
Karena terlalu banyak berpikir akan hal sikap Alberto padanya membuat Ziya lupa bahwa dirinya sekarang telah memiliki seorang pelayan yang berada di sampingnya. Sehingga, Ziya yang awalnya tidak begitu menginginkan adanya pelayanan yang super mewah dari Alberto, namun kali ini sepertinya ia tidak bisa mengelak akan sebuah pemberian dari Alberto yaitu seorang pelayan yang akan menjadi temannya nanti.
Karena, Ziya yang terlalu fokus pada lamunan dan pikirannya itu membuat suara Vena sedikit mengagetkan dan membuyarkan lamunannya itu.
" Mari Nyonya, saya akan bantu Nyonya untuk mandi,," Ucap Vena yang membuyarkan lamunan Ziya saat itu.
" Hah! Apa,,?" Tanya Ziya yang memang tidak fokus atas ucapan Vena padanya.
" Saya akan bantu Nyonya untuk mandi,," Bilang Vena sekali lagi menjelaskan ucapannya.
" Saya bisa mandi sendiri,," Ucap Ziya canggung, karena, memang benar Ziya tidak mau diawasi kalau sedang mandi.
" Tapi Nyonya sebentar lagi Tuan akan kembali. Tuan bilang, Tuan mempercepat kepulangannya,, karena Tuan Muda Demian menangis ingin bertemu dengan Anda,, tapi dilarang oleh Tuan besar, karena anda harus intensif untuk beristirahat." Ucap Vena menjelaskan dengan detail.
Karena, Vena menyebutkan nama Demian, disana Ziya mulai teringat, bahwa sudah berapa hari dirinya meninggalkan Demian sendiri, dan membiarkan Demian menangisi kerinduan pada dirinya.
" Dimana putraku,, aku ingin bertemu Demian, Vena,," Ucap Ziya meminta tolong pada Vena.
" Kita akan segera bertemu dengan Tuan Muda Demian Nyonya,, asalkan Nyonya mematuhi semua perintah dan peraturan Tuan Alberto saat ini, Nyonya.." Ucap Vena yang mengingatkan Ziya.
Ziya bingung atas ucapan Vena saat itu, kenapa Alberto melarangnya bertemu dengan Demian sesuka hatinya. Karena, posisinya Ziya adalah ibu Demian. Ziya mulai lagi memikirkan hal yang tidak-tidak pada Alberto.
" Kenapa, aku harus mematuhi perintah dan peraturannya, sedangkan aku adalah Ibu Demian,, apakah dia sudah mengetahui bahwa diriku bukanlah Zoya,," Pikir Ziya di dalam hati.
" Ahh,, tidak, tidak itu tidak mungkin,," Ucap Ziya menggelengkan lembut kepalanya.
Lalu Ziya kembali bertanya kepada Vena, kenapa dirinya dilarang bertemu dengan Demian.
" Kenapa aku dilarang bertemu, Demian ? Aku adalah Ibunya, kenapa aku tidak boleh bertemu Putraku ?" Tanya Ziya heran atas sikap Alberto padanya.
Lalu Vena sambil tersenyum menjelaskan kondisi yang sedang dialami Ziya saat ini, sangat tidak mungkin saat ini langsung bertemu dengan Demian.
" Tuan Alberto memerintahkan agar Nyonya betul-betul beristirahat total,, Jadi Tuan melarang Tuan Muda Demian untuk menemui Nyonya,, Karena apabila Tuan Muda bertemu dengan Nyonya pasti Tuan Muda akan mengganggu istirahat Nyonya.." Ucap Vena menjelaskan maksud dan keadaan saat itu.
Tapi sayangnya Ziya tidak terima, atas ucapan Vena yang mengatakan kalau Demian bertemu dengannya menyebabkan terganggunya istirahatnya yang sedang sakit itu.
" Dia anakku,, tidak mungkin dengan kehadirannya bisa menggangguku,," Ucap Ziya yang sedikit kesal atas ucapan Vena barusan.
" Oohh,, Maaf Nyonya,, bukannya saya bermaksud untuk menjelekkan Tuan Muda,, Mohon maaf Nyonya yang sebesar-besarnya,," Ucap Vena menunduk dan berlutut di depan wajah Ziya.
Karena, Ziya telah melihat Vena yang sangat takut dan langsung berlutut itu, memaklumi ucapan Vena barusan.
" Ya sudah tidak apa-apa, kamu tidak usah berlutut, seperti itu.." Ucap Ziya menyuruh Vena bangun dari berlutut nya.
" Bangunlah," Bilang Ziya sambil tersenyum.
" Terima kasih Nyonya,," Jawab Vena yang bangkit dari berlutut dan menghadap wajah Ziya.
Saat Ziya ingin beranjak dari tempat tidurnya, Vena langsung dengan sigap membantu Ziya. Saat Ziya ingin segera berdiri, namun entah mengapa tiba-tiba Ziya merasakan pusing dan matanya kunang-kunang. Saat itu Ziya sangat sulit untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
" Aduh!!" Ucap Ziya yang memegang kepalanya.
" Ayo Nyonya,," Ucap Vena yang segera membantu Ziya bangun dari duduknya.
Vena langsung membawa tubuh Ziya dan memapahnya. Ziya sedikit menyunggingkan senyumannya.
" Terima kasih,," Ucap Ziya yang tangannya dibantu oleh Vena.
" Baik Nyonya,," Ucap Vena mengangguk.
Lalu, Vena memapah dan membawa Ziya menuju kamar mandi, setelah itu Vena meletakkan Ziya di dalam bath tub.
Dengan cepat dan sigap, Vena menyiapkan semua kebutuhan mandi Ziya saat itu. Dari mengisi air di bath tub, menuangkan sabun, serta membersihkan tubuh Ziya.
" Vena,, tidak perlu anda melakukan ini, padaku,," Ucap Ziya yang melihat Vena ingin segera membantunya untuk mandi.
" Ini sudah jadi kewajibanku Nyonya untuk membantu Nyonya,," Ucap Vena tersenyum pada Ziya.
Karena ingin menuruti semua perintah dan keinginan Alberto, Ziya pun membiarkan Vena untuk membersihkan tubuhnya. Baru kali ini Ziya mendapatkan pelayanan yang cukup baik baginya, karena saat ini Ziya merasakan bagaikan bak seorang Ratu yang sedang dilayani oleh semua dayangnya.
" Sebenarnya aku tidak pernah dilakukan seperti ini, jadi rasanya sedikit memalukan, Vena,," Ucap Ziya tersenyum.
" Tidak apa-apa, Nyonya,, nantinya Nyonya akan terbiasa,," Ucap Vena membalas senyuman Ziya.
Sebenarnya Ziya merasa tidak nyaman dilakukan seperti ini, tapi Ziya tidak mampu menolak pelayanan dari Vena.
Setelah merasa bersih dan segar bagi tubuh Ziya, Vena segera membawa Ziya ke kamar ganti dan memilih baju untuk dipakai Ziya saat ini.
Ziya bingung, kenapa bajunya sudah ada disini.
" Vena, kenapa semua baju ini ada disini,," Tanya Ziya bingung pada Vena.
Memang bingung yang dirasakan Ziya saat itu. Karena, semua bajunya juga telah dipindahkan ke sebuah kamar ganti di kamar Alberto.
" Tuan yang telah memerintahkan semuanya, Nyonya.." Ucap Vena menjelaskan keadaan.
" Ooohhh,," Ucap Ziya singkat dan mengangguk.
Lalu, Vena segera membantu Ziya memilih bajunya, setelah itu memakaikannya di tubuh indah Ziya. Setelah selesai Ziya duduk di depan meja rias dan saat itu Vena juga membantu menyisir dan merapikan rambut Ziya.
Dengan sangat perlahan, Vena menyisir dan merapikan rambut Ziya. Ziya juga tidak merasakan sakit pada rambutnya.
" Terima kasih,," Ucap Ziya lagi.
" Sama-sama Nyonya,," Ucap Vena.
Setelah itu Vena meminta izin kepada Ziya untuk menutup lukanya dengan perban.
" Nyonya,, luka di kepala Nyonya, saya tutup dulu dengan perban.." Ucap Vena yang diangguk oleh Ziya.
" Baik Vena,," Ucap Ziya lembut.
Setelah selesai memasangkan perban di lukanya Ziya. Ziya pun langsung memilih softlens yang telah tersedia di kamar gantinya itu. Ziya tahu atas kebodohannya selama ini, karena ia lupa bahwa mata dirinya dan Zoya sangat berbeda sehingga menyebabkan Demian lebih awal mengetahui sandiwaranya.
" Mata asli anda lebih cantik, Nyonya,," Ucap Vena sangat yakin sekali atas mata yang telah dimiliki Ziya.
" Mata coklat ku akan membuatku ketahuan jika aku bukanlah Zoya,," Gumam Ziya dalam hati sambil tersenyum atas dirinya sendiri melihat wajahnya di cermin.
Lalu, dengan senyumannya itu Ziya langsung menjawab ucapan Vena barusan yang mengagumi mata coklatnya.
" Tapi aku lebih menyukai warna coklat terang,," Ucap Ziya.
Lalu Ziya segera memakai softlens berwarna coklat terang dan itu sangat menyempurnakan penyamarannya.
Ziya tidak tahu dan tidak menyadari bahwa sebenarnya Alberto sudah mengetahui penyamaran dirinya sejak awal dirinya datang ke rumah ini.
Setelah itu Ziya memoleskan bibirnya dengan menggunakan warna lipstik yang terang. Ziya cukup takjub melihat dirinya yang benar-benar sempurna menjadi sosok Zoya saat ini.
" Waahhhhh,,, ternyata Nyonya lebih cantik dibandingkan foto-foto Nyonya di majalah.." Ucap Vena yang sangat mengagumi keindahan kecantikan Zoya selama ini.
Begitu juga dengan Vena yang menelan salivanya setelah melihat Ziya selesai berdandan. Ziya memang sangat cantik apabila ia berdandan seperti kembarannya itu Zoya.
Ziya hanya tersenyum mendengar pujian dari Vena. Karena, memang benar, Zoya sangatlah cantik, apalagi wajahnya itu selalu menghiasi majalah populer wanita tercantik di negara ini.
Ya, siapa yang tidak mengetahui dan tidak mengenali dengan wajah dan sosok Zoya.
****