Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 128 - Itu Adalah Kau



Di dalam kediaman Alberto saat ini, Pengawal Alberto yang bernama Frengky, mendapatkan sebuah laporan dari beberapa toko yang telah membawakan semua pesanan Alberto untuk Ziya sudah sampai di kediamannya.


" Permisi, Maaf Tuan, ini semua adalah pesanan Tuan Alberto yang memang khusus dibawakan kesini semua,," Ucap salah satu pemilik toko dari tempat Alberto memesankan semua barang khusus untuk Ziya.


" Oohh baiklah, tapi saya perlu melaporkan ini semua kepada Tuan Besar,, Dan sekarang Tuan Besar sedang tidak berada di kediaman, Mohon ditunggu,," Ucap Frengky kepada Pemilik Toko itu.


" Baik Tuan,," Jawab pemilik toko itu pada Frengky.


Pemilik Toko itu hanya menunggu hasil dari Frengky yang sedang memberikan laporan kepada Alberto. Seperti biasa Frengky segera menekan tombol alat yang terpasang di telinganya supaya langsung terhubung dengan sistem alat yang juga terpasang di telinganya Alberto.


Kenapa, Ziya tercengang karena Ziya sepertinya mengingat sesuatu akan ucapan yang selama ini disampaikan oleh Mamanya. Bahwa dulu Mamanya sangat dekat dengan sahabatnya yang dulunya juga pintar dalam menemukan bermacam-macam racun.


Ziya berpikir apakah sahabat yang dimaksudkan Mamanya adalah Mommy Alberto.


" Apa ?" Ucap Ziya yang tercengang saat mendengar penjelasan dari Alberto.


" Maksudmu,, Ibu kandungmu sendiri, Alberto,," Tanya Ziya perlahan kepada Alberto.


" Yah,," Jawab Alberto yang menatap ke depan seperti sedang menerawang jauh.


" Kau benar, sayang,," Ucap Alberto yang juga menoleh ke arah Ziya.


Namun saat, Alberto ingin menjelaskan pada Ziya tentang Mommy nya. Sebuah panggilan yang masuk dan sudah terdengar di dalam alat yang terpasang di telinganya Alberto.


" Sebentar sayang aku ingin mengangkat telepon ini dulu, nanti akan aku jelaskan semuanya,," Ucap Alberto yang membuat Ziya mengangguk setelah mendengarkannya.


" Heemmm baik,," Jawab Ziya mengangguk.


Alberto segera ingin menerimanya namun saat ini dia sedang berada di sebuah taman tanaman beracun bersama Ziya, segera menerima panggilan dari Frengky. Saat ini kebetulan Alberto sedang memangku tubuh Ziya di bawah rimbunnya pepohonan.


Ziya pastinya bisa sedikit mendengarkan ucapan yang dilakukan oleh Frengky pada Alberto. Namun, saat Alberto ingin menjauh dari Ziya, Ziya terlihat seperti cemberut di wajahnya.


" Eemmm, sayang sebentar,," Ucap Alberto yang ingin memindahkan posisi tubuh Ziya dari tubuhnya.


Terlihat Ziya sangat penasaran dengan perlakuan Alberto itu pada alat yang sudah ada di telinganya itu.


" Eemmm,, Alberto aku ingin mendengarnya juga,," Ucap Ziya yang terlihat seperti merengek meminta sesuatu pada Alberto.


Namun, Alberto tahu bahwa laporan ini pasti sebuah rahasia yang dalam suatu bisnis ataupun pekerjaannya. Oleh sebab itu, Alberto bersikukuh untuk tidak didengarkan pembicaraannya oleh Ziya.


" Sayang, ini masalah pekerjaan,," Bilang Alberto yang masih bersikeras untuk menjauh dari Ziya.


Saat Ziya mendengar ucapan Alberto seperti itu, Ziya memainkan sedikit peranan pada wajahnya. Ziya sengaja memasangkan wajah cemberutnya pada Alberto dan dengan segera berdiri Ziya menjauhi tubuh Alberto dan ingin kembali mengurus kegiatannya yaitu mengambil helaian daun yang dibutuhkannya.


" Ya sudah, aku menjauh,," Ucap Ziya yang bersandiwara menampakkan wajah cemberutnya.


Namun, Alberto tidak mau membuat Ziya pergi dengan wajah cemberutnya itu. Dengan segera Alberto menarik tangan Ziya dan Ziya yang tidak seimbang atas tubuhnya kembali terjatuh di atas pangkuan Alberto.


" Kenapa," Tanya Ziya yang masih terlihat cemberut.


" Tetap disini, jangan pergi,," Bilang Alberto yang sengaja mengeratkan pelukannya.


" Bukannya tadi kau,," Ucap Ziya yang perkataannya terputus karena, Alberto langsung menutup mulutnya dengan bibirnya sendiri.


Karena, tidak mau mendengarkan ucapan apapun dari Ziya dengan segera Alberto mencium bibir Ziya. Supaya Ziya bisa terdiam sejenak saat berada dalam pangkuannya.


" Sssttt,," Bilang Alberto pada Ziya.


" Dengarkan saja, kalau bisa mendengarnya ,," Ucap Alberto sedikit menyunggingkan senyumannya pada Ziya.


Ziya yang masih terlihat cemberut segera menempelkan telinganya pada telinga Alberto yang telah terpasang sebuah alat. Alberto sedikit menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan Ziya yang seperti anak kecil menguping semua pembicaraan orang lain. Dengan segera Alberto menekan tombol alat tersebut dan mendengarkan semua laporan dari Frengky.


" Ya, Frengky ada apa ?" Tanya Alberto yang membuat Ziya sedikit memundurkan telinganya.


" Frengky,," Ucap Ziya yang sedikit memundurkan telinganya.


" Tuan, baru saja, pemilik toko datang ke kediaman bahwa ia telah mengantarkan semua barang pesanan yang telah dipesankan Tuan,," Ucap Frengky yang sedikit terdengar oleh Ziya.


" Terima semuanya, Frengky dan bawa semua barang itu ke atas." Ucap Alberto yang memerintahkan Frengky untuk membawa semua barang pesanannya ke dalam kamarnya Ziya.


" Baik Tuan,," Ucap Frengky yang seolah mengerti akan maksud dari perkataan Alberto.


Setelah selesai mengangkat telepon dari Frengky, dengan mengangkat kedua alisnya Alberto menatap wajah cantik Ziya yang terlihat seperti penasaran.


" Barang apa ?" Tanya Ziya pada Alberto yang menatap dengan penuh pertanyaan.


" Barang bisnis yang kulakukan,," Ucap Alberto yang sedikit berbohong pada Ziya.


Terlihat di wajah Alberto sedikit menahan tawanya, ketika wajah Ziya mengerti akan ucapannya itu.


" Ooohhh,," Jawab Ziya mengangguk.


Sesaat Ziya segera berdiri dari pangkuan Alberto dan kembali lagi ke pekerjaan yang sedang ia lakukan.


Sementara itu,,


Di dalam kediaman, karena, dengan sengaja Alberto membelikan semua barang-barang yang banyak untuk Ziya, dengan segera Frengky memerintahkan kepada semua anak buahnya untuk membawakan semua barang itu ke atas sesuai dengan perintahan dari Alberto.


" Bawa semua barang ini ke atas tepatnya di kamar Nyonya Zoya." Ucap Frengky yang memerintahkan semua anak buahnya.


Dengan segera anak buahnya itu mengambil semua barang yang telah diantarkan oleh pemilik toko padanya. Ternyata, saat anak buah Frengky sedang membawakan barang-barang ke atas Claire yang baru saja melintas melihat semua barang-barang indah yang dibawa itu.


" Waahhhhh,, sepertinya, wanita ja-lang itu kembali membeli barang-barang branded,," Ucap Claire yang melihat semua anak buah pengawal Alberto.


Namun, Claire sedikit merasa curiga kenapa yang membawa semua barang itu pengawalnya Alberto bukan orang-orang dari pihak toko. Biasanya kalau Zoya yang membeli barang-barang branded itu, Zoya tidak pernah menyuruh pengawal Alberto membawa semua barang-barang seperti itu.


Namun, Claire merasa sepertinya Zoya tidak pernah membeli semua barang sebanyak itu.


" Ini patut dicurigai, sepertinya wanita ja-lang itu telah berhasil mendapat perhatian dari Alberto ku,," Ucap Claire yang tidak rela memberikan Alberto kepada Zoya, seorang wanita yang menjadi pesaingnya.


Ya, memang benar semenjak Zoya kembali, Alberto saat ini begitu terlihat lebih memperhatikan keadaan Zoya, tidak seperti waktu dulu, Zoya sendirilah seakan cuek pada Alberto. Tapi, kali ini kenapa Zoya yang telah hilang selama satu bulan lebih kembali pulang dengan mengambil semua perhatian Alberto hanya untuk diri wanita yang sangat tidak disukai oleh Claire ini.


" Heeh!! awas kau ja-lang, jangan sampai Alberto mencintaimu, aku pastikan akan membunuhmu,," Ucap Claire yang merasa kesal pada Ziya.


Lalu, Claire segera pergi dari tempat dirinya mengintip menuju ke kamarnya sendiri, dimana ia sedang ingin melakukan rencana lain tanpa melibatkan Auntynya lagi, karena, Claire sudah mengetahui bahwa apabila ia selalu mengandalkan rencana dari Auntynya, pasti rencananya itu tidak akan berhasil lagi.


Dan, pastinya Alberto akan menghukumnya lagi, apabila ia ketahuan melakukan niat dari rencananya itu. Claire tidak mau sampai Alberto mengetahui rencananya itu lagi. Baginya lebih baik menjalankan rencana sendiri daripada harus berdua.


" Aku harus melakukan rencana yang kulakukan sendiri, tanpa adanya bantuan dari Aunty." Ucap Claire yang matanya menatap tajam ke depan.


Perasaan Claire begitu membara untuk melakukan sesuatu rencana yang dibuatnya membalas tindakan yang dilakukan Zoya. Karena, Zoya telah berhasil mendapatkan perhatian dari Alberto. Sedangkan, dirinya dari awal Alberto menikah dulu dengan Istri pertamanya sampai sekarang, Alberto sekalipun belum pernah memperhatikan dirinya. Hanya Alberto memberikannya kesempatan untuk selalu dekat dengan sisi Alberto yaitu menjadi sekretarisnya.


" Heh!! pokoknya aku harus bertekad, aku harus bisa menyingkirkan wanita itu dan aku harus bisa membuat Alberto bertekuk lutut di hadapanku, jika wanita ja-lang itu menggunakan putranya untuk mengambil Alberto, maka akan aku gunakan putranya agar Alberto bertekuk lutut padaku." Gumam Claire yang menatap tajam ke depan dengan perasaan yang begitu berkobar untuk membalaskan dendam kepada Zoya.


Sementara itu,, Ziya dan Alberto yang masih berada di taman, sedang sibuk mengambil tanaman merah dan tanaman lainnya yang dibutuhkan Ziya. Sesaat Ziya kembali teringat bahwa ia mau menanyakan tentang tanaman itu adalah kesukaan dari Ibunya Alberto.


" Alberto,, sepertinya kau belum menjawab pertanyaan dariku,," Ucap Ziya yang menoleh ke arah Alberto.


" Yah,," Jawab Alberto yang juga menoleh ke arah Ziya.


" Heemm, Alberto kau belum menjelaskan kepadaku, bagaimana Mommy bisa menyukai tanaman ini,," Tanya Ziya yang kembali menjelaskan pertanyaannya pada Alberto.


" Oh iya, aku hampir lupa,, bukannya tadi aku berjanji untuk menjelaskan semuanya padamu,," Bilang Alberto sedikit menyunggingkan senyumannya.


Namun terlihat bahwa dari wajahnya menampakkan raut kesedihan yang mendalam.


Ziya merasa bersalah karena pertanyaan yang telah disampaikannya itu. Sehingga membuatnya kembali mendekati Alberto, niatnya mau minta maaf, karena, sudah membuat Alberto bersedih, tapi, malah Alberto menganggap Ziya seperti anak kecil yang meminta bujukan darinya.


" Alberto,, maafkan aku, jika aku,," Ucap Ziya saat mendekati Alberto.


" Hahahaha,, sayang tidak apa-apa, justru aku merasa lega karena, menceritakan ini padamu,," Bilang Alberto sambil merangkul pinggang Ziya.


" Jadi, aku bisa mendapatkan seseorang yang ternyata memiliki hobi yang sama dengan Mommy ku,," Ucap Alberto yang memeluk tubuh Ziya dari samping.


" Tapi, aku melihat, di wajahmu bahwa kau merasakan hal yang menyedihkan,," Tanya Ziya pada Alberto.


Saat Alberto mendengarkan pernyataan dari Ziya membuatnya, jadi ingin bercerita lagi tentang kehidupannya dahulu. Walaupun bagaimanapun, Alberto sudah sangat mengenal dan mengetahui karakter dari Ziya. Namun, Alberto tidak sepenuhnya menceritakan hal ini kepada Ziya semuanya.


" Heemmm, sayang kehilangan seorang Ibu, disaat usia masih kecil sungguhlah menjadikan cobaan terberat dan terbesar bagi anak yang baru berusia sebelas tahun." Ucap Alberto yang mulai membuka pembicaraan tentang cerita kehidupannya terdahulu.


Disaat Alberto menceritakan sebuah cerita tentang kehidupannya terdahulu, Ziya sangat terlihat menjadi pendengar yang setia di sampingnya.


" Namun, di usiaku yang baru menginjak sebelas tahun itu, apalah dayaku untuk mencari penyebab kehancuran rumah tangga orang tuaku dan juga kepergian Mommy ku, bahkan di saat usia itu aku bahkan sudah terpisah dari adik kecilku yaitu Axeloe. Betapa aku melihat kesedihan yang mendalam di wajah Axeloe saat kepergian Mommy,," Ucap Alberto lagi yang menyambung ceritanya.


" Semenjak kecil dan sampai saat ini Axeloe selalu bersifat keras terhadap semua orang, karena, rasa trauma yang ia dapatkan dari masa kecilnya, dimana saat itu aku tidak mengetahui bagaimana kejadian yang telah menimpa Axeloe dan juga Mommy. Betapa menyedihkan kehidupan Axeloe saat berusia tujuh tahun itu, yang di depan matanya melihat,," Ucap Alberto yang terhenti karena matanya terlihat berkaca-kaca.


Saat itu Ziya mengerti bahwa Alberto telah kembali mengingat masa lalu kecilnya yang kelam. Ziya semakin merasa bersalah karena telah membuat Alberto bersedih.


" Maafkan aku, Alberto, maafkan aku,," Ucap Ziya yang memeluk lengan Alberto.


" Sayang kau tidak salah, ku berhak mengetahuinya, karena,," Ucap Alberto yang membelai lembut rambut Ziya.


" Karena, apa ?" Tanya Ziya yang mendongakkan kepalanya menatap mata Alberto.


" Karena, Mommy pernah berpesan padaku, bahwa siapapun wanita yang menyukai tanaman ini, kemungkinan wanita itu bisa membantu cerita kehidupan keluarga kita yang tersimpan sampai saat ini." Bilang Alberto yang menoleh ke arah Ziya.


Saat mendengar ucapan Alberto yang terakhir Ziya merasa bingung, karena, sepertinya Alberto sungguh mencurigai dirinya dengan kesukaannya pada tanaman itu yang merupakan persamaan terhadap hobi dari Mommynya Alberto.


" Namun, sampai saat ini aku bertekad untuk mencari orang yang mampu menemukan penemuan dalam bidang racun,," Ucap Alberto yang menoleh ke arah Ziya.


" Pencarian ku terhenti disaat aku menemukanmu sayang, Dan, pasti wanita yang dimaksud Mommy itu adalah kau sayang,," Bilang Alberto yang membuat Ziya tercengang.


Ziya sedikit bingung sebenarnya dia mau menjawab apa, karena, dia sendiri juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa mungkin yang dimaksud oleh Alberto adalah Mamanya dan melalui dirinya, Alberto bisa mendapatkan sebuah rahasia dari Mamanya itu.


" Kenapa harus aku, Alberto,," Tanya Ziya yang tercengang mendengar ucapan Alberto.


Saat Ziya menyebutkan bahwa kenapa harus dirinya, dengan segera Alberto menanyakan sesuatu kepada Ziya. Karena, saat ini adalah waktu yang tepat baginya.


" Sayang,, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu,," Bilang Alberto yang membuat Ziya langsung mengangguk.


" Yah,, katakan,," Pinta Ziya yang mengizinkan Alberto menanyakannya.


" Oh God,, apa yang ingin ditanyakan Alberto padaku,," Gumam Ziya dalam hati yang begitu penasaran dengan pertanyaan Alberto padanya.


Sesaat Alberto sedikit terdiam karena, terlihat seperti sedang merangkai sebuah kalimat yang akan disampaikannya kepada Ziya. Apakah Ziya akan memberitahukannya jika dia menanyakan sesuatu hal kepada Ziya secara langsung seperti saat ini.


" Apakah aku harus menanyakan ini padanya,," Bilang Alberto dalam hati sambil berpikir atas kalimat yang akan dirangkainya itu.


" Sayang,, aku sudah lama mengetahui kalau kau bukanlah putri dari Erwin tapi,," Ucap Alberto yang membuat Ziya seperti mendukung perkataannya itu.


" Teruskan Alberto,, memang aku bukan putri dari Erwin, aku ingin mendengar ini semua dari mulutmu,," Ucap Ziya yang terus mendukung pernyataan dari Alberto.


" Tapi kau putri dari James Andricha dan Zanetti Berlina, namamu adalah Ziya,," Ucap Alberto yang perkataan terakhirnya menyebutkan nama aslinya Ziya.


Hingga membuat Ziya terperanjat atas ucapan Alberto yang memanggil namanya bukan seperti selama ini yang hanya selalu dipanggil sayang. Tapi kali ini, Alberto memanggilnya dengan panggilan nama Ziya. Begitu bahagianya Ziya saat Alberto mengetahui nama aslinya dan langsung memanggil namanya dengan nama aslinya bukan Zoya.


****