Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag.



Vena hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam ketika mata indahnya itu harus melihat bagian tubuh Axeloe yang begitu indah sekali. Walaupun tertutup dengan perban namun bagian kotak-kotak pada dada serta perutnya Axeloe begitu jelas sekali terlihat. Roti sobek yang membuat semua wanita menatapnya bisa meleleh, namun, Vena tetap fokus dengan pekerjaan yang harus ia lakukan.


" Ya ampun, ini pasti sakit sekali,," Gumam Vena dengan suara kecilnya dan tidak terdengar oleh Axeloe.


Sambil perlahan membuka perban yang menutupi sebagian dada Axeloe, sesekali mata Vena melirik ke arah wajah Axeloe yang sengaja memejamkan matanya. Saat ini Vena bisa melihat bahwa Axeloe sama sekali tidak merasakan sakit pada bagian luka yang tertutup dengan perban itu. Malah Vena menilai bahwa Axeloe sepertinya biasa saja menanggapi luka yang sedang bersarang pada tubuhnya itu.


" Kenapa luka sebesar ini tidak menyebabkan rasa sakit pada tubuhnya ?" Tanya Vena dalam hatinya yang merasa heran dengan reaksi Axeloe saat ini tampak sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun dari wajahnya itu.


" Apakah dia sama sekali tidak merasakan sakit lagi ?" Tanya Vena lagi dalam hatinya pada orang yang sedang berada di hadapannya ini.


Karena, tidak melihat reaksi sakit dari wajah Axeloe dan Axeloe malah mengetahui kelakuan Vena yang sedang menatap wajahnya itu. Akhirnya Vena dikagetkan dengan suara Axeloe yang menegur dirinya itu, sehingga dengan segera Vena kembali fokus melakukan pekerjaannya.


" Aku meminta kau untuk membuka perban di dadaku, bukan untuk menatap wajahku,," Gumam Axeloe yang sengaja mengagetkan tatapan Vena terhadap dirinya hingga Vena menjadi canggung dan langsung melakukan tindakan yang seharusnya ia lakukan yaitu membuka perban di dada Axeloe.


Dengan segera Vena melakukan pekerjaan yang seharusnya ia lakukan, sambil menggunting sedikit demi sedikit perban yang menutupi bagian dadanya Axeloe. Cukup lama Vena membuang perban yang menutupi bagian dada itu yang terakhir Vena melihat perban khusus untuk yang telah dibubuhkan obat yang sudah mengering masih menempel di bagian luka itu. Sehingga membuat mulut Vena sedikit berdesis disaat ia menarik secara perlahan perban yang menempel di bagian luka.


" Sssshhhhh, Maaf Tuan, mungkin agak terasa sakit,," Ucap Vena sebelum menarik perban yang menempel secara langsung di bagian luka.


" Heemmm, lakukan saja, aku bisa menahannya,," Bilang Axeloe yang masih memejamkan matanya.


" Ba, baik Tuan," Jawab Vena yang ikut merasakan sakit pada bagian luka di tubuhnya Axeloe.


" Ya ampun, lukanya berdarah, pasti karena, perbuatanku, yang telah memukul dadamu ini, Tuan,," Gumam Vena dengan suara kecilnya, namun sama sekali tidak dihiraukan oleh Axeloe.


" Maafkan perbuatan saya Tuan, saya tidak tahu jika di dadanya Tuan ada luka,," Ucap Vena dengan suara yang cukup jelas hingga membuat Axeloe menjawab ucapan itu.


" Tidak apa-apa, kerjakan saja tugasmu ini,," Jawab Axeloe singkat.


" Ba, baik Tuan, Tuan tahan sedikit ya, saya akan menarik bagian ujung perban ini yang sangat menempel di bagian kulit luka,," Ucap Vena lagi sambil memberitahukan kondisi luka di dadanya Axeloe.


" Heemm, tarik saja, aku bisa menahannya,," Ucap Axeloe kepada Vena, agar Vena bisa cepat menarik perban yang sudah lama menempel itu.


" Baik Tuan,," Jawab Vena.


Dengan sekali tarikan begitu cepat, akhirnya Vena berhasil membuka perban yang sudah menempel lama di bagian luka Axeloe. Sehingga membuat luka tersebut mengeluarkan darah dan dengan cepat Vena mengelap darah yang mengalir itu. Walaupun, terasa begitu sakit sekali disaat Vena menarik perban yang telah menempel itu, namun, bagi Axeloe sama sekali tidak merasakan rasa sakit sedikitpun.


" Akhirnya darahnya berhenti mengalir,," Gumam Vena seketika tersenyum melihat darah yang keluar begitu deras mengalir berhenti juga.


Karena, luka seperti ini adalah hal biasa yang sering terjadi pada tubuhnya. Saat ini Vena hanya fokus melanjutkan pekerjaannya itu yang masih tetap menahan darah keluar dari bagian luka yang terbuka karena telah tertarik mengikuti perban yang ditarik sebelumnya. Setelah darah itu cukup mengering dan berhenti keluar dari dalam luka barulah Vena meletakkan perban yang sudah dibubuhkan dengan