Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 59 - Terhuyung Lemah



Sementara itu,,


Di dalam mobil Alberto teringat akan laptop yang ingin diambilnya saat ia berada di dalam kamar sebelum ia pergi namun seakan lupa untuk di bawakan olehnya, karena, belum sempat untuk mengambil laptop, namun ia telah bertengkar hebat dengan Ziya saat itu.


" Laptop,,," Ucap Alberto yang mencari-cari laptopnya.


" Astaga,, sh.it aku lupa membawanya,," Bilang Alberto yang membuat supir pribadinya sesaat menatap dirinya dari kaca tengah mobil saat itu.


Dengan memberanikan diri, supir pribadi Alberto menanyakan kepada Alberto apakah mereka mesti kembali lagi untuk mengambil laptop yang diperlukan oleh Alberto saat ini.


" Maaf Tuan, apakah kita harus kembali ke kediaman,,?" Tanya supir pribadi Alberto saya itu.


Alberto teringat bahwa dirinya tidak terlalu memerlukan laptop itu, karena, sepulang ia dari kantor ia bisa membaca semua laporan yang akan dikirim Zavier untuknya nanti.


" Tidak perlu, jalan,," Ucap Alberto yang memerintahkan supirnya itu.


" Baik Tuan,," Jawab supir pribadi Alberto mengangguk.


Mobil Alberto saat ini telah keluar dari wilayah taman rumahnya yang begitu sangat luas sekali. Sekarang saja mobil Alberto baru melewati perbatasan pekarangan bagian dalam dan pekarangan bagian luar.


Sesaat Alberto memikirkan ucapan Ziya yang begitu terngiang di pikirannya saat ini.


" Aku bukanlah Zoya, Zoya, Zoya,," Ucapan yang keluar dari mulut Ziya saat itu seakan berputar menari-nari di pikirannya Alberto.


" Dia sudah berani membuktikan bahwa dirinya adalah bukan Zoya, lalu apa maksud dia yang sengaja ikhlas mengikuti perintah dari bajing-an Erwin." Pikir Alberto dalam hati.


" Meskipun dia sudah mengakui dirinya siapa, namun aku akan tetap harus menyelidiki dirinya,, karena, aku belum puas atas pengakuannya itu,," Ucap Alberto yang sedikit membuat supirnya mendengarkan omongannya itu.


" Tapi, aku tidak perlu mengasihi dirinya lagi, karena, dirinya sama saja dengan perempuan ja-lang lainnya, terlihat po-los, tapi ternyata, Heh!!" Umpat Alberto yang begitu kecewa akan diri Ziya itu.


Ketika Alberto tengah mengumpat sendiri mengenai perihal tentang keadaan Ziya yang telah mengakui dirinya itu siapa. Namun untuk sesaat Alberto teringat bahwa dirinya lupa untuk mengaktifkan alarm keamanan yang ada di dalam kamarnya itu.


" Oh sh.it aku lupa mengaktifkan alarmnya.." Ucap Alberto yang membuat supirnya lagi-lagi kaget dan segera bertanya pada Alberto kembali


" Ada apa, Tuan,,?" Tanya supirnya Alberto.


Alberto merasa saat ini ia merasa heran, kenapa ia begitu kecewa dan membenci sosok Ziya itu, tapi kenapa, rasa bencinya itu bisa hilang sesaat, seakan dirinya ingin selalu berada di dekat Ziya dan melindungi Ziya seorang perempuan yang telah sanggup menembus hatinya terdalam.


Sementara itu,,


Di dalam kamar Alberto laki-laki yang telah menggendong Ziya dan meletakkan Ziya dengan lembut, supaya Ziya tidak merasakan dan tidak sadar bahwa tubuhnya telah di jelajahi oleh laki-laki ini tepatnya di tengah tempat tidur, membuat matanya memandang tubuh Ziya dengan penuh na-fsu.


Dengan perlakuan lembut darinya itu akhirnya laki-laki yang telah berhasil masuk ke dalam kamarnya Alberto kini sudah berhasil pula untuk membuka satu persatu yang ada pada diri Ziya. Sesaat matanya lebih nanar lagi saat menatap dua puncak gunung dengan bentuk membulat sempurna yang masih tertutup oleh penutupnya.


Dengan sangat lembut laki-laki itu mencoba menaikkan tubuhnya ke atas tubuh Ziya dengan cara perlahan agar tidak diketahui oleh Ziya yang tengah pingsan saat ini dan pria yang menggunakan baju serba hitam itu segera menge-cup lembut bibir Ziya. Ziya yang merasa dirinya tidak bisa bernafas itu, membuat dirinya sadar dari pingsannya. Ziya terbelalak kaget ketika seseorang yang bertubuh cukup besar memakai baju serba hitam telah berada di atas tubuhnya dan mengunci rapat dirinya saat ini.


Ziya merasa bahwa laki-laki itu telah menge-cup bagian lehernya, membuat Ziya segera berontak dan berteriak.


" SIAPA KAU !!!,," Teriak Ziya yang mendorong tubuh besar laki-laki itu dengan sekuat tenaganya meskipun ia baru tersadar dari pingsannya itu.


" Lepaskan aku,, lepaskan aku,, Eekkkhhh,," Ucap Ziya yang menepis perlakuan pria itu kepada tubuhnya dan Ziya pun dengan sengaja mem-ukul kepala laki-laki itu dengan sekuat tenaganya.


Sebenarnya selama ini memang Ziya begitu kuat dalam ilmu bela dirinya, tapi saat ini tubuhnya sedang lemah karena, baru saja tersadar dari pingsan akan sakit yang terjadi di kepalanya.


" Lepaskan aku,, tolong,," Teriak Ziya saat ini tanpa sedikitpun laki-laki itu melepaskan dirinya.


Tanpa bersuara laki-laki itu dengan semakin cepat menarik dengan paksa bagian penutup luar tubuhnya Ziya sehingga terbukalah bagian penutup itu dengan keadaan yang tidak sempurna pastinya so-bek di bagian yang tidak menentu saat ini.


Ziya semakin berontak dan berteriak meminta tolong akan keadaannya saat ini. Dengan teriakan yang sangat kuat sekuat tenaganya itu membuat Ziya tetap berteriak dan melawan akan tindakan laki-laki tersebut.


Di dalam pikiran Ziya saat ini, jangan sampai dirinya terulang lagi dise-ntuh oleh laki-laki setelah perlakuan Alberto padanya itu.


" Tolong,,, Tolong,," Teriak Ziya.


" ALBERTO,,,,," Teriak Ziya dengan sekuat tenaga.


Ziya sengaja memanggil nama Alberto, karena, ia tahu bahwa pria yang tengah ada bersama dengannya itu bukanlah Alberto melainkan orang yang ingin membuat dirinya dalam bahaya. Ziya berteriak begitu kuat berharap agar Alberto akan segera datang untuk membantu dirinya saat itu. Karena, Ziya tahu orang yang sedang berada di atasnya saat ini bukanlah Alberto yang menginginkan tubuhnya itu. Melainkan orang lain yang sengaja ingin mencelakakan dirinya itu.


Dari bentuk tubuhnya saja sudah berbeda, jadi walaupun kesadaran Ziya belum terlalu pulih, tetapi dirinya tidak mau lagi disentuh lelaki lain selain Alberto saat malam dimana Alberto menyatakan dirinya sudah tidak pera-wan lagi.


Di dalam mobil Alberto yang mendengar ucapan supirnya menanyakan akan kerisauan dirinya terhadap Ziya meminta kembali lagi ke rumahnya saat ini.


" Kembali ke rumah,," Pinta Alberto kepada supirnya.


" Baik Tuan,," Jawab sang supir mengangguk mengerti akan permintaan dari Tuan Besarnya ini.


Dengan cepat supir membelokkan kembali mobilnya dan meluncur ke arah dalam pekarangan rumah.


Alberto merasa cukup cemas saat ini pada keadaan Ziya. Karena, sebelum dia pergi tadi, ia sudah bertengkar hebat dan menyakiti dengan cukup ka-sar tubuh Ziya. Sehingga menyebabkan dirinya lupa untuk mengaktifkan alarm pelindung di kamarnya yang saat ini masih ada Ziya di dalam kamarnya itu.


Walaupun di kamar itu sudah ada pengawal yang menunggunya diluar, tetapi di sisi lain, di dinding rumah Alberto pastinya tidak ada orang yang menjaganya, sehingga menyebabkan orang dengan sangat mudah untuk masuk ke dalam kamar pribadinya itu.


Walaupun, Alberto telah memasang semua CCTV di setiap sudut bahkan di seluruh ruangan kamarnya itu. Tapi, kenapa saat ini Alberto merasa cemas sekali terhadap keamanan Ziya.


Di dalam mobil Alberto segera mengaktifkan speaker bluetooth yang berada di telinganya itu, dan speaker bluetooth itu sengaja terkoneksi atau terhubung dengan sistem suara dari kamar pribadinya.


" Kenapa aku merasa khawatir dan cemas pada dia, padahal dia sudah berkomplot dengan musuhku Erwin," Ucap Alberto dalam hati yang merasa resah memikirkan keselamatan Ziya.


Saat dipencet tombolnya memang belum terdengar apa-apa, Alberto merasa cukup lega.


" Baguslah, ternyata tidak terjadi apa-apa padanya,, Aku yang terlalu mengkhawatirkan dirinya." Ucap Alberto yang ingin menonaktifkan kembali tombol speaker bluetooth yang terpasang di telinganya itu.


Sesaat Alberto mendengar suara Ziya menanyakan siapa kau, pada seseorang membuat Alberto terbelalak dan mendengarkan speaker itu secara seksama.


****