Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 159 - Kepulangan Axeloe



Akhirnya Alberto sudah menemukan cara bagaimana ia harus mengatasi masalahnya ini. Benar yang dikatakan Ziya kenapa harus menunggu Axeloe, padahal Alberto sendiri bisa melakukannya dengan segera dan tuntas. Namun, Alberto mengetahui apa saja kesukaan dari adiknya itu. Yang pasti Alberto ingin memberikan tugas ini kepada adiknya yang begitu terkenal kejam.


Ketika mendengarkan ucapan Ziya yang berkata sama persis dengan pemikirannya itu, Alberto mengacungkan jempol dan memuji kepintaran Ziya saat ini.


" Ternyata dia begitu pintar akan pemikirannya, apabila dia bertemu dengan Axeloe, kemungkinan besar dia dan Axeloe memiliki suatu sifat dan kepintaran yang sama,," Gumam Alberto dalam hati yang tersenyum menatap Ziya.


Sementara itu, di sisi lain, saat ini beberapa pengawal Alberto dengan sengaja telah dikirimkan untuk menjaga dan mengawasi pergerakan sang adik laki-laki satu-satunya ketua mafia ini siapa lagi kalau bukan Axeloe.


Terlihatlah beberapa pengawal yang dikirim untuk mengawasi dan melindungi kepulangan adik Alberto yang begitu disayangi oleh kakaknya ini. Di setiap sudut pengawal itu standby untuk menjaga kenyamanan, keselamatan dan kesehatan adiknya saat kembali dari luar negeri ke negaranya ini.


Dengan tampilan yang begitu memukau, harus wajah yang sama dengan wajah kakaknya, Axeloe menyunggingkan senyumannya ketika kakinya baru saja turun dari pesawat pribadi milik Alexandre Grup menginjakkan kakinya ke tanah kelahirannya ini. Axeloe sengaja menghirup udara segar yang telah lama tidak ia rasakan ini. Betapa bangganya Alberto dengan kepulangan adiknya ini, selain menjadi orang yang paling pintar dalam ilmu kedokteran, Axeloe juga terkenal akan kehebatannya dalam menaklukkan semua mafia yang berada di Eropa.


Itulah Axeloe sang adik laki-laki terhebat dari Alberto anak kandung Vasco Alexandre dan juga Friska. Selama ini, Axeloe memang tinggal bersama dengan Mommynya saat dia masih kecil, namun, ketika Mommynya meninggal barulah Axeloe tinggal bersama Alberto sang kakak dan memiliki Ibu tiri yang jahat namun takut dengan dirinya.


" Heemmm, aku sudah lama tidak kembali ke negaraku ini, bagaimana keadaan My Brother, adikku Alexa, keponakanku yang tampan Demian dan juga Grandma yang paling aku cintai." Gumam Axeloe dalam hati sambil menghirup udara segar di negaranya ini.


Walaupun Axeloe dan juga keluarganya selalu berkomunikasi saling menanyakan kabar, namun rasa rindu dan rasa penasaran terhadap keluarganya pasti sangat berbeda jika sudah bertemu secara langsung.


Setelah merasa puas menghirup udara segar dari negaranya ini, Axeloe sedikit menyunggingkan ujung bibirnya menatap ke arah depan dengan tatapan yang begitu tajam. Saat turun dari pesawat pribadi Alexandre Grup dengan segera pengawal yang telah dikirimkan oleh Alberto langsung menghadap ke hadapan Axeloe dan membungkukkan tubuhnya menghormati sang Tuan Besar yang kedua ini.


" Selamat datang Tuan Axeloe,," Ucap semua pengawal sambil menundukkan kepalanya di hadapan Axeloe.


" Heemmm,," Jawab Axeloe dengan suara yang sama dinginnya seperti sang kakak.


" Silahkan Tuan,," Bilang kepala pengawal kepada Axeloe yang memberikan jalan untuk menuju ke mobil yang sudah disediakan khusus untuk menjemputnya.


Dengan segera Axeloe melangkahkan kakinya menuju tempat mobil yang sudah disediakan khusus untuk dirinya. Para pengawal mengerti akan kesigapannya terhadap Axeloe, karena, kekejaman Axeloe cukup berbeda dengan kekejaman yang dimiliki Alberto. Jika Alberto masih memiliki hati nurani dan memikirkan tentang orang yang berada di jalan musuh, maka Axeloe tidak memiliki pikiran untuk memaafkan dan memperbaiki suatu kesalahan orang itu.


Oleh sebab itu, para pengawal sengaja tidak mau melakukan kesalahan di hadapan Axeloe.


" Tuan, kita langsung ke kediaman atau ?" Tanya salah satu pengawal pada Axeloe.


" Sebelum ke kediaman aku mau pergi ke makam My Mommy terlebih dahulu." Ucap Axeloe dengan nada suara yang begitu dingin dan jelas sekali akan perintahannya itu.


" Baik, Tuan,," Jawab pengawal yang duduk di samping supir pribadi untuk Axeloe.


" Arahkan semua mobil untuk langsung pergi menuju makam Nyonya Friska," Ucap kepala pengawal itu yang berkata dengan para pengawal lain menggunakan alat yang berada di telinganya.


" Mom, kepulangan Axeloe saat ini harus berhasil mendapatkan siapa pembunuh Mommy sebenarnya saat Axeloe masih kecil dulu, Axeloe akan membalaskan semua perbuatan mereka yang telah membuat Mommy menderita,," Ucap Axeloe dalam hati yang menggenggam erat mainannya masih kecil yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi.


Axeloe sengaja membawa mainan yang ia miliki disaat masih kecil karena, mainan itu merupakan mainan terakhir yang diberikan oleh Mommynya saat ia masih kecil. Disaat itu juga Axeloe terakhir kalinya hidup bersama dengan sang Mommy.


" Walaupun Mommy tidak bahagia di dunia, semoga Mommy selalu bahagia disana,," Gumam Axeloe lagi dalam hatinya yang selalu mendoakan kepergian Mommynya ini.


Oleh sebab itu, Axeloe selalu membawa mainan itu kemanapun ia pergi, karena, hanya dengan mainan ini Axeloe bisa melepaskan rasa rindu di hatinya pada Mommynya dan dengan mainan ini juga membuat Axeloe selalu teringat akan kematian Mommynya.


Walaupun di hati Axeloe belum bisa merelakan kepergian Mommynya itu, namun, karena, saat ini dia sudah dewasa, Axeloe lebih memilih untuk menenangkan perasaannya agar ia bisa membalaskan perbuatan semua pelaku yang telah berani menghancurkan rumah tangga orang tuanya dan dengan sengaja membunuh Mommynya.


Sementara semua pengawal yang sedang mengawali Axeloe pergi menuju makam Nyonya Friska, Alberto dan Ziya sedang berada di dalam kamarnya, membahas suatu masalah mengenai perkataan yang disampaikan oleh Madam Christin.


" Eeemm,, Alberto bukannya kau sedang melakukan pelacakan terhadap barang bukti dari pelaku ?" Tanya Ziya yang teringat bahwa saat ini Alberto sedang melakukan pelacakan terhadap pelaku pembunuh Mommynya.


" Benar sekali sayang, sebetulnya tadi aku sedang melacak keberadaan barang bukti itu, namun, karena, Vena telah menelepon beberapa kali dan melaporkan bahwa kau sedang dalam bahaya sehingga membuatku panik dan aku langsung segera mencarimu, pastinya pelacakan yang kulakukan itu ku tinggalkan sementara,," Jawab Alberto dengan menjelaskan kegiatannya tadi yang memang benar sedang melakukan pelacakan terhadap barang bukti yang digunakan Gladys untuk melakukan pembunuhan terhadap Mommynya.


" Ternyata kau sangat khawatir terhadapku,," Gumam Ziya sambil tersenyum geli dan terdengar oleh Alberto.


" Jelas, aku khawatir, Ziya,," Ucap Alberto yang memang benar perasaannya selalu mengkhawatirkan keadaan Ziya saat ini.


" Heemmm, baiklah terima kasih sudah mengkhawatirkan aku,," Bilang Ziya yang membuat Alberto ingin menciumnya.


Saat Alberto ingin mencium bibir Ziya dengan segera Ziya mengalihkan lagi pembicaraannya pada Alberto. Membuat Alberto harus menghentikan tindakannya ini dan harus menjawab semua pertanyaan dari Ziya.


" Oohhh, jadi kau belum mendapatkan barang buktinya ?" Tanya Ziya lagi pada Alberto.


" Belum, karena, pembunuh Mommy saat itu bukan hanya satu orang, Ziya, melainkan lebih dari dua atau tiga orang, oleh sebab itu, aku harus mencari semua yang selama ini telah lolos dari pihak hukum maupun dari cengkramanku,," Jawab Alberto yang sudah lama mengetahui berapa banyak orang yang ikut andil dan terlibat dalam pembunuhan Ibunya saat itu.


Sesaat Ziya kaget mendengar ucapan Alberto yang mengatakan bahwa pelaku pembunuh Ibunya bukan hanya satu orang saja melainkan lebih dari dua atau tiga orang.


" Jadi, bukan hanya wanita itu saja yang menjadi pelakunya ?" Tanya Ziya yang menatap serius wajah Alberto.


" Ya sayang,," Jawab Alberto mengangguk.


" Eemmm, Alberto jika aku masih dibutuhkan, aku akan selalu siap untuk membantu semua masalah yang kau hadapi,," Ucap Ziya yang terlihat sangat tulus membantu Alberto.


Alberto tersenyum ketika mendengarkan ucapan Ziya yang selalu siap untuk membantu semua masalah yang ada dalam kehidupannya, sehingga membuat Alberto menatap sayang pada wajah seorang wanita yang sungguh baik bagaikan bidadari.


" Terima kasih sayang, tapi, tugasmu tidak untuk mencari bahaya lagi seperti kemarin, kau mengerti,," Ucap Alberto mengangkat dagu Ziya.


Hari sudah larut malam, Demian juga sudah pulang dari sekolahnya dan saat ini Ziya sedang menidurkan Demian di dalam kamarnya sendiri, sementara itu, Alberto masuk ke dalam ruang kerjanya karena, sedang mendapatkan telepon dari anak buahnya yang ditugaskan untuk mengawali kepulangan Axeloe adiknya dan juga Frengky pengawal pribadinya yang sudah dipercaya beberapa hari ini, memang sudah ditugaskan untuk menyelesaikan masalah bisnis yang terjadi di luar daerahnya.


" Ya, Rif,," Bilang Alberto yang menerima telepon dari anak buahnya yang sedang mengawali Axeloe.


" Tuan, Tuan Axeloe sudah tiba di negara kita dan saat ini Tuan Axeloe sedang pergi ke makam Nyonya Friska." Ucap Riff yang telah ditugaskan untuk mengawali kepulangan Axeloe adiknya.


" Oke, biarkan dia memilih untuk bebas terlebih dahulu sebelum kembali ke kediaman,," Ucap Alberto yang sengaja membebaskan keinginan adiknya terlebih dahulu di luar kawasan Alexandre.


" Baik Tuan,," Jawab Riff.


Setelah menerima laporan dari Riff yang telah ditugaskan untuk mengawali Axeloe, tak lama kemudian, Alberto kembali menerima telepon dari anak buahnya Frengky. Alberto melihat layar ponselnya bertuliskan Frengky.


" Frengky,," Gumam Alberto yang segera menerima panggilan itu.


" Ya, Frengky bagaimana hasilnya ?" Tanya Alberto langsung pada Frengky tentang hasil laporannya.


" Sangat lancar dan mulus Tuan, Untunglah Tuan, saat ini hasilnya memuaskan dan kelompok mafia kecil yang sengaja membuat masalah akhirnya bisa dituntaskan itu semua berkat kerja keras dari Tuan dan juga Tuan Zavier,," Jawab Frengky yang terdengar begitu semangat saat menjelaskan semua hasil pekerjaannya.


Awalnya Alberto senang mendengarkan hasil laporan Frengky yang menyatakan hasilnya begitu mulus dan lancar, namun Alberto sedikit terkejut saat Frengky menyebutkan nama Zavier. Karena, seingat Alberto Zavier sama sekali tidak dikirim kesana, Zavier akan selalu standby di negaranya ini, kenapa Frengky menyebutkan nama Zavier.


" Zavier,," Ucap Alberto yang sedikit kaget.


" Ya, Tuan," Jawab Frengky membenarkan.


" Dimana dia ?" Tanya Alberto langsung pada Frengky.


" Sebentar Tuan, Tuan Zavier sedang meletakkan sebuah alat pelacak di daerah ini, supaya bisa terpantau langsung oleh Alexandre Grup." Ucap Frengky yang memang sedang bersama Zavier di daerah itu.


" Baiklah, jika dia sudah menyelesaikan pekerjaannya, katakan padanya bahwa aku ingin dia segera menghubungiku,," Ucap Alberto yang terdengar seperti memerintahkan Zavier untuk segera meneleponnya.


" Baik Tuan,," Jawab Frengky.


Setelah selesai menerima telepon dari Frengky, Alberto yang sedang berada di ruang kerjanya berpikir atas tindakan Zavier saat ini. Bukannya dia sudah mencegah Zavier, malah Zavier semakin asyik bermain-main di daerah itu. Alberto tidak habis pikir dengan pikiran Zavier yang seakan begitu menyukai dengan suatu hal seperti membunuh lawan musuhnya.


" Aku tahu kau kesana, kau sedang asyik bermain terhadap musuh-musuh kecil bukan,," Gumam Alberto yang menggelengkan kepalanya sambil memikir kesenangan Zavier.


" Baiklah, untuk sementara ini, aku biarkan kau bermain disana,," Ucap Alberto sedikit menyunggingkan senyumannya.


Dalam hitungan menit ponsel Alberto kembali berdering mengeluarkan suara dan Alberto segera melihat siapa yang sedang meneleponnya itu. Dan saat ini terlihat jelas nama di layar ponselnya bertuliskan "Crazy Dog Zavier".


" Ternyata dia,," Gumam Alberto yang segera menerima panggilan itu.


" Ya,," Ucap Alberto setelah menekan layar ponsel.


" Halo, Dude, sorry kalau aku tidak memberitahukanmu akan kepergian ke daerah ini, hehehe sebenarnya,," Ucap Zavier sedikit terkekeh geli ketika melaporkan pekerjaannya disana.


" Ya, aku tahu kau ingin bermain-main disana,," Ucap Alberto dengan segera memotong perkataan Zavier.


" Nah benar sekali, kau sangat mengerti diriku,," Jawab Zavier yang sengaja memuji Alberto, supaya Tuannya ini tidak memarahinya ketika ia melakukan hal yang tidak diperintahkan ini.


" Ya sudah aku izinkan, asalkan kau masih menyisakan mereka untuk di interogasi,," Bilang Alberto yang mengetahui betapa rakusnya Zavier dalam hal membunuh lawannya.


" Oke Dude, aku mengerti,," Jawab Zavier yang sudah mengetahui keinginan Tuannya ini.


" Bagus, bawa mereka semua ke pulau tawanan milik Alexandre,," Ucap Alberto yang segera memerintahkan Zavier untuk membawa tawanan ke pulau pribadinya.


" Beres, malam ini akan segera aku bawa mereka ke pulau tawanan Alexandre,," Bilang Zavier yang menyetujui perintahan dari Alberto.


" Oke good,," Ucap Alberto.


" Oh ya Dude, aku dengar Axeloe sudah tiba di negara kita,," Ucap Zavier yang menanyakan kehadiran Axeloe.


" Ya, kau benar dan sekarang ia sedang peegi menuju makam Mommy,," Jawab Alberto yang mengiyakan pertanyaan Zavier padanya.


" Oh bagus, kalau dia sudah kembali maka kau akan mengetahui semua rahasia yang selama ini kau cari,," Bilang Zavier yang membuat Alberto merasa bingung.


Seperti biasa setelah selesai menelepon dan memberikan laporan yang penting kepada temannya ini, dengan segera Zavier memutuskan telepon tanpa menutupkan terlebih dahulu telepon itu. Alberto yang merasa bingung dengan ucapan Zavier saat ini membuatnya mengingat suatu hal yang selama ini ingin ia cari yaitu siapa yang telah berani memper-kosa Ziya saat itu.


" Apa maksudnya yang dikatakan Zavier ?" Tanya Alberto pada dirinya sendiri yang memang sangat penasaran akan ucapan yang disampaikan oleh Zavier padanya.


" Apakah selama ini Axeloe mengetahui siapa Ziya dan siapa yang telah melakukan perbuatan keji itu padanya. Jika benar, Axeloe mengetahui kejadian itu, berarti Axeloe mengenali siapa Ziya." Gumam Alberto yang masih bingung dan penasaran dengan ucapan yang disampaikan oleh Zavier selama ini.


Saat ini, memang Alberto menggebu-gebu ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan perkataan Zavier padanya itu, karena, ia juga benar-benar penasaran dengan Ziya yang selama ini terlihat akan kehebatannya, namun cuma satu kekurangannya yaitu tidak memiliki mahkota lagi saat ia menyentuh wanita berhati lembut itu.


****