
Saat ini di dalam kamarnya Ziya, khususnya ruang ganti di kamar ini, terdengarlah suara candaan dari ketiga wanita yang sedang asyik berbincang di dalam. Perbincangan mereka bertiga sungguh membuat orang yang mendengarkannya seketika merasa iri, karena, terlalu hangat dan penuh akan kasih sayang.
Apalagi suara Ziya yang selalu memanggil Isabelle dengan panggilan sayang, persis seperti apa yang sedang ia lakukan saat memanggil putranya Demian. Isabelle saat ini merasa begitu bahagia ketika mendapatkan perhatian dan rasa kasih sayang yang dicurahkan Ziya padanya.
" Mommy, jangan tertawa, Bella malu,," Ucap Isabelle seketika merasa malu dan menutup wajahnya saat Ziya tertawa melihat wajahnya yang memerah itu.
Karena, Ziya masih terbawa dengan tawanya, akhirnya Vena sebagai asistennya segera mengingatkan Ziya akan sikap majikannya itu yang sedang tertawa bahwa saat ini putri remaja yang duduk di hadapan mereka merasa sangat malu ketika Ziya menanyakan siapa orang yang membuat gadis remaja ini menjadi malu.
" Nyonya, jangan tertawa lagi, lihat Nona Isabelle jadi malu,," Ungkap Vena yang menoleh ke arah majikannya dan seketika Ziya perlahan menghentikan ketawanya yang masih berlanjut itu.
" Hihihi maaf sayang jika Mommy tertawa Isabelle jadi malu,," Ucap Ziya yang membuka tangan Belle di wajahnya.
" Tidak apa-apa, Mom,," Jawab Isabelle yang menggelengkan kepalanya.
" Oke, sekarang Mommy dan Vena akan mencoba mendandani wajahnya Belle agar tidak terlihat pucat lagi,," Ucap Ziya yang melirik wajah Isabelle di dalam pantulan cermin.
" Apakah Belle bersedia ?" Tanya Ziya langsung sambil tersenyum pada Belle.
" Heemmm, boleh Mom, Belle mau seperti wajah Mommy yang selalu terlihat cantik bagaikan bidadari,," Ucap Isabelle yang begitu bersemangat ketika Ziya menawarkan diri untuk mendandani wajahnya.
" Aduh, seperti Mommy ?" Tanya Ziya seketika terbelalak.
" Yeah, Mom, boleh ya Mom,," Bilang Isabelle yang terdengar merengek pada Ziya.
" Oke, baiklah, Mommy akan mendandani wajah Isabelle seperti wajah Mommy,," Ucap Ziya yang menarik napasnya, merasa heran dengan Isabelle yang menyatakan bahwa wajahnya sangat cantik.
Ziya merasa sepertinya mata Isabelle sama seperti mata Vena yang salah menilai wajahnya ketika ia memakai make up seperti saat ini. Vena selalu mengatakan bahwa wajah Ziya begitu indah bagaikan bidadari, begitu juga dengan pernyataan dari Isabelle bahwa wajahnya Ziya juga sangat cantik bagaikan bidadari.
" Heemmm let's go Vena kita mulai,," Ucap Ziya yang mengajak Vena untuk mendandani wajah Isabelle.
Isabelle hanya asyik menikmati semua proses dandanan yang sedang dilakukan oleh Ziya dan juga Vena. Terlihat saat ini, Ziya dan Vena sangat asyik sekali membuat wajah Isabelle menjadi cantik. Ketika Ziya dan Vena sedang asyik mendandani wajahnya Isabelle, dalam sejenak suara ponsel Vena yang diletakkan di atas meja rias berbunyi, sehingga sedikit mengganggu kesibukan yang sedang mereka lakukan.
" Eemm, Aunty Vena ada yang menelepon,," Ucap Isabelle sambil membuka satu matanya melirik ponsel Vena yang berbunyi dan berkedip.
" Sebentar Nona tanggung,," Jawab Vena yang tangannya sedang sibuk mengikat rambut Isabelle.
" Belle yang jawab boleh ?" Tanya Isabelle dengan sopan.
" Silahkan Non, angkat saja,," Ucap Vena yang masih mengikat rambut Isabelle menggunakan karet pelangi.
" Angkat saja, sayang,," Ucap Ziya sambil mengambil bedak untuk dipakai oleh Isabelle.
Karena, mendapatkan izin dari Vena dan juga Ziya dengan segera Isabelle mengambil ponsel di atas meja rias dan melihat siapa yang sedang menelepon saat ini. Isabelle melihat dengan jelas nama orang yang sedang menelepon itu.
" Tuan Besar Alberto,," Ucap Isabelle ketika membaca nama orang yang sedang meneleponnya.
Karena, saat ini Alberto yang sedang menelepon, Isabelle merasa takut untuk mengangkat telepon dari Daddynya itu, sehingga Isabelle langsung memberikan ponsel itu pada Ziya.
" Mommy Daddy yang menelepon,," Ucap Isabelle pada Ziya.
" Heemm,, terima saja sayang, tidak apa-apa,," Ucap Ziya yang sedang sibuk memilih make up lainnya.
Isabelle masih merasa cemas dan takut, jika mengangkat telepon dari Daddynya ini, karena, ketika ia mengetahui bahwa Alberto bukanlah ayah kandungnya, sejak itulah Isabelle merasa takut dan juga mengerti kenapa Alberto selama ini tidak memperdulikan kehadiran dirinya.
" Tapi, Belle,," Ucap Isabelle yang belum berani mengangkat telepon itu.
Ziya seketika tersenyum dan menatap remaja manis itu, lalu, memberikan dukungan pada Putrinya yang baru saja dekat dan menempel dengannya itu.
" Tidak apa-apa sayang, Mommy ada disini,," Ucap Ziya yang memberikan keyakinan dan semangat pada Isabelle.
Saat mendengarkan ucapan Ziya seperti itu, membuat Vena tersenyum, karena, Ziya begitu mendukung putrinya Alberto ini untuk mendapatkan kasih sayang dari Daddynya juga. Dengan perasaan yang masih merasa takut dan sedikit gemetar, akhirnya Isabelle mengangkat telepon yang sudah beberapa kali Alberto panggil.
" Halo Vena,," Suara Alberto yang terdengar dari ponselnya Vena.
" Ya, Daddy,," Ucap Isabelle dengan suara lembutnya.
Dalam seketika Ziya, Vena dan juga mendengar keheningan sementara dari ponselnya itu, mungkin Alberto sedikit kaget ketika mendengar suara asing dari ponselnya Vena saat ini, dan suara asing itu memanggilnya Daddy, namun, suara itu terdengar bukan seperti suaranya Ziya. Lalu, dalam beberapa detik Alberto kembali mengeluarkan suaranya.
" Dimana Mommy Zoya ?" Tanya Alberto dengan suara dinginnya pada Isabelle.
" Ada, sebentar Dad,," Ucap Isabelle dengan suara lembutnya yang masih merasa takut untuk berbicara dengan Alberto.
Isabelle selama ini memang terkenal akan kecerewetan mulutnya, namun sifat dan sikap cerewet itu seketika menghilang, saat ia mengetahui bahwa ia sebenarnya bukanlah putri kandung dari Alberto Alexandre. Dan, saat ia bertemu dengan Alberto untuk menanyakan kebenaran yang ada, Alberto juga terlihat jelas bahwa ia bukanlah ayah kandungnya. Oleh sebab itu, saat ini kecerewetan dari mulutnya Isabelle sudah sedikit menghilang ketika berhadapan langsung dengan Alberto.
Karena, Alberto saat ini langsung menanyakan Ziya, dengan segera Isabelle memberikan ponsel itu pada Ziya.
" Ini Mom, Daddy ingin berbicara,," Ucap Isabelle dengan wajahnya yang sendu.
Ziya memahami apa yang sedang dirasakan oleh Isabelle saat ini, ketika mendengarkan suara Alberto yang selalu mengeluarkan kata-kata dingin terhadap putrinya ini. Dan, Ziya juga menerima ponsel itu dengan lembutnya dari tangan Isabelle.
" Iya sayang,," Ucap Ziya sambil menerima ponsel dari Isabelle.
" Halo, ada apa ?" Tanya Ziya langsung pada Alberto.
" Heemm, sayang kau sedang berada dimana sekarang ?" Tanya Alberto balik pada Ziya.
" Aku, Isabelle dan Vena sedang berada di kamar,," Jawab Ziya dengan perkataan jujur.
" Heemmm, Isabelle ada di kamar juga ?" Tanya Alberto langsung pada Ziya.
" Yah," Jawab Ziya langsung.
" Oh baiklah, aku hanya ingin memberitahukan bahwa hari sore ini aku dan Axeloe kembali ke rumah,," Bilang Alberto yang membuat Isabelle menoleh ke arah Ziya dan seketika tersenyum ceria.
" Apa, Uncle Axeloe kembali Dad,," Bilang Isabelle yang bertanya dari samping Ziya.
Namun, Alberto sama sekali tidak menjawab ucapan yang disampaikan oleh Isabelle padanya. Karena, ia hanya ingin memberitahu Ziya bahwa hari ini ia pulang bersama adiknya Axeloe.
" Axeloe kembali, baiklah aku dan Vena akan menyiapkan makanan untuk malam nanti,," Ucap Ziya yang menyambungkan perkataan dari Isabelle.
" Sayang, berikan ponselnya sebentar pada Isabelle,," Gumam Alberto yang membuat Ziya tersenyum dan Isabelle tercengang.
Isabelle seketika kembali tercengang saat Alberto meminta ponselnya untuk diberikan kepada dirinya lagi. Sementara itu, dengan senyuman manisnya Ziya memberikan ponsel itu kembali pada remaja yang berada di hadapannya ini.
" Ini sayang, Daddy mau bicara,," Ucap Ziya sambil memberikan ponsel pada Isabelle.
" Mommy, Belle,," Gumam Belle yang menggelengkan kepalanya menolak halus permintaan Alberto yang ingin berbicara padanya.
" Heemmm, Come terima sayang, Daddy mau bicara," Ucap Ziya lagi sambil tersenyum memandang Isabelle.
Namun, terlihat Isabelle menggelengkan kepalanya menolak halus permintaan Daddynya itu, tapi, masih saja Ziya memberikan ponsel itu kepada Isabelle. Mau tidak mau Isabelle menerimanya dan memberanikan diri untuk
" Ya, Dad,," Ucap Isabelle dengan suara lembutnya.
" Heemm, karena, saat ini kau sedang bersama Mommy Zoya, maka menurutlah dengan semua pengajaran yang diberikan Mommy Zoya padamu,," Ucap Alberto pada Putrinya ini.
" Ya, Dad, Belle juga sangat menyayangi Mommy Zoya,," Ucap Isabelle sambil menoleh ke arah Ziya.
" Heemmm, terima kasih sayang,," Ucap Ziya sambil mengelus rambut pirang Isabelle.
" Sebentar lagi aku akan kembali,," Ucap Alberto setelah selesai memberikan pesan pada putrinya itu.
" Baik,," Jawab Ziya singkat.
" Oh ya, apakah Grandma sudah mengetahui kalau Axeloe kembali ?" Tanya Ziya sebelum menyelesaikan percakapannya.
" Jangan diberitahukan, karena, aku memang sengaja untuk memberi surprise pada Grandma,," Ucap Alberto yang terdengar jelas di ponselnya saat ini.
" Oohh oke,," Jawab Ziya mengangguk.
Setelah selesai menerima telepon dari Alberto, Ziya melihat jarum jam di dinding saat ini dan terlihat memang sudah sore, akhirnya Ziya dan Vena segera menyelesaikan pekerjaannya yang sedang mendandani Isabelle di dalam kamarnya itu. Isabelle hanya bisa merasa bahagia ketika melihat wajah Ziya yang berseri-seri saat mengetahui sore ini Alberto akan kembali.
Sementara itu, setelah selesai menelepon Ziya, Alberto sengaja tidak memberitahukan hal ini kepada Neneknya, karena, Alberto ingin memberikan kejutan pada Neneknya itu akan kepulangan dari cucu kesayangannya yaitu Axeloe.
Setelah selesai, mendandani wajahnya Isabelle dengan dandanan yang alami, sambil menghembuskan nafasnya Ziya dan Vena merasa puas dengan hasil pekerjaannya ini.
" Wah, ternyata hasilnya bagus,," Ucap Vena yang memuji hasil dandanan yang mereka lakukan ini.
" Shut,, Vena,," Bilang Ziya yang memberi kode pada Vena.
Sambil menutupi wajahnya Isabelle dengan kedua tangannya sendiri, barulah Ziya membukakannya sambil mengucapkan kata kejutan untuk Isabelle.
" Taraaa surprise sayang,," Ucap Ziya yang membuka kedua tangannya.
Isabelle terbelalak melihat hasil dari dandanan yang dilakukan oleh Ziya dan juga Vena pada wajahnya itu. Terlihat natural namun begitu cerah dan juga enak dipandang, sehingga membuat Isabelle merasa bahagia melihat wajahnya saat ini.
" Waahhhhh,, thank you Mommy," Ucap Isabelle yang menatap wajahnya di cermin sambil memeluk pinggang Ziya.
Ziya tersenyum ketika mendapatkan perlakuan lembut seperti ini dari putrinya Alberto yang baru saja ia berikan kasih sayang itu.
" Sayang ucapan terima kasihnya ucapkan juga untuk Aunty Vena,," Bilang Ziya lembut yang mengajari tata krama pada putri Alberto ini.
" Heemm,, terima kasih juga Aunty Vena,," Bilang Isabelle yang tersenyum menoleh ke arah Vena.
" Iya Non,, sama-sama," Ucap Vena juga tersenyum.
" Karena, kamu sudah cantik putrinya Mommy, sekarang kita ke dapur untuk segera menyiapkan makanan saat Daddymu kembali dan juga Uncle Axeloe." Ucap Ziya yang berbicara pada Isabelle.
" Oke Mom,," Jawab Isabelle yang bangkit dari duduknya.
" Come Vena, kita langsung ke dapur,," Bilang Ziya yang mengajak Vena untuk segera ke dapur.
" Oke Nyonya,," Jawab Vena mengangguk.
Ziya, Vena dan juga Isabelle segera melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya ini, lalu, saat Ziya dan Isabelle yang melangkah bersama menuruni tangga, asisten dari Madam Christin sedang mengintai kebersamaan mereka.
" Heemm, sepertinya Nona Isabelle saat ini sudah mulai dekat dengan Nyonya Zoya." Gumam asisten pribadi Madam Christin yang sengaja merekam adegan Ziya dan Isabelle yang terlihat akrab saat ini.
Ziya dan Isabelle segera melangkahkan kakinya menuju ke dapur, sementara itu, Vena yang mengikuti Ziya juga ikut membantu pekerjaan yang sedang dilakukan Ziya saat ini. Ziya tinggal memerintahkan kepada semua pelayan dapur yang ada agar segera menyiapkan makan malam untuk malam nanti.
Karena, telah mendengarkan perintahan dari sang Nyonya Alberto dengan segera semua pelayan itu menjalankan perintahnya ini. Sambil tersenyum dan tertawa bersama terlihat di wajah Isabelle begitu ceria sekali saat sedang bersama dengan Ziya saat ini. Lalu, seketika membuat Krystal merasa sedikit heran dengan sikap adiknya itu yang terlihat begitu akrab dengan Ziya, wanita yang selama ini mereka benci.
" Heemmm, kenapa Isabelle bisa seakrab itu dengan wanita itu,," Gumam Krystal yang merasa heran dengan sikap Isabelle.
Karena, tidak mau ikut campur dengan kelakuan Isabelle, Krystal berlalu pergi menuju kamarnya dan tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan Isabelle dan juga Ziya saat ini.
Namun asisten Madam Christin malah penasaran dengan pekerjaan yang sedang dilakukan Ziya dan juga Isabelle saat ini di dapur, seketika asisten pribadi Christin bertanya dengan salah satu pelayan yang sedang melangkahkan kakinya keluar dari areal dapur.
" Memangnya Nyonya Zoya sedang melakukan apa di dapur bersama Nona Isabelle ?" Tanya asisten itu langsung pada pelayan lain.
" Eeemmm, Nyonya Zoya telah memerintahkan kami semua segera menyiapkan makan malam untuk malam nanti, karena, malam nanti akan kedatangan orang yang sangat penting." Jawab pelayan itu kepada asistennya Madam Christin.
" Orang yang sangat penting, siapa ?" Tanyanya lagi pada pelayan itu.
" Saya juga tidak tahu, Nyonya Zoya hanya memerintahkan kami seperti itu,," Jawab pelayan itu dengan sangat jelas.
" Oh baiklah terima kasih,," Bilang asisten pribadinya Madam Christin mengangguk.
Karena, suatu kegiatan ini terlihat merupakan sebuah informasi yang begitu penting. Oleh sebab itu, dengan segera asisten pribadi Madam Christin melaporkan suatu hal yang sedang terjadi pada majikannya itu.
" Sepertinya aku harus menyampaikan hal ini pada Nyonya, karena, besar kemungkinan Nyonya tidak tahu bahwa Tuan Besar akan kedatangan orang penting,," Ucap asisten pribadi Christin sambil berjalan menuju kamar majikannya.
Dengan segera asisten pribadi Christin melangkahkan kakinya menuju kamar majikannya itu, untuk menyampaikan suatu informasi yang begitu penting ini.
****