Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 229 - Memasukkan Obat



Karena, sepintas terlihat kaget dengan segera Alberto menyuruh Axeloe untuk menyampaikan argumennya untuknya sesegera mungkin. Dengan gaya tegasnya, Alberto langsung memasang telinga untuk mendengar apa saja hasil dari pemeriksaan Rio terhadap Ziya saat ini.


" Ada suatu hal yang telah terjadi di dalam kamar ini,," Jawab Axeloe secara langsung setelah mendapatkan sebuah izin dari Alberto untuk dirinya berbicara.


" Ya, aku tahu itu, Axeloe,," Jawab Alberto secara langsung karena hal yang diucapkan oleh Axeloe, hal itu juga yang tengah di dalam pikirannya.


" Oleh sebab itu, aku memintamu untuk segera melakukan tindakan yang telah kita sepakati terhadap Istriku,," Ucap Alberto tegas dan gigih untuk segera melakukan tindakan yang telah disepakatinya pada Axeloe.


Karena, Alberto tidak mau lagi melihat keadaan tubuh Ziya lemah seperti ini. Alberto sendiri tahu bahwa Ziya selama ini merupakan seorang wanita yang sangat kuat dan juga tangguh. Ziya bisa menjadi wanita selemah ini dikarenakan adanya efek samping dari obat dosis tinggi yang telah dilakukan oleh tim medis atas perintah dari Erwin untuk menguasai tubuhnya Ziya.


" Baik brother, semua keinginanmu, segera aku laksanakan,," Jawab Axeloe dengan tegas dan penuh keyakinan terhadap Alberto.


Karena, sudah mendapatkan jawaban yang pasti dari Alberto dan jawaban ini sudah lama ditunggu kepastiannya, dengan segera Axeloe mengerjakan apa yang harus dilakukannya dalam menindaklanjuti tindakannya terhadap tubuh Ziya.


Karena, dari efek obat berdosis tinggi itu membuat tubuh Ziya selama ini mengalami sebuah reaksi yang menguasai tubuhnya itu, sebab selama ini tubuh Ziya yang dulunya begitu tangguh menjadi lemah seketika keadaannya di dalam suasana yang sedih dan juga ketika reaksi obat itu mulai maka Ziya akan merasakan kesakitan yang begitu menusuk perasaan Alberto disaat Alberto tengah melihatnya sendiri.


Karena, Alberto tidak mau lagi melihat tubuh Ziya di dalam keadaan yang menyedihkan mau tidak mau, Alberto harus kuat menerima dan menahan diri disaat melihat reaksi obat penawar yang akan dimasukkan oleh Axeloe terhadap tubuhnya Ziya. Menurut, Axeloe sendiri bahwa reaksi obat penawar yang akan dimasukkannya itu akan membuat Alberto sendiri tidak akan sanggup melihat tubuh Ziya merasakan kesakitan yang lebih sakit lagi dibandingkan reaksi obat yang selama ini sedang kambuh.


" Demi kesembuhan terhadap tubuhmu sayang, aku akan menerima semua apa saja yang akan kau lakukan padaku,," Ucap Alberto lembut sambil memeluk tubuh Ziya dan berkata tepat di telinga istrinya itu.


Saat ini Ziya sama sekali tidak mendengarkan ucapan dari Alberto untuk dirinya. Karena, Ziya masih berada di dalam sebuah pengaruh reaksi dari obat berdosis tinggi tersebut. Disaat Alberto sedang membisikkan sebuah kata-kata romantis nan bijak membuat Vena yang sedang berada di samping tubuh Ziya merasa terharu saat mendengar ucapan dari majikannya itu.


" Oh My God, ternyata Tuan Besar begitu menyayangi Nyonya,," Gumam Vena dalam hati yang terharu saat mendengar ucapan Alberto saat membisikkan sebuah kata-kata yang memberikan sebuah semangat terhadap Ziya sendiri.


Karena, selama ini dibalik cueknya seorang Alberto dan dibalik kejamnya Alberto masih tersimpan dan terlihat sebuah kasih sayang yang begitu besar terhadap Ziya istrinya itu. Vena baru menyadari bahwa apa yang selama ini menjadi gosip di luaran sana mengenai seorang Zoya Andricha yang telah menikah dengan seorang mafia serta pengusaha sukses dan terbesar di negara Eropa sama sekali tidak pernah mendapatkan sebuah kasih sayang dari suaminya itu semua salah.


" Jika perlakuan, Tuan seperti ini, berarti anggapan orang di luaran saja yang telah tega memberikan sebuah argumen tentang kehidupan rumah tangga Nyonya dan Tuan semuanya salah,," Gumam Vena lagi dalam hatinya yang telah menilai kesalahan semua gosip yang beredar selama ini.


Dan nyatanya selama Vena menjadi asisten pribadi dari seorang istri mafia ini, Vena selalu melihat bagaimana tindakan Alberto terhadap Ziya majikannya itu. Memang di awal saat Vena masuk ke kediaman Alexandre ini Vena begitu syok dan terkejut melihat kekejaman yang telah dilakukan oleh majikannya Alberto terhadap Ziya.


Tapi, perlahan-lahan berangsur membaik perlakuan dan sikap Alberto terhadap Ziya semakin menjadi lembut serta saat ini bisa terlihat bahwa Alberto sedikit takut terhadap Ziya dan selalu mengantisipasi keadaan Ziya supaya Ziya selalu aman dimanapun Ziya berada.


" Dan bisa terlihat dari mataku sendiri bahwa selama ini Tuan bukanlah kejam terhadap Nyonya melainkan begitu mengantisipasi keadaan Nyonya supaya Nyonya selalu aman dimanapun Nyonya berada,," Bilang Vena lagi masih dalam pikirannya.


" Heemm, ternyata Nyonya Zoya selama ini memiliki seorang pasangan yang begitu tepat sekali, walaupun Tuan besar terlihat begitu kejam, namun, Tuan besar masih memiliki sisi baik dalam dirinya,," Ucap Vena lagi yang masih berkutat dalam pikirannya mengenai kelakuan Alberto terhadap Ziya.


Disaat Vena sedang sibuk berkutat di dalam pikirannya sendiri mengenai hubungan majikannya yaitu Alberto dan Ziya. Tanpa tersadar Axeloe sudah dua kali memanggil nama Vena dan posisi tubuhnya berada cukup jauh dari tempat tidur Alberto.


" Vena,," Panggil Axeloe kepada Vena.


" Vena,," Panggil Axeloe lagi kepada Vena.


Dua panggilan yang telah dilakukan Axeloe kepada Vena, namun, Vena masih saja tidak mendengarkan suara panggilan itu terhadap dirinya sendiri. Karena, Alberto yang telah mendengarkan panggilan yang dilakukan oleh Axeloe itu dengan segera Alberto mengagetkan Vena untuk langsung beranjak ke tempatnya Axeloe.


" Vena, kau tidak dengar bahwa Axeloe memanggil ?" Tanya Alberto yang suaranya terdengar oleh Vena.


" Akkh iya Tuan, maaf,," Jawab Vena sedikit kaget setelah mendengar ucapan Alberto yang telah menegurnya itu.


" Permisi Tuan,," Ucap Vena lagi dengan melepaskan pegangannya terhadap tangan Ziya secara lembut dan beranjak melangkah mendekati tempat Axeloe.


Dengan segera Vena melangkahkan kakinya menuju ke tempatnya Axeloe yang sedang sibuk memasukkan obat ke dalam sebuah tempat jarum suntik (spuit). Sesampainya di tempat Axeloe dengan sopan dan juga lembut Vena segera sedikit membungkukkan tubuh dan berbicara dengan sopan.


" Maaf Tuan, jika saya tidak mendengar panggilan dari Tuan,," Ucap Vena sambil membungkukkan tubuhnya tepat di samping tubuh Axeloe.


Saat melihat Vena telah membungkukkan tubuhnya di samping tubuhnya itu, dengan gaya cueknya Axeloe segera menyuruh Vena untuk membawa semua alat yang telah ia letakkan ke dalam sebuah tempat untuk dibawa ke tempat tidurnya Ziya.


" Bawakan semua alat itu,," Ucap Axeloe yang sengaja menyuruh Vena untuk membawa alatnya.


" Baik Tuan,," Jawab Vena dengan segera mengambil tempat alat yang telah disiapkan oleh Axeloe.


Dengan segera Axeloe juga melangkahkan kakinya kembali lagi ke tempat tidur dan begitu juga dengan Vena yang mengiringi langkah Axeloe mendekati tempat tidur Ziya. Sesampainya di tempat tidur itu, Vena segera meletakkan tempat semua alat tepat di dekat Axeloe dan Axeloe segera mengambil jarum suntik serum penawar obat dosis tinggi yang akan segera dimasukkan ke dalam tubuh Ziya.


Dengan gaya biasanya Axeloe selalu memberikan sebuah perintah apapun terhadap orang yang berada di sampingnya, mungkin karena faktor selama ini banyak sekali asisten yang selalu mengikuti dirinya, oleh sebab itu, Axeloe seperti terbiasa dan memberikan kesan cuek terhadap Vena yang menjadi asistennya sementara itu.


" Ambilkan obat yang telah disediakan,," Ucap Axeloe kepada Vena sambil tangannya memeriksa tangan Ziya yang tepat untuk dimasukkan obat olehnya itu.


Saat ini Axeloe sedang memeriksakan bagian tangan Ziya bagian yang paling tepat sekali untuk dimasukkan obat penawar hasil dari penemuannya sendiri selama beberapa waktu ini. Sedangkan, Alberto sendiri memperhatikan seksama tangannya Axeloe yang sedang memilih bagian tepat untuk disuntikkan obatnya.


" Hati-hati saat memasukkan obatnya,," Ucap Alberto memberikan sebuah peringatan kepada Axeloe.


" Heemm, baik,," Jawab Axeloe santai kepada Alberto tanpa menatap mata Alberto dan tetap fokus dengan bagian atas lengan tangannya Ziya.


Setelah menemukan bagian tubuh yang tepat dengan menengadahkan satu tangan ke arah Vena, tanpa menoleh Axeloe memberikan sebuah isyarat terhadap Vena bahwa saat ini juga ia akan memasukkan obatnya ke dalam tubuh Ziya. Dan, Vena cepat mengerti karena dirinya adalah seorang perawat jadi hal itu sudah terbiasa ia lakukan.


Dengan segera Vena memberikan sebuah tempat jarum suntik yang telah berisikan obat kepada Axeloe. Setelah mendapatkannya dengan lembut dan sesuai dengan tata cara seorang dokter yang akan menyuntikkan obat ke dalam tubuh pasiennya begitu juga hal yang sedang dilakukan oleh Axeloe saat ini terhadap Ziya.


Disaat Axeloe sedang mendaratkan jarum suntik ke dalam kulit lengan tubuh Ziya, tiba-tiba terdengar bunyi getaran ponsel Alberto yang begitu jelas sekali. Jadi, hal itu membuat Axeloe menghentikan tindakannya sementara dan langsung mendongakkan kepalanya menatap Alberto. Melihat wajah Alberto yang hanya fokus menatap wajah Ziya dan sama sekali tidak menghiraukan siapa yang telah melakukan panggilan di ponselnya itu.


DEEERRRTTT!! DEEERRRTTT!!


Suara yang terdengar dari ponselnya Alberto.


" Ada yang menelepon,," Ucap Axeloe mendongakkan kepalanya melihat Alberto.


" Biarkan saja, setelah obat penawar darimu sudah dimasukkan baru aku terima telepon ini,," Jawab Alberto masih fokus dengan tatapannya terhadap Ziya.


" Heemmm baiklah, tapi pasti itu penting,," Bilang Axeloe lagi kepada Alberto mengingatkan bahwa panggilan yang telah masuk itu pasti berita penting untuk Alberto.


" Biarkan saja,," Jawab Alberto singkat dan jelas.


" Heemm baiklah,," Jawab Axeloe kembali sambil menaikkan kedua bahunya.


Karena, mendengar jawaban Alberto yang terdengar begitu jelas dan juga singkat itu, dengan segera Axeloe mulai kembali melakukan tindakan yang harus dilakukannya saat ini juga terhadap Ziya. Axeloe kembali fokus dengan pekerjaannya dalam memasukkan obat ke dalam tubuhnya Ziya.


Disaat Axeloe telah memasukkan jarum suntik ke dalam tubuh Ziya dan mengalirkan obat penawar itu ke dalam tubuh Ziya begitu terlihat jelas dari wajah Alberto sebuah kecemasan yang dapat dilihat oleh Vena.


" Sssshhhhh,," Suara desisan yang terdengar dari mulut Alberto ketika Axeloe memasukkan obat ke dalam tubuh Ziya.


Senyuman simpul yang terlihat dari wajah Vena ketika melihat reaksi Alberto yang berdesis ikut merasakan kesakitan yang akan dialami oleh Ziya nantinya. Karena, Alberto sendiri sudah mengetahui dengan jelas bagaimana reaksi obat penawar dari Axeloe ketika sudah masuk dan bereaksi di dalam tubuhnya Ziya.


" Heemm ternyata Tuan sendiri ikut merasakan betapa sakitnya obat yang dimasukkan oleh Tuan Axeloe saat ini ke dalam tubuh Nyonya,," Ucap Vena dalam hati sambil mengulas senyuman simpulnya.


Setelah memasukkan obat ke dalam tubuh Ziya, dengan lembut juga Axeloe menarik kembali jarum suntik tersebut dari kulit lengan tubuh Ziya. Dan langsung berbicara mengenai beberapa lama efek serta reaksi obat itu kepada Alberto akan mulai terasa oleh tubuhnya Ziya.


" Obatnya sudah dimasukkan, brother, sekitar lima belas menit lagi kita akan bisa melihat reaksi obatnya,," Jelas Axeloe dengan detail dan serius kepada Alberto.


" Heemm, baik aku akan tetap menunggu dan tidak akan pernah melepaskan istriku dalam keadaan apapun,," Jawab Alberto yang masih tetap memeluk erat tubuh Ziya.


" Baiklah, kita akan menunggu sementara obat itu bereaksi di dalam tubuhnya,," Sambung Axeloe kembali di dalam ucapan penjelasannya itu.


Alberto hanya mendengarkan saja ucapan yang disampaikan oleh Axeloe tanpa adanya respon apapun. Saat ini Alberto, Axeloe, serta Vena sedang menunggu reaksi obat yang telah dimasukkan ke dalam tubuh Ziya sesuai dengan waktu yang diberitahukan oleh Axeloe.


Di dalam penungguan yang tengah dilakukan oleh Alberto, Axeloe dan juga Vena tiba-tiba terdengar kembali suara getaran ponsel Alberto. Sehingga, Axeloe kembali memberitahukan hal itu kepada Alberto karena, begitu sering ponsel Alberto bergetar namun, Alberto belum menerimanya sedikitpun.


" Karena, reaksi obat ini masih lama lebih baik, kau terima dulu panggilan itu,," Ucap Axeloe memberitahukan Alberto suatu hal yang benar.


" Tidak, Axeloe, ketika aku menerima panggilan ini, maka reaksi obat yang kau masukkan ke dalam tubuh Ziya akan mulai bereaksi dan aku tidak ada di sampingnya,," Jawab Alberto dengan jelas dan tegas kepada Axeloe.


Begitu terlihat jelas bahwa Alberto sama sekali tidak mau meninggalkan Ziya sendiri merasakan dan menerima kepedihan serta kesakitan yang begitu berat disaat obat di dalam tubuhnya itu bereaksi. Dan, Alberto hanya akan menerima panggilan yang dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya itu walaupun begitu penting, setelah ia melihat dan menjaga tubuh Ziya dari reaksi obat yang dimasukkan oleh Axeloe.


" Olehh sebab itu lebih baik aku abaikan saja dulu panggilan ini dibandingkan aku harus meninggalkan Istriku,," Ucap Alberto dengan tegas tanpa menghiraukan ponselnya yang tengah bergetar.


Karena, sudah mengetahui bagaimana sifat dan karakter dari kakaknya itu, Axeloe tidak lagi memberikan peringatan yang terdengar penting kepada Alberto. Karena, sifat Alberto yang bersikeras untuk tetap menjaga Ziya percuma saja walaupun sudah ribuan kali ada panggilan di ponselnya. Sebelum Alberto selesai melihat keadaan Ziya maka Alberto tidak akan pernah meninggalkan Ziya sendiri saat menahan rasa sakit dari reaksi obat yang telah dimasukkan oleh Axeloe.


Begitulah karakter dari Alberto yang begitu kuat dalam menghadapi apapun, apalagi terhadap seorang wanita yang selama ini telah disia-siakan oleh dirinya dan wanita itu adalah wanita yang sedang berada di sampingnya ini wanita yang selama ini begitu ia cintai.


****