Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag



" Ya, Tuan Nyonya, kalau begitu saya permisi,," Bilang Vena lagi sambil membalikkan tubuhnya membuka kembali pintu dan melangkah keluar.


Sedangkan, saat ini Alberto langsung mengambil ponselnya dari dalam saku jasnya itu dan melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Friek. Ternyata laporan yang baru saja disampaikan oleh Vena memang benar adanya. Oleh sebab itu, dengan segera Alberto menciumi kening Ziya lalu, sambil meminta izin pada Ziya bahwa ia ingin keluar untuk melakukan pekerjaannya.


" Benar, Friek memang menelepon," Gumam Alberto setelah melihat layar ponselnya yang memang penuh akan panggilan tidak terjawab dari pengawalnya yang bernama Friek.


" Heemm, Sayang, kalau begitu, aku keluar dulu, dan kau jangan lupa untuk selalu berhati-hati dalam melakukan apapun,," Ucap Alberto yang sekali lagi selalu memberikan pesan berhati-hati kepada Ziya.


" Baik, Tuan Besar,," Jawab Ziya sambil memberikan senyuman manisnya sehingga hal itu membuat Alberto mengulas senyuman manisnya dengan sangat jelas.


" Daahhh sayang, I love you,," Ucap Alberto yang sekali lagi menciumi puncak kepala Ziya.


" I love you too,," Jawab Ziya sembari dicium oleh Alberto.


Setelah memberikan ciuman hangat nan lembut tepat di puncak kepala Ziya. Barulah Alberto beranjak pergi dari kamar istrinya, namun, ketika Alberto akan membuka pintu kamarnya itu, Ziya kembali memanggil Alberto hingga membuat Alberto dengan spontan menoleh kembali ke arah Ziya.


" Alberto,," Panggil Ziya pada Alberto yang sudah mencapai ke arah pintu.


" Ya, ada apa sayang,," Jawab Alberto dengan spontan menoleh ke arah Ziya.


" Jangan lupa untuk selalu mengaktifkan suara ponselmu, supaya aku bisa cepat menghubungimu apabila terjadi sesuatu,," Bilang Ziya yang baru saja teringat bahwa memang Alberto sudah terbiasa tidak mengaktifkan suara ponsel apabila ia sedang melakukan pekerjaannya.


Tentu saja, Alberto menuruti keinginan Ziya saat ini, karena, memang benar, selama ini Alberto tidak pernah mengaktifkan suara ponselnya apabila sedang melakukan pekerjaannya, sehingga membuat Ziya dan siapapun cukup kesulitan untuk menghubungi dirinya. Oleh sebab itu, Alberto kembali mengaktifkan suara ponselnya seperti apa yang diinginkan Ziya.


Setelah mengaktifkan suara ponselnya itu sambil melambaikan sedikit jarinya kepada Ziya, Alberto segera membukakan pintu kamar dan langsung keluar dari kamar itu. Tidak lama kemudian Vena masuk ke dalam kamar majikannya karena, ia sudah sangat hapal dengan tugasnya sebagai asisten pribadi dari seorang istri Tuan Besar di kediaman Alexandre ini.


Disaat Alberto sudah pergi dari kamarnya Ziya dan Vena masuk ke dalam kamar itu, jelas sekali terlihat dari sudut wajah Ziya bahwa Ziya sedang memikirkan suatu hal mengenai seseorang yang menggunakan jubah hitam serta wajah yang tertutup topeng, namun memiliki ciri-ciri tanda yang membuat Ziya bisa mengetahui siapa orang misterius itu.


" Memangnya siapa orang itu,," Ucap Ziya seraya berpikir kembali dan merasa penasaran dengan kebenaran siapa orang yang telah berani secara diam-diam masuk ke dalam kamarnya.


" Kenapa dia harus menggunakan jubah dan juga topeng untuk masuk ke dalam kamar ini ?" Tanya Ziya lagi dengan dirinya sendiri karena merasa penasaran dengan orang misterius yang masuk ke dalam kamarnya.


" Selamat siang, Nyonya,," Ucap Vena ketika kembali masuk ke dalam kamarnya Ziya, namun, Ziya sama sekali tidak menjawab karena, saat ini Ziya sedang serius memikirkan sesuatu mengenai orang yang sengaja masuk ke dalam kamarnya itu.


" Heemmm, sepertinya Nyonya sedang memikirkan sesuatu, apa yang sedang dipikirkannya ?" Tanya Vena pada dirinya ikut merasa heran ketika melihat Ziya yang terlihat sedang melamun memikirkan sesuatu.


Sehingga membuat Vena yang baru saja masuk ke dalam kamar itu merasa penasaran dengan kelakuan Ziya yang terlihat sedang memikirkan orang misterius. Namun, karena Ziya tidak menjawab ucapan selamat dari Vena, sehingga hal itu membuat Vena secara langsung melangkah mendekati Ziya dan bertanya kepada majikannya ini mengenai apa yang sedang dipikirkan oleh majikannya itu.


****