Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 251 - Bantu Aku Membuka Ini !



Karena, Vena selalu menolak akan perintah yang diberikan oleh Axeloe itu, sehingga membuat Axeloe tetap memaksa Vena menuruti perintahnya dan menggendong tubuh Vena agar Vena tidak bisa melawan dari dirinya. Axeloe sengaja menggendong Vena dan membawa Vena menuju ke tempat tidurnya, walaupun saat ini Vena memukul dada Axeloe serta memberontak dalam gendongan itu. Namun, tidak membuat Axeloe gentar dalam menggendong wanita yang sudah ada di kamarnya ini.


" Tuan, lepaskan saya, Tuan mau apa,," Teriak Vena yang meronta-ronta saat digendong Axeloe sambil memukul dada Axeloe dengan sekuat tenaganya.


Sudah berapa kali Vena berteriak meminta pada Axeloe agar dirinya bisa diturunkan dan juga dilepaskan. Sungguh jelas sekali terlihat dari raut wajah Vena ketakutan dan juga kecemasan atas sikap Axeloe yang sedang memaksanya serta menggendongnya menuju ke tempat tidur. Di dalam pikiran Vena saat ini hanyalah sebuah pikiran buruk yang akan dilakukan oleh Axeloe pada dirinya.


" Ya Tuhan, bagaimana aku, apa yang akan dilakukan oleh Tuan Axeloe,," Ucap Vena dalam hatinya sambil memberontak dan tetap memukul dada Axeloe sekuat tenaganya.


Setelah sampai di dekat tempat tidur dengan segera Axeloe meletakkan Vena ke atas kasur dan langsung menahan tubuh Vena menggunakan tubuhnya sendiri. Agar bisa membuat Vena terdiam sejenak, karena, Axeloe akan memberitahukan Vena bahwa ia meminta sedikit bantuan dari Vena yang profesinya juga sama dengannya yaitu merupakan seorang tim kesehatan.


" Diam, tidak perlu berteriak lagi, aku hanya memerlukan dirimu ini hanya sebentar saja,," Ucap Axeloe sambil meletakkan tubuh Vena ke atas tempat tidur.


" Aakkhh, sakit,," Teriak Vena ketika tubuhnya telah diletakkan di atas tempat tidur dan sengaja ditindih oleh Axeloe dengan tubuh besarnya itu.


" Tuan saya mohon jangan lakukan ini, saya bukanlah wanita seperti apa yang ada dalam pikiran, Tuan,," Ucap Vena memohon pada Axeloe yang telah menguraikan air matanya karena, merasa tubuhnya telah ditindih oleh Axeloe.


Di dalam pikiran Vena saat ini hanyalah satu yaitu Axeloe akan melampiaskan naf.su buruk terhadap dirinya. Padahal Vena selama ini tidak pernah melakukan hubungan khusus apapun kepada pria lainnya. Karena, setelah ia lulus dari kuliahnya itu, Vena bertekad untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang terbaik hingga mendapatkan hasil gaji yang besar. Tapi, ternyata saat ini Vena tidak bisa melakukan apa-apa lagi dan Vena mengira bahwa tubuhnya pasti akan dinikmati oleh Tuan Muda dari keluarga Alexandre ini.


" Hei kenapa kau selalu berkata seperti itu,, aku tidak bermaksud apapun pada dirimu,," Ucap Axeloe yang sengaja menindih tubuh Vena agar Vena tidak memberontak dan pergi lagi.


" Tuan, jangan lakukan ini, aku bukan wanita seperti itu,," Ucap Vena yang sudah menumpahkan air matanya begitu deras memohon belas kasihan dari Axeloe.


" Memangnya aku mau melakukan apa padamu, haahh,, kau bukan tipe wanita pemuas naf.suku,," Ucap Axeloe dengan suara yang sangat jelas hingga membuat Vena sedikit terdiam ketika mendengarkan ucapan Axeloe itu.


" Diam, stop menangis,," Ucap Axeloe lagi dengan suaranya yang terdengar lantang di telinga Vena.


" Dengar, kau seorang perawat bukan, aku hanya meminta bantuanmu, untuk menggantikan ini,," Ucap Axeloe sambil melonggarkan tindihan tubuhnya pada tubuh Vena dan menunjukkan sebuah benda berwarna putih yang membalut dada Axeloe.


Karena, sudah meletakkan Vena ke atas tempat tidur dan menindih tubuh mungil itu dengan tubuhnya yang cukup besar dibandingkan Vena. Akhirnya Axeloe memberitahukan tujuannya yang sengaja ia lakukan untuk mengajak Vena ke dalam kamarnya. Betapa terkejutnya Vena ketika melihat Axeloe yang membukakan kemejanya dan terpampang jelas bahwa di bagian dadanya tertutup perban yang cukup tebal.


" Haahh, Ya Tuhan, ini kenapa Tuan ?" Tanya Vena langsung bangkit dari posisinya yang sedang terbaring di atas tempat tidur pada Axeloe.


" Hal biasa dan hanya goresan kecil,," Jawab Axeloe singkat mengenai luka yang ada di bagian dadanya.


" Lupakan saja,," Ucap Axeloe singkat seolah tidak menghiraukan lagi sikap Vena sebelumnya pada tubuhnya itu.


" Cepat kau ambilkan tas medis itu dan keluarkan perbannya,," Ucap Axeloe yang sengaja memberi perintah kepada Vena.


" Ba, baik Tuan,," Jawab Vena dengan segera mengambil tas yang berada di meja tepat di samping tempat tidur.


Dengan segera Vena mengambil tas peralatan medis milik Axeloe di atas meja yang tempatnya memang sangat dekat dengan tempat tidur Axeloe. Jadi wajar saja jika Axeloe meminta Vena untuk meletakkan peralatan medisnya di dekat tempat tidurnya itu. Karena, posisinya mudah dijangkau oleh Axeloe sendiri, namun, Vena telah salah berpikir dengan permintaan Axeloe sebelumnya.


" Ya ampun, aku telah salah beranggapan denganmu Tuan," Ucap Vena dalam hatinya saat mengambil peralatan medis milik Axeloe.


" Cepat ambilkan, kau lama sekali mengambilnya,," Ucap Axeloe yang mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


" Ba, baik Tuan,," Jawab Vena yang sudah berhasil menjangkau tas peralatan yang dimaksud.


Setelah selesai mengambilkan tas peralatan, dengan segera Vena membuka tas tersebut dan langsung mengeluarkan perban sesuai dengan permintaan Axeloe. Lalu, Axeloe sendiri memberitahukan bagaimana cara membuka perban di tubuhnya serta memasangkan perbannya kembali. Dengan seperti itu, Vena mengerti akan maksud dari perkataan Axeloe.


" Keluarkan terlebih dahulu perbannya lalu, gunting perbannya sekitar dua meter, setelah itu bubuhkan obat serbuk berwarna kuning dan putih yang sudah aku racikan itu,," Ucap Axeloe yang memberitahukan tata cara mengganti perban di dadanya.


" Oh baik, Tuan," Jawab Vena mengangguk seolah mengerti akan perkataan dari Axeloe.


Dengan segera Vena melakukan semua hal yang telah diberitahukan oleh Axeloe padanya, setelah menggunting perban yang dibutuhkan Vena mengambil obat serbuk yang dimaksudkan oleh Axeloe. Karena hanya ada obat serbuk itu saja yang ada di dalam tas peralatan medis. Setelah selesai semua barulah Vena kembali bertanya pada Axeloe mengenai perban yang telah siapa dan perban yang akan dibuka.


" Sudah selesai Tuan,," Jawab Vena sambil menunjukkan hasil dari tugasnya itu.


" Bagus,," Ucap Axeloe setelah melihat hasil kerja Vena yang memang benar sesuai dengan petunjuk darinya itu.


" Dan sekarang kau bisa membuka semua perban ini,," Sambung Axeloe lagi sambil menunjukkan perban yang menutupi dada bidangnya.


Vena hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam ketika mata indahnya itu harus melihat bagian tubuh Axeloe yang begitu indah sekali. Walaupun tertutup dengan perban namun bagian kotak-kotak pada dada serta perutnya Axeloe begitu jelas sekali terlihat. Roti sobek yang membuat semua wanita menatapnya bisa meleleh, namun, Vena tetap fokus dengan pekerjaan yang harus ia lakukan.


****