
Ziya segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat dimana adanya Christin, Gladys dan juga Claire. Saat Ziya mendekati ruang makan dan terlihatlah Vena sedang menarik kursi untuk Ziya duduki. Gladys melihat dengan jelas bahwa saat ini tampilan tubuh Ziya sungguh lebih menarik lagi. Sangat terlihat di wajah Claire, seakan tidak menyukai adanya Ziya di antara mereka.
" Silahkan Nyonya,," Bilang Vena yang menarik kursi untuk Ziya duduki.
" Terima kasih, Vena,," Ucap Ziya tersenyum dan segera duduk tepat di sebelah Christin Neneknya Alberto.
" Selamat pagi Grandma,," Sapa Ziya sambil duduk di sebelah Madam Christin.
" Pagi juga,," Jawab Christin yang heran mendengar Ziya menyapanya.
Karena, seperti biasanya Zoya tidak pernah menyapa siapapun di rumah ini.
" Grandma baru saja pulang ?" Tanya Ziya pada Christin sambil mengambil beberapa lembar roti dan mengoleskan selai ke dalam roti itu.
" Yah,, baru saja tiba,," Jawab Christin yang juga sedang mengoleskan rotinya.
" Heh!! tumben menyapa dengan baik,," Bilang Gladys yang membuka mulutnya untuk kembali mencela Ziya.
Saat ini Ziya tidak mau untuk memulai pertarungan lagi kepada dua orang wanita yang berada di hadapannya itu. Bagi Ziya lebih baik saat ini dia tidak menghiraukan perkataan-perkataan yang dilontarkan oleh Gladys maupun Claire.
" Dan ternyata saat ini kau juga pandai mendapatkan perhatian dari Alberto, sehingga kau mendapatkan pengawalan yang begitu ketat,," Ucap Gladys yang memulai ucapan kasarnya.
Namun, Ziya masih saja mengunyah makanannya dengan penuh kenikmatan. Ziya sama sekali terlihat menutup telinganya dan tidak ingin mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Gladys padanya.
" Heh!! dasar tidak tau sopan santun,," Bilang Claire yang ikut menambah emosi dari Gladys.
Setelah selesai mengunyah roti di mulutnya dan juga meminum susu yang berada di atas meja, dengan memberikan senyuman sinisnya, Ziya menatap tajam wajah Claire dan juga Gladys. Saat ini Ziya tidak takut lagi dengan Gladys, karena, percuma saja dihormati kalau wanita itu sendiri yang bersikap buruk terhadap dirinya.
" Heh! aku tidak mau membuat keributan dengan kalian." Ucap Ziya yang menatap tajam wajah Claire, hingga membuat Neneknya Alberto sedikit terkekeh mendengar ucapan Ziya.
Sungguh terlihat saat ini, Neneknya Ziya sedikit kagum dengan kelakuan Ziya yang lembut bagaikan air mengalir namun memiliki banyak ranjau di dalamnya. Hingga siapapun yang terjun ke dalam air itu akan terluka karena, sabetan dari ranjau tersebut. Begitu juga dengan ucapan Ziya saat ini, begitu halus namun bermakna.
Gladys yang melihat Grandma Christin terkekeh itu langsung bertanya kenapa tidak membelanya, malah terlihat sedikit membela kelakuan Ziya.
" Mom,, Kenapa Mommy tertawa ?" Tanya Gladys kepada Christin.
" Aku hanya menertawakan dirimu,, karena, kau yang telah memulai merusak selera makanku,," Ucap Christin yang membuat Ziya tersenyum puas.
Mendengar ucapan Christin seperti itu, sangat terlihat bahwa Gladys tidak menyukai jawaban Christin yang terlihat seolah membela Ziya saat ini.
" Heh!! dasar kau wanita ja-lang,, sekarang kau juga dibela oleh Mommy Christin, lihat saja kau,," Ucap Gladys dalam hati yang terlihat sekali dari matanya menatap tajam wajah Ziya.
Sementara itu, Claire tidak bisa berbuat apa-apa saat ini, karena, Nyonya besar di rumah ini yang telah mengeluarkan suaranya. Terlihat saat ini Ziya tersenyum puas menatap wajah Claire dan juga Gladys. Walaupun Gladys menatapnya dengan tatapan yang ingin membunuh, namun Ziya merasa menang, karena, ternyata saat ini Neneknya Alberto membelanya.
Terlihat juga di wajah Vena yang tersenyum ceria, karena majikannya mendapatkan dukungan dari Neneknya Alberto. Sungguh suatu hal yang sangat baik bagi Ziya saat ini.
Setelah selesai menyantap makanannya, dengan segera Ziya bangkit dari duduknya dan berpamitan langsung dengan Grandma Christin.
" Heeemm,, Grandma, Zoya sudah selesai makan dan Zoya izin pamit keluar, karena, Alberto meminta Zoya untuk menghadiri sebuah pesta di perusahaannya." Ucap Ziya tersenyum kepada Grandma Christin dan membuat Grandma Christin menambah kecurigaannya pada perubahan Zoya dalam tatapannya ini.
" Ya, silahkan,," Jawab Christin yang juga tersenyum kepada Ziya.
" Ok, Zoya pamit Grandma,," Ucap Ziya yang sengaja menciumi pipi kiri Grandma Christin.
Saat Ziya mengucapkan kata pamit itu saja sudah membuat Gladys dan Claire terperangah, apalagi saat ini Ziya dengan sengaja mencium pipi Christin sebelum ia pergi.
" Hah!! Aunty apakah itu benar ?" Tanya Claire yang berbisik kepada Gladys.
" Sssttt,," Ucap Gladys pada Claire.
Dengan gaya angkuhnya Ziya melangkahkan kakinya melewati Gladys dan Claire tanpa mengatakan sepatah kata apapun, sehingga membuat Gladys langsung berkomentar saat hentakan sepatu Ziya tidak terlalu jauh dari ruang makan itu.
" Dasar wanita kurang ajar, tidak tau sopan santun,," Ucap Gladys yang mengoceh ketika melihat wajah Ziya melewatinya tanpa berpamitan sedikitpun.
" Kau yang tidak tau sopan santun, mengganggu makan paginya." Jawab Christin yang terdengar membela Ziya.
" Mom, kenapa Mommy membela dia, dia itu jelas-jelas wanita ja-lang, yang sepantasnya tidak masuk ke dalam rumah ini," Ucap Gladys lagi yang masih terdengar sedikit di telinga Ziya.
" Habiskan makanan kalian, atau aku akan memanggil Alberto untuk menyelesaikan masalah kalian dengannya,," Bilang Christin yang terlihat sangat marah saat ini pada kelakuan Gladys.
Ziya yang masih mendengar pembicaraan di antara Gladys dan Christin membuat dirinya tersenyum puas saat mendengarkan ucapan pembelaan yang dilontarkan oleh Christin padanya.
" Heemm,, ternyata Grandma membelaku,," Gumam Ziya dalam hati sambil tersenyum puas.
Vena yang menatap wajah Ziya juga tersenyum puas mendengar semua pembicaraan yang dilakukan oleh Gladys dan Christin. Ternyata Madam Christin lebih membela majikannya dibandingkan membantu kedua wanita jahat itu.
" Heeemm bagus ternyata Madam Christin membela Nyonya ku, bagus kalau begitu,," Ucap Vena dalam hati yang ikut-ikutan senang melihat wajah sumringah pada majikannya ini.
Ketika Ziya menoleh ke arah Vena, jelas sangat terlihat bahwa Vena sedang tersenyum senang, entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Dengan segera Ziya mengagetkan Vena yang tersenyum sendiri itu.
" Ada apa Vena ?" Tanya Ziya yang mengagetkan Vena.
" Hah! tidak apa-apa Nyonya, hanya merasa senang saja, karena, Madam Christin lebih membela Nyonya dibandingkan,,," Ucap Vena yang sedikit terputus karena Ziya memberikan kode padanya untuk tidak menyebutkan nama kedua wanita itu.
" Sssttt,," Ucap Ziya yang memberikan kode diam pada Vena sambil tersenyum.
" Ooohhh, Ok, Nyonya,," Jawab Vena tersenyum dan mengangguk.
Vena yang mengerti maksud dari Ziya, segera mengangguk sambil tersenyum juga. Setelah sampai di depan, Ziya segera masuk ke dalam mobil Alberto yang begitu mewah, Ziya seakan takjub dengan mobil yang akan digunakannya ini, karena, biasanya Ziya yang telah sering menaiki mobil di dalam kediaman ini, belum semewah dan semenarik mobil ini. Seorang pengawal segera membukakan pintu mobil untuk Ziya.
" Silahkan Nyonya,," Ucap pengawal yang mempersilahkan Ziya untuk masuk ke dalam mobil.
" Terima kasih,," Bilang Ziya segera masuk ke dalam mobil.
Sementara itu, Vena duduk di depan tepat di sebelah kursi supir dan pengawal yang telah membukakan pintu untuk Ziya segera menutup pintu itu. Lalu, sekitar beberapa pengawal masuk ke dalam mobil dan menggiring mobil yang digunakan Ziya untuk pergi ke sebuah pesta.
Semua mobil sudah meluncur keluar dari pekarangan taman rumah Alberto saat ini, sudah lama Ziya tidak keluar dari kediaman Alberto semenjak insiden dimana Alberto pertama kali menyentuh Ziya di malam itu. Terlihat di wajah Ziya begitu bahagia dan cerah sekali saat melihat pemandangan di luar kawasan istana Alexandre.
" Akhirnya, aku bisa keluar kembali, apa kabar Mama dan Papa, semoga mereka baik-baik saja,," Gumam Ziya dalam hati sambil memandangi pemandangan di luar kaca mobil.
Ziya yang teringat kedua orang tuanya itu, merasa bahwa saat ini, sepertinya dia tidak perlu merasa takut lagi dengan ancaman Paman Erwin, yang akan membunuh keluarga mereka. Karena, saat ini Ziya bisa meminta bantuan dari Alberto untuk menyelamatkan kedua orang tuanya itu.
" Sepertinya, aku akan meminta bantuan darimu, Alberto,," Ucap Ziya dalam hati yang berniat untuk meminta bantuan dari Alberto menyelamatkan orang tuanya dari ancaman Erwin.
Tak lama kemudian sampailah Ziya di sebuah gedung perusahaan yang cukup besar dan megah, sama seperti gedung perusahaan dimana tempat dirinya bekerja dulu. Mobil yang digunakan oleh Ziya terparkir di tempat yang telah dikhususkan oleh petugas perusahaan untuk menyambut kedatangan tamu istimewa hari ini.
Semua pengawal telah keluar dari mobilnya masing-masing, sementara itu Ziya belum keluar dari dalam mobil, karena, Vena telah mengatakan bahwa Ziya boleh keluar dari mobil setelah semua pengawal siap untuk menjaga keamanan Ziya.
" Nyonya, jangan keluar dulu sebelum semua pengawal siap,," Bilang Vena yang mengingatkan Ziya.
Sementara itu, Vena keluar dari dalam mobil dan salah satu kepala pengawalan Ziya ini yang dipimpin oleh Friek adik kandung dari Frengky yang selama ini ditugaskan hanya menjadi asisten pribadi Alberto juga saat ini menjadi ketua pengawal untuk mengawali Ziya. Sehingga Friek lebih harus berhati-hati dalam pekerjaan barunya ini. Friek segera membuka pintu mobil untuk Ziya.
" Silahkan Nyonya,," Ucap Friek yang membuka pintu mobil untuk Ziya.
Saat pintu mobil terbuka, Ziya segera keluar dari dalam mobilnya dan melangkahkan kakinya menuju dimana tempat pesta saat ini diadakan. Ziya dituntun oleh petugas pesta untuk melewati red karpet sebagai tamu utama dan terpenting dari pesta ini, membuat Ziya merasa sangat dihormati oleh semua orang disini.
Beberapa pengawal yang mengikuti langkah kaki Ziya dan juga Vena mengiringi langkah kaki Ziya. Membuat Ziya merasa canggung melihat pesta semewah ini, padahal sebenarnya pesta ini belum mewah bagi Alberto.
Salah satu pemilik pesta perusahaan ini menyambut kedatangan Ziya dengan penuh hormat. Ziya hanya bisa tersenyum melihat penyambutan pada dirinya yang begitu besar ini.
" Selamat datang Nyonya Besar Zoya Alberto Alexandre,," Ucap sang pemilik pesta yang menyambut Ziya.
" Terima kasih sudah bersedia datang menjadi tamu kehormatan dalam pesta perayaan yang kami lakukan ini." Ucap sang istri pemilik pesta tersebut.
Ziya terperangah melihat semua tamu di dalam ruangan pesta ini yang begitu banyak dan juga berpakaian serba mewah dan branded. Sedangkan dirinya sendiri tidak tahu apakah yang dipakainya itu sangat mahal. Karena, selama ini Ziya tidak mengetahui berapa harga pakaian dan perhiasan yang telah dipakainya itu.
Semua tamu di dalam ruangan pesta kebanyakan tidak menyukai adanya Ziya yang menjadi tamu kehormatan di dalam pesta ini. Ziya tidak tahu kenapa saat dirinya berada di luar juga mendapatkan orang-orang yang terlihat membenci dirinya. Sebenarnya orang bukan membenci dirinya melainkan tamu undangan ini kebanyakan tidak menyukai adanya Zoya yang hadir di dalam pesta ini.
" Heehh!! Dasar wanita sok sempurna,," Cibir salah satu perempuan di sudut tempat saat Ziya melewatinya.
Vena yang mendengarkan ucapan orang itu segera menoleh dan menatap tajam wanita itu, namun Ziya segera menarik tangan Vena agar tidak menghiraukan anggapan buruk padanya yang ada di dalam pesta ini.
" Ayo Vena,," Bilang Ziya pada Vena.
" Tapi, Nyonya mereka,," Ucap Vena yang ingin sekali menampar mulut wanita yang sengaja mencibir majikannya itu.
" Biarkan saja,," Bilang Ziya dengan gaya anggunnya.
Ziya segera melangkahkan kakinya menurut petugas yang memberikan tempat duduk untuk dirinya, dimana sebagai tamu kehormatan Ziya mendapatkan tempat yang begitu istimewa.
" Silahkan Nyonya Alberto,," Ucap sang pemilik pesta kepada Ziya.
" Terima kasih,," Jawab Ziya tersenyum.
Vena memeriksa keadaan tempat duduk untuk Ziya, sekiranya aman barulah Vena meminta Ziya untuk duduk.
" Silahkan duduk Nyonya,," Ucap Vena setelah memeriksa keadaan tempat duduk Ziya.
Ziya segera melangkahkan kakinya dan duduk di tempat yang paling istimewa itu. Sementara itu semua pengawal dan juga Vena berdiri di dekat Ziya. Namun, Ziya mengatakan kepada semua pengawalnya untuk duduk di dekatnya saja, tidak perlu berdiri tegap seakan membuat semua orang menjadi takut dengan kebesaran yang ada dalam diri Alberto.
" Kalian boleh duduk,," Bilang Ziya kepada semua pengawalnya.
" Tidak Nyonya, kami bertugas untuk menjaga Nyonya, jadi kamu harus siap untuk menjaga keamanan Nyonya,," Jawab Friek yang menjadi ketua pengawal pribadi untuk Ziya.
" Heemm,, Ya sudah, Vena duduk sini,," Bilang Ziya kepada pengawal Friek dan memanggil Vena untuk duduk bersama dengannya.
" Baik Nyonya,," Ucap Vena yang segera mendekati Ziya.
Karena, tamu kehormatan sudah hadir, sang pemilik pesta meminta Ziya untuk memotong tali pita yang ada dalam perayaan peresmian gedung perusahaan miliknya ini. Sebenarnya, pemilik pesta memiliki bisnis yang kuat kepada Alberto, sehingga sangat menghormati adanya kehadiran dari istri sang pemilik perusahaan terbesar di tempatnya ini.
" Untuk meresmikan perusahaan kami yang terbaru ini, kami meminta Nyonya Zoya Alberto Alexandre untuk memotong tali pita peresmian gedung terbaru ini." Ucap sang pemilik pesta yang mengumumkan permintaannya kepada Ziya.
Tentu saja Ziya terperangah mendengar perkataan yang disampaikan oleh sang pemilik pesta meminta dirinya untuk memotong tali pita peresmian gedung perusahaan terbarunya ini.
Dengan gaya anggunnya Ziya segera bangkit dari tempat duduknya, begitu juga dengan Vena dan beberapa pengawal itu mengikuti langkah kaki Ziya untuk maju ke depan. Saat berada di depan semua kamera telah merekam kegiatan Ziya saat ini. Terlihat Ziya tersenyum menerima nampan yang berisi gunting.
" Silahkan Nyonya,," Ucap sang pemilik perusahaan.
Ziya segera mengambil gunting dan secara bersamaan dengan sang pemilik perusahaan Ziya memotong tali pita peresmian gedung itu dengan senyuman yang merekah. Otomatis bagi yang menonton acara saat ini pastinya dapat melihat bagaimana cantik dan bahagianya Ziya saat ini.
Setelah selesai melakukan pemotongan pita, Ziya segera pamit dengan sang pemilik pesta untuk segera pulang, karena, masih banyak hal yang akan dilakukannya setelah ini. Sang pemilik pesta menyadari akan kesibukan dari istri sang Tuan Besar mereka itu. Pemilik pesta itupun sangat senang akhirnya bisa meresmikan perusahaannya ini dengan dihadiri istri dari Alberto. Selama ini istri dari Alberto tidak pernah memperdulikan orang-orang yang kedudukannya di bawah Alberto. Berbeda dengan Ziya selalu tersenyum ramah dan manis kepada semua bawahan Alberto.
Saat Ziya ingin melangkahkan kakinya keluar dari ruangan pesta ini, dengan sangat di sengaja seorang perempuan menerobos masuk ke sela pengawal yang menjaga Ziya dengan sengaja menarik rambut Ziya.
Ziya yang kaget rambutnya ditarik membuat dirinya spontan berteriak. Dan, dengan cepat pula pengawal yang tidak menyangka akan kejadian itu segera menangkap wanita yang berani-beraninya menyergap Ziya dalam kondisi tidak yang begitu cepat itu.
" Dasar kau wanita ja-lang,," Ucap salah satu perempuan yang menarik rambut Ziya.
" Aaakkkhh,,," Teriak Ziya.
Spontan membuat semua orang kaget melihat kejadian itu, karena, telah berani mengganggu keamanan majikannya dengan segera Friek menangkap wanita itu. Karena posisinya saya Ziya mau keluar dari ruangan memang terlihat sangat aman, namun tak disangka masih ada saja yang ingin mengganggu Ziya disaat dirinya berada diluar seperti ini.
" Kurang ajar kau, berani-beraninya kau mengganggu istri Alberto Alexandre,," Bilang Vena yang menatap tajam wajah wanita yang telah ditahan oleh Friek terlihat sangat tidak menyukai Ziya.
" Nyonya tidak apa-apa ?" Tanya Vena cepat pada Ziya.
" Tidak apa-apa,," Jawab Ziya yang merasa malu dihadapan orang banyak.
" Lepaskan saya,," Ucap wanita itu yang meronta melawan pertahanan Friek terhadap dirinya.
" Tangkap dia,," Ucap Vena yang membuat salah satu pengawal untuk membawa wanita itu.
Namun, saat pengawal itu segera membawa wanita itu keluar dari tempat ini dengan cepat Ziya melarangnya, Ziya ingin tahu, kenapa, wanita itu sengaja menerobos masuk ke sela pengawalan terhadapnya. Ziya ingin tahu apa alasan perempuan itu menarik rambutnya.
" Tunggu,," Ucap Ziya yang mencegah pengawalnya untuk menangkap wanita itu.
Dengan segera Ziya melangkahkan kakinya mendekati wanita yang masih ditahan itu.
" Kenapa kau menarik rambutku, apa salahku ?" Tanya Ziya langsung kepada wanita itu.
" Kau tidak menyadari apa kesalahanmu, Hah!" Ucap wanita itu yang menatap Ziya dengan tajam.
" Aku ingin tahu, kenapa kau sangat berani menarik rambutku dan mempermalukanku,," Ucap Ziya yang juga menatap angkuh pada wanita itu.
" Kau kurang ajar, karena kau telah berani merebut suamiku," Ucap wanita itu yang membuat Ziya terperangah kaget.
" Apa maksudmu, aku tidak pernah melakukan itu,," Ucap Ziya dengan nada suara yang meninggi.
Vena hanya bisa terperangah mendengar ucapan yang dikatakan oleh perempuan ini, karena, setahunya majikannya ini saja tidak pernah keluar dari kediaman, bagaimana ceritanya wanita ini mengecam majikannya dengan perkataan seperti itu.
" Heh! dasar munafik jelas-jelas kau telah merebut suamiku dan kau tahu aku akan mengatakan kepada suamimu Alberto bahwa kelakuan istrinya ini sangatlah buruk,," Ucap wanita itu yang tidak mau kalah tinggi suaranya dari Ziya.
" Katakan saja, karena kau telah salah menuduh orang,," Ucap Ziya dengan tatapan tajamnya.
" Baik, suamimu akan membuang dirimu Zoya, jika suamimu tahu betapa munafik kelakuan istrinya diluar,," Bilang wanita itu yang tidak mau kalah dari Ziya.
" Aduuhhh,, Zoya apa yang telah kau lakukan, kenapa, menggunakan namamu aku selalu dikejar-kejar orang buruk." Ucap Ziya dalam hati.
Meski wanita itu sudah ditahan oleh pengawal Ziya, namun Ziya menyadari sepertinya wanita ini memiliki dendam dengan Zoya kembarannya itu. Ziya merasa dengan menggunakan nama Zoya dirinya bisa saja dihormati seperti tadi, namun dengan nama Zoya juga dirinya dipermalukan seperti saat ini.
" Heh!! katakan kalau kau berani, aku ingin lihat apakah suamiku akan membuangku ketika dia mendengar perkataan darimu, karena kau salah paham denganku, aku sama sekali tidak pernah merebut suami orang kau salah paham,," Ucap Ziya yang mengecam keras wanita itu.
" Hahahaha, Zoya kau pikir, suamimu mencintaimu, bahkan selama ini suamimu tidak pernah memperdulikan kehadiranmu Zoya." Ucap wanita itu yang sangat mengetahui bahwa memang benar Alberto sama sekali tidak pernah memperdulikan Zoya selama ini.
" Kau tidak tahu siapa suamiku sebenarnya,," Ucap Ziya yang terlihat sangat marah saat ini.
" Lihat saja setelah suamiku mengetahui ini semua aku ingin lihat apa yang bisa dilakukan olehmu lagi untukku," Bilang Ziya yang memainkan jarinya di hadapan wanita itu.
" Pengawal, Lepaskan dia,," Bilang Ziya yang segera melangkahkan kakinya pergi keluar dari ruangan ini.
Dengan segera pengawal Ziya menuruti perintah dari Ziya untuk melepaskan wanita yang telah menarik rambutnya itu. Karena, Ziya tahu dia dendam dengan Zoya bukan dengan dirinya. Dan, terlihat sang pemilik pesta mengejar Ziya membungkukkan tubuhnya menghormati Ziya untuk meminta maaf atas. kejadian yang telah terjadi.
" Nyonya, maafkan atas kejadian yang ada." Ucap pemilik pesta kepada Ziya.
" Kau tidak bersalah, tapi, kalian semua yang telah melihat kejadian ini akan menjadi saksi jika suamiku tahu bahwa kalian berpura-pura diam menonton wanita itu yang sengaja mempermalukanku, aku ingin lihat bagaimana suamiku membalas perbuatan kalian semua, aku ingin lihat bagaimana kehidupan kalian semua setelah ini,," Ucap Ziya yang menatap tajam kepada semua wanita yang berpura-pura tidak mengetahui kejadian yang telah terjadi.
" Tapi, Nyonya kami tidak bersalah," Ucap sang pemilik pesta.
" Suamiku tahu mana yang benar dan tidak benar,, terima kasih,," Ucap Ziya yang segera pergi dari tempat pesta itu.
Sang pemilik pesta terlihat sangat menyesali dengan kejadian yang ada, kenapa saat di pestanya ada saja kejadian yang akan membuat dirinya ikut masuk dalam daftar blacklist Alberto. Semua orang ternganga mendengar ucapan Ziya seperti itu, ada yang tertawa mencibir ucapan Ziya karena merasa tidak percaya dengan ungkapannya itu, namun ada juga yang ketakutan setelah mendengar ucapan Ziya yang terlihat sangat marah dan pasti mereka akan takut akan sikap Ziya seperti itu, baru kali ini seorang Zoya terlihat melawan semua orang yang berani menghinanya.
Sangat dipastikan mereka akan bangkrut, sebangkrut-bangkrutnya jika perusahaan mereka tidak didukung oleh perusahaan Alberto Alexandre.
****