
Karena, merasa ucapan Alberto barusan membuat Ziya teringat akan sesuatu hal yang pernah terjadi dalam kehidupannya itu, akhirnya Ziya mengingat-ingat kembali ucapan-ucapan Alberto kepadanya selama ia sedang bersama, namun, setelah Ziya bertekad untuk mengingatkan kembali ucapan Alberto itu, rasa sakit di kepala Ziya terjadi lagi, hingga membuat Alberto panik melihat kondisi tubuh Ziya yang menampakkan adanya reaksi obat penawar dari Axeloe.
" Iiiiiiissssshhhh,," Suara yang keluar dari mulut Ziya dan terlihat sedang menahan rasa sakit di kepalanya.
" Ada apa sayang ?" Tanya Alberto langsung dengan wajah yang begitu panik.
Tentu saja Alberto sangat panik, karena, baru saja melihat istrinya itu tertawa bahagia namun dalam sekejap rasa sakit yang membuat istrinya begitu menderita terulang lagi. Pastinya Alberto dengan sigap langsung mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya untuk segera memanggil Axeloe kembali. Namun, hal itu dicegah oleh Ziya, karena, rasa sakit yang dirasakan Ziya tidak terlalu hebat seperti sebelumnya.
" Tahan ya sayang, aku segera menelepon Axeloe,," Ucap Alberto dengan sigap merogoh saku jas untuk mengambil ponselnya.
" Tidak usah, Alberto, aku tidak apa-apa,," Bilang Ziya dengan langsung mencegah tangan Axeloe untuk mengambil ponselnya.
" Tidak, sayang kau lagi kesakitan seperti ini, aku tidak bisa tinggal diam,," Bilang Alberto lagi yang masih tetap untuk mengambil ponselnya.
" Alberto, aku tidak apa-apa, hanya terasa pusing biasa saja,," Jawab Ziya dengan suara yang terdengar tegas hingga membuat Alberto menghentikan tindakannya dalam mengambil ponselnya itu.
" Benarkah, kau tidak apa-apa sayang, rasa sakitnya hanya rasa pusing biasa ?" Tanya Alberto pada Ziya dengan wajah seriusnya.
" Heemmm ya Alberto, jangan panggil siapapun, aku tidak apa-apa, mungkin karena, efek pagi tadi aku merasa mual makanya masih terasa pusing sekarang,," Jelas Ziya secara detail pada Alberto.
" Kalau memang benar begitu adanya, aku tidak akan menelepon Axeloe, sayang, tapi kau jangan berbohong padaku, aku tidak ingin kau menanggung rasa sakit yang begitu berat hanya seorang diri,," Ucap Alberto yang langsung memeluk erat tubuh Ziya.
" Aku tidak ingin melihatmu sakit dan menderita lagi sayang, berbagilah rasa sakit itu padaku, biar aku juga merasakannya, aku tidak ingin kau merasakan rasa sakit yang selalu membuat tubuhmu menderita, aku sangat menyayangimu Ziya, aku sangat menyayangimu,," Ucap Alberto lagi sambil mengecup terus menerus puncak kepala Ziya.
Tidak terasa air mata yang begitu indah menetes di pipi cantik Ziya. Ucapan tulus yang keluar dari mulut Alberto membuat Ziya menjadi luluh dan menangis, sehingga membuat Ziya tidak bisa melepaskan pelukan yang dilakukan oleh suaminya saat ini. Karena, semenjak Alberto bersikap lembut dengannya sejak saat itu juga Ziya sudah luluh dan jatuh hati pada Alberto.
" Terima kasih, Alberto, aku tidak ingin juga kau jauh dariku, tetaplah selalu bersamaku, dalam keadaan apapun,," Ucap Ziya di tengah rasa harunya saat mendengar ucapan Alberto yang begitu tulus untuk dirinya.
" Iya sayang, kau adalah wanitaku satu-satunya, tidak ada perempuan lain yang ada di hatiku ini, hanya kau Ziya, hanya kau,," Bilang Alberto sambil mengangkat dagu Ziya dan menatap wajah Ziya begitu dalam.
Tidak terasa air mata yang menetes itu semakin deras hingga membuat Alberto mengusapnya dengan lembut serta menciumi hidung Ziya. Dengan lembut Alberto mengusap air mata itu lalu menciumi inci demi inci wajah Ziya, saat ini Alberto merasakan suatu hal yang begitu indah karena, bisa memberikan sentuhan lembut yang selalu dibutuhkan oleh seorang perempuan.
Perempuan mana tidak luluh dan tidak jatuh hati kepada seorang laki-laki yang memperlakukan wanitanya dengan perlakuan sangat lembut seperti sentuhan yang dilakukan oleh Alberto sekarang, hanya dengan mengusap air mata Ziya saja, Ziya sudah tersenyum bahagia, apalagi diberikan kebahagiaan yang melimpah pastinya semua wanita akan merasa begitu sempurna dalam kehidupannya itu.
" Jangan menangis sayang, aku berjanji, aku tidak akan pernah meninggalkanmu dalam keadaan apapun, aku selalu mencintaimu sampai di kehidupan selanjutnya, aku akan selalu di sampingmu dalam keadaan apapun juga sayang, itu janjiku,," Ucap Alberto dengan lembut sambil mengelus lembut rambut Ziya yang terurai indah.
Setelah selesai mengusap lembut air mata Ziya yang mengalir di pipinya itu, Alberto kembali bertanya apakah Ziya masih merasakan sakit di kepalanya. Dan karena, keadaan saat ini sudah siang kebetulan sebelum Ziya tidak sadarkan diri, Vena sudah menyiapkan makan siang untuk Ziya. Kebetulan setelah selesai memberikan sentuhan lembut kepada Ziya, Alberto melihat di atas meja troli berisikan beberapa makanan.
" Sudah jangan menangis lagi ya sayang, aku tidak akan kemana-mana sebelum kau yang memintanya sendiri, aku akan selalu berada di sampingmu,," Ucap Alberto yang telah menyelesaikan tindakannya dalam mengusap air mata Ziya.
" Heemmm ya Alberto, terima kasih atas ketulusan yang kau berikan padaku,," Ucap Ziya dengan suara manjanya sambil memeluk tubuh Alberto.
" Eemmm ya sayang,," Jawab Alberto membalas pelukan erat Ziya.
Karena tubuhnya dipeluk oleh Ziya terlebih dahulu, sehingga hal itu membuat Alberto tergoda dan merasakan hal yang panas dari dalam tubuhnya. Karena, sudah beberapa hari ini Alberto tidak berhu.bungan serius layaknya seorang suami istri yang biasa dilakukan dalam hal percintaan.
" Eemmm, sayang kenapa memelukku seperti ini ?" Tanya Alberto yang terdengar penuh makna.
" Memangnya tidak boleh aku memelukmu, Alberto ?" Tanya Ziya balik dengan suara manjanya.
" Kalau kau memelukku seperti ini, sama saja kau membangkitkan yang sedang tidur,," Jawab Alberto dengan jujur dan sambil tersenyum nakal menatap wajah Ziya.
" Heemmm, aku hanya ingin memelukmu lebih lama Alberto, masa tidak bisa kau menahannya sedikit,," Ucap Ziya lagi yang masih tetap dengan posisi tubuhnya sedang memeluk erat tubuh Alberto.
" Ya, aku tahu kau boleh memelukku sesuka hatimu tapi, coba kau lihat di bagian bawah,," Bilang Alberto lagi pada Ziya sambil menunjukkan senjatanya yang terlihat sudah bangun dari tidurnya.
Sambil mengikuti arahan yang ditunjuk oleh Alberto untuk melihat bagian senjata milik Alberto yang sudah bangun karena pelukan hangat darinya itu. Sehingga membuat Ziya tersenyum dan mengelus lembut bagian senjata Alberto yang kebenaran memang sudah bangun.
" Hehehehe, sabar ya, sebentar lagi matahari akan tenggelam, jadi tunggu sebentar lagi ya,," Ucap Ziya sambil mengelus lembut senjata Alberto dari luar celana pemilik senjata tersebut.
" Heemmm kau ini sayang, bukannya diberi kesempatan untuk bertemu malah ditunda,," Gerutu Alberto dengan suara yang terdengar manja.
" Hehehehe, masih siang Alberto, nanti ya,," Ucap Ziya sambil menciumi lembut leher Alberto.
" Hari sudah semakin siang, bukan, kenapa belum makan ?" Tanya Alberto kepada Ziya, karena kebetulan Alberto melihat meja troli di dalam ruang kamar Ziya.
Karena, hari memang sudah terlalu siang, akhirnya Alberto mengalihkan pembicaraannya dari hal yang romantis menjadi hal yang serius dalam aktivitas sehari-hari yaitu makan siang. Dan Ziya mengangguk setuju atas ucapan Alberto yang menyuruh dirinya untuk segera menyantap semua makan siang yang telah disiapkan itu.
****