Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 91 - Ancaman Hebat



Alberto yang memang sengaja memilih tidur di belakang Ziya supaya bisa memeluk tubuh Demian dan menempel erat dengan tubuh istrinya itu, membuat Ziya merasa bahwa Alberto akan mendapatkan pelajaran darinya.


" Kau sengaja Alberto, mengambil kesempatan untuk menyentuh tubuhku dan mendapatkan tubuhku ini, tapi, apakah kau tahu, bagaimana perasaanku yang paling terdalam saat kau lukai dan saat kau rendahkan, aku akan memaafkan semua perbuatan yang kau lakukan, asal kau tidak lagi merendahkan martabatku sebagai seorang wanita,," Gumam Ziya dalam hati sembari memandang wajah Alberto.


Semenjak Ziya merasa direndahkan oleh Alberto dan Alberto bersikap kasar padanya, mengecap dirinya seorang perempuan yang hina, menjadikannya seorang perempuan tahanan yang selalu berada di kamarnya, menjadikan dirinya seperti mainan seakan-akan Ziya merupakan pemuas naf-su bira-hinya membuat Ziya saat ini sedikit memberikan perubahan sikap acuh dan cuek pada Alberto sekaligus memberi pelajaran terhadap sikap Alberto selama ini.


" Baik, kita lihat saja, Alberto kemarin kau bisa melakukan tindakan kasar padaku, karena, memang salahku yang telah bersandiwara di depanmu,, saat ini kau sudah tahu bahwa aku bukanlah Zoya dan kau masih menganggap ku Zoya, maka sandiwara yang aku lakukan tetap berlanjut, apakah kau masih bisa bersikap kasar pada diriku," Gumam Ziya dalam hati sambil memandang wajah Alberto sambil menyunggingkan sedikit senyumannya.


Karena melihat Ziya tersenyum sendiri sambil menatap wajahnya, Alberto pun berpikir apa yang sedang Ziya pikirkan saat ini terhadapnya.


" Apa yang sedang dia pikirkan, kenapa terlihat dia sedang merencanakan sesuatu padaku,," Pikir Alberto yang berbalik menatap wajah Ziya.


" Apa yang sedang kau rencanakan,," Tanya Alberto langsung pada Ziya.


Mendengar ucapan Alberto bertanya kepadanya, Ziya segera menjawab tidak memiliki rencana apapun.


" Memangnya, aku terlihat seperti sedang merencanakan sesuatu,," Ucap Ziya dengan beraninya menjawab pertanyaan Alberto.


" Heeemm, sepertinya dia sudah berani denganku,," Pikir Alberto pada jawaban Ziya yang secara langsung menjawab pertanyaannya.


" Baiklah Ziya aku tahu apa saja di dalam pikiranmu saat ini, kau ingin kita sama-sama bermain bukan,, baik akan aku ikuti cara permainanmu, wanitaku,," Gumam Alberto yang tersenyum nakal memandang wajah Ziya.


" Ya, kau terlihat sedang merencanakan sesuatu yang membuatku tidak bisa mendapatkan dirimu, betul bukan,," Ucap Alberto tersenyum menyeringai yang membuat Ziya ternganga.


" Kenapa dia bisa tahu,," Gumam Ziya dalam hati sambil berpura-pura tersenyum.


Melihat wajah Alberto seperti ingin segera menerkamnya, Ziya merasa bahwa permainan sikap acuhnya itu akan pupus dan kalah, karena, dia tidak bisa menahan gejolak perasaan dirinya terhadap Alberto.


" Kenapa dia memandangku seperti itu, jangan-jangan bukannya aku yang menang untuk mengacuhkan dirinya, malah aku yang kalah atas sikapnya ini," Gumam Ziya yang terlihat cemas melihat tatapan wajah Alberto yang menyeringai menatap dirinya.


" Aduuhhh, Ziya belum berperang saja kau sudah kalah,," Pikir Ziya lagi dalam kepalanya.


Alberto sedikit tertawa melihat ekspresi wajah Ziya mulai lagi merasakan takut dan cemas akan tindakannya itu.


" Hahahaha,," Tawa Alberto yang pecah saat melihat wajah Ziya yang begitu terlihat tegang akan dirinya.


" Alberto, jangan keras-keras ketawanya, nanti, Demian bangun,," Ucap Ziya yang mendengar suara tawa Alberto pecah dalam keheningan di antara mereka.


" Oh Sorry, sorry,," Jawab Alberto yang segera menutup mulutnya.


Dan, dengan sengaja Alberto memeluk tubuh Ziya dengan sangat erat membuat Ziya merasa sesak.


" Alberto, aku sudah bilang jangan pernah memelukku seperti ini," Ucap Ziya dengan suara geramnya.


" Oh come on My Wife, Masa seorang suami tidak boleh memeluk istrinya." Jawab Alberto yang dengan sengaja semakin mengeratkan pelukannya.


" Kapan kita menikah, Alberto, kau sudah menganggapku seperti seorang istri,," Ungkap Ziya dalam hati saat mendengar ucapan Alberto menyatakan bahwa dirinya adalah suaminya.


Melihat Ziya kembali seperti sedang memikirkan sesuatu dengan cepat juga Alberto mengendus-endus aroma tubuh Ziya dengan penuh kehangatan.


" Don't worry My Wife, What do you think, Now,, Heemm,," Tanya Alberto pada Ziya, dimana saat ini mata Ziya sedang menatap ke langit-langit kamar Demian, seperti tidak mendengarkan ucapan Alberto itu.


" Yang sedang kupikirkan adalah kenapa kau memelukku sekarang dengan sangat erat, kau sengaja bukan,," Jawab Ziya yang membuat Alberto lagi-lagi tertawa.


" Hahahaha,,, You are so funny,," Ungkap Alberto pada Ziya sambil menyentuh lembut hidung Ziya.


" Alberto,, aku sudah katakan jangan tertawa," Suara Ziya yang terdengar sangat geram mendengar tawa Alberto.


Untung saja saat ini, Demian sama sekali tidak terganggu akan tawa Alberto yang cukup besar itu.


" Demian saja tidak bangun berarti dia nyenyak dalam tidurnya." Bilang Alberto yang sengaja mendongakkan wajahnya menatap Ziya.


" Heemmm, ya sudah kau yang menang,," Ucap Ziya terakhir dan segera berbalik memeluk tubuh Demian.


Dengan posisi Ziya seperti itu, membuat Alberto semakin mudah mengganggu tubuh Ziya dari belakang. Seperti saat ini, Alberto mulai memainkan tangannya dengan bebas mengelus-ngelus tubuh Ziya dari dalam baju Ziya.


" Alberto, Demian belum nyenyak tidurnya,," Ucap Ziya yang merasa risih dielus-elus oleh tangan Alberto.


" Heemm,, aku ingin mengelus-ngelus tubuh indah yang memang menjadi milikku ini, masa tidak boleh,," Jawab Alberto dengan lincah tangannya meraba-raba perut Ziya.


" Alberto, Demian belum tidur, nanti Demian bangun,," Suara Ziya yang terdengar sangat geram atas perlakuan Alberto padanya.


" Hihihihihihi, aku merindukan kehangatan tubuhmu sayang, aku merindukan aroma tubuhmu, aku akan menunggumu meniduri anak kita, setelah itu, kau bertugas meniduriku juga,," Ucap Alberto dengan suara seraknya yang begitu terdengar jelas di telinga Ziya.


Terlihat sekali di wajah Ziya yang begitu canggung mendengarkan permintaan Alberto yang ingin ditidurkan oleh dirinya. Ziya pun menelan salivanya, merasa bahwa kali ini, Alberto benar-benar akan memakan tubuhnya lagi.


" Ta,, tapi Alberto,," Gumam Ziya yang membuat Alberto menutup bibirnya dengan jari telunjuk.


" Tidak ada kata tapi-tapian,, Alberto tidak mau mendengarkan penolakan," Ucap Alberto yang segera mencium pipi Ziya.


Karena, geram mendengarkan ucapan Alberto, Ziya merasa bahwa dirinya tidak bisa untuk melawan kehendak Alberto ini dan awalnya dia ingin mengacuhkan Alberto, malah dirinya yang kalah akan sikap dan kehendak Alberto.


" Iiiiihhhh, Alberto awas kau,," Ucap Ziya dalam hati dengan wajah yang terlihat sangat geram pada ucapan Alberto yang tidak bisa ditolak keinginannya.


Melihat wajah Ziya terlihat sangat geram pada perlakuannya, tapi sama sekali tidak bisa membalaskan perbuatannya, sehingga membuat Alberto merasa menang dan sangat bahagia akan keinginannya itu.


" Hihihihihihi,, Ziya kau tidak bisa melawan dan menolak keinginan dari Alberto,," Ucap Alberto dalam hati sambil tersenyum sinis menatap wajah Ziya.


Terdengar suara nafas Demian begitu teratur, sehingga membuat Demian segera bangkit dari baringnya dan sengaja mendengarkan suara tarikan napas dari Putranya itu. Ziya merasa heran atas sikap Alberto yang bangkit dari baringnya dan mendekatkan telinganya pada suara napas Demian. Setelah memeriksa keadaan Demian yang sudah tertidur pulas.


" Heeemm, Putraku sudah tertidur, baiklah sayang, tidur yang nyenyak, supaya besok tidak bangun kesiangan." Ucap Alberto yang memeriksa napas Demian yang telah teratur dalam tidurnya.


Alberto sengaja berdiri, melangkahkan kakinya menuju ke suatu tempat dan seperti sedang menghidupkan sesuatu di kamar Demian. Ziya berpikir sepertinya itu alarm pengaman di kamar putranya ini.


" Sepertinya dia sangat menyayangi putranya, sampai-sampai dia mengaktifkan alarm pengaman di kamar putranya ini. Demian sayang, ternyata kau sangat beruntung, memiliki Daddy seperti dia, yang begitu menyayangimu,," Gumam Ziya dalam hati sambil menatap gerak-gerik Alberto yang sengaja mengaktifkan alarm pengaman di kamar Demian.


Alberto merasa bahwa saat ini Ziya sedang menatap gerak-geriknya, sehingga membuat Alberto segera mengagetkan Ziya yang sedang melamunkan dirinya itu.


" Apa yang sedang kau lamunkan, sayang,," Tanya Alberto dengan gerakan tiba-tiba mendekati Ziya.


" Akkhhh,, tidak ada,," Jawab Ziya spontan karena kaget atas pertanyaannya itu.


Karena, merasa keadaan sudah aman, untuk putranya saat ini, dengan segera Alberto mendekatkan tubuhnya pada tubuh Ziya dan berbisik lembut tepat di telinga Ziya.


" Sayang,, Demian sudah tidur dengan nyenyak,, Pengaman kamarnya sudah di aktifkan, sekarang tugasmu untuk melayaniku,," Ucap Alberto yang sengaja berbicara sambil berbisik di telinga Ziya.


Ziya sebenarnya merasa risih saat Alberto berbicara sambil berbisik padanya, tapi tubuh Ziya sama sekali tidak bisa menolak akan tindakan yang dilakukan oleh Alberto padanya, ingin sekali dirinya menjauh dari Alberto tapi percuma saja, pasti Alberto akan segera mengunci tubuhnya lagi.


" Alberto, memangnya apa yang kau inginkan,," Tanya Ziya dengan volume suaranya sedikit dikecilkan.


Alberto tersenyum saat mendengar ucapan Ziya menanyakan apa yang diinginkannya.


" Apalagi kalau bukan pelayanan darimu sebagai seorang istri dari Alberto,," Jawab Alberto yang membuat Ziya menelan salivanya.


" Tapi, Alberto itu tidak mungkin,," Ucap Ziya yang terlihat sangat cemas sekali.


" Apanya yang tidak mungkin,, kau istriku, jadi wajib untuk melayaniku,," Jawab Alberto yang menatap wajah Ziya sambil tersenyum menyeringai.


" Aku sudah berjanji dengan Demi untuk tidur bersamanya,," Ucap Ziya yang memberikan alasan pada Alberto.


" Hahahaha,, kau ini pintar sekali memberikan alasan padaku,," Bilang Alberto pada Ziya sambil berdiri di samping tempat tidur.


Melihat Alberto berdiri dan menjauhinya kemungkinan Alberto akan menyiksanya atau melakukan tindakan kasar lagi lada dirinya, membuat Ziya merasa takut dan cemas sekali atas sikap Alberto yang pergi menjauhinya.


" Baik, kalau kau menolak permintaanku dengan beberapa alasan, maka kau tidak ku izinkan untuk bertemu lagi dengan Demian dan juga Vena,," Ucap Alberto yang menakut-nakuti Ziya.


Ziya tercengang mendengarkan ucapan Alberto yang ingin memisahkan dirinya dari Demian, Ziya bisa saja menolak berpuluh-puluh kali bahkan ribuan kali keinginan Alberto tapi, Ziya tidak bisa untuk dipisahkan dari Demian dalam kehidupannya saat ini. Karena, hanya Demian saja yang bisa menjadi obat rasa rindu yang dirasakannya pada orang tuanya itu.


" Haah!!! Alberto aku mohon jangan lakukan itu, aku tidak mau berpisah dengan Demian, dan aku tidak mau kalau kau melarangku untuk bertemu dengannya,," Ucap Ziya yang segera bangun dari baringnya dan menghadap Alberto yang sedang berdiri di samping tempat tidurnya.


" Aku bisa saja memisahkanmu, darinya karena, kau menolak keinginanku, dan kau tidak bisa lagi untuk bertemu dengannya." Ucap Alberto yang menyentuh dagu Ziya sambil menolehkan wajah Ziya ke arah Demian.


Ziya merasa khawatir dan takut apabila benar Alberto akan bertindak untuk memisahkan dirinya dari Demian. Oleh sebab itu, Ziya akhirnya menuruti semua kehendak Alberto pada dirinya.


" Aaakkkhh,, Alberto, aku mohon, aku mohon, jangan pisahkan aku dari Demian, aku mohon, aku sangat menyayanginya, aku tidak bisa hidup tanpa kehadirannya, aku mohon Alberto,," Pinta Ziya yang memohon pada Alberto sambil menangkupkan kedua tangannya di hadapan Alberto.


Sebenarnya Alberto ingin sekali tertawa atas sikap dan pengakuan Ziya yang memohon pada dirinya saat ini, tapi rasa tawa itu untuk sementara Alberto pendam supaya tidak kelihatan bahwa Alberto hanya menakut-nakuti Ziya saja.


" Baik, aku tidak akan memisahkanmu darinya, asal kau menuruti semua perintahku,," Ucap Alberto yang memandang Ziya dengan senyuman sinisnya.


" Baik, Alberto demi Demian, aku akan menuruti semua perintah darimu,," Jawab Ziya sambil menundukkan pandangannya terhadap Alberto.


" Bagus Alberto kau akhirnya bisa menaklukkan hati Ziya, walaupun dia terpaksa tapi, memang itu harus kau lakukan demi mendapatkan seorang wanita yang hebat seperti dia, Ziya, kau tidak akan lepas dariku selamanya, karena, mau tidak mau kau akan tetap menjadi milik Alberto dan menjadi Nyonya sah dari Alberto Alexandre,," Gumam Alberto tertawa senang dalam hati, karena, saat ini dirinya menang lagi untuk menaklukkan hati Ziya.


Alberto tersenyum senang saat mendengar ucapan Ziya yang mau menuruti semua kehendak dan perintahnya. Walaupun terlihat Ziya sangat terpaksa tapi, hal ini cukup bagus dilakukan demi mendapatkan hati Ziya lagi untuknya.


" Bagus itu keputusan yang benar,," Ucap Alberto yang menahan tawanya.


" Keputusan yang benar apa, itu aku lakukan hanya demi Demian, dasar kau Alberto, berani-beraninya kau berpikir untuk memisahkan aku dari Demian, kau sengaja mengancamku seperti itu,," Umpat Ziya dalam hati yang merasa kesal sekali akan keputusan dari Alberto padanya.


" Demian sayang, Mommy sayang Demi, apapun akan Mommy lakukan asal Mommy bisa selalu bersama Demi,," Ucap Ziya dalam hati sambil menoleh sedih menatap Demian.


" Oke,, Come Here, Honey,," Suara Alberto yang terdengar sangat lembut menyambut kedatangan Ziya untuk mendekatinya.


" Tunggu sebentar, aku ingin menciumnya," Ucap Ziya yang terlihat sangat cemberut sekali menatap Alberto.


" Yes, silahkan,," Jawab Alberto yang mengizinkan Ziya menciumi Demi terlebih dahulu.


Ziya pun dengan segera mendekati Demi dan mencium pipi Demi begitu lama dan dalam. Sambil mengusap lembut kepala Demi Ziya memberikan pesan kepada putranya itu.


" Tidur yang nyenyak sayang, semoga mimpi indah, Mmmmuuuuaaaacccchhhh,," Ucap Ziya yang mengelus lembut rambut Demi.


Dalam seketika Ziya tidak sadar bahwa Alberto sudah berada di belakangnya. Dan. dalam satu gerakan cepat Alberto sudah menggendong Ziya saat ini. Ziya terkesiap saat tubuhnya sudah digendong oleh Alberto.


" Aaakkkhh,, Alberto apa yang kau lakukan,," Teriak Ziya kaget dengan gerakan Alberto yang segera menggendong tubuhnya itu.


Dengan senyuman nakalnya Alberto segera menjawab pertanyaan Ziya.


" Tentunya membawamu ke angkasa dan menuju ke surga,," Jawab Alberto yang segera membawa Ziya pergi dari kamar Demian.


" Aaakkkhh, Alberto turunkan aku,, aku malu,," Ucap Ziya meronta-ronta dalam gendongan Alberto saat ini.


Alberto sama sekali tidak mendengarkan teriakan Ziya, bagi, Alberto membawa tubuh Ziya seperti ini merupakan sebuah tindakan yang cukup bagus baginya. Masa bodoh Ziya teriak meronta-ronta yang terpenting hasrat dirinya mendapatkan kehangatan dalam tubuh Ziya terpenuhi.