Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 45 - Kesal dan Kecewa



Setelah itu Alberto menjauh dari Ziya dan mengambil jubah miliknya, lalu memakainya dan langsung saja keluar dari kamar pribadinya meninggalkan Ziya seorang diri dalam keadaan bingung, menyedihkan dan sangat ketakutan itu.


Ziya yang telah ditinggal sendiri di dalam kamar menangis tersedu-sedu tidak mengerti apa yang dikatakan Alberto pada dirinya saat mereka sedang menyatukan tubuhnya tadi.


Ziya yang telah ditinggal pergi begitu saja oleh Alberto menangis tersedu-sedu atas ucapan yang dikatakan Alberto tertuju kepadanya.


Ziya merasa bahwa Alberto sengaja mengatakan dirinya tidak perawan lagi, dengan alasan agar dirinya bisa menguasai Ziya sampai kapanpun. Tapi, Ziya tidak ingin itu terjadi. Karena, masih banyak mimpi yang ingin ia gapai. Bukan hanya terjebak menjadi istri palsu Alberto dengan bersandiwara menjadi Zoya.


Tubuh yang masih berantakan dan ditutup dengan selimut tebal serta masih terduduk di atas ranjang, membuat Ziya berteriak seketika, karena, dalam sekejap Alberto telah menghancurkan mahkota miliknya yang selama ini ia jaga. Dan, sesaat itu juga Alberto menjatuhkannya ke kubangan lumpur yang sangat merendahkan dirinya. Sehingga membuat dirinya tidak bisa lagi bangkit dari hitamnya lumpur tersebut.


" Aaaakkkhhhh,,," Teriak Ziya menjerit merasa kesal dengan tubuhnya sendiri yang telah dikecam buruk dari Alberto.


Ziya masih bisa mengingat bagaimana ia menjaga mahkota miliknya itu. Selama ini ia tidak pernah melakukan hubungan se-ks bebas dengan laki-laki manapun. Ia bukanlah seperti perempuan biasanya yang lebih memilih bersenang-senang atau one night stand with cool man, dengan secara bebas after married. Ziya sangat menghargai dirinya sendiri sebagaimana layaknya seorang perempuan yang baik di mata seorang suami nantinya. Yaitu memberi keperawanan pertama kita hanyalah untuk seorang suami sah kita nanti.


Tapi, kenapa Alberto mengatakan dirinya tidak perawan lagi.


" Al,,, Berto,,,, kau sungguh kejam,,," Ucap Ziya yang tengah berteriak kencang dan masih menangis di atas tempat tidur.


Sungguh menyedihkan sekali keadaan Ziya saat ini. Sudah dimakan habis oleh Alberto secara paksa, dikatakan tidak perawan lagi.


Huuuffffhhh,, seorang laki-laki seperti itu enaknya ditimpuk pakai sepatu heels bahkan lebih dari itu kali ya,,


" Ak,, aku,, ha,, rus bagaimana,, apa aku harus ma,,, ti,," Ucap Ziya dengan pikiran kalut.


" Kau,, jahat Alberto,, setelah kau mengambil semua kehidupanku,, kau tega mengatakan bahwa aku tidak perawan lagi,,, aku tahu akan diriku sendiri,, hiks,, aku tidak pernah disentuh oleh lelaki manapun,,, hiks,, aku,, aku,, bahkan menjaganya selama hidupku,, tetapi,, dalam sekejap kau mengambilnya dan mengatakan kalau aku tidak memiliki mahkotaku lagi,, kau,, tega, kau jahat,, kau psycho,, kau,, kau,,, Akhhhhhhh,,," Ucap Ziya yang merasa frustasi akan dirinya yang telah hancur ini.


Karena, merasa dirinya hancur dan tidak memiliki mahkota keindahan yang perlu dibanggakan lagi. Ziya menghancurkan semua yang ada di atas tempat tidur, termasuk membuang semua bantal, guling, dan apapun yang Ziya pegang saat ini. Semua benda-benda itu telah berserakan semuanya di bawah lantai. Dan, Ziya merasa jijik dengan baju yang ia pakai tadi.


" Aku benci akan diriku sendiri, aku benci dengan kelemahanku,, aku benci dengan tubuhku,, kenapa aku tidak bisa melawan, kenapa aku tidak mau menolak, kenapa aku,,, kenapa aku,," Ucap Ziya yang membenci dirinya sendiri.


Tapi, apa mau dikata karena nila setitik rusak susu sebelanga. Hancur sudah walaupun untuk sesaat Ziya menyesali akan sikapnya yang tidak bisa menolak itu, percuma saja, dirinya tidak akan bisa kembali menjadi seorang Ziya, gadis lugu yang masih perawan.


Ziya pun segera merobek baju itu dengan paksa dan akhirnya terkoyak sempurna baju yang dipakainya tadi.


Tak terasa tubuh Ziya merasa lemah sendiri, dan kepalanya mulai terasa sakit lagi membuat dirinya berteriak histeris memanggil Mamanya.


" Mama,,," Teriak Ziya sambil menangkupkan kedua tangannya memegang kepalanya yang terasa begitu sakit.


" Mama,,, tolong Ziyaaa,, kepala Ziyaaa,, sakit.." Teriak Ziya di kamar sendirian tanpa seorangpun yang mendengarkannya.


Siapa juga yang bisa dengar, keadaan di dalam selain orang yang ada di dalam itu bisa mendengar. Tapi, sayangnya tidak ada seorang pun di dalam kamar itu selain dirinya.


Semakin Ziya terisak akan tangisannya, semakin sakit juga kepala yang ia rasakan saat ini. Karena, sudah lama menangis dan menyesali dirinya sendiri itu, membuat Ziya akhirnya terkulai lemah dan pingsan di tempat tidur, tanpa ada yang menolongnya sama sekali.


Sementara itu Alberto yang melangkah ke ruang kerja pribadinya itu, dengan sangat kesal segera mengambil Handphone yang ada di saku jubahnya itu. Lalu, dengan memilih nomor ponsel salah satu temannya, siapa lagi kalo bukan si anjing gila seorang pelacak senior dan hebat yaitu Zavier.


Di tengah malam seperti ini, Alberto segera menghubunginya.


Dengan suara serak khas ciri bangun dari tidurnya Zavier mengangkat telepon dari Alberto.


" Halo, Dude,, What,,?" Bilang Zavier dengan suara serak khas baru bangun tidur.


" Jam segini, kau sudah tidur,?" Tanya Alberto kesal.


" Ciihhh!! Sejak kapan kau jam segini sudah tidur." Bilang Alberto yang mengumpat keadaan Zavier.


" Hello, Dude I'm in Australia, No France,," Bilang Zavier yang mengingatkan Alberto bahwa dirinya sedang berada di Australia.


Alberto baru teringat bahwa dia memerintahkan Zavier untuk menangkap hidup-hidup istri aslinya yaitu Zoya.


" Oh yeah,, sorry,, I'm forget it,," Bilang Alberto bahwa ia sedikit lupa.


" Oh,, Never mind, Dude,, What's up,,?" Tanya Zavier yang telah membuka matanya dengan sempurna dan mendengarkan apa yang ingin dikatakan Alberto padanya.


" Aku pikir, selama ini kau tidak akan pernah membohongiku,, tapi kau sengaja membohongiku, Zavier,," Ucap Alberto yang memulai pembicaraannya.


Zavier terkejut dan tidak mengerti apa maksud yang dikatakan oleh Alberto saat ini. Karena, tidak seperti biasanya Alberto menelponnya dan langsung menyampaikan apa yang akan disampaikannya pada Zavier sambil menyebut nama asli Zavier sendiri. Biasanya Alberto selalu memanggilnya dengan sebutan teman tapi, kali ini sungguh berbeda sekali, Alberto memanggil Zavier dengan panggilan nama yaitu Zavier.


" Akkhh,, What Happened,,?" Tanya Zavier yang masih belum mengerti maksud dari perkataan Alberto.


Alberto semakin kesal atas sikap Zavier yang seolah tidak mengerti maksud dari perkataannya itu.


" Kau bohong kalau kau tidak mengerti, selama ini aku mempercayai kualitas ucapan kau dalam semua misi rahasia apapun, tapi kali ini kau membohongiku, Zavier,," Ucap Alberto yang mulai memanas.


" So cool man,, I'm not understand with you,, Jelaskan apa masalahnya,,?" Tanya Zavier yang masih bingung itu.


Memang benar Zavier bingung, apa yang dikatakan Alberto dia belum memahaminya. Apa yang dimaksud Alberto dia belum menangkap inti permasalahannya. Karena, mungkin selama ini ia terlalu dipercayai oleh Alberto dalam menyelesaikan misi rahasia apapun membuat dirinya bingung sendiri atas pembicaraan Alberto saat ini.


" Beraninya, kau membohongiku, aku kira kau pintar dalam segala hal untuk menyelidiki seseorang, ternyata aku salah, kau juga telah dibohongi bukan,," Bilang Alberto yang semakin memanas itu.


Membuat Zavier juga saat itu menaikkan emosinya..


" Hei, Alberto maksudmu apa,, aku sama sekali tidak mengerti,," Ucap Zavier dengan nada suara cukup meninggi.


" Kau, tidak mengerti, apa pura-pura berbohong padaku,, Beraninya kau memberi laporan palsu padaku tentang Ziya.. dia bukan perempuan polos seperti yang kau ceritakan padaku,," Ucap Alberto yang berteriak dengan sangat kesal terhadap Zavier temannya sendiri


Zavier yang mendengar nama Ziya langsung segera mengerti apa yang dimaksud oleh Alberto saat ini. Suaranya pun berubah yang tadinya emosi sekarang berubah menjadi santai. Karena, ia lebih mengetahui dan lebih mengerti akan sisi kehidupan yang sebenarnya dari Ziya dan Zoya.


" Oohh,, kau bertanya tentang dia,," Bilang Zavier terkekeh kecil.


" Ya, siapa lagi kalau bukan dia,," Teriak Alberto yang semakin kesal akan sikap Zavier yang mempermainkannya itu.


Zavier pun dengan sengaja memperpanjang pembicaraannya dengan Alberto saat ini. Alberto tidak akan mungkin memarahinya tanpa sebab akan adanya suatu kekeliruan di antara mereka. Karena, Zavier sangat tahu bagaimana sebenarnya Alberto.


Mungkin karena, mereka dari kecil sudah saling mengenal maka dari itu, sifat masing-masing dari mereka sudah saling mengenal dan saling hafal.


****


Update lagi ya Readers ❤️🌀


Salam Hangat se Angkasa 😘🤗❤️🌀⭐


Author


🌹Vira Lydia🌹