Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 58 - Data Zoya



Lama sekali laki-laki itu menunggu kesempatan yang tepat untuk mengganggu istrinya itu. Karena, sudah beberapa minggu saat Ziya datang, laki-laki itu telah lama menahan ha-srat na-fsu dirinya pada Ziya.


" Lama sekali dia pergi,," Ucap laki-laki yang telah memperhatikan gerak-gerik Alberto saat akan keluar dari kamar.


Karena, ia berpikir bahwa yang sedang berada di kamar Alberto saat ini adalah Zoya yaitu kembaran Ziya yang telah kembali serta mendapatkan pengawalan ketat dari Alberto membuat dirinya begitu sulit untuk mendekati Ziya.


Sedangkan, Ziya di dalam telah pingsan dan tidak sadarkan diri itu, dia tidak mengetahui bahwa begitu banyak sekali bahaya yang akan menyergapnya saat ini.


Walaupun, di depan pintu kamar banyak sekali pengawal yang menjaga dan mengawasi Ziya, tapi di sisi lain pasti ada saja titik kelemahan rumah mewah milik Alberto ini.


Oleh sebab itu, walaupun Ziya telah mendapatkan pengawalan yang begitu banyak untuk mengawasi dirinya agar bisa terlewatkan dari bahaya, namun masih saja ada tempat-tempat lainnya yang bisa saja menjadikan sebuah faktor kesulitan untuk Ziya dan bahaya itupun suka sekali mengganggu dan mendatangi dirinya saat ini.


Alberto yang telah berlalu pergi menuju ke tangga dan telah turun ke lantai bawah membuat diri Ziya dalam bahaya. Dengan tersenyum puas laki-laki yang menyelinap memantau Alberto itu segera melakukan aksinya saat ini.


Alberto yang segera menuju ke mobilnya untuk pergi ke kantornya saat itu mendapatkan panggilan telepon dari temannya yang berada di Australia yaitu sang pelacak handal yang biasa disebut anj-ing gi-la oleh Alberto siapa lagi kalau bukan Zavier.


Alberto segera menerima panggilan tersebut.


" Ada apa,,?" Tanya Alberto yang membuka omongannya kepada Zavier.


" Halo, Dude, aku begitu kangen, siapa lagi kalau bukan dengan kau,," Ucap Zavier yang sedang ma-buk tertawa senang.


Alberto membelalakkan matanya dan sedikit memundurkan telinganya karena, mendengar ucapan Zavier saat ini sedikit menggila dan mengganggu telinganya, bagi Alberto yang ingin didengarkannya dari teman setianya itu hanyalah sebuah berita ataupun informasi yang menarik dan juga valid.


" Apa penyakit gi-la kau sedang kambuh, Hah!,," Bilang Alberto yang merasa kesal pada ucapan Zavier itu.


" Hehehe,, ya kalau kau mengiranya seperti itu.." Ucap Zavier sambil tertawa terkekeh-kekeh.


Terlihat saat ini Alberto tengah menghela nafasnya dan jelas sekali bahwa dari ekspresi wajahnya saat ini Alberto semakin dibuat kesal atas ucapan Zavier dan dengan sengaja rasanya Alberto begitu ingin sekali untuk segera memutuskan panggilan dari Zavier yang menurutnya tidak berguna itu.


" Kalau ucapanmu saat ini tidak penting, lebih baik kau telepon Daniel,," Bilang Alberto yang semakin kesal.


Memang, Daniel adalah salah satu temannya Alberto yang suka sekali diajak bercanda itu, sehingga apabila mau bercanda bukan dengan diri Alberto yang begitu serius dan diam ini, membuat dirinya sangat acuh terhadap candaan melainkan dengan temannya yang satu lagi yaitu Daniel.


" Eehh,, tunggu dulu, Alberto,," Bilang Zavier yang mencegah Alberto untuk memutuskan teleponnya.


Alberto berpikir sejenak, sepertinya hari ini sudah begitu banyak orang yang ingin mencegah dirinya, sehingga membuat dirinya merasa heran sendiri atas sikapnya itu.


" Ada apa,,?" Tanya Alberto kesal.


" Good News,, aku sudah mendapatkan data istrimu di Australia ini," Bilang Zavier yang membuat mata Alberto terbelalak.


Dengan sangat cepat, Alberto sedikit menaikkan ujung bibirnya karena, merasa sedikit puas atas pekerjaan yang telah dilakukan oleh temannya satu ini. Tidak sia-sia Alberto mendidik Zavier, dari kecil hingga sedewasa ini menjadi seorang pelacak yang sangat berguna untuk dirinya.


" Good Job, Thanks, bawakan laporannya untukku,," Bilang Alberto yang segera ingin meminta laporan dari Zavier.


" Oke, Dude,," Jawab Zavier yang mematikan teleponnya.


Lagi-lagi hal itu yang dilakukan oleh Zavier, apabila dirinya merasa cukup memberitahu informasi yang tepat kepada Alberto, bukannya Alberto yang memutuskan telepon darinya malah sebaliknya Zavier sendirilah yang segera memutuskan panggilannya itu.


Suka sekali akan kelakuan dan juga karakter Zavier yang selalu membuat Alberto naik da-rah karena, kesal akan sifatnya itu.


" Dasar, an-jing gi-la,," Umpat Alberto yang kesal akan sikap Zavier padanya itu.


Saat masuk ke dalam mobil Alberto memerintahkan supir pribadinya itu untuk segera ke kantornya. Karena, tepatnya saat ini Alberto segera datang ke kantor untuk membahas rapat bisnis yang berjalan pada waralaba perhiasan.


" Ke kantor Emerald Alexandre Group,," Ucap Alberto yang memerintahkan supir pribadinya itu.


" Baik Tuan," Jawab supir pribadi Alberto yang mengangguk.


Memang benar bisnis yang dikembangkan oleh Alberto dalam waralaba perhiasan membuat semua mata wanita yang melihat produk perhiasan dari bisnis perusahaan Alberto ini. Sungguh indah dan memukau sekali atas desain yang dikeluarkan oleh perusahaan perhiasan milik Alberto.


Mobil Alberto telah melaju keluar dari pekarangan taman rumah, sehingga membuat laki-laki yang memakai baju serba hitam itu dengan leluasa menjalankan rencananya untuk mence-lakakan Ziya.


Oh My God,,!!!!


Ziya yang berada di kamar, masih tergeletak pingsan di lantai, tidak tahu akan bahaya yang mendatanginya saat itu.


Dengan leluasa laki-laki itu melangkah dan melompat menaiki balkon kamar Alberto dan mematikan semua CCTV yang ada agar bisa membuat dirinya bergerak dengan leluasa.


Biasanya Alberto selalu memasang alarm keamanan di dalam kamarnya itu, saat ini Alberto lupa, karena, sebelum dirinya keluar dari kamar, Alberto sama sekali belum mengaktifkan alarm tersebut.


Sehingga dengan sangat mudah bagi laki-laki yang memakai baju serba hitam itu menyunggingkan senyumannya saat ia bisa menyelinap masuk lewat jendela kecil kamar Alberto ini.


" Bagus, ternyata orang itu, lupa memasang alarm di kamarnya." Ucap laki-laki itu yang sudah berhasil masuk ke dalam kamarnya.


Sungguh sangat disayangkan sekali, sikap Alberto yang tadinya ingin masuk ke dalam kamarnya untuk memasang alarm, tapi karena, pertengkaran dirinya dengan Ziya menyebabkan dia lupa untuk menghidupkan alarm itu.


Laki-laki itu tercengang saat dirinya telah berhasil masuk ke dalam kamar pribadi Alberto. Bahwa di kamar Alberto itu banyak sekali CCTV yang mengintai, tapi, ia cukup aman karena, wajahnya tertutup dengan penutup wajah cuma bola matanya saja yang bisa terlihat.


Dengan bodohnya laki-laki itu melihat kamera CCTV di atas kepalanya dan segera memecahkan semua sistem kamera CCTV yang berada di atas setiap sudut dinding kamar saat itu.


Setelah merasa cukup aman, laki-laki tersebut segera membuka ruangan khusus kamar tempat tidur Alberto. Dan saat membuka pintu, dengan perlahan ia membukanya tanpa meninggalkan suara sedikitpun, sehingga membuat dirinya sekali lagi tersenyum.


Pintu pun terbuka, dan laki-laki itu melihat seorang wanita cantik tergeletak di bawah tempat tidur tepatnya di atas lantai.


" Siapa yang tertidur di atas lantai." Pikir laki-laki itu ketika sudah berhasil masuk ke dalam kamarnya Alberto.


Disaat laki-laki itu sudah mendekat seketika membuat matanya terbelalak melihat wajah wanita cantik yang selama ini diidam-idamkan oleh itu yang terlihat dengan jelas bahwa sedang pingsan dan tidak sadarkan diri.


" Zoya,," Ucap laki-laki itu dan hanya kata-kata itu saja yang keluar dari mulutnya saat itu.


Laki-laki itu tidak tahu bahwa yang ia lihat bukanlah Zoya melainkan Ziya yang tergeletak lemah tidak sadarkan diri di atas lantai.


" Sepertinya, dia pingsan, baguslah kalau begitu,, aku akan puas mel-ahap tubuh indahnya ini,," Ucap laki-laki yang berbaju serba hitam itu dengan penuh keinginan besar agar rencananya bisa berhasil untuk mendekati Ziya.


Dengan wajah penuh na-fsu dan matanya yang penuh has-rat berkobar di dalam dirinya untuk segera mela-hap habis tubuh Ziya lalu, dengan segera ia mengangkat tubuhnya Ziya ke atas tempat tidur.


Sementara itu,,


Di dalam mobil Alberto teringat akan laptop yang ingin diambilnya tadi lupa di bawakan olehnya, karena, belum sempat ingin mengambil laptop di dalam kamarnya namun, terlebih dahulu ia telah bertengkar hebat dengan Ziya saat itu jadi, bisa dipastikan bahwa pastinya Alberto lupa dengan apa yang ingin dilakukannya.


****