Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 126 - Ruang Laboratorium



Saat di dalam mobil Alberto membuka laptopnya untuk melihat semua laporan kantor hari ini, Alberto memang tidak ke kantor, karena, hari ini ia mau fokus terhadap pembuatan ruangan khusus penelitian untuk Ziya. Baginya bisa membahagiakan Ziya dengan pemberian sebuah ruangan khusus saja Alberto juga merasa bangga, dan kemungkinan Ziya akan tetap fokus untuk tinggal bersama dengannya.


Setelah melihat semua laporan dari kantornya, Alberto segera membuka sistem pengintai yang terhubung di dalam kamarnya, karena, sudah terlalu lama, Alberto tidak melihat kegiatan Ziya hari ini. Alberto tahu bahwa di kamarnya saat ini pasti sudah ada Vena yang menemani Ziya.


" Apa yang sedang dia lakukan, hari ini,," Ucap Alberto yang mulai melakukan koneksi terhadap kamera pengintai di dalam kamarnya.


Saat laptop Alberto sudah terkoneksi dengan sistem pengintai di dalam kamarnya. Dengan segera Alberto langsung memasangkan headset di telinganya, supaya dia bisa mendengarkan apa saja yang dikatakan oleh Ziya saat ini.


Terlihat Ziya sedang memperhatikan daun tanaman merah yang berada di atas meja. Sesaat Alberto mendengarkan ucapan Ziya yang mengatakan bahwa dirinya sangat ingin pergi lagi ke tempat dimana taman itu berada.


" Heemm, ternyata dia ingin kesana lagi," Ucap Alberto dengan suara kecilnya sambil tersenyum melihat Ziya di layar monitor laptop.


" Baik, sayang setelah aku pulang kita akan kesana,," Ucap Alberto yang mengakhiri pengawasannya terhadap Ziya.


Setelah selesai mengawasi Ziya yang sedang beraktivitas di dalam kamarnya, Alberto segera menggantikan layar lain lagi yaitu membaca semua laporan kantor yang telah dikirimkan semua karyawan padanya.


Saat membaca semua hasil laporan, Alberto akan tetap fokus dengan laporan yang dibacanya itu.


Sementara itu, Zavier yang masih berada di Australia, di dalam ruangannya sedang menelepon anak buah pengintai darinya, yang selama ini ia letakkan di mansion Jimmy, sehingga dengan mudah juga Zavier melakukan pengawasan terhadap Zoya.


" Tuan, sepertinya sasaran sedang bersedih, karena, sungguh terlihat dari raut wajahnya yang tidak seperti biasanya hari ini,," Bilang anak buah Zavier yang telah mengintai di mansion Jimmy.


" Tetap awasi dia, jangan pernah luput sedetikpun," Ucap Zavier yang memastikan anak buahnya untuk selalu mengawasi Zoya.


Karena, Zavier teringat akan perintahan dari Alberto bahwa ia harus segera kembali ke Perancis, oleh sebab itu, Zavier menyerahkan tugas pengawasan terhadap Zoya pada anak buahnya itu, agar Zavier bisa tenang saat ia kembali ke Perancis.


" Oh ya, untuk sementara aku akan kembali ke Perancis dan kau tetap berada disana untuk selalu mengawasi Istri dari Tuan Besar," Bilang Zavier yang memberikan pesan kepada anak buahnya.


" Jangan sampai luput dalam sedetikpun,," Ucap Zavier lagi yang memberi peringatan kepada anak buahnya.


" Kemanapun dia pergi kau harus mengikutinya, Ingat itu,," Bilang Zavier lagi pada pengintai yang dikirimnya itu.


" Baik Tuan, saya akan tetap menjalankan tugas dengan baik,," Jawab anak buah Zavier yang berada di mansion Jimmy.


" Bagus,," Ucap Zavier yang memutuskan teleponnya.


Setelah selesai menelepon anak buah pengintainya itu, Zavier mengemasi barangnya, karena, hari ini dia akan kembali ke Perancis atas perintahan dari Alberto. Terdengar suara dari ponselnya yang berbunyi, Zavier segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang telah meneleponnya.


" Dude,," Ucap Zavier saat melihat nomor ponsel Alberto yang meneleponnya.


" Ada apa dia meneleponku,, apa dia sudah mengetahui siapa istrinya dia yang sebenarnya,," Ucap Zavier lagi yang segera mengangkat teleponnya.


" Yes Dude,," Ucap Zavier menerima telepon dari Alberto.


Zavier mendengarkan semua perkataan yang disampaikan oleh Alberto, sampai-sampai Zavier teringat sesuatu saat Alberto membandingkan kedua sifat dan sikap dari istri kembarnya. Membuat Zavier ingin segera mengungkapkan rahasia tentang siapa istri dari Alberto sebenarnya.


Namun hal itu, belum dilakukannya karena, Zavier tahu bahwa yang lebih pantas untuk menceritakan semua ini adalah Axeloe, karena, saat itu Axeloe yang mengatakan langsung pada Zavier tentang siapa istri yang sebenarnya dari Alberto.


Sebenarnya Axeloe sendiri memiliki maksud lain yang menginginkan bukti kuat dari istri kakaknya itu. Axeloe yang sudah mengetahui siapa sebenarnya Ziya dan Zoya membuat Zavier juga mengikuti rencana dari Axeloe.


Setelah selesai menerima telepon dari Alberto, Zavier mengingatkan semua yang telah terjadi enam tahun yang lalu terhadap temannya itu. Sesaat Zavier mengenang bagaimana Alberto bisa menikah dengan Zoya.


" Dude,, sebenarnya jika kau ingin mengetahui siapa istrimu yang asli, kau harus bertanya dengan Axeloe," Bilang Zavier yang seolah sangat mengetahui siapa sebenarnya istri asli dari sahabatnya itu.


" Karena, disaat kau menikah dengan Zoya, aku dan Axeloe tertawa akan keputusanmu yang ingin bertanggung jawab atas perlakuan yang tidak kau ketahui." Ucap Zavier lagi sedikit tersenyum, karena, mengingat hal yang telah terjadi enam tahun lalu.


" Maaf jika disaat itu kami semua tidak mengetahui rencana yang telah dibuat oleh Zoya padamu,," Gumam Zavier lagi yang merasa menyesal telah terkecoh akan kepintaran Zoya dalam membuat permainannya itu.


Tapi, kali ini Zoya sendirilah yang merasa muak dan kesal dengan permainan yang dibuat oleh Paman Erwin bersama dengannya, sebenarnya Zoya tidak mau mengikuti permainan dari rencana Papinya itu.


Mau bagaimana lagi sebagai seorang anak dari Papi yang begitu menginginkan kekuasaan yang besar, Zoya mau tidak mau harus mematuhi perintah dari Papinya itu yaitu Papi Erwin. Apabila Zoya tidak direbut semasa kecilnya, kemungkinan Zoya tidak akan menjadi wanita yang begitu banyak dibenci oleh orang.


" Oke Dude, jika aku kembali ke Perancis nanti, disaat kau ingin mengetahui siapa sebenarnya istrimu, maka aku akan segera memberitahukan rahasia ini padamu,," Ucap Zavier yang berniat untuk membuka rahasia siapa sebenarnya istri asli dari Alberto dan juga Ibu kandung Demian.


Setelah selesai, memikirkan sesuatu hal yang telah terjadi sekitar enam tahun yang lalu, Zavier kembali mengemasi barang-barangnya dan segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan pribadinya itu.


Sedangkan saat ini Alberto yang berada di atas mobilnya telah selesai membaca semua hasil laporan yang dikirim dari karyawannya yang berada di kantor pusat. Alberto teringat akan sesuatu yang mungkin bisa membuat Ziya merasa senang. Bukannya selama ini Zoya selalu belanja barang-barang yang menarik dan mewah, sedangkan Ziya selama tinggal bersama dengannya sama sekali belum pernah keluar dari kediaman Alberto untuk membeli barang.


Oleh sebab itu, Alberto berinisiatif untuk membelikan suatu barang lain dan langka untuk digunakan oleh Ziya. Walaupun terlihat Ziya tidak menyukai barang-barang mewah namun, Alberto menginginkan supaya Ziya terlihat cantik nan elegan.


Alberto segera menghubungi salah satu toko terkenal yang memproduksi sendiri barang seperti gaun, tas dan juga sepatu heels yang akan digunakan oleh Ziya. Setelah selesai memerintahkan pengawalnya untuk mengambil semua pesanannya itu, Alberto sendiri juga telah sampai di depan kediamannya.


Alberto sedikit menyunggingkan senyumannya saat mendongakkan kepalanya ke atas memandang kaca jendela bahwa disana ada Ziya yang sedang berdiri di dekat kaca. Alberto melihat Ziya yang sedang berdiri di kaca itu sama sekali tidak melihatnya, Alberto berpikir kemungkinan Ziya sedang memikirkan sesuatu hal yang sangat penting berhubungan dengan penelitiannya itu.


" Heeemm,, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu,," Ucap Alberto saat memperhatikan Ziya di dalam kamarnya.


" Bukannya sebelum aku pergi sudah ada Vena di kamar, kenapa terlihat sepertinya dia sendirian." Gumam Alberto yang segera melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Saat Alberto melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya, Alberto melihat bahwa Claire dan Gladys sedang melangkahkan kakinya menuju ke tempat dimana ruangan Martin berada. Dan, kedua wanita itu sama sekali tidak mengetahui Alberto yang telah kembali.


" Heh! biarkan saja dulu mereka bebas, untuk memberikan kesempatan kepada adikku tercinta Axeloe untuk mengetahui semuanya." Gumam Alberto saat melihat Gladys dan Claire yang merasa baikan dan melangkahkan kakinya menuju ke tempat ruangan Martin seperti biasa.


Dengan segera Alberto melangkahkan kakinya menuju ke lantai atas, lantai dimana itu terdapat kamarnya, kamar Zoya, dan kamar Demian. Saat tiba di lantai atas Alberto segera melangkah menuju ke kamarnya Ziya untuk melihat dan memeriksa bagaimana hasil dari pekerjaan yang dilakukan oleh Richie.


Saat Alberto masuk ke dalam kamar Zoya yang sekarang menjadi kamarnya Ziya terlihatlah Richi telah selesai melakukan pembuatan sebuah ruangan khusus untuk digunakan oleh Ziya dalam melakukan penelitiannya.


" Apakah sudah selesai semuanya,," Tanya Alberto pada Richie yang tinggal menyetel sistem keamanan di dalam ruangan itu.


" Sedikit lagi, Tuan,," Jawab Richie sesuai dengan pekerjaannya saat ini.


" Tinggal memasang sistem keamanan di ruangan ini dan ruangan khusus ini sudah bisa digunakan untuk melakukan penelitian." Ucap Richi yang menjelaskan hasil pekerjaannya.


" Bagus,," Bilang Alberto yang memuji kehebatan Richie.


" Aku tidak salah memilih dirimu untuk selalu membuat sebuah ruangan yang menarik bagiku,," Bilang Alberto lagi yang memuji kepandaian Richie dan terlihat Richie tersenyum saat mendengarkan pujian dari Alberto.


" Terima kasih, Tuan,," Jawab Richie yang menganggukkan kepalanya.


" Apakah semua barang-barang keperluan untuk penelitian sudah bisa untuk dimasukkan dan disusun,," Tanya Alberto pada Richie sambil melihat kesana kemari ruangan yang telah selesai dibuat ini.


" Iya, silahkan, Tuan," Jawab Richie mengangguk.


" Baiklah, teruskan pekerjaanmu, kalau sudah selesai kau boleh kembali ke markas,," Bilang Alberto pada Richie.


" Baik, Tuan,," Jawab Richie mengangguk dan tersenyum.


Dengan segera Alberto melangkahkan kakinya menelusuri ruangan khusus yang akan digunakan oleh Ziya dalam melakukan penelitiannya itu. Karena, merasa cukup nyaman dan rapi, Alberto segera memerintahkan kepada pengawalnya untuk membawakan semua barang yang dibawanya dari markas ke dalam kamarnya Zoya ini.


Dengan menekan tombol alat yang ada di telinganya, Alberto segera memerintahkan perintahannya itu untuk segera membawa masuk alat-alat yang mungkin dibutuhkan oleh Ziya.


" Bawa semua masuk alat-alat yang dibutuhkan ke kamar Nyonya Zoya sekarang,," Ucap Alberto yang memerintahkan kepada pengawalnya untuk segera membawa masuk semua alat yang dibawakannya itu.


Setelah selesai memerintahkan pengawalnya itu, Alberto segera mengelilingi lagi ruangan khusus tersebut yang sudah terlihat seperti laboratorium kecil untuk dihadiahkan kepada Ziya.


" Apakah dia akan senang, setelah melihat ruangan ini sudah ada di kamarnya." Ucap Alberto saat matanya mengelilingi ruangan kamar Zoya.


" Heemmm,, semoga saja,," Bilang Alberto seketika kakinya melangkah keluar.


Saat Alberto membuka pintu, terlihatlah semua pengawalnya sedang melangkah menuju ke lantai atas dan menuju ke kamarnya Zoya.


" Tuan, ini semua alat-alatnya,," Ucap salah satu pengawal Alberto yang membawa peralatan lengkap dari markasnya.


" Susun di dalam sesuai dengan susunan yang di atur oleh Richie." Ucap Alberto yang memberikan perintah kepada pengawalnya itu.


" Baik Tuan,," Jawab semua pengawal Alberto yang segera masuk ke dalam kamarnya Zoya.


Setelah selesai memeriksa keadaan ruangan penelitian yang akan dihadiahkan untuk Ziya. Alberto segera melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, karena, kebetulan sore ini Alberto ada waktu untuk bisa menemani Ziya pergi ke taman belakang di dekat danau untuk mengambil semua bahan yang dibutuhkannya.


Saat Alberto membuka pintu kamarnya, Ziya yang melamun di dekat kaca, sedikit terkejut saat mendengar pintu kamarnya dibuka. Ziya segera menoleh dan ternyata yang masuk adalah Alberto.


" Alberto, sudah pulang ?" Tanya Ziya yang segera melangkahkan kakinya mendekati Alberto.


" Heemm,, apakah bahagia jika melihatku sudah pulang ?" Tanya Alberto yang segera berjalan mendekati Ziya.


Saat kedua insan ini bertemu, Ziya sengaja menyambut kedatangan Alberto dengan senyuman lalu, dengan perlakuan manisnya Alberto memeluk erat pinggang Ziya dan menaikkan dagu Ziya hingga mata Ziya bertemu dengan matanya.


" Heemmm,," Jawab Ziya mengangguk.


" Aku ada sesuatu untukmu sayang,," Bilang Alberto kepada Ziya yang terlihat bahwa Ziya penasaran akan ucapan yang disampaikan oleh Alberto itu.


" Apa,," Tanya Ziya yang terlihat bertanya-tanya.


" Kau mau tahu,," Tanya Alberto lagi pada Ziya.


" Heemm,, yah,," Jawab Ziya mengangguk.


" Sebentar,," Ucap Alberto yang menarik dasi panjangnya.


Alberto sengaja menarik dasi panjangnya agar bisa digunakan untuk menutupi mata Ziya. Sesaat Alberto dengan lembut menutup mata Ziya, Ziya tersenyum saat Alberto menutup matanya, sehingga Ziya mengeluarkan pertanyaan yang sangat banyak.


" Alberto, kenapa pakai istilah tutup mata,," Ucap Ziya saat merasakan tindakan Alberto yang menutup matanya.


" Kau akan senang, setelah melihat tempatnya." Bilang Alberto yang masih mengikat mata Ziya menggunakan dasinya.


" Heemmm,, benarkah,," Tanya Ziya yang terlihat semakin penasaran.


Setelah menutup matanya Ziya, Alberto segera menggendong tubuh Ziya, sehingga membuat Ziya kaget saat Alberto mengangkat tubuhnya.


" Aaahh,, Alberto apa yang kau lakukan,," Tanya Ziya yang begitu penasaran akan kelakuan Alberto dengan sengaja menutup matanya itu.


Alberto sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Ziya, di dalam pikirannya Alberto hanya terus melangkahkan kakinya membawa Ziya keluar dari kamarnya saat ini. Saat Alberto keluar dari kamarnya, terlihat semua pengawal Alberto ingin mengikuti langkah kakinya. Namun dengan memberikan kode larangan pada pengawalnya itu tanpa mengeluarkan suara, Alberto segera melangkahkan kakinya menuruni tangga.


Walaupun, mata Ziya ditutupi oleh Alberto, tapi, Ziya mengetahui keadaannya saat ini, sepertinya Alberto membawanya menuruni tangga. Karena, merasa begitu penasaran akhirnya Ziya bertanya lagi dengan Alberto.


" Alberto kita mau kemana ?" Tanya Ziya lagi pada Alberto.


" Kita ke suatu tempat yang pastinya membuatmu bahagia sayang,," Jawab Alberto yang berbisik kepada Ziya.


Saat Alberto menuruni anak tangga semua pelayan yang melintas melihat kelakuan Alberto yang sedang menggendong tubuh Ziya. Begitu romantisnya perlakuan Alberto kepada istrinya, tidak seperti selama ini, Alberto selalu acuh terhadap istrinya, dari istri pertamanya dulu hingga istrinya yang bernama Zoya. Tapi, setelah Zoya kembali, kenapa Alberto begitu romantis dengan istri nakalnya itu.


Begitulah dalam pikiran dari semua pelayan yang sedang melihat perbuatan Alberto pada Ziya. Karena, semua pelayan disini juga tahu bahwa Nyonya Besar mereka saat ini berbeda dengan Nyonya Besar kemarin. Nyonya Zoya saat ini selalu ramah terhadap semua pelayan, sedangkan kalau Zoya yang dulu sama sekali tidak pernah memperdulikan semua pelayan di dalam kediaman ini.


****