Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 131 - Kejutan Buat Ziya



Dengan segera Alberto mengusap tubuh Ziya dengan menggunakan sabun, setelah selesai berendam, Alberto dan Ziya bersama-sama mandi di bawah air pancuran shower. Karena, setelah ini mereka akan segera makan bersama dan menidurkan si jagoan lucu yang hadir di antara mereka yaitu Demian.


" Sayang,, sudah selesai mandinya,," Tanya Alberto pada Ziya.


" Iya,," Jawab Ziya yang segera mengambil jubah mandi dari Alberto.


Namun, Alberto dengan sengaja memakaikan jubah mandi itu di tubuhnya. Saat Alberto memakaikan jubah mandi itu pada Ziya, dengan tersenyum Ziya menatap wajah tampan yang terpancar dari Alberto.


" Terima kasih ya,," Bilang Ziya yang mengelus lembut wajah Alberto.


" Sama-sama, sayang,," Jawab Alberto sambil mengecup lembut bibir Ziya.


Setelah mandi bersama dengan sengaja Alberto menggendong tubuh Ziya menuju ke ruang ganti, lalu, bersama-sama menggantikan pakaiannya. Dengan mencium lembut rambut Ziya yang telah selesai dikeringkan menggunakan hair dryer.


" Sudah selesai sayang,," Tanya Alberto pada Ziya.


" Heemm,," Jawab Ziya yang membalikkan tubuhnya menghadap Alberto.


Dan sangat terlihat sekali bahwa Ziya sangat cantik sekali di setiap tatapannya itu, tanpa berubah sedikitpun.


" Kau selalu terlihat cantik sayang,," Bilang Alberto yang sengaja menggoda Ziya.


" Ayo,," Ucap Ziya yang menarik tangan Alberto untuk segera keluar dari ruang ganti saat ini.


Ziya tahu, bahwa Demian pasti sudah lama menunggu kedatangan mereka berdua. Alberto keluar bersama Ziya mendekati Demian yang sudah lama menonton tv.


" Sayang, sudah lama menunggu,," Tanya Ziya yang menghampiri Demian.


" Heemmm, Mommy lama sekali,," Bilang Demian yang memeluk manja Ziya.


" Hihihi,, maafkan Mommy sayang,," Bilang Ziya yang mengelus lembut rambut Demian.


" Demian, sudah lapar,," Tanya Ziya lembut pada Demian.


" He'eh,," Jawab Demian mengangguk.


" Sudah, perintah pelayan, membawakan makanan,," Tanya Alberto pada Ziya.


" Belum,," Jawab Ziya singkat.


" Tadi cuma pinta sama Melly untuk bawakan makanan buat Demi,," Bilang Ziya yang menjelaskan tindakannya tadi.


" Ya sudah tunggu sebentar sayang." Bilang Alberto yang segera mengeluarkan ponselnya.


Dengan segera Alberto mengeluarkan ponselnya dan memerintahkan bagian pelayan dapur untuk menyiapkan makan malam di kamarnya. Karena, Alberto tahu bahwa Grandma Christin sedang tidak berada di rumah, jadi Alberto hanya ingin makan bersama keluarga kecilnya ini. Setelah selesai, menelepon pelayan bagian dapur, Alberto mengecup lembut puncak kepala Demian.


" Tunggu sebentar ya sayang,," Bilang Alberto yang mengecup lembut puncak kepala Demian.


" He'eh,," Jawab Demian mengangguk.


Tak lama kemudian semua pelayan dapur mengantarkan makan malam ke kamar pribadi Alberto dan seperti biasa Alberto menyuruh pelayannya itu untuk mencicipi terlebih dahulu makanan yang telah diletakkan itu. Setelah merasa tidak mengandung apa-apa di dalam makanan dengan segera Alberto, Ziya dan Demian menyantap makanan yang telah disediakan.


Setelah selesai makan bersama, karena, faktor mengantuk, akhirnya Demian meminta Ziya untuk menidurkannya.


" Mom, Demi, mau bobo,," Ucap Demian yang tubuhnya menggeliat manja di pangkuan Ziya.


" Eemmm,, Demi mau bobo,," Tanya Ziya lembut sambil mengusap wajah Demian.


" He'eh,," Jawab Demian mengangguk.


" Demi, mau bobo sayang,," Tanya Alberto yang mendekati wajah Demian di dekat pangkuan Ziya.


" He'eh,," Jawab Demian mengangguk.


" Ya sudah, sama Daddy ya bobo nya,," Ucap Alberto yang merentangkan tangannya.


" Eeemm,, Demi maunya sama Mommy,," Bilang Demian yang sengaja membuat Ziya tersenyum.


" Ya sudah bobo sama Mommy and Daddy ya,," Ucap Ziya yang mengangkat tubuh Demian.


Dengan segera, Ziya berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke arah tempat tidur, begitu juga dengan Alberto yang mengikuti langkah kaki Ziya menuju ke tempat tidur. Lalu, dengan lembut Ziya meletakkan tubuh Demian di atas tempat tidur, tepat di bagian tengah-tengah kasur.


Saat, tubuh Demian yang sudah berada di tempat tidur, dengan segera Demian mengajak Alberto untuk tidur di sampingnya, bukan di samping Ziya.


" Daddy, bobo sini,," Ucap Demian yang meminta Alberto untuk tidur di sebelahnya bukan di dekat Ziya.


" Hehehehe,, Demian pintar,," Ucap Ziya yang membuat Alberto sedikit mencubit pinggangnya.


" Aauuuwww,, apa yang kau lakukan,," Bilang Ziya yang sedikit memarahi Alberto.


Saat wajah Ziya, terlihat sedikit marah dengan kelakuan Alberto, Alberto malah terlihat sedikit menahan tawanya. Lalu, dengan segera menaiki tempat tidur dan berbaring di samping Demian. Sementara itu, Demian yang kaget mendengar suara Ziya langsung bertanya kepada Ziya, sebenarnya apa yang telah terjadi pada Ziya hingga membuat Ziya sedikit berteriak.


" Ada apa Mommy,," Tanya Demian yang langsung bangkit dari baringnya.


" Tidak apa-apa sayang,, Ayo kita tidur,," Bilang Ziya yang mengajak Demian untuk kembali berbaring ke atas tempat tidur.


Dengan segera Demian kembali ke posisinya semula dan berbaring tepat di sebelah Alberto.


" Oke, Daddy bobo di sebelah Demian, ya,," Ucap Alberto yang segera menaiki tempat tidur dan mendekati tubuh Demian.


" Heemm,, Peluk, Dad,," Bilang Demian yang terlihat manja pada Alberto.


" Oke,," Jawab Alberto yang langsung memeluk Demian.


Ziya tersenyum melihat kelakuan dua orang yang berada di hadapannya saat ini, terlihat Alberto sedang memeluk tubuh Demian dengan lembut dan dengan segera Ziya naik ke tempat tidur untuk meninabobokan Demian.


" Mommy bobo sini,," Ucap Demian yang membelakangi tubuh Alberto.


" Iya sayang,," Jawab Ziya mengangguk dan segera tidur di samping Demian.


Terlihat saat ini posisinya Alberto memeluk tubuh Demian, Demian menghadap ke arah Ziya sementara itu, Ziya menghadap ke arah Demian. Jadi, mata Ziya dan Alberto saling bertemu.


Alberto menatap wajah cantik Ziya dengan kelembutan, Alberto sengaja meletakkan tangannya untuk ditiduri oleh kepala Ziya. Ziya tersenyum melihat kelakuan Alberto yang membuat tidurnya merasa nyaman. Demian, memang anaknya yang mudah sekali untuk tertidur pulas, hingga tidak menunggu waktu lama, Alberto telah berhasil membuat Demian tertidur dengan pulas.


Sesaat Alberto bertanya pada Ziya, apakah Demian sudah tertidur pulas yang berada di hadapannya itu.


" Sayang, apakah Demi sudah tertidur pulas ?" Tanya Alberto yang memelankan suaranya pada Ziya.


Ziya menatap wajah Demian, terlihat memang sudah tertidur pulas, namun dengan sengaja Ziya membohongi Alberto, mengatakan bahwa Demian belum tertidur pulas.


" Eeemmm,, Alberto, kalau seperti ini, biasanya Demian belum tertidur pulas." Jawab Ziya yang terlihat sedang memperhatikan wajah Demian.


Alberto begitu saja mempercayai ucapan Ziya, karena, baru kali ini Alberto sendiri yang meninabobokan Demian. Sementara itu, Ziya menahan tawanya saat melihat wajah Alberto yang sangat mempercayainya itu.


" Oohh begitu,," Bilang Alberto mengangguk mempercayai ucapan Ziya.


Dengan lembut Alberto kembali mengelus punggung Demian, supaya Demian bisa tertidur dengan pulas. Melihat kelakuan Alberto seperti itu membuat Ziya tersenyum atas kelembutan yang dilakukan Alberto pada anaknya.


" Alberto,, kau terlihat sungguh menyayangi, Demian,," Ucap Ziya dalam hati sambil menatap wajah Alberto yang terpejam saat mengelus-ngelus punggung Demian.


Ziya merasa bersalah karena, telah mempermainkan Alberto perihal ucapannya yang mengatakan bahwa Demian belum tertidur pulas, padahal sebenarnya, Demian sudah lama tertidur pulas. Ziya segera mengelus lembut wajah Alberto dan mengatakan hal yang sejujurnya. Saat, Ziya sedang mengelus lembut wajahnya itu, Alberto membuka kedua bola matanya dan menatap wajah Ziya.


" Kenapa sayang,," Tanya Alberto dengan suara lembut bertanya pada Ziya.


" Alberto, kau belum mengantuk,," Tanya Ziya yang memulai pembicaraannya.


" Heemm,, belum sayang, ada apa,?" Tanya Alberto menatap Ziya.


" Aku kira, kau sudah mau tidur dan melupakan kejutan yang ingin kau sampaikan padaku,," Ucap Ziya yang membuat mata Alberto membuka lebar.


Seakan teringat dengan keinginannya itu, Alberto segera kembali bertanya pada Ziya, apakah saat ini Demian sudah tertidur pulas.


" Sayang,," Panggil Alberto pada Ziya.


" Heeemm,," Jawab Ziya dengan suaranya yang begitu menggoda hasrat gelora tubuh Alberto yang mulai memanas.


" Apakah, Demian sudah tidur nyenyak ?" Tanya Alberto langsung pada Ziya.


" Heemmm, yah,," Jawab Ziya mengangguk lembut.


Saat Ziya mengatakan bahwa Demian sudah tertidur dengan pulasnya, dengan penuh semangat segera Alberto menarik lembut pelukannya dari tubuh Demian dan bangkit dari tempat tidur. Melangkahkan kakinya menuju ke tempat dimana Ziya sedang berada, Ziya pura-pura lupa sedikit menaikkan kedua alisnya dan mengangkat dagunya langsung bertanya pada Alberto.


" Ada apa ?" Tanya Ziya pada Alberto.


Alberto yang sudah sampai di dekat tubuh Ziya segera mengangkat lembut tubuh wanita cantik yang selalu membuatnya bersemangat untuk melakukan hal-hal yang mesra nan lembut.


" Tentu saja, memperlihatkan sesuatu padamu kejutan yang ingin ku tunjukkan,," Bilang Alberto yang memasukkan kedua tangannya ke dalam tubuh Ziya.


Saat tangan Alberto sudah berada di posisi yang ingin mengangkat tubuhnya itu, Zoya segera meminta izin terlebih dahulu pada Alberto untuk mencium kening Demian.


" Alberto tunggu,, aku mau mencium Demian dulu,," Bilang Ziya yang segera mendekati bibirnya pada kening Demian.


" Heeemm, ya sayang,," Jawab Alberto mengangguk.


" Sayang, Mommy tinggal sebentar ya,," Bilang Ziya yang mengecup lembut puncak kepala Demian dan mengusap wajah Demian.


" Sudah sayang,," Tanya Alberto pada Ziya.


" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk.


Alberto yang melihat bahwa Ziya yang telah selesai mengecup lembut puncak kepala Demian, dengan segera Alberto langsung mengangkat tubuh Ziya untuk pergi bersama dengannya. Ziya merasa heran kenapa, Alberto suka sekali untuk menggendong tubuhnya.


Saat ini, Alberto sudah membawa tubuh Ziya ke dalam gendongannya. Setelah mengaktifkan semua sistem pengaman di kamarnya itu dan merasa aman, dengan segera Alberto melangkahkan kakinya keluar dari ruang tempat tidur pribadinya ini.


Seketika Alberto teringat dengan keranjang tanaman beracun yang dibawakannya dari dalam mobil, kenapa tidak terlihat di atas meja. Karena, saat masuk ke dalam kamar Alberto ingat sekali bahwa ia meletakkan keranjang yang dibawanya itu di atas meja.


" Sayang, keranjang yang di atas meja itu, kemana,," Tanya Alberto pada Ziya.


Seketika Ziya menoleh ke arah meja yang ditunjukkan oleh Alberto padanya.


" Keranjang tanaman yang kita bawa dari taman." Tanya Ziya balik pada Alberto.


" Heemmm,," Jawab Alberto singkat.


" Sudah disimpan di kamar,," Bilang Ziya yang memberitahu bahwa dialah yang membawa keranjang itu ke dalam kamar.


" Oohh, baguslah,," Ucap Alberto mengangguk.


Karena, merasa teringat akan keranjang itu Alberto dengan segera menggendong Ziya keluar dari kamarnya. Ziya, kaget melihat Alberto membawanya keluar dari kamar.


" Alberto, kita mau kemana ?" Tanya Ziya pada Alberto.


" Ke suatu tempat,," Jawab Alberto singkat.


" Iihh,, jangan digendong turunin,, aku malu,," Bilang Ziya dengan suaranya yang terdengar kecil seperti sedang berbisik.


" Kalau malu, tutup mata,," Ucap Alberto yang segera melangkahkan kakinya.


Memang benar, Ziya merasa malu, karena, Alberto selalu saja membuat dirinya malu di depan pengawalnya ini, kalau kelakuan Alberto seperti ini di dalam kamar ya, itu tidak apa-apa, tapi ini mereka sedang berada di luar kamar, sehingga membuat Ziya pura-pura menutup matanya, karena, merasa malu akan tindakan yang dilakukan Alberto padanya itu.


" Sudah sampai belum,," Tanya Ziya yang sedikit berbisik.


" Sudah,," Jawab Alberto singkat.


Karena mendengar ucapan Alberto yang menjawab sudah dengan segera Ziya membukakan kedua bola matanya. Dan, sangat terlihat sekali bahwa mereka masih berada di depan kamarnya Alberto.


" Iiihhhh, Alberto kau membohongiku,," Ucap Ziya yang merasa geram sekali pada Alberto.


Sementara itu, Alberto hanya menahan senyumnya, lalu, Alberto kembali melangkahkan kakinya menuju ke tempat dimana ia ingin menunjukkan sesuatu kepada Ziya. Saat ini, Ziya masih saja tetap menutup matanya dan sangat terlihat sekali bahwa matanya itu sedikit melihat arah tujuan kemana kaki Alberto melangkah.


Ziya melihat bahwa sepertinya Alberto menuju ke sebuah kamarnya Zoya. Ziya sedikit kaget saat Alberto membukakan pintu kamarnya Zoya, apakah Alberto ingin membawanya untuk menunaikan janjinya itu.


" Sepertinya Alberto masuk ke dalam kamarnya Zoya," Ucap Ziya dalam hati sedikit melihat ke arah mana Alberto membawanya itu.


Ziya bisa melihat sedikit dengan jelas walau hanya dilakukannya dengan mengintip, ternyata benar ini kamarnya Zoya. Lalu, dengan segera Ziya bertanya pada Alberto.


" Alberto, apakah aku sudah bisa membuka mataku,," Tanya Ziya yang masih memejamkan matanya.


" Heeemm, buka saja sayang,," Bilang Alberto yang berbisik pada Ziya.


Dengan segera Ziya membukakan kedua bola matanya dan benar terlihat bahwa ini adalah kamarnya Zoya, namun kenapa suasananya terlihat seperti berubah semuanya. Ziya takjub melihat keindahan yang ada di kamar Zoya. Sesaat, Alberto segera menurunkan tubuhnya Ziya dari gendongannya itu.


" Bagaimana sayang,," Tanya Alberto pada Ziya.


Ziya juga bingung mau menjawab apa pertanyaan Alberto padanya. Karena ini bukanlah kamarnya melainkan kamarnya Zoya, jadi Ziya hanya bisa tersenyum senang melihat perubahan itu, namun, kenapa semua barang-barang Zoya sudah dipindahkan ke tempat lainnya dan terdapat barang-barang baru yang lebih bagus lagi terpajang di dalam lemari saat ini.


" Bagus,," Ucap Ziya singkat sambil tersenyum melihat wajah Alberto.


Namun, Alberto tahu sepertinya Ziya merasa bahwa perubahan kamar ini bukanlah untuk dirinya, oleh sebab itu Alberto langsung menjelaskan bahwa ini semua untuk Ziya bukan untuk Zoya.


" Sayang ini aku persembahkan khusus untukmu Ziya,," Bilang Alberto yang menatap lembut wajah Ziya sambil mengangkat kedua tangan Ziya dan mengecupnya.


Ziya terperanjat mendengar ucapan Alberto yang mengatakan bahwa semua barang-barang baru ini dan perubahan baru di kamarnya Zoya, semuanya khusus untuk dirinya. Ziya bingung mau menjawab apa, mau terima ya pasti, tidak mau diterima itu tidak mungkin, Ziya begitu menghargai apa saja yang telah diberikan Alberto padanya itu. Seperti saat ini Alberto memberikan semua barang-barang bagus khusus untuk digunakan Ziya.


Lalu, setelah selesai memperlihatkan semua barang-barang baru untuk Ziya, tak lupa akan tujuan utamanya dengan segera Alberto menunjukkan sesuatu tempat yang akan membuat Ziya semakin bertambah bahagia dan senang atas pemberiannya itu.


***