Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 121 - Menepati Janji



Saat pakaian Alberto telah terbuka semuanya, hanya tinggal kulit yang merasakan sentuhan dari kulit pasangan yang berada di depannya. Ziya seketika tersenyum menatap dalam wajah Alberto. Dengan lembut Alberto menaikkan tubuh Ziya ke atas pangkuannya. Dimana adek kecil yang tadinya menegang merasakan masuk ke dalam sela-sela kedua kaki Ziya. Ziya tertawa melihat ekspresi wajah Alberto yang menginginkan untuk adek kecilnya itu masuk ke dalam surga dunia milik Ziya.


" Hahahaha,, Alberto," Bilang Ziya yang gemes dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Alberto sambil terkekeh geli dengan kelakuan Alberto.


" Sayang,, bantu aku supaya bisa masuk,," Pinta Alberto yang tidak merasa malu pada Ziya.


" Heemmm,, aku sudah bilang malam nanti,," Ucap Ziya yang memencet gemas hidung Alberto.


Saat mendengar ucapan Ziya seperti itu membuat Alberto tersenyum, lalu menggelitik perut Ziya yang berada di pelukannya. Sontak Ziya tertawa karena merasa geli di seluruh tubuhnya.


" Hihihihihihi,, Aaahh,, apa yang kau lakukan, Alberto ?" Ucap Ziya yang menahan geli di bagian perutnya.


" Aku akan selalu menggelitik perutmu, jika kau menolak keinginanku,," Jawab Alberto yang tidak mau merasa kalah dengan Ziya.


" Hihihihihihi,, iya, iya, iya, jangan kelitik aku geli,," Bilang Ziya lagi yang menahan perutnya sambil meronta-ronta tertawa di dalam bathtub.


" Tidak akan sayang,," Jawab Alberto yang menambah kelitikan tangannya pada perut Ziya.


" Hahahaha, Alberto aku geli sudah,, please,," Pinta Ziya yang tidak bisa lagi menahan rasa geli di tubuhnya.


" Ok,, sayang aku akan berhenti, tapi malam nanti khusus hanya untukku,," Ucap Alberto yang meminta waktu bersama dengan Ziya.


Saat Alberto menghentikan tindakannya itu, membuat Ziya merasa tenang dan perlahan-lahan Ziya bisa mengambil napasnya. Lalu, Ziya mendengar permintaan Alberto, karena, waktu malam ini khusus untuk dirinya.


" Heemmm,, Ok Baiklah,," Jawab Ziya yang menyetujui keinginan Alberto.


" Bagus, sayang,," Bilang Alberto yang kembali memeluk tubuh Ziya.


" Ada yang ingin ku sampaikan,," Ucap Alberto yang menyambungkan pembicaraannya.


" Apa ?" Tanya Ziya yang segera menoleh ke belakang menatap wajah Alberto.


" Vena sudah sembuh baru saja hari ini kembali,," Ucap Alberto yang membuat Ziya terkesiap senang.


" Aaahh,, benarkah, Alberto,," Tanya Ziya dengan wajah sumringahnya yang menatap Alberto.


" Heemmm,," Jawab Alberto.


" Berhubung dia sudah pulang, jadi dia sudah bisa untuk menjadi asisten pribadimu, sayang,," Ucap Alberto yang mencium lembut rambut Ziya.


" Baiklah, terima kasih, Alberto,," Ucap Ziya yang memeluk erat tubuh Alberto dan menciumi pipinya.


" Yeah,," Jawab Alberto mengangguk.


" Oh ya sayang, besok kau akan pergi ke undangan pesta dan jangan menolak untuk selalu membawa Vena serta pengawal lain masuk ke dalam, kemanapun kau melangkah, maka semua pengawal harus mengikuti langkahmu,," Ucap Alberto yang menyambungkan omongannya itu.


" Heeemm,, Ok," Jawab Ziya mengangguk.


Karena, dengan menuruti semua perintah dari Alberto, maka Ziya bisa merasa bebas untuk melakukan apapun. Seperti halnya dengan keinginan Ziya yang kembali ingin membuat penelitian dari penemuannya itu. Dan, juga Ziya saat ini diizinkan Alberto untuk selalu bersama Demian serta Ziya malah dibolehkan untuk keluar dari kediamannya pergi ke sebuah undangan pesta yang akan membuat dirinya merasa dihormati.


Itulah Alberto, ketika Ziya menuruti semua keinginannya maka, Alberto juga akan merasa luluh akan sikap Ziya yang tidak mau dikekang itu.


" Oh ya, jika, Vena sudah kembali, berarti kau harus menepati janjimu Alberto,," Ucap Ziya yang sedikit membuat Alberto tercengang bingung.


Alberto merasa bingung dan penasaran atas ucapan Ziya yang menyatakan jika Vena kembali maka harus menepati janjinya. Dalam sekejap Alberto kembali mengingat sesuatu apa yang telah dijanjikannya pada Ziya. Namun, Alberto berpura-pura lupa atas ucapan Ziya itu.


" Memangnya, aku janji apa ?" Tanya Alberto pada Ziya dengan wajahnya yang berekspresi benar-benar lupa.


Sesaat Ziya sedikit terdiam dengan ekspresi Alberto ini.


" Hah! kau benar-benar lupa atau,," Tanya Ziya yang mencoba untuk menelusuri garis wajah Alberto.


Karena, melihat wajah Ziya yang terlihat seperti sedang menelusuri wajahnya itu, Alberto seketika tertawa dan membuat Ziya heran.


" Hahahaha,," Suara tawa Alberto yang memecah di dalam kamar mandi ini.


" Kenapa kau tertawa,," Tanya Ziya dengan wajah seriusnya.


" Aku tertawa, karena melihat ekspresi wajahmu yang menelusuri wajahku, sayang," Bilang Alberto yang membuat Ziya memalingkan matanya.


" Tidak, aku tidak menelusuri wajahmu,," Jawab Ziya yang segera memalingkan wajahnya.


" Tapi, aku tahu, sayang,," Bilang Alberto yang kembali memeluk erat tubuh Ziya.


" Heemm,, sebenarnya aku masih merasa tidak yakin untuk melepaskan mereka,," Ucap Alberto seketika membuat Ziya kembali menoleh ke wajahnya.


" Kenapa ?" Tanya Ziya singkat.


" Karena, kelakuan mereka yang membuatku merasa tidak yakin,," Bilang Alberto lagi sambil memandang wajah Ziya.


" Tapi, Alberto bagaimana, jika Grandma bertanya tentang Mommy Gladys,," Ucap Ziya yang membuat Alberto sedikit berpikir, karena, saat ini memang Grandma Christin masih berada di luar negeri.


" Dan bagaimana dengan Alexa jika tahu Mommynya di kurung olehmu,," Ucap Ziya lagi yang membuat Alberto semakin berpikir.


Alberto berpikir kalau masalah Neneknya akan bertanya nanti, dia tidak terlalu pusing, karena, neneknya tahu dengan sifat Alberto yang melakukan suatu hal tanpa persetujuan siapapun, pasti neneknya tidak akan mengomentari.


Sedangkan, Alexa adalah adik perempuan Alberto satu-satunya yang usianya tidak terlalu jauh dari Ziya. Kemungkinan Alexa akan marah besar pada Alberto, walaupun kemarahan itu tidak langsung ditunjukkannya pada Alberto, namun, Alexa pasti akan membujuk Neneknya untuk tetap membebaskan kedua wanita itu dan juga Martin.


" Heemmm,, betul juga yang dikatakan oleh Ziya." Ucap Alberto dalam hati sambil memikirkan perkataan dari Ziya.


Alberto pikir lebih baik untuk saat ini dia melepaskan ketiga tawanannya itu, karena, sampai saat ini Alberto belum mendapatkan bukti apapun dari Martin, Claire dan Gladys sendiri. Jadi, Alberto belum bisa untuk segera bertindak melenyapkan mereka, karena, masih banyak pertanyaan besar di pikirannya itu.


" Heemmm,, baiklah, aku akan membebaskan mereka semua,," Ucap Alberto dengan suara tajamnya.


Saat mendengar ucapan Alberto seperti itu, Ziya langsung memeluk Alberto kembali, karena, Alberto saat ini terlihat menuruti semua perkataannya.


" Yeah, Alberto." Jawab Ziya yang berada di pelukan Alberto.


" Hari ini aku akan melepaskan mereka, jika mereka berani berbuat apa-apa lagi dengan kau dan juga Demian, maka kematian yang akan datang pada mereka." Bilang Alberto tajam menatap wajah Ziya.


Ziya yang melihat tatapan tajam Alberto itu, begitu terlihat sekali, bahwa Alberto sangat dendam dengan kelakuan wanita itu selama ini dengan kehidupannya di masa lalu.


" Yeah, Alberto, aku pastikan mereka tidak akan bisa melakukan kejahatan lagi padaku, karena, kau telah mengizinkan ku untuk melakukan penelitian ku itu,," Ucap Ziya tersenyum menatap wajah Alberto.


Mendengar ucapan Ziya yang begitu yakin akan keberhasilan dari penelitiannya itu, membuat Alberto segera memeluk tubuh Ziya dalam tubuhnya. Saat ini Alberto berpikir bahwa sepertinya Ziya membutuhkan ruangan khusus untuk melakukan penelitiannya itu, oleh sebab itu, Alberto ingin memberikan suatu ruangan untuk Ziya.


" Sayang, apakah kau membutuhkan ruangan khusus untuk melakukan penelitianmu itu,," Tanya Alberto serius pada Ziya.


" Daripada, aku diberikan ruangan khusus oleh Alberto untuk melakukan penelitianku ini, maka sangat mudah sekali membuat orang mencurigai keahlianku,," Pikir Ziya dalam hati sambil berpikir atas tawaran Alberto padanya itu.


" Aaahh,, lebih baik aku cukup menggunakan kamarnya Zoya untuk melakukan penelitian ini,," Ucap Ziya dalam hati yang mengalihkan pandangannya pada kamarnya Zoya.


Oleh sebab itu, Ziya berpikir lebih baik dia melakukan penelitiannya itu menggunakan kamarnya Zoya saja. Karena, dengan menggunakan kamarnya sendiri, semua orang tidak akan curiga akan tindakannya itu.


" Eemmm,, Alberto bukannya aku tidak setuju, jika kau memberikanku ruangan khusus, tapi, aku merasa, jika aku memiliki ruangan khusus untuk melakukan penelitian ini, maka semua orang akan curiga dengan diriku,," Bilang Ziya serius yang memandang wajah Alberto.


Ziya berani mengatakan hal seperti itu, karena, Ziya sudah terlalu mempercayai Alberto akan kemampuannya.


" Jadi, bagaimana kau harus mengerjakan penelitian yang kau sebutkan itu,," Tanya Alberto akan keputusan Ziya yang tidak mau untuk mendapatkan ruangan khusus dalam melakukan penelitiannya ini.


" Aku bisa menggunakan kamarku sendiri, untuk melakukan penelitian itu,," Bilang Ziya terakhir dan membuat Alberto seperti berpikir akan keinginan Ziya ini.


" Benarkah tidak apa-apa, hanya menggunakan kamarmu saja, untuk melakukan penelitian ini,," Tanya Alberto serius pada Ziya.


" Heemmm,," Jawab Ziya mengangguk.


" Aku yakin dengan menggunakan ruangan kamarku sendiri, maka semua orang tidak akan mencurigai tindakanku Alberto,," Ucap Ziya yang meyakini Alberto atas ucapannya itu.


Alberto berpikir sepertinya Ziya memang benar dan memiliki maksud tersendiri akan hal penelitiannya itu. Alberto memahami maksud dan keinginan Ziya ini.


" Sepertinya dia memiliki maksud tersendiri untuk melakukan hal ini, baiklah aku telah mempercayaimu, Ziya, aku akan tetap mendukung keinginanmu ini." Bilang Alberto dalam hati yang berpikir atas ucapan Ziya yang tidak mau diberikan ruangan khusus untuk melakukan penelitiannya itu.


" Baiklah sayang, jika kau menginginkan kamarmu sendiri untuk menjadi ruangan khusus penelitianmu itu, aku akan menyiapkannya di kamarmu,," Ucap Alberto yang membuat Ziya tercengang senang.


" Hah!! Benarkah Alberto,," Tanya Ziya menatap serius wajah Alberto.


" Heemm,," Jawab Alberto mengangguk.


" Terima kasih,," Bilang Ziya yang memeluk Alberto.


" Ucapan terima kasihnya, harus ditunjukkan dengan suatu hal malam nanti,," Bilang Alberto yang membisik lembut telinga Ziya.


Karena, mendengar ucapan Alberto seperti itu, membuat Ziya merasa geli akan keinginan Alberto yang terlihat seperti sangat menginginkan tubuhnya itu.


" Baik, Alberto akan aku tepati janjiku malam ini,," Bilang Ziya yang tersenyum menatap lembut wajah Alberto.


Seketika, Alberto mencium erat bibir Ziya, lalu, memainkan lembut gunung kembar yang berada di depan tubuh Ziya.


" Alber,, to,, aku dingin,," Ucap Ziya yang memeluk tubuh Alberto.


" Heemmm,, baiklah sayang kita selesaikan mandinya,," Ucap Alberto yang mengajak Ziya untuk pindah ke shower dan menyelesaikan mandinya.


" Heemmm, baiklah,," Jawab Ziya yang mulai melangkah keluar terlebih dahulu dari bathtub.


" Alberto, apakah kau akan pergi ke kantor hari ini,," Tanya Ziya seketika pada Alberto.


" Yah," Jawab Alberto singkat sambil melangkah keluar juga dari bathtub.


" Ooohhh aku pikir, kau tidak pergi,," Ucap Ziya yang terlihat kurang semangat saat Alberto mengatakan hari ini masih tetap pergi ke kantor.


" Kenapa ?" Tanya Alberto sambil memutar kran shower untuk mereka mandi bersama.


" Tidak apa-apa,," Jawab Ziya singkat.


" Katakan, kau mau apa ?" Tanya Alberto yang telah selesai menghidupkan kran shower dan memeluk tubuh Ziya dari belakang.


" Eemmm,, aku masih penasaran dengan taman dekat danau,," Gumam Ziya yang membuat Alberto berpikir sejenak.


" Oohh, jadi kau ingin mengajakku ke sana sayang,," Tanya Alberto pada Ziya sambil mengelus lembut tubuh Ziya.


" Heemmm,," Jawab Ziya mengangguk.


Seketika Alberto mengingat akan jadwalnya yang begitu padat saat ini, karena, setiap harinya Alberto selalu pergi ke kantor. Kalau tidak ke kantor pastinya Alberto pergi ke markasnya untuk membahas tentang masalah kejahatan yang terjadi di tempatnya ini.


" Sayang, sepertinya saat ini, aku belum bisa menemanimu untuk pergi ke sana,," Ucap Alberto jujur pada Ziya.


" Heemmm,, jadi, kalau kau tidak bisa menemaniku ke sana, bagaimana aku harus meneliti tanaman di sana,," Ucap Ziya yang membalikkan tubuhnya menghadap Alberto.


" Eemm,, sayang aku akan mencari waktu khusus untuk menemanimu pergi ke sana,," Ucap Alberto yang membuat Ziya bersemangat.


" Benarkah,," Tanya Ziya mendongakkan kepalanya menatap Alberto.


" Heeemmm,," Jawab Alberto mengangguk serius.


Sesaat Alberto teringat bahwa tidak lama lagi, Axeloe akan kembali ke kediamannya ini, saat itu juga, Alberto dengan sengaja memberikan semua pekerjaannya kepada Axeloe, jadi semua waktunya bisa dihabiskan bersama keluarga kecilnya ini.


" Bukankah sebentar lagi, Axeloe akan kembali,, berarti aku bisa bebas dari pekerjaanku dan semuanya akan aku serahkan pada Axeloe,," Gumam Alberto dalam hati sambil memikirkan jadwal kepulangan Axeloe ke kediamannya ini.


" Sayang sudah selesai mandinya,," Ucap Ziya pada Alberto.


" Heemmm,," Jawab Alberto mengangguk.


" Berhubung, Vena sudah pulang, kau bisa langsung mempekerjakan Vena kembali untuk menjadi asisten pribadimu hari ini juga,," Ucap Alberto yang mengingatkan Ziya atas kembalinya Vena itu.


Ziya berpikir tidak mungkin ia mempekerjakan orang yang baru saja kembali dari rumah sakit. Pastinya tubuh Vena belum terlalu pulih untuk melakukan sesuatu aktivitas hari ini.


" Eemmm,, tidak Alberto, aku kasihan padanya, lebih baik dia beristirahat dulu hari ini dan mulai besok baru aku izinkan dia bekerja lagi untuk menjadi asistenku, Alberto,," Bilang Ziya sangat tulus menghargai seseorang yang berada di dekatnya.


" Heemm baiklah sayang, itu terserah denganmu, karena, dia adalah orang yang telah kusiapkan untukmu,," Ucap Alberto yang memeluk tubuh Ziya.


" Heemmm,, Alberto aku dingin, aku sudah selesai mandinya,," Ucap Ziya lembut pada Alberto.


" Baiklah sayang,," Jawab Alberto mengangguk.


Terlihat Ziya sedang mematikan kran shower dan mengambil jubah mandi miliknya dan juga milik Alberto. Dengan lembut Ziya memakaikan jubah mandi itu pada Ziya dan kebalikannya Alberto memakaikan jubah mandi untuk Ziya.


Dan, dengan cepat Alberto mengambil handuk satu lagi untuk mengeringkan rambut Ziya.


Saat Ziya ingin melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi, Alberto dengan sengaja mengangkat tubuh Ziya dan menggendongnya. Ziya terkesiap kaget dan hanya bisa tertawa kecil melihat kelakuan Alberto yang selalu ingin menggendong tubuhnya.


****