
Setelah selesai menelepon pemimpin besarnya itu, dengan senyuman manisnya, Will segera menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku dan melangkahkan kakinya menuju ke ruangan dimana tempat pemimpin wanita itu berada yang bernama Mellina.
Sementara itu di ruangan lainnya Mellina baru saja sampai ke dalam ruangannya itu segera melangkahkan kakinya menuju ke sofa empuk yang ada. Sambil meluruskan kakinya ke atas sofa Mellina sengaja memberikan sebuah kode kepada semua pengawal yang mengiringinya untuk melayani keinginannya.
" Heemm, aku ingin tahu siapa dia sebenarnya ?" Tanya Mellina dalam hatinya sambil duduk di atas sofa yang empuk.
Salah satu pengawal yang sudah mendapatkan kode dari tangannya itu terlihat sedang mengambil segelas air dan disuguhkan tepat di hadapan Mellina, sedangkan, pengawal lainnya sedang membuka sepatu heels yang digunakan Mellina sendiri. Dan, pengawal satunya lagi terlihat sedang memberikan sebuah pijitan lembut di bagian bahu Mellina.
Setelah mengambil minuman yang disuguhkan oleh pelayan terhadap dirinya sambil tersenyum sinis Mellina memikirkan siapa wajah yang terdapat di balik topeng pengawal rahasia yang baru saja dijumpainya itu.
Di dalam pikiran Mellina hanya teringat wajah seorang pria yang telah berani mengelabuinya saat ia mengejar jejak Zoya di dekat danau waktu itu. Jika pengawal rahasia yang dijumpainya itu adalah pria yang telah berani mengelabuinya saat itu, Mellina ingin sekali memberikan sebuah pelajaran kepada pria itu.
" Jika benar itu dia, aku tidak akan segan-segan untuk merasakan kehangatan tubuhnya dan langsung memberikan pelajaran padanya,," Ucap Mellina dengan tatapan tajam.
Namun, ketika Mellina sedang asyik berkutat dalam pikiran dendamnya atas kelakuan pengawal rahasia dari Zavier terdahulu, terdengar suara telepon yang masuk dan suara itu sendiri membuat Mellina kaget.
" Eehhh, siapa yang menelepon,," Gumam Mellina seketika kaget saat mendengar suara deringan telepon di dalam ruangannya bukan dari ponselnya sendiri.
" Siapa yang menelepon, angkat,," Ucap Mellina memerintahkan salah satu pengawalnya.
Dengan segera pengawal yang berada di dekat meja tempat Mellina duduk mengangkat telepon tersebut dan memberikannya langsung kepada pemimpinnya ini.
" Ini Madam,," Ucap pengawal itu setelah mengambil telepon dan memberikannya kepada Mellina.
" Halo,," Ucap Mellina setelah menerima gagang telepon dari pengawalnya.
" Ini, Uncle,," Ucap Derrick yang terdengar di telinga Mellina.
" Oh, Uncle Derrick,," Seru Mellina dengan suara yang lega.
" Apa benar kau telah memanggil Fielder ke ruanganmu ?" Tanya Derrick langsung kepada Mellina.
" Yes, it's true, Uncle,," Jawab Mellina dengan santai dan serius.
" Kenapa kau memanggilnya, apa kau tidak pernah mengenali siapa dia ?" Tanya Derrick langsung pada keponakannya ini.
" Tidak, aku tidak tahu siapa dia, aku hanya ingin tahu apakah dia pria yang telah berani mengelabuiku waktu itu,," Ucap Mellina dengan jujur dan masih mengingat peristiwa yang lalu.
" Heh, tidak mungkin dia Mell, karena dia sendiri adalah pemimpin pengawal dan juga pengawal pribadi Uncle, mungkin saja orang lain atau orang yang telah dikirim oleh Alberto Alexandre,," Bilang Derrick seolah memberikan sebuah keyakinan pada Mellina.
" Mell, hanya ingin melihat wajahnya dan Mell ingin meyakinkan diri Mell sendiri dengan tatapan matanya itu, Uncle,," Ucap Mellina yang terdengar manja pada pamannya sendiri ini.
" Dan, satu lagi Uncle, Mell tidak akan melakukan apa-apa padanya, Mell hanya ingin meminjam sebentar pengawal pribadi Uncle yang terlihat begitu sexy dari tatapan matanya,," Ucap Mellina dengan senyuman manisnya nan mempesona.
Karena, mendengar pengakuan dari Mellina sang keponakan wanita terdengar begitu nakal dan genit oleh sebab itu mau tidak mau Derrick sebagai seorang paman bersedia untuk mengikuti kehendak dan keinginan keponakannya ini. Dan, lagian juga Mellina tidak akan melakukan suatu hal yang bisa merugikan pamannya serta markas besar yang diduduki dan dikuasai oleh mereka berdua.
" Oh, baiklah jika benar seperti itu yang ingin kau lakukan, Mell, Uncle mengizinkan kau untuk memanggilnya," Ucap Derrick di dalam telepon yang sedang didengarkan oleh Mellina.
" Tapi, kau harus ingat, saat ini tawanan masih berada di dalam markas besar kita, jadi, kau harus tetap waspada dan berhati-hati,," Ucap Derrick yang sengaja mengingatkan Mellina dalam melakukan suatu tindakan.
Dengan senyuman yang terukir indah pada wajahnya, tentu saja Mellina tahu apa yang harus dilakukannya serta apa yang harus diwaspadai oleh dirinya dalam melakukan suatu tindakan.
" Heh, tentu saja Mellina mengerti Uncle," Gumam Mellina dengan sengaja menaikkan ujung bibirnya merasa bahwa dirinya sendiri itu adalah orang yang begitu pandai dan juga cerdik.
" Tidak mungkin, Mellina teledor saat melakukan suatu kesenangan, karena, Mellina juga yang telah berhasil mendapatkan wanita ja-lang itu, sehingga wanita itu saat ini sudah berada di dalam genggaman kita,," Ucap Mellina dengan gaya angkuhnya.
" Ya, ya, Uncle kagum padamu, oleh sebab itu, Uncle mempercayaimu dalam melakukan suatu pekerjaan,," Ucap Derrick terdengar seperti sedang memuji kepandaian Ponakan wanitanya itu.
" Heemm, thank you so much, Uncle, You are the best my uncle,," Seru Mellina merasa bahagia sekali ketika mendapatkan sebuah pujian dari Pamannya yang bernama Derrick.
Saat Mellina sedang bahagia sekali ketika mendengarkan pujian yang disampaikan oleh Derrick terhadap dirinya itu, disaat itu juga Will baru saja datang ke ruangannya dan begitu jelas sekali terdengar bunyi suara bel dari pintu luar, dengan segera Mellina memerintahkan kepada salah satu pengawalnya untuk memeriksa siapa yang telah datang ke ruangannya itu.
TINGG !!
Suara bel yang terdengar dari luar ruangan.
Dan, tentu saja hal itu membuat Derrick yang sedang menelepon keponakannya ini segera menyelesaikan hubungan telepon yang sedang mereka lakukan.
" Wait Uncle, sepertinya pengawal pribadi Uncle sudah tiba,," Ucap Mellina sambil menyuruh pengawalnya untuk segera membuka pintu ruangannya itu.
" Oke, Happy enjoy with Fielder,," Ucap Derrick yang terdengar di dalam teleponnya Mellina.
" Oke, Uncle, thank you," Jawab Mellina dengan senyuman lebar dan manisnya.
Setelah selesai menerima telepon dari Pamannya itu dan memberikan gagang telepon kepada salah satu pengawalnya, tentu saja dengan tatapan menunggu serta penuh harap Mellina melihat siapa yang telah datang ke ruangannya itu. Dan, terlihat pengawal yang baru saja datang menghampirinya segera melaporkan siapa sebenarnya yang telah datang berkunjung ke ruangan pribadinya ini.
" Apakah dia sudah datang ?" Tanya Mellina kepada pengawalnya.
" Yes, Madam," Jawab pengawal tersebut sambil menganggukkan kepalanya.
" Pemimpin pengawal Tuan Besar Derrick sudah tiba dan sedang menunggu Madam di ruang depan,," Sambung pengawal tersebut menjelaskan kepada majikannya.
" Bawa dia ke kamar pribadiku sekarang juga," Seru Mellina memberikan sebuah perintah kepada pengawalnya.
Sedangkan Mellina sendiri tersenyum bahagia, karena, merasa malam ini dia akan memberikan sebuah pelajaran kepada pria pengawal yang telah ia selidiki dan ia curigai selama ini. Sambil meletakkan jari di bawah dagunya dan memikirkan suatu hal apa yang akan dilakukannya kepada pria itu dengan segera Mellina berdiri untuk langsung menuju ke arah kamar pribadinya.
" Heemm, aku harus membuat suatu hal untuk menjerat dirinya, supaya bisa dibawah pengawasan diriku,," Gumam Mellina sambil tersenyum sendiri dan melangkahkan kaki menuju ke kamar pribadinya.
Saat ini Mellina sendiri sedang melangkah pergi menuju ke kamar pribadinya yang berada di dalam markas besar grup mafia Roserish. Sedangkan, Will sendiri memang sudah berada di dalam bagian depan ruangan pribadi milik Mellina. Disaat Will sedang duduk santai di ruangan tempatnya menunggu datanglah seorang pengawal pria yang menghampiri dirinya.
" Madam meminta anda Tuan untuk segera menemuinya dan langsung masuk ke dalam kamar pribadinya,," Ucap pengawal tersebut kepada Will.
Sebenarnya, jika topeng yang sedang digunakan Will terlepas dari wajahnya, begitu terlihat jelas bahwa ia sedang merasa kebingungan dan heran atas apa yang telah diucapkan oleh pengawal tersebut kepada dirinya. Namun, hal itu dianggap biasa saja oleh Will supaya tidak terlalu terlihat akan kecurigaan dari sikapnya itu.
" Jika begitu perintah yang telah diberikan oleh Madam Mellina, baik saya akan patuhi,," Ucap Will dengan gaya tegas namun penuh arti.
" Mari silahkan, Tuan,," Bilang pengawal itu sambil memberikan sebuah arahan kepada Will untuk pergi ke ruangan kamar pribadi Mellina.
Dengan santai dan pasti Will mengikuti arahan yang diberikan oleh pengawal pribadi Mellina ke arah kamar pribadinya. Setelah sampai di depan pintu kamar pribadi Mellina dengan diawali mengetuk pintu kamar tersebut barulah pengawal itu segera melaporkan kedatangannya bersama dengan Will.
" Siapa ?" Tanya Mellina dengan suara yang terdengar dari dalam ruangan.
" Saya telah mengantarkan Tuan Fielder, Madam,," Ucap pengawal tersebut yang melaporkan tindakannya.
" Bukakan pintu, biarkan dia masuk sendiri,," Bilang Mellina dengan sengaja membiarkan Will untuk masuk ke dalam kamar pribadinya.
Karena, telah mendengarkan ucapan dari pemimpinnya untuk menyuruh Will langsung saja masuk ke dalam ruangan kamarnya, sehingga pengawal tersebut langsung saja memberikan arahan kepada Will ketika pintu kamar itu sudah terbuka secara otomatis.
" Silahkan masuk, Tuan,," Ucap pengawal tersebut kepada Will.
" Terima kasih,," Jawab Will sambil menganggukkan kepalanya.
Karena, pintu sudah terbuka secara otomatis tanpa berpikir panjang lagi Will langsung saja masuk ke dalam ruang kamar pribadi Mellina. Tanpa memperlihatkan kecurigaan yang ada pada dirinya Will masuk ke dalam ruangan kamar Mellina sedangkan pengawal pribadi Mellina hanya menunggu di luar ruangan itu.
Setelah Will masuk ke dalam ruangan kamar pribadi Mellina, terlihatlah ruang kamar yang megah nan indah dengan suasana ruangan yang gemerlap sehingga terlihat jelas wajah Mellina begitu cantik saat terlihat di hadapannya yang sedang duduk santai di sebuah sofa.
Terlihat, Mellina begitu anggun dan sengaja memberikan suatu suasana yang menggoda bagi pria mana saja yang sedang melihat posisi duduknya. Dengan lekukan tubuh yang indah, menggunakan dress pendek sehingga terlihatlah warna putih mulus dari paha serta kaki Mellina yang sengaja diulurkan ke atas meja.
" Silahkan masuk, Fielder !" Ucap Mellina kepada Will.
" Terima kasih, Madam,," Jawab Will santai tanpa sedikitpun tergoda dengan kelakuan Mellina.
" Kemarilah,," Ucap Mellina kepada Will sambil melambaikan tangannya dengan lembut.
Karena, melihat lambaian tangan yang sengaja dilakukan oleh Mellina kepada dirinya, dengan gaya penurut Will melangkahkan kakinya mendekati tempat dimana Mellina saat ini sedang duduk santai di atas sofa dengan gaya yang seksi.
Tentu saja hal itu membuat Mellina semakin mengembangkan senyumannya terhadap Will yang masih menggunakan topeng dan terlihat begitu penurut saat diberikan perintah untuk mendekati dirinya. Dan, hal ini tentu saja akan dilakukan oleh Will, karena, ia tidak mau identitas tentang dirinya terbongkar sehingga mudah sekali untuk diketahui oleh Mellina.
Disaat Will sedang mendekati posisi tempatnya Mellina. Tim yang sudah dikelola oleh Zavier telah sampai semua ke posisi dimana tempat tersebut telah diatur olehnya bersama dengan pengawal yang sudah dipercayakannya selama ini. Dengan begitu, Zavier sendiri yang sedang berada di dalam mobilnya dengan begitu mudah memberikan sebuah arahan dan juga perintah kepada para prajuritnya.
Sambil menatap layar monitor yang sedang terpampang jelas di hadapannya, dengan begitu teliti Zavier memeriksa kondisi semua prajuritnya melalui pendeteksi yang sudah terpasang pada tubuh semua prajurit yang terlatih olehnya.
Dan, Zavier sendiri yang masih fokus menatap layar monitor alat pendeteksinya itu langsung bertanya kepada pengawal pribadi yang duduk di sampingnya tentang keadaan bagaimana kondisi keadaan di dalam markas besar grup mafia Roserish yang sudah terlebih dahulu ia letakkan alat pendeteksi sebuah perekam suara.
" Bagaimana keadaan di dalam markas ?" Tanya Zavier langsung kepada pengawalnya.
" Menurut alat perekam yang telah saya letakkan, sepertinya semua orang-orang di dalam tidak mengetahui akan adanya penyerangan besar-besaran dari grup kita Tuan,," Jawab pengawal Zavier yang tetap konsentrasi dengan alat pendeteksinya itu.
" Bagus, tepat sekali jika kita lakukan saat jam yang telah ditentukan." Gumam Zavier sambil mengulas senyuman manisnya.
" Benar sekali, Tuan, perhitungan waktu yang anda lakukan sangat tepat sekali,," Ucap pengawalnya Zavier yang terdengar memuji kehebatan pikiran majikannya ini.
" Pantas saja jika Tuan Alberto memilih anda memang seorang detektif yang hebat dan juga penyerang yang handal," Sambung pengawal Zavier yang memuji kehebatan dan kecerdikan pikiran Zavier.
Zavier hanya mengulas sedikit senyumannya ketika mendengar pujian yang disampaikan oleh pengawalnya itu. Benar sekali jika Zavier tidak terlalu fokus akan pujian yang diberikan oleh pengawalnya, karena, yang harus difokuskan dalam pikirannya saat ini adalah melakukan misi yang segera harus ia selesaikan dan ia lakukan.
" Dalam waktu yang telah ditentukan, semua prajurit sudah ada di posisinya masing-masing,," Bilang Zavier dengan wajah serius dan terlihat sekali sedang memberikan sebuah perintah yang harus dilakukan.
" Siap Tuan,," Jawab pengawal pribadi Zavier dengan segera melakukan pekerjaannya.
Karena, sudah mendapatkan sebuah perintah dari majikannya itu dengan segera pengawal pribadi Zavier melakukan tugasnya dan langsung saja menghubungi semua para prajurit yang sudah bersiap di posisinya masing-masing. Dan, disaat itu juga Zavier sendiri memberikan sebuah ucapan yang membuat pengawal handalnya ini menjadi lebih semangat lagi.
" Monitor, semua sudah berada di posisi masing-masing ?" Tanya pengawal Zavier kepada semua prajurit yang sudah terhubung.
" Semuanya sudah siap, Tuan,," Jawab semua prajurit secara serentak di dalam sistem alat komunikasi yang digunakannya.
" Bagus, kode operasi akan segera diberikan,," Ucap pengawal Zavier dengan gaya tegasnya.
" Siap,," Jawab semua prajurit secara bersamaan.
Setelah selesai melakukan monitoring kepada para prajuritnya, Zavier langsung menoleh dan memberikan sebuah apresiasi penyemangat bagi pengawalnya ini. Karena pengawalnya ini begitu cepat dalam melakukan apapun yang telah ia berikan kepercayaan.
****