang sengaja mencari-cari keberadaannya itu.
Karena, mendengar suara Alberto menyuruhnya bangun, Ziya sedikit membukakan satu matanya, ternyata saat ini Alberto sudah terlihat begitu rapi dan bersih. Terlihat begitu gagahnya dan berwibawa seperti biasa saat mata Ziya melihat keadaan Alberto. Berbeda dengan dirinya saat ini, rambut yang berantakan dan baju yang tidak karuan lagi bentuknya.
" Maaf, kalau aku bangun kesiangan,," Ucap Ziya yang sedikit nyengir kuda di hadapan Alberto.
Alberto mengerti akan keadaan Ziya yang terlihat lelah sekali pagi ini.
Dengan perlahan Ziya menguatkan tubuhnya untuk bangun dari tidurnya itu, dalam seketika Ziya mendengarkan lagi ucapan Alberto yang menyuruhnya untuk mandi dan membersihkan tubuhnya. Baru setelah itu mereka akan sarapan bersama.
" Heemmm, pergi mandi atau mau mandi bersama denganku,," Ucap Alberto yang menggoda Ziya.
" Kau sudah mandi untuk apa mandi lagi bersama denganku,," Tolak Ziya langsung atas ucapan Alberto padanya.
Alberto sedikit terkekeh mendengar ucapan penolakan dari Ziya.
" Hahahaha, kau kenapa mudah sekali menolak keinginanku,," Tanya Alberto yang mendekatkan wajahnya pada Ziya.
Spontan Ziya sangat malu dengan keadaan tubuhnya yang baru saja bangun tidur, akan terlihat tidak rapi, jelek dan kemungkinan juga bau.
" Eeemmmm,, kau mau apa,," Tanya Ziya pada Alberto sambil menutup mulutnya sendiri.
Melihat respon Ziya yang malu dan menutup mulutnya, Alberto tersenyum sendiri melihat kelakuan Ziya seperti anak kecil. Dengan cepat Ziya menjauhi tubuh Alberto dan turun dari tempat tidurnya. Lalu, melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
" Aku mau mandi,," Ucap Ziya segera meloncat ke bawah dan pergi meninggalkan Alberto.
Alberto yang tersenyum nakal saat melihat Ziya yang sedang pergi ke kamar mandi, segera berlari mengejar Ziya untuk menggoda Ziya lagi yang sedang berada di dalam kamar mandi. Sontak Ziya berteriak melihat Alberto sudah menggendong tubuhnya lagi untuk masuk ke dalam kamar mandi.
" Aaakkkhh, Alberto apa yang kau lakukan,," Teriak Ziya yang merasa bahwa kelakuan Alberto sungguh sungguh hyper dalam naf-su bira-hinya itu.
" Aku hanya ingin mengantarmu mandi,," Ucap Alberto yang sengaja menggendong Ziya untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Dengan lembut Alberto meletakkan Ziya di dalam bathtub lalu membuka baju Ziya satu persatu, setelah itu Alberto segera menghidupkan kran air ke dalam bathtub, setelah selesai, Alberto segera mengelus tubuh Ziya menggunakan sabun yang telah ada. Ziya merasa risih akan tindakan Alberto yang sengaja memandikan dirinya itu.
" Alberto apa yang kau lakukan, aku bisa sendiri,," Ucap Ziya yang menatap Alberto sedang sibuk mengelus tubuhnya itu.
" Tidak ada penolakan," Bilang Alberto yang segera membuka bajunya juga dan masuk ke dalam bathtub.
Ziya terperangah saat melihat Alberto yang sedang membuka bajunya sendiri dan ikut masuk ke dalam bathtub.
" Alberto bukannya kau sudah mandi, rambutmu juga masih basah, kenapa ikut masuk ke dalam sini,," Oceh Ziya sengaja menolak tingkah Alberto yang ikut masuk ke dalam bathtub dan mengganggu dirinya.
" Tidak ada penolakan," Jawab Alberto yang sudah duduk tepat di belakang Ziya.
Saat ini Alberto mendapatkan posisi yang begitu menguntungkan dirinya, dengan sengaja Alberto duduk sambil memanjangkan kakinya dan meletakkan Ziya duduk di atas pangkuannya. Secara otomatis kulit mereka di bagian bawah bertemu kembali. Ziya merasakan bahwa sepertinya Alberto menginginkan hal itu lagi. Dengan segera Ziya ingin maju ke depan tapi dengan sigapnya, Alberto menarik tubuh Ziya dan menempel dengan dadanya saat ini.
" Jangan pernah menolak keinginanku,," Ucap Alberto dingin pada Ziya.
" Tapi, Alberto aku masih lelah,," Jawab Ziya sambil menyunggingkan senyumannya terlihat seperti bahwa saat ini dia terpaksa menolak keinginan Alberto itu.
" Aku tidak menginginkan itu, aku hanya ingin mandi berdua denganmu,," Ucap Alberto yang sengaja mengendus bagian belakang tubuh Ziya.
Ziya merasa bahwa ucapannya itu sangat memalukan dan terlihat sekali saat ini wajahnya memerah, lalu, Ziya pun mengalihkan pembicaraannya pada Alberto. Ziya teringat dengan ucapan Vena kemarin disaat Vena sedang keracunan, Vena pernah menyebutkan nama Martin. Ziya teringat dan apakah saat ini dirinya boleh bertanya tentang Martin, Ziya merasa sedikit takut untuk menanyakan hal itu pada Alberto, tapi, rasa penasarannya begitu besar dibandingkan rasa takut dalam dirinya.
Menyampaikan identitas aslinya saja Ziya berani saat menghadapi Alberto yang masih bersikap dingin dengannya, apalagi saat ini Alberto sudah tidak lagi bersikap dingin padanya. Akhirnya Ziya segera memberanikan dirinya untuk bertanya tentang Martin.
" Alberto,," Panggil Ziya pada Alberto.
" Hem,," Jawab Alberto singkat sambil *******-***** lembut gunung kembar milik Ziya.
" Apakah aku boleh bertanya,?" Tanya Ziya perlahan-lahan untuk membuka pembicaraannya itu.
" Katakan,," Jawab Alberto yang masih sibuk mengusap tubuh Ziya menggunakan sabun.
" Aku ingin bertanya tentang perkataan Vena yang menyebutkan nama Martin,," Tanya Ziya yang membuat Alberto sedikit kaget dan menghentikan pekerjaannya itu.
Disaat Ziya bertanya pada Alberto tentang Martin. Alberto sendiri sedikit kaget mendengarkan pertanyaan dari Ziya. Karena, Alberto juga belum memberitahu fakta kejahatan Martin pada Ziya. Bahwasanya orang yang mencelakakan Ziya itu adalah Martin.
****
Demi Readers tercinta 🥰🥰
Author akan selalu update 3 bab perhari 😘😘
Jangan lupa Like 👍, Komen 💬 and Favorit ❤️ Serta Hadiah ama Vote nya ya Readers Heheheh 🤪🥳🥰💪😁✌️🤭