
Pagi hari yang cerah cahaya mentari telah menembus masuk ke dalam kamarnya Alberto. Terlihatlah Ziya masih tertidur lelap di atas tempat tidur, Vena yang sudah sedari tadi telah standby menunggu Ziya di dalam sedang menyiapkan apa saja keperluan Ziya hari ini. Sementara Vena sedang sibuk untuk mengurus semua barang keperluan Ziya di hari Minggu ini, Ziya sendiri baru saja terbangun dari tidurnya.
" Hoaaammm,," Ucap Ziya yang baru saja menguap bangun dari tidurnya.
" Nyonya sudah bangun,," Ucap Vena yang memberi hormat pada Ziya.
" Heemmm,," Jawab Ziya mengangguk.
Lalu, Ziya mencari-cari keberadaan Alberto, kenapa tidak terlihat di atas tempat tidurnya, padahal hari ini hari Minggu. Apakah Alberto tetap pergi keluar juga untuk menyelesaikan pekerjaannya walaupun itu di hari Minggu.
" Kemana dia,," Ucap Ziya yang mencari keberadaan Alberto.
Vena yang mendengarkan ucapan Ziya sedikit tersenyum dengan kelakuan manis dari majikannya ini.
" Tuan sudah pergi ke luar kota Nyonya sekitar dua jam yang lalu,," Ucap Vena menjelaskan secara detail keberadaan Alberto.
" Dan Tuan juga berpesan malam nanti Tuan akan secepatnya pulang,," Bilang Vena lagi pada Ziya.
" Oohhh begitu," Jawab Ziya mengangguk.
Saat Ziya ingin turun dari tempat tidur, Ziya mendengarkan suara ketukan pintu dari luar kamar pribadi Alberto. Ziya segera menyuruh Vena untuk melihat siapa orang yang datang ke kamarnya pagi ini.
" Vena, sepertinya ada orang,," Ucap Ziya yang mendengarkan suara dari ketukan pintu.
" Baik Nyonya,," Jawab Vena yang segera melangkahkan kakinya menuju keluar dan segera membukakan pintu.
Setelah Vena membukakan pintu ternyata suara kecil Demian yang terlihat menangis pagi ini, Ziya kaget ketika melihat putra kesayangannya itu menangis sambil mendatanginya.
" Mommy,, hiks,," Suara Demian segera masuk ke dalam kamar dan langsung berlari menuju tempat tidur Ziya.
" Haaahh,, Demian, kamu kenapa sayang ?" Tanya Ziya pada Demian yang menangis.
Ziya segera turun dari tempat tidurnya dan segera menggendong Demian untuk naik ke atas tempat tidur. Lalu, membujuk Demian untuk memberitahu kenapa dia bisa menangis seperti ini.
" Kak Kystal malah sama Demi, Kalena Demi membangunkannya,," Ucap Demian yang mengadu pada Ziya.
Ziya sedikit tersenyum atas rengekan Demian yang mengadu dengannya.
" Demi, kenapa ganggu Kak Krystal nak, Kak Krystal mungkin masih mau tidur sayang,," Ucap Ziya yang membujuk Demian.
" Sudah ya Demian jangan nangis lagi, nanti Mommy temenin main ya sayang,," Ucap Ziya membujuk Demi.
" Demi nangis bukan kalena Demi dimalahin kak Kystal tapi, Kak Kystal mukulin Demi,," Ucap Demian yang masih menangis di dalam pelukan Ziya.
Saat Demian menyebutkan bahwa dirinya sudah dipukul oleh Krystal, omongan Demian itu sangat membuat Ziya terkejut sehingga membuat Ziya segera ingin memarahi balik pada Krystal yang sudah keterlaluan pada adiknya sendiri.
" Haaahh Krystal pukulin Demi, kenapa Krystal sampai memukul Demi,," Bilang Ziya yang melihat bekas tangan Demian yang memerah karena pukulan dari tangan Krystal.
" Kak Kystal bilang Demi bodoh tidak bisa mendapatkan nilai yang bagus, Demi halus belajar lebih giat lagi bial bisa pintal,," Ucap Demian merengek sakit akan tangannya yang terluka.
Ziya merasa geram dengan keadaan Krystal yang main seenaknya saja dengan adiknya sendiri seperti saat ini, Krystal sengaja memukul lengan Demian putranya itu dengan alasan bahwa Demian harus lebih giat lagi. Padahal di usia Demian saat ini harusnya bukan belajar yang lebih giat lagi namun sistem otak dan pikirannya haruslah seimbang antara pelajaran dengan bermain. Ini malah Krystal dengan sengaja memukulnya supaya bisa menghukum anaknya itu.
" Ini anak sepertinya tidak diajarkan sopan santun, baik aku yang akan mengajarkan dia sopan santun,," Ucap Ziya yang sangat geram sekali atas kelakuan Krystal pada adiknya sendiri.
Karena, merasa geram atas tindakan yang dilakukan Krystal pada Demian, Ziya segera melangkahkan kakinya ingin memberikan pelajaran kepada Krystal yang memang seorang anak tidak dididik oleh orang tuanya. Makanya selalu bersikap arogan dan seenaknya saja, namun Ziya teringat bahwa dirinya baru saja bangun tidur dan belum mandi sedikitpun.
" Vena, panggil Melly, katakan pada Melly untuk membuatkan sarapan pagi Demian dan kau siapkan sarapan pagi untukku." Ucap Ziya yang memerintahkan semua kebutuhannya pada Vena.
" Baik Nyonya,," Jawab Vena mengangguk dan segera melaksanakan tugasnya.
Sementara itu, Ziya melihat Demian yang masih berada di atas tempat tidur sudah rapi dan bersih. Akhirnya Ziya menghidupkan tv untuk tontonan Demian saat sedang menunggunya di kamar.
" Demian nonton tv ya, Mommy mau mandi sebentar." Ucap Ziya yang sedang menghidupkan televisi.
" Ya, Mom,," Jawab Demian mengangguk.
Setelah mencium puncak kening Demian, Ziya segera berlari kecil menuju ke kamar mandi, tak butuh waktu lama untuk melakukan proses mandi, Ziya segera keluar dari kamar mandi dan menuju ke ruang ganti, Ziya melihat semua pakaiannya hari ini sudah disiapkan oleh Vena, Ziya segera memakaikannya dan keluar lagi menuju ke tempat Demian.
Ziya melihat bahwa semua sarapan sudah disiapkan oleh Vena dan Melly, Ziya orangnya mudah akrab dan baik dengan pelayan sehingga langsung mengajak Vena dan Melly untuk segera sarapan bersama dengannya.
" Come, sayang kita sarapan, habis itu Demian jangan kemana-mana cukup di kamar Mommy, setelah Mommy menyelesaikan pekerjaan Mommy nanti, Mommy akan temenin Demian untuk bermain, Ok," Ucap Ziya panjang lebar pada Demian.
" Oke Mom,," Jawab Demian yang segera masuk ke dalam gendongan Ziya.
Sebenarnya tubuh Demian sudah cukup besar, namun Ziya masih saja gemes dengan putranya ini, Ziya merasa bahwa Demian masih kecil. Oleh sebab itu, Demian selalu digendongnya, walaupun tubuh Demian berat bagi Ziya sangat menghangatkan hatinya saat menggendong Demian.
Setelah selesai sarapan bersama Ziya segera mengajak Vena dan beberapa pengawal untuk memasuki istana kedua dari istana utama ini yaitu istana dimana disana ada beberapa penghuni walaupun besar istana itu memang sengaja dibuat untuk Alexa, Krystal dan Isabelle.
" Melly, kau jaga Demian main di kamarnya dan jangan pergi kemana-mana,," Ucap Ziya yang memerintahkan Melly untuk selalu menjaga Demian.
" Baik Nyonya,," Jawab Melly mengangguk.
" Jangan sampai Demian dipukul lagi oleh siapapun,, tidak ada yang boleh menyentuh dirinya selain aku dan Daddynya." Ucap Ziya tegas pada Melly.
" Baik Nyonya, maafkan saya tidak bisa menjaga Tuan Muda Nyonya." Bilang Melly yang merasa bersalah atas kejadian pada tubuh Tuan Mudanya itu.
" Ya sudah tidak apa-apa," Jawab Ziya.
" Daaahhh sayang tunggu Mommy oke,," Bilang Ziya yang memberikan tubuh Demian ke dalam gendongan Melly.
" Yes Mom, Demi tunggu,," Jawab Demian sambil menciumi pipi Ziya.
Melly dan Demian segera melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya sendiri, sedangkan, Ziya bersama Vena dan beberapa pengawal yang mengikutinya langsung pergi menuju ke istana kedua dimana tempat Krystal berada.
Vena merasa sedikit khawatir dan takut akan kelakuan majikannya ini yang ingin memberikan pelajaran terhadap Putrinya Alberto itu, apakah nanti tidak menimbulkan masalah jika Ziya memberikan pelajaran kepada Krystal. Sedangkan, Vena sangat tahu bagaimana sifat dan sikap Krystal yang sangat kasar kepada semua orang di dalam istana ini.
Apakah Ziya bisa melunakkan hati gadis yang begitu kasar itu ?
" Nyonya, Nyonya yakin akan menemui Non Krystal langsung ?" Tanya Vena pada Ziya sambil mengiringi langkah kaki Ziya.
" Yakin, memangnya kenapa ?" Tanya Ziya balik yang menoleh ke arah Vena.
" Anak gadis itu, kalau tidak diberi pelajaran saat ini, dia mau jadi apa besar nanti,," Ucap Ziya yang sangat geram terdengar oleh Vena.
" Tapi, Nyonya, Nyonya tahu bahwa Non Krsytal sangat kasar, nanti Nyonya malah akan diserangnya,," Ucap Vena yang seakan takut terjadi apa-apa pada majikannya ini.
" Aku ingin lihat bagaimana kasarnya Krystal jika menghadapi orang sepertiku,," Jawab Ziya sambil menaikkan sedikit bibirnya merasa sangat yakin bisa mengubah sifat kasar dari Krystal.
Ziya yakin dengan tekadnya itu, untuk mengubah sikap dan sifat kekasaran dari kedua putri Alberto. Jika tidak dimulai untuk dididik dari sekarang, maka akan terlambat sudah untuk mendidiknya. Oleh sebab itu, Ziya sangat yakin bahwa dirinya mampu untuk merubah sikap dan sifat dari kedua putri Alberto itu.
Sebenarnya Ziya sama sekali tidak mengetahui bahwa Krystal dan Isabelle bukanlah anak kandung dari Alberto, namun Ziya merasa bahwa kedua putri ini harus diberikan pelajaran supaya tidak memiliki sikap kasar terhadap adiknya sendiri.
Saat, Ziya sampai di sebuah kamar yang bertuliskan Krystal, Ziya langsung menyuruh beberapa pengawalnya untuk membuka pintu kamar itu.
" Buka," Pinta Ziya kepada pengawalnya.
Setelah terbuka, Ziya melangkah masuk dan sangat terlihat sekali betapa berantakannya kamar dari seorang gadis remaja ini. Begitu kotor dan berbau alkohol, seperti saat ini Ziya mencium bau alkohol yang sangat menyengat dari dalam kamar Krystal. Lalu, Ziya segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur Krystal. Dengan dengan Ziya masuk sendiri tanpa ditemani oleh beberapa pengawal dan juga Vena.
" Kalian tunggu diluar,," Ucap Ziya yang memerintahkan pengawalnya untuk menunggunya di luar.
" Tapi, Nyonya,," Bilang Vena yang merasa tidak bisa melepaskan keselamatan majikannya.
" Tidak apa-apa, dia hanya sekedar putri Alberto, dia tidak akan melakukan kekasaran padaku." Ucap Ziya yang merasa percaya diri pada dirinya.
Ziya segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Krystal dan Ziya melihat bahwa Krystal masih tertidur dengan posisi terlungkup di atas tempat tidurnya. Terlihat saat ini Ziya sedang berdiri di samping tempat tidur Krystal dengan mata yang menatap miris terhadap anak-anaknya Alberto.
" Kasihan!! problem yang terjadi di keluarganya, menjadikan anaknya tidak terdidik seperti ini,," Gumam Ziya dalam hati saat melihat keadaan Krystal yang begitu miris menurut tatapan Ziya.
" Bangun!!" Bentak Ziya pada Krystal.
" Eennggg,, keluar," Bilang Krystal yang mengusir orang yang telah berani membangunkannya.
Krystal tidak tahu bahwa saat ini, orang yang telah membangunkannya adalah Ziya.
" Kau tidak mau bangun, baik,," Ucap Ziya segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Saat di kamar mandi Ziya mencari sesuatu benda untuk bisa menampung air. Saat di kamar mandi Ziya sama sekali tidak menemukan apa-apa, namun, Ziya melihat ada sebuah pot bunga hias yang berisikan air yang cukup besar. Lalu, dengan senyuman yang tersungging di wajahnya Ziya langsung mengeluarkan bunga hias itu dan menambah porsi air ke dalam pot itu.
" Heh!! sepertinya anak itu harus diberi didikan yang keras supaya bisa tahu bagaimana cara menghadapi orang tua." Ucap Ziya sangat geram akan sikap dari putrinya Alberto ini.
Setelah merasa cukup banyak, Ziya membawakan pot yang berisi air itu lalu, menumpahkannya tepat di wajah Krystal yang sudah menggantikan posisinya menjadi terlentang.
BYUUURRR!!
Air yang penuh di dalam pot sudah tertumpah semua menyirami seluruh wajah dan tubuhnya Krystal. Secara langsung Krystal bangun dari tidurnya karena terkejut dengan perlakuan yang dilakukan seseorang padanya. Krystal berteriak sangat marah saat mengetahui bahwa ada yang telah berani mengganggu dirinya.
" Aaaahhhhh,, apa yang kau lakukan,," Teriak Krystal bangun dari tidurnya.
" Ini yang kau inginkan bukan,," Ucap Ziya yang terdengar halus namun, tatapannya bagaikan mata singa yang sedang lapar.
" Memberimu pelajaran,," Ucap Ziya lagi yang membuat Krystal segera menoleh.
Karena mendengarkan suara seseorang yang ingin memberinya pelajaran Krystal langsung menoleh ke arah samping dan melihat mata Ziya yang begitu tajam menatap ke arahnya.
" Kau,, berani-beraninya kau masuk ke dalam kamarku,," Bilang Krystal yang bisa melihat jelas siapa yang ada di kamarnya itu.
" Kenapa aku tidak berani masuk ke kamarmu, ini rumah suamiku, jadi aku bebas mau kemanapun, termasuk ke kamarmu ini,," Ucap Ziya lagi dengan tatapan yang sangat tajam.
" Heh!! kau tidak usah sok perduli padaku ? Apa maumu ?" Tanya Krystal langsung pada Ziya.
" Kau telah memukul anakku,," Bentak Ziya pada Krystal.
" Heh! memangnya kenapa ? Selama ini kau tidak memperdulikan anakmu sendiri, aku memukulnya saja kau biasa-biasa saja dan bahkan kau sangat berterima kasih padaku, jika aku memukul anakmu,," Ucap Krystal yang membenahi tubuhnya dan membuat Ziya sangat terkejut.
Dalam pikiran Ziya berarti selama ini Zoya hanya membiarkan saja kelakuan Krystal untuk memukul anaknya. Zoya sungguh keterlaluan, namun percuma saja memarahi Zoya saat ini, bagi Ziya yang terbaik adalah memberikan pelajaran kepada anak Alberto yang tidak memiliki sopan santun ini.
" Tapi tidak memukulnya!! Demian sudah ada guru private untuk belajar, jadi kau tidak berhak untuk mengajarinya dengan tindakan kasar,," Oceh Ziya yang mulai memarahi Krystal.
" Mulai sekarang aku melarangmu untuk mendekati Demian dan tidak boleh menyakitinya lagi," Ucap Ziya kesal pada Krystal.
" Heeh! ternyata setelah kepergianmu beberapa bulan yang lalu membuatmu sedikit berubah. Memangnya apa yang dijanjikan Daddy padamu, sehingga kau berubah seperti ini ?" Tanya Krystal pada Ziya.
" Itu bukan urusanmu!" Ucap Ziya singkat.
" Daddy ku sama sekali tidak mengerti akan cinta, sehingga dia membuat Mommy ku kesepian dan menikah lagi dengan laki-laki lain, begitu juga dengan kau bukan, kau juga merasa kesepian sehingga kau rela setiap malam Uncle Martin dibiarkan masuk ke dalam kamarmu dan menghangatkan ranjangmu,," Ucap Krystal balik menatap tajam wajah Ziya.
Ziya terkejut saat mendengar ucapan Krystal yang mengatakan dirinya memiliki hubungan gelap dengan Martin. Ziya baru berpikir bahwa ucapan Krystal ternyata memang benar dengan ucapan Alberto saat menyatakan bahwa Martin lah yang telah melakukan tindakan kejahatan padanya.
" Ternyata benar yang diucapkan Alberto, bahwa Martin adalah pelakunya." Gumam Ziya dalam hati.
Karena, mendengar ucapan Krystal yang sedikit membuatnya merasa kesal itu Ziya langsung menatap tajam wajah Krystal sehingga membuat keberanian Krystal sedikit menciut karena, baru kali ini ia melihat tatapan mata ibu tirinya begitu tajam. Sangat terlihat bahwa saat ini Ibu tirinya akan menyiksa dirinya. Tidak seperti selama ini, memiliki Ibu tiri yang sama sekali tidak memperdulikannya.
" Bangun,," Bentak Ziya pada Krystal.
" Aku tidak mau, kau tidak berhak untuk mengaturku,," Ucap Krystal yang masih saja duduk di atas tempat tidurnya.
" Heh!! apa yang kau katakan ?" Tanya Ziya yang mulai melangkah mendekati Krystal.
Lalu, dengan tatapan tajam Ziya memutar lengan Krystal dengan kuat, sehingga membuat Krystal menjerit kesakitan.
" Aakkhh apa yang kau lakukan,," Teriak Krystal yang terdengar sangat kuat.
" Aku hanya memberi pelajaran padamu, jika kau masih saja melawan ucapanku, maka bukan hanya ini yang akan aku lakukan padamu,," Bilang Ziya halus namun terdengar sangat menakutkan.
" Mandi,," Bentak Ziya pada Krystal lagi dan sedikit menguatkan putaran tangannya.
" Iya,, iya, aku mohon lepaskan dulu, sakit,," Teriak Krystal memohon kepada Ziya untuk melepaskan tangannya.
" Mulai sekarang aku akan selalu mengawasimu, bukan hanya Demian yang membutuhkan guru private tapi juga kau harus banyak belajar,, Ucap Ziya yang membuat Krystal lagi-lagi melawannya.
" Kau bukan Mommy ku, kau tidak berhak atas diriku,," Bentak Krystal lagi.
" Ya, kau memang benar, aku bukan Mommy mu, tapi aku adalah ibu tirimu, ibu tiri yang sangat jahat, sehingga apapun yang kau lakukan akan selalu menjadi pengawasanku,," Ucap Ziya dengan tataoan tajam sehingga membuat Krystal segera bangun dari tempat tidurnya dan berlari menuju ke kamar mandi.
Ziya sedikit tersenyum saat melihat kelakuan Krystal yang sedikit takut dengannya itu, kalau tidak dengan cara ini, tidak mungkin Krystal akan takut dengannya. Ziya masih saja menunggu Krystal di depan pintu kamar mandi, sehingga membuat Krystal terkejut ketika keluar dari kamar mandi dan melihat Ziya masih berada di kamarnya itu.
Dengan wajah acuhnya Krystal segera melangkahkan kakinya menuju ke sebuah lemari bajunya dan Ziya melihat dengan jelas bahwa bagian tubuh belakang Krystal ada sebuah tato yang bertuliskan Broken, sehingga membuat Ziya memutar kembali tubuh Krystal menghadap dirinya.
" Jika kau menambah tato lagi di tubuhmu ini, maka aku tidak akan segan-segan untuk memotong lenganmu,," Ucap Ziya yang membuat Krystal menatapnya dengan tatapan marah.
Sebenarnya Ziya tidak mungkin melakukan hal itu kepada Krystal, namun Ziya hanya ingin menakut-nakuti Krystal supaya Krystal tidak lagi melakukan hal-hal yang tidak karuan seperti ini.
" Apa urusanmu dengan tubuhku, aku adalah seorang putri dari Alberto Alexandre yang sangat kejam jadi aku berhak untuk melakukan apapun pada tubuhku, Daddy ku orang yang kejam jadi aku harus sama seperti dia. Dan bahkan Daddy ku selama ini tidak pernah sekalipun memeluk aku dan Isabelle jadi untuk apa kau mendekatiku,," Ucap Krystal yang memberitahu semua uneg-unegnya.
Saat mendengar ucapan Krystal ada benarnya juga bagi Ziya. Karena, memang terlihat selama ini Alberto sangat mengacuhkan kedua putrinya sehingga menyebabkan sikap putrinya itu seperti ini.
" Menjadi seorang anak mafia tidak perlu bersifat kejam sepertinya, kenapa kau sungguh tega memukul adikmu ?" Tanya Ziya yang membentak Krystal.
" Aunty Claire yang menyuruhku untuk memukulnya, karena, Aunty Claire bilang, bahwa Demian harus diperlakukan kasar sedari kecil, supaya dia tahu bagaimana kejamnya kehidupan nanti saat ia dewasa." Ucap Krystal selesai mengganti pakaiannya.
Saat Ziya mendengar ucapan Krystal bahwa Claire yang telah menyuruhnya itu, berarti dengan sengaja Claire telah mengadu domba kedua putri Alberto untuk bersikap kasar pada putranya. Saat ini Ziya ingin sekali merobek-robek wajah Claire yang begitu munafik di dalam rumah ini.
" Krystal, tidak seharusnya kau mengajari Demian dengan kekerasan, Demian masih kecil,, kau seharusnya membimbingnya dengan kelembutan," Ucap Ziya yang mulai menghaluskan suaranya.
" Ya, ya memang Demian masih kecil dan harus diperhatikan, kalau Demian masih kecil, bagaimana dengan kami berdua selama ini tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Daddy, Daddy hanya bisa memberi kami kemewahan dan uang tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan kami yang sangat merindukan belaian kasih seorang Daddy. Aku merasa iri dengan teman-temanku, mereka semua memiliki kehidupan yang harmonis dengan keluarganya, memiliki kasih sayang dari orang tuanya, sedangkan kami apa, sama sekali tidak pernah diperhatikan oleh Daddy dan Mommy." Ucap Krystal yang mengeluarkan semua keinginannya dan membuat Ziya melembut padanya.
" Kau ingin kasih sayang dari seorang Daddy, baik aku akan membuat Daddymu menyayangi kalian sama seperti Daddy kalian lakukan dengan Demian." Ucap Ziya lembut pada Krystal.
" Itu tidak mungkin aku tidak percaya,," Bilang Krystal langsung.
" Baiklah, kalau kau tidak mempercayaiku, apakah kau mau jika aku yang memberikan kasih sayang padamu,," Ucap Ziya yang mulai membujuk Krystal.
Mendengar ucapan Ziya seperti itu Krystal merasa bahwa Ziya hanya akan memberikan sebuah ungkapan palsu padanya.
" Kau bohong, tidak mungkin orang seperti dirimu, akan memberikan kasih sayang padaku dan Isabelle, kau tidak usah membujukku untuk mendapatkan kepercayaan dariku, karena aku tidak akan pernah mempercayaimu Aunty Zoya." Bilang Krystal lagi menatap tajam wajah Ziya.
Ziya merasakan sesak di dadanya, karena, cukup sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari anak sulung Alberto ini, karena, selama ini yang diketahuinya adalah sikap Zoya yang begitu membuatnya sangat jijik sehingga membuat anak-anaknya Alberto tidak menyukai sikap Zoya itu. Tapi, berbeda dengan sikap Ziya, Ziya begitu sangat menyukai anak-anak, sehingga baginya sangatlah mudah untuk mendekati anak-anak.
Namun kali ini Ziya cukup tertantang dengan kelakuan dari Krystal yang sudah remaja ini. Ziya hanya bisa mengembuskan napas kasarnya saat melihat Krystal langsung dari keluar kamarnya.
" Aku katakan padamu sekali lagi, aku tidak akan pernah mengharapkan kasih sayang darimu,," Ucap Krystal langsung keluar dari kamarnya meninggalkan Ziya seorang diri.
Ziya sedikit terdiam saat berada di kamarnya Krystal ini, Ziya harus berpikir lagi untuk bisa meluluhkan hati anak pertama Alberto ini. Memang cukup sulit untuk mendapatkan kepercayaan orang yang telah lama tidak menyukai sikap kita. Apalagi selama ini Zoya sudah beberapa tahun tinggal disini dengan sikap yang begitu acuh terhadap anak-anaknya Alberto, sama saja saat ini Ziya harus mengulangi lagi prosedurnya dari awal.
****