
Dalam hati Zoya memang ia sangat menyayangi sosok Jimmy yang sedang berada di sampingnya saat ini.
Tapi, sayangnya saat ini Zoya belum bisa mencintai sosok Jimmy yang telah banyak membantu dirinya, karena, Zoya masih akan tetap mencari pria yang telah mengambil hatinya waktu dulu. Walaupun sampai saat ini ia belum mengetahui siapa pria itu dan ada dimana tempatnya.
Sementara itu di sisi lainnya yaitu tepatnya pada kediaman Alexandre terlihatlah Ziya yang telah tertidur pulas di kamar Alberto saat ini, membuat Vena bernafas lega dan bisa keluar dari kamar itu. Saat Vena keluar dan ingin menutupi pintu, kebetulan disana sudah ada sang Tuan Besar Alberto yang sengaja ingin masuk ke dalam kamarnya. Tetapi berhubung Vena asisten pribadi istrinya itu sudah keluar dari kamarnya. Jadi, Alberto dengan sengaja menanyakan keadaan Ziya padanya.
" Oh,, Tuan, maaf, saya tidak melihat Tuan," Ucap Vena yang hampir menabrak Alberto.
" Tidak apa,, Bagaimana dengan keadaannya,,?" Tanya Alberto kepada Vena.
Seperti biasa Vena selalu takut ketika harus menatap langsung wajah Alberto, karena, memang jelas sekali terlihat bahwa wajah dari tuan besarnya itu sangar dan menakutkan, walaupun Alberto tampan, tapi tetap saja sorot matanya itu yang membuat orang takut akan melihatnya.
" Keadaan, Nyonya, sekarang sedikit membaik, Tuan,," Jawab Vena yang mengatakan keadaan Ziya sesungguhnya.
Karena, mendengar ucapan yang membuat Alberto merasa risih yaitu kata sedikit, menyebabkan kening Alberto sedikit berkerut.
" Sedikit,," Bilang Alberto singkat.
" Ya, betul Tuan,," Jawab Vena mengangguk.
" Kalau keadaannya belum membaik kenapa kau keluar,,?" Tanya Alberto dengan menyelidik.
" Eemm,, Tuan, Nyonya sedang tidur,, jadi saya biarkan Nyonya untuk beristirahat." Jawab Vena dengan nada sedikit takut.
" Oh baiklah,, pergilah," Bilang Alberto saat ini pada Vena.
" Baik, Tuan,," Jawab Vena yang mengerti akan perintah dari Alberto padanya.
Alberto pun dengan perlahan membuka pintu kamarnya dan membiarkan Vena pergi dengan memberi kode tepisan tangan pada Vena, Vena mengerti akan maksud dari Tuannya itu.
Alberto pun dengan perlahan melangkah masuk ke dalam kamarnya, dan menuju ruangan tempat tidur pribadinya. Ternyata benar, wanita yang telah membuat hatinya tersentuh itu, sedang tertidur pulas di atas tempat tidurnya.
Alberto sedikit menyunggingkan senyumannya. Dan, melangkah mendekati tempat tidurnya saat itu.
Alberto melihat wajah polos dan wajah cantik Ziya yang sedang tertidur pulas. Begitu cantik, begitu indah, dan begitu menggoda.
" Kau, terlihat sangat cantik, dan kau terlihat begitu sempurna dibandingkan kembaran kau itu," Ucap Alberto yang memuji kecantikan wajah Ziya saat tertidur pulas.
Alberto sesaat ingin menyentuh lembut wajah Ziya, tapi, saat ia teringat, bahwa Ziya seorang gadis yang terlihat polos tapi tidak memiliki mahkota lagi, membuat Alberto membenci dirinya.
" Tapi, sayangnya dibalik kepolosan kau itu, membuatku benci dan kecewa pada kau sendiri," Bilang Alberto yang merasa kecewa pada Ziya.
" Mulai sekarang, aku tidak akan percaya lagi dengan kepolosan yang kau tunjukkan itu, Ziya,," Ucap Alberto yang menatap tajam wajah Ziya.
Alberto ingin sekali menye.ret tubuh Ziya untuk keluar dari kamarnya. Sesaat Alberto berbalik dan menatap wajah Ziya lagi, kenapa, di dalam dirinya merasa tidak tega untuk melakukan kekerasan pada Ziya. Alberto kembali mengoceh sendiri dan ucapannya itu sama sekali tidak diketahui dan tidak didengar oleh Ziya.
" Siapa yang telah mengambil mahkota milikmu, hah!?" Tanya Alberto yang membuat Ziya sedikit terusik dan sedikit menggerakkan tubuhnya.
Karena, melihat tubuh Ziya sedikit bergerak dan menggeliat di atas tempat tidur itu membuat Alberto segera meninggalkan tempat tidurnya, sebelum Ziya mengetahui bahwa dirinya telah mengunjunginya saat ini.
Saat langkah kaki Alberto melangkah, mata Ziya sudah terbuka membulat dan melihat punggung tubuh Alberto menjauhi dirinya. Ziya ingin sekali memanggil Alberto tapi, ia takut akan sikap Alberto yang akan berbuat kasar lagi padanya.
" Al,, bert,," Ucap mulut Ziya yang terhenti dan suaranya sama sekali tidak terdengar sedikitpun oleh Alberto.
Karena, suaranya sama sekali tidak terdengar oleh Alberto sehingga membuat Alberto segera menjauhi dirinya dan melangkah semakin cepat untuk keluar dari ruangan itu.
Semenjak malam itu, Alberto tidak pernah lagi menegur dirinya, sangat berbeda seperti biasanya saat ia baru sampai di tempat ini.
Mungkinkah, Alberto mengetahui dirinya, bahwa ia bukanlah Zoya ?
Mungkin juga,?
Karena, begitu jelas sekali terlihat bahwa Alberto saat ini membenci dirinya.
Ziya saat ini bukan mengkhawatirkan dirinya melainkan orang tuanya yang berada di bawah ancaman Paman Erwin.
Ziya berpikir lebih baik dirinya saat ini memberitahu identitasnya, entahlah apa yang akan dilakukan Alberto apabila dirinya memberitahu identitasnya itu.
Apakah Alberto juga akan membuat dirinya seperti Claire yang akan menjadi sasaran tembakannya.
Masa bodoh ?
Dalam pikiran Ziya saat ini adalah supaya bisa terbebas dari Alberto Alexandre. Walaupun dirinya telah kehilangan mahkota berharga miliknya itu dan sama sekali tidak diakui oleh Alberto.
Masa bodoh ?
Dengan saudara kembarnya itu, dalam pikiran Ziya tidak ada lagi rasa kekeluargaan pada dirinya saat ini.
Masa bodoh juga dengan ancaman Pamannya Erwin pada keluarganya itu.
Yang terpenting sekarang adalah memberitahu tentang dirinya yang sebenarnya.
" Aku harus memberitahunya bahwa aku bukanlah Zoya,, aku tidak akan sanggup menahan hidup seperti ini, lebih baik aku dibebaskan olehnya atau dibunuh olehnya." Ucap Ziya yang bernyali kuat.
Akhirnya dengan nyali yang cukup besar, Ziya bangun dari tidurnya dan berlari mengejar Alberto yang sedikit lagi sampai di dekat pintu kamarnya itu.
" Alberto,,, tunggu,," Teriak Ziya menghentikan langkah kaki Alberto.
Dan, sesaat Ziya melihat Alberto sama sekali tidak berhenti lalu, Ziya dengan semua kekuatan dan energi tubuhnya itu berlari mengejar Alberto. Sesaat, Ziya akhirnya bisa menggapai lengan Alberto.
Karena, merasa Ziya memegang lengannya, membuat Alberto membenci akan sikap Ziya yang sengaja mendekati dirinya itu.
Dengan sikap ka.sar Alberto menghempaskan tangan Ziya dari lengannya itu, sehingga membuat Ziya terhuyung lemah dan terhe.mpas ke lantai.
BRUUKKK!!!
Tubuh Ziya terhe.mpas ke lantai, sedangkan Alberto yang telah melakukan itu sama sekali tidak menoleh ke arah Ziya sedikitpun.
Kemana hati lembut dirimu selama ini pada Ziya, Alberto ???
Walaupun terhe.mpas ke lantai, Ziya sama sekali tidak merasa sakit sedikitpun. Karena, yang terpenting sekarang adalah memberitahu identitas aslinya saat ini.
Ziya tidak mau lagi bersandiwara menjadi Zoya di mata Alberto dan pastinya, apabila dirinya tidak lagi bersandiwara, kemungkinan dia akan bisa bebas dari cengkraman Alberto.
" Alberto,, tunggu, aku mohon,," Ucap Ziya yang memohon di lantai.
Seketika Alberto menghentikan langkah kakinya karena mendengar permohonan dari Ziya. Dan juga Ziya bisa melihat, Alberto menghentikan langkah kakinya. Oleh sebab itu bisa membuat Ziya secara cepat merangkak mendekati Alberto.
****