
Karena, Vena selalu menolak akan perintah yang diberikan oleh Axeloe itu, sehingga membuat Axeloe tetap memaksa Vena menuruti perintahnya dan menggendong tubuh Vena agar Vena tidak bisa melawan dari dirinya. Axeloe sengaja menggendong Vena dan membawa Vena menuju ke tempat tidurnya, walaupun saat ini Vena memukul dada Axeloe serta memberontak dalam gendongan itu. Namun, tidak membuat Axeloe gentar dalam menggendong wanita yang sudah ada di kamarnya ini.
" Tuan, lepaskan saya, Tuan mau apa,," Teriak Vena yang meronta-ronta saat digendong Axeloe sambil memukul dada Axeloe dengan sekuat tenaganya.
Sudah berapa kali Vena berteriak meminta pada Axeloe agar dirinya bisa diturunkan dan juga dilepaskan. Sungguh jelas sekali terlihat dari raut wajah Vena ketakutan dan juga kecemasan atas sikap Axeloe yang sedang memaksanya serta menggendongnya menuju ke tempat tidur. Di dalam pikiran Vena saat ini hanyalah sebuah pikiran buruk yang akan dilakukan oleh Axeloe pada dirinya.
" Ya Tuhan, bagaimana aku, apa yang akan dilakukan oleh Tuan Axeloe,," Ucap Vena dalam hatinya sambil memberontak dan tetap memukul dada Axeloe sekuat tenaganya.
Setelah sampai di dekat tempat tidur dengan segera Axeloe meletakkan Vena ke atas kasur dan langsung menahan tubuh Vena menggunakan tubuhnya sendiri. Agar bisa membuat Vena terdiam sejenak, karena, Axeloe akan memberitahukan Vena bahwa ia meminta sedikit bantuan dari Vena yang profesinya juga sama dengannya yaitu merupakan seorang tim kesehatan.
" Diam, tidak perlu berteriak lagi, aku hanya memerlukan dirimu ini hanya sebentar saja,," Ucap Axeloe sambil meletakkan tubuh Vena ke atas tempat tidur.
" Aakkhh, sakit,," Teriak Vena ketika tubuhnya telah diletakkan di atas tempat tidur dan sengaja ditindih oleh Axeloe dengan tubuh besarnya itu.
" Tuan saya mohon jangan lakukan ini, saya bukanlah wanita seperti apa yang ada dalam pikiran, Tuan,," Ucap Vena memohon pada Axeloe yang telah menguraikan air matanya karena, merasa tubuhnya telah ditindih oleh Axeloe.
" Hei kenapa kau selalu berkata seperti itu,, aku tidak bermaksud apapun pada dirimu,," Ucap Axeloe yang sengaja menindih tubuh Vena agar Vena tidak memberontak dan pergi lagi.
" Tuan, jangan lakukan ini, aku bukan wanita seperti itu,," Ucap Vena yang sudah menumpahkan air matanya begitu deras memohon belas kasihan dari Axeloe.
" Memangnya aku mau melakukan apa padamu, haahh,, kau bukan tipe wanita pemuas naf.suku,," Ucap Axeloe dengan suara yang sangat jelas hingga membuat Vena sedikit terdiam ketika mendengarkan ucapan Axeloe itu.
" Diam, stop menangis,," Ucap Axeloe lagi dengan suaranya yang terdengar lantang di telinga Vena.
" Dengar, kau seorang perawat bukan, aku hanya meminta bantuanmu, untuk menggantikan ini,," Ucap Axeloe sambil melonggarkan tindihan tubuhnya pada tubuh Vena dan menunjukkan sebuah benda berwarna putih yang membalut dada Axeloe.
Karena, sudah meletakkan Vena ke atas tempat tidur dan menindih tubuh mungil itu dengan tubuhnya yang cukup besar dibandingkan Vena. Akhirnya Axeloe memberitahukan tujuannya yang sengaja ia lakukan untuk mengajak Vena ke dalam kamarnya. Betapa terkejutnya Vena ketika melihat Axeloe yang membukakan kemejanya dan terpampang jelas bahwa di bagian dadanya tertutup perban yang cukup tebal.