
Sungguh pintar sekali, Alberto memilih tempat yang tidak diketahui oleh sang penerima alat sistem pengintai itu. Sehingga sampai saat ini, Martin tidak mengetahui bahwa di dalam tubuhnya sudah terpasang chip pengintai yang telah diperintahkan Alberto kepada anak buah handalnya.
Setelah selesai memeriksa sistem pengintai yang telah dipasang. Alberto merasa sedikit puas atas hasil dari pekerjaan yang dilakukan oleh pengawalnya ini.
" Bagus,," Ucap Alberto yang memuji hasil pekerjaan yang dilakukan oleh pengawalnya.
" Aku ingin melihatnya," Bilang Alberto yang segera melangkahkan kakinya menuju ke ruang penahanan Martin.
" Baik Tuan,," Jawab pengawal Alberto dan juga segera melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Alberto.
Semua pengawal yang mengawali Alberto, telah mengikuti semua langkahan Alberto untuk menuju ke ruang penahanan dimana Martin sedang berada. Alberto telah membuka sistem ruangan itu menggunakan kode khusus yang hanya bisa digunakan oleh dirinya dan juga pengawal setianya saja.
Saat terbuka pintu untuk masuk ke dalam ruangan, terlihatlah wajah Martin yang begitu mengenaskan, karena, selama dikurung Martin hanya satu kali sehari dikasih makan, bahkan sudah terlalu sering dipukuli oleh pengawal Alberto yang berada di dalam.
" Apa kabar, Martin,," Ucap Alberto saat melangkah masuk ke dalam.
Saat Martin mendengarkan suara pintu terbuka, Martin mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang telah masuk ke dalam ruangan penahanannya. Martin yang tubuhnya telah terikat dalam posisi duduk di atas kursi sedikit membuang air ludahnya saat mendengar sapaan akrab dari Alberto yang menanyakan bagaimana keadaannya selama di dalam ruang penahanan.
" Cih!! Tidak perlu sok akrab denganku,," Bilang Martin yang berdecih saat menjawab sapaan dari Alberto.
Karena, mendengar ucapan Ziya saja Alberto mau berbaik hati dengan tawanannya ini, kalau, tidak pastilah saat ini Alberto sudah memukuli wajahnya berulang kali sepuas hatinya, karena, telah berani menjawab sapaan baiknya.
" Heh!! ini semua karena istriku, jika tidak karena keinginannya, tidak mungkin aku membebaskan kau ?" Ucap Alberto yang melangkah perlahan mendekati wajah Martin.
" Apa, Zoya ingin membebaskan ku,," Ucap Martin dalam hati.
Martin berpikir kenapa Zoya mau melepaskannya, padahal saat itu dia jelas melihat bahwa Zoya sudah pingsan karena perbuatannya itu. Sebenarnya Martin juga menyesal melakukan hal kasar yang membuat Zoya menjadi pingsan. Tapi apa boleh buat, disaat itu Zoya tidak seperti biasanya yang bersedia untuk menemaninya untuk bersenang-senang, memuaskan hasrat dalam tubuhnya.
" Kenapa dia ingin membebaskan ku,," Gumam Martin lagi dalam hati yang merasa aneh pada pemikiran Zoya.
" Apa mungkin, dia masih mau denganku," Pikir Zoya dalam hati sambil memikirkan keinginan Zoya ini.
" Tapi, aku ingin bersandiwara di hadapan Alberto, supaya, Alberto sendiri yang merasa bersalah karena, telah menangkapku,," Ucap Martin dalam hati yang berniat untuk mengelabui Alberto.
" Heh!! tidak perlu dibebaskan, karena, kau telah menuduhku selama ini, jadi, percuma kalau aku dibebaskan." Ucap Martin sok berani melawan ucapan Alberto.
Alberto berpikir pasti, Martin ingin mengelabui dirinya dan dia sendiri akan merasa bersalah karena telah menangkap dan menuduh Martin.
" Dasar bodoh,, bukannya aku tidak tahu apa pikiranmu, Martin,," Ucap Alberto dalam hati yang menatap wajah Martin dengan tatapan tajam.
" Baiklah, aku akan berbaik hati padamu, jika kau belum mau dibebaskan, aku akan menunggu keputusan darimu untuk kubebaskan,," Bilang Alberto yang juga mempermainkan pikiran Martin.
" Apa, dia tidak akan melepaskan aku saat ini, oh tidak, lebih baik aku menyerah saja, daripada aku masih disini dan tidak bisa bersama dengan Zoya. Lebih baik aku menuruti perkataannya." Gumam Martin yang berpikir saat mendengar ucapan Alberto yang meminta waktu dari dirinya sendiri untuk melepaskannya.
Karena, Alberto sudah tahu niat dan pikiran Martin untuk mengelabui dirinya. Dengan segera Alberto melangkahkan kakinya keluar. Tetapi untuk sesaat Martin segera menghentikan langkah kaki Alberto yang akan meninggalkannya itu.
" Alberto, tunggu,," Ucap Martin yang segera memanggil Alberto.
Dalam sekejap, Alberto menaikkan ujung bibirnya, karena, mendengarkan panggilan Martin untuk mencegahnya pergi. Alberto pun segera berbalik menoleh ke arah Martin berada.
" Heh!! orang bodoh sepertimu, tidak akan mampu menahan beban kurungan ini,," Gumam Alberto licik dalam hatinya yang menyunggingkan senyumannya.
" Ada apa ?" Tanya Alberto yang membalikkan tubuhnya.
" Aku ingin mengetahui kenapa kau melepaskanku, padahal waktu kau menangkapku, kau sangat ingin untuk membunuhku,, tapi kali ini kenapa kau membebaskanku, padahal kau tahu kalau aku telah bersalah,," Tanya Martin pada Alberto seketika membuat Alberto tertawa mendengarkan pertanyaannya itu.
" Hahahaha,, Kau tahu bahwa aku adalah Alberto, jadi setelah menangkapmu, aku tahu kalau ada satu orang lain yang ternyata adalah pelakunya,," Bilang Alberto yang menjawab pertanyaan dari Martin.
Saat mendengarkan ucapan Alberto, Martin bukannya mengerti malah semakin bingung. Karena, di dalam hatinya sudah jelas dialah yang menjadi pelaku saat itu, melakukan hal yang memang benar atas tuduhan Alberto padanya. Tapi, kenapa saat ini Alberto mengatakan bahwa ada pelaku lain yang memang ternyata jelas dengan buktinya.
" Apa,, Alberto telah menemukan pelaku lain,," Pikir Martin saat mendengarkan penjelasan yang diucapkan oleh Alberto.
" Bukannya pelakunya adalah aku sendiri,," Ucap Martin lagi dalam hati sambil berpikir akan kesalahannya itu.
" Baiklah, karena, Alberto sudah berpikir bukan diriku yang menjadi pelakunya, maka aku akan mencari kesempatan lagi untuk bisa mendekati Zoya." Pikir Martin yang bergerilya mengingat bagaimana indahnya tubuh Zoya.
Alberto merasa curiga dengan pemikiran Martin saat ini, jadi, Alberto sengaja mengagetkannya dengan ungkapan gertakan yang menakut-nakuti Martin.
" Heh!! sepertinya dia ingin melakukan sesuatu hal yang lain lagi." Ucap Alberto yang memicingkan sedikit matanya melihat ekspresi wajah Martin yang sedang berpikir sesuatu.
" Martin,," Gertak Alberto yang mengagetkan Martin.
" Ah yah,," Jawab Martin yang terkejut atas panggilan Alberto yang sengaja memang mengagetkannya.
" Bagaimana, kau masih mau tinggal disini,," Tanya Alberto pada Martin.
" Tidak,, aku tidak akan tinggal disini, jika kau telah menemukan pelakunya." Jawab Martin yang terlihat seperti tidak berdosa.
" Bagaimana dengan pelakunya, apakah,," Tanya Martin yang ucapannya terhenti karena, Alberto segera memutuskan perkataannya.
" Aku akan melepaskan dirimu, jika kau mendapatkan pelakunya,," Ucap Alberto yang membuat Martin ternganga bingung.
" Hah!! apa ?" Suara Martin yang terdengar kaget mendengar ucapan yang disampaikan oleh Alberto padanya.
" Aku harus mendapatkan pelakunya,," Ucap Martin yang bingung atas ungkapan dari Alberto.
" Bagaimana ini, pelakunya jelas-jelas adalah aku sendiri." Pikir Martin dalam hati yang bingung akan keinginan dari Alberto ini.
" Tapi, Bukannya kau sudah menemukan pelakunya,," Tanya Martin lagi pada Alberto.
" Heh!! Kau mau dilepaskan atau tidak,," Ucap Alberto yang merasa terlalu berbasa-basi dengan Martin.
" Yeah tentunya,," Jawab Martin.
" Lepaskan dia dan keluarkan dia sebagaimana kalian membawanya kesini,," Ucap Alberto yang memerintahkan pengawalnya.
" Dan, panggilkan dokter untuk mengobatinya." Ucap Alberto lagi yang memerintahkan pengawalnya itu.
" Baik Tuan,," Jawab pengawal Alberto yang mematuhi perintah Alberto.
Setelah selesai mengurus Martin, Alberto segera menuju ke ruang permainan satunya lagi yaitu dimana ia mengurung Gladys dan Claire.
Di dalam ruangan itu terlihat Gladys dan Claire menunggu kesempatan yang telah ada di dalam pikirannya bahwa sebentar lagi mereka akan bebas dan keluar dari ruang penahanannya ini.
" Heh!! Aunty, Aunty bilang secepatnya kita akan keluar dari sini,," Gerutu Claire yang merasa kesal akan rencana Auntynya.
Memang benar Claire merasa kesal dengan sikap Auntynya itu, karena, rencana Auntynya itu membuat Claire gagal mendapatkan kesempatan lagi untuk mengambil hati Alberto. Dan, sekarang bukannya mendapatkan perhatian dan hati Alberto malah ia ikut terkurung di dalam ruang penahanan, karena, ide dan rencana dari Auntynya ini.
" Shut up, Claire, Aunty pusing mendengar ucapanmu,," Bilang Gladys yang kesal atas sikap dan ucapan Claire yang merasa kecewa karena, telah mengikuti rencananya itu.
" Yah yah ok,," Ucap Claire yang duduk di dekat Gladys.
Tak lama kemudian, bunyi suara pintu ruang penahanan telah terbuka, sontak wajah Claire kaget, ceria saat mendengar pintu ruangan yang telah terbuka.
" Aaahh,, sepertinya ada orang yang datang Aunty,," Ucap Claire yang segera berdiri mendekati jeruji besi yang telah dipasang untuk menahan mereka berdua.
" Heemm, Calm down Claire," Bilang Gladys yang tersenyum senang, karena ia tahu bahwa pasti itu Alberto.
Gladys telah berpikir dengan pikirannya yang sematang mungkin bahwa Alberto akan membebaskannya, karena, ia tahu bahwa sebentar lagi Mommy Christin akan kembali dari luar negeri, sedangkan pastinya Alberto akan takut dengan Mommy Christin.
" Siapa yang datang Aunty apakah Alberto,," Ucap Claire yang masih memperhatikan siapa yang masuk ke dalam ruangan itu.
" Tentunya,," Bilang Gladys yang tersenyum.
" Claire, jika itu Alberto pasang wajah angkuhmu, karena, kesalahannya telah membuat kita mendekam di ruangan ini,," Bilang Gladys yang mengompori pikiran Claire.
Karena, selama ini memang terlihat sikap Claire di hadapan Alberto yang terlalu mengejar-ngejar perhatiannya. Sehingga membuat Alberto merasa jijik akan sikap yang ditunjukkan oleh Claire. Namun, jika Claire bersikap angkuh seperti gayanya Ziya saat ini, kemungkinan Alberto akan menyukainya.
" Heemmm,, apakah Claire harus begitu Aunty,," Tanya Claire yang mulai beralih menoleh ke arah Gladys.
" Yah memang harus begitu,," Ucap Gladys yang meyakinkan ungkapannya itu pada Claire.
" Baiklah,," Jawab Claire yang menyetujui pengajaran dari Gladys.
Sesaat, terdengarlah suara hentakan sepatu yang digunakan oleh Alberto. Dimana saat ini Alberto sedang melangkahkan kakinya menuju ke tempat ruang penahanan Gladys dan Claire. Saat melihat tubuh Alberto yang datang ke ruangan itu, Claire tidak bisa menahan rasa gembiranya ketika melihat Alberto yang tiba di ruangannya itu.
" Aakkhh,, Aunty ternyata benar, Alberto yang datang kesini,," Ucap Claire yang merasa bahagia saat melihat Alberto.
" Heh!! benar bukan pemikiran Aunty." Bilang Gladys pada Claire.
" Tidak salah lagi, Aunty,," Jawab Claire yang fokus menatap wajah Alberto.
Ketika Alberto sudah mendekati ruangannya itu, dengan segera Alberto memerintahkan pengawalnya untuk membuka ruangan yang masih terkunci.
" Buka ruangannya." Ucap Alberto yang memerintahkan kepada para pengawalnya.
Terlihat pengawal Alberto segera maju dan membukakan pintu ruang penahanan, terlihatlah Claire dan Gladys yang melangkahkan kakinya keluar dari ruang penahanan.
" Kalian aku bebaskan, karena, orang yang kalian racun telah kembali,," Ucap Alberto sinis yang tidak memandang wajah kedua wanita itu.
" Jika kalian berani berbuat ulah lagi di kediamanku ini, maka bukan hanya ini yang akan kulakukan, melainkan kematian,," Ucap Alberto lagi yang memperingatkan Claire dan Gladys.
" Heh !! Come Claire,," Ucap Gladys yang segera melangkahkan kakinya menuju keluar ruangan.
Saat Gladys ingin melangkahkan kakinya keluar dari ruangan yang melewati Alberto, dengan sengaja Alberto mencegah langkah kaki dua wanita itu. Gladys dan Claire terlihat sangat kaget saat Alberto mencegahnya untuk segera keluar dari ruangan ini.
" Tunggu,," Ucap Alberto yang menghentikan langkah kaki Gladys dan Claire.
Sesaat langkahan Gladys dan Claire terhenti saat mendengar panggilan dari Alberto.
" Hanya seperti itu, jika mendapatkan kebebasan dariku,," Ucap Alberto yang menatap tajam wajah Gladys tanpa memperhatikan tatapan dari Claire padanya.
" Aku akan berterima kasih padamu, jika kau telah membebaskan Putraku,," Bilang Gladys yang masih bersikeras akan sikap angkuhnya.
Saat mendengar ucapan Gladys seperti itu, seketika Alberto menaikkan ujung bibirnya, karena, bukan dari perintahannya ia membebaskan Martin, melainkan karena, perintahan Ziya yang memintanya untuk membebaskan semua orang.
" Heh!! kau jangan sok angkuh Mom,," Ucap Alberto yang menatap tajam wajah Gladys.
" Heh!!" Suara Gladys yang terdengar berdecih mendengar ucapan Alberto padanya itu.
" Putramu sudah lama aku bebaskan dan bahkan saat ini dia sudah berada di kamarnya." Ucap Alberto yang menjelaskan secara detail pada Gladys.
Ketika mendengar ucapannya Alberto yang telah memberitahu bahwa Martin sudah dibebaskan bahkan sudah lama darinya. Membuat Gladys segera menoleh meneliti wajah Alberto dengan seksama.
" Benarkah ?" Tanya Gladys yang kembali bertanya pada Alberto.
" Heh!! Bebaskan mereka seperti kalian membawanya kesini,," Ucap Alberto yang memerintahkan anak buahnya untuk melakukan hal yang sama seperti pembebasan Martin.
" Baik Tuan,," Ucap pengawal Alberto yang menganggukkan kepalanya.
Dengan segera, pengawal Alberto mendekati Gladys dan Claire mengikat tangannya kembali, namun Claire dan Gladys tidak mau menuruti perintahan dari Alberto. Alberto yang melihat kelakuan Gladys seperti melawan perintahannya itu, sehingga membuatnya marah dan mengurungkan niatnya untuk membebaskan kedua wanita itu.
" Iiihhh lepaskan aku, aku bisa jalan sendiri,," Ucap Gladys yang memberikan perlawanan kepada pengawal Alberto.
" Masukkan mereka kembali ke penjara, jika mereka tidak mau menurut,," Bilang Alberto yang memerintahkan kepada pengawalnya.
Saat mendengar ucapan Alberto yang ternyata tidak menyukai perlawanan dari Gladys membuat Claire seolah-olah kena sasaran juga atas pengajaran dari Auntynya untuk bersikap angkuh itu.
" Aunty, lebih baik menurut saja, daripada kita dimasukkan lagi ke dalam penjara,," Ucap Claire pada Gladys yang membuat Alberto tersenyum.
" Heh! Ternyata keponakanmu ini lebih pintar daripada dirimu, Mom," Bilang Alberto yang terdengar memuji Claire.
Saat Alberto memuji Claire seperti itu, di wajah Claire begitu terlihat akan kebahagiaannya, karena, Claire berpikir pasti dia mendapatkan kembali kesempatan untuk mengambil hati Alberto. Jadi, saat ini Gladys hanya bisa pasrah menuruti ucapan Claire yang mematuhi perintahan dari Alberto.
****