Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 136 - Perkiraan Christin



Namun, Christin teringat akan sesuatu kepada cicit kesayangannya yaitu Demian. Sehingga membuat Christin segera menanyakan kepada asistennya bagaimana keadaan Demian saat ini, setelah banyak mendengarkan kejadian yang ada.


" Tunggu sebentar," Cegah Christin pada asistennya.


Asisten Christin yang belum terlalu jauh dari tempatnya itu, berhenti sejenak mendengarkan panggilan dari majikannya.


" Ya, ada apa, Nyonya ?" Tanya asisten pribadinya Christin sambil menoleh ke arahnya.


Melihat asistennya berhenti dengan segera Christin menanyakan bagaimana kabar tentang cicitnya Demian.


" Eemmm,, apakah selama ini kau mengawasi Demian, bagaimana dengannya ?" Tanya Christin langsung kepada asistennya itu.


" Tuan Muda Demian, baik-baik saja Nyonya, karena, semenjak Nyonya Zoya kembali, Tuan Muda selalu melakukan aktivitasnya di rumah bersama dengan Nyonya Zoya. Bahkan Nyonya Zoya yang selalu mengajari Tuan Muda untuk belajar." Jawab asisten pribadi Christin yang terdengar sangat tahu tentang aktivitas Zoya bersama Demian.


" Benarkah, seperti itu,," Ucap Christin yang terlihat seperti menyelidiki aktivitas Zoya bersama Demian.


" Ya, Nyonya, saat dimana Nyonya Zoya sedang bermain dengan Tuan Muda Demian, disana terlihat Nyonya Zoya seakan bahagia sekali bermain bersama, terlihat dua wajah itu sangatlah bahagia saat menghabiskan waktu berdua di sana." Ucap asisten pribadi Christin yang membuat dirinya semakin penasaran.


" Sepertinya dia sangat merubah sikapnya itu," Gumam Christin dalam hati yang memikirkan sikap dari Ziya.


" Apakah kau menaruh kecurigaan padanya ?" Tanya Christin pada asistennya.


" Eemmm,, saya cuma curiga kenapa saat ini Nyonya Zoya bersikap terbalik dari sikapnya selama ini dengan sikapnya yang telah kembali ini." Jawab asisten Christin dengan penuh keyakinan.


" Kau benar, aku juga seperti itu, awasi dia selalu dan kalau perlu pakai penyadap suara di dekat dirinya saat sedang bersama Demian atau Alberto." Ucap Christin yang memerintahkan asistennya untuk mengawasi gerak-gerik Ziya.


" Baik Nyonya, segera saya laksanakan." Jawab asisten Christin mengangguk mengerti.


Dengan segera asisten itu keluar dari ruangan Madam Christin, sementara itu, Madam Christin sendirian di kamarnya, sambil memikirkan bagaimana sebenarnya sikap Ziya yang dipikirkannya adalah Zoya.


" Heemmm,, banyak pengawal dan pelayan yang menyukai sikapnya sekarang." Ucap Christin yang sedang sendirian dan kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah jendela.


" Aku sudah menduga, sejak awal dia kembali, dia sangat baik terhadap cicitku Demian dan dia juga bisa meluluhkan hati Alberto yang dulunya dingin menjadi lembut seperti saat ini, jika dia benar menyayangi putranya Demian dan mencintai Alberto setulus hatinya, maka, aku akan memaafkan kesalahan yang ia lakukan dulu." Ucap Christin yang berpikir akan memaafkan kesalahan Zoya selama ini.


Namun, sesaat Christin teringat akan kejadian yang dulu pernah terjadi pada Alberto sebelum Zoya masuk ke dalam rumah ini membawa bayinya Demian.


" Jangan-jangan dia adalah Istri Alberto yang sebenarnya, dan jangan-jangan gadis angkuh selama ini yang mengaku menjadi Istri Alberto adalah yang palsu." Pikir Christin terhadap perlakuan Ziya selama ini.


Saat Christin sedang memandang keluar jendela, kebetulan di sebuah taman terlihat dua orang wanita yang saat ini baru saja diketahui rencana jahatnya terhadap cucunya itu. Namun, Christin merasa masih menganggap Gladys menantunya karena, Gladys merupakan Ibu dari cucu perempuannya yaitu Alexa. Jika, tidak ada anak dari Vasco dan Gladys kemungkinan saat ini juga Christin mengusir dua nyamuk wanita di rumah cucunya ini.


" Heh!! sedang apa mereka berdua." Ucap Christin yang menatap gerak-gerik Gladys dan Claire yang sedang membicarakan sesuatu di sebuah taman.


Sementara, Gladys dan Claire yang sedang duduk di taman sedang membicarakan sesuatu, entah apa yang dibicarakan mereka berdua, pastinya Christin telah menaruh rasa curiga atas sikap yang sedang mereka lakukan itu.


" Aunty, apa yang harus kita lakukan saat ini ?" Tanya Claire yang mulai membuka pembicaraannya.


" Heh!! kita lihat saja nanti, apa yang harus dilakukan Claire,," Jawab Gladys sambil tersenyum.


" Aunty lihat pagi ini dengan sengaja ja-lang itu cari perhatian dengan Grandma,," Ucap Claire yang tidak menyukai sikap Ziya yang terlalu baik terhadap Grandma Christin.


" Yah,, semua orang melihat bagaimana caranya dia mencari perhatian Mommy, padahal selama Aunty berada disini, mana pernah Aunty bersikap seperti itu kepada Mommy,," Ucap Gladys yang merasa kedudukannya tersaingi.


" Tapi, Aunty tenang saja, walau bagaimanapun Aunty adalah menantu kesayangan Grandma langsung, sedangkan dia hanya istri ja-lang dari Alberto yang sama sekali tidak diperhatikan oleh Alberto." Ucap Claire yang membuat Gladys tersenyum.


" Kau benar sekali, Claire, walau bagaimanapun aku adalah memang dari Mommy Christin langsung." Jawab Gladys tersenyum puas.


" Oh iya Aunty, apakah Martin akan sembuh dari sakitnya ?" Tanya Claire pada Gladys.


" Heemm, harus, ini semua karena, Alberto, jika dia tidak menangkap Putraku, tidak mungkin Putraku bisa sakit seperti itu,," Ucap Gladys yang terlihat marah dari sorotan matanya.


" Jangan salahkan Alberto, Aunty, ini semua kesalahan wanita ja-lang itu, jika dia tidak mengadu omongan kepada Alberto, tidak mungkin Alberto menangkap Martin seperti ini,,"


" Seharusnya kita harus segera melaksanakan rencana untuk membunuh wanita itu atau kita segera mengusirnya dari sini, Aunty,," Ucap Claire yang sudah tidak sabar lagi untuk segera mengusir Ziya dari kediaman ini.


" Rileks, Claire, kita cari cara untuk melakukan rencana ini dengan baik, jangan sampai rencana yang kita lakukan ini gagal lagi, You are understand,," Bilang Gladys sambil mengedipkan sebelah matanya.


" Heemm,, mengerti Aunty,," Jawab Claire yang merasa bahwa Auntynya terlalu mengulur waktu.


Saat Gladys dan Claire sedang merencanakan sesuatu terhadap Ziya. Terlihatlah dari jauh mobil yang digunakan beberapa pengawal untuk mengawali Ziya keluar ke sebuah pesta telah kembali ke kediamannya saat ini. Otomatis Gladys dan Claire juga melihat bagaimana ramainya pengawal yang mengawali Ziya saat ini. Sepertinya, Ziya telah berhasil mendapatkan perhatian dari Alberto sehingga, terlihat seperti saat ini Ziya yang keluar saja harus mendapatkan pengawalan yang ketat.


Tidak seperti dulu, Zoya yang mau pergi kemana saja, bebas. Sama sekali tidak dipedulikan oleh Alberto, bahkan mana ada yang namanya pengawal pribadi terhadap Zoya.


" Heh!! aku pikir itu Alberto, ternyata, wanita itu,," Umpat Claire yang melihat Ziya turun dari mobil dengan beberapa pengawal.


" Yah, kau benar Claire, Aunty pikir dia adalah Alberto, ternyata, sepertinya dia sudah melangkah lebih maju daripada yang kita pikirkan selama ini,," Ucap Gladys yang masih tidak percaya dengan pandangannya ini.


" Betulkan Aunty, ternyata dia lebih berhasil daripada rencana kita,," Ucap Claire yang menambah bumbu panas pada pandangan mata Gladys terhadap Ziya.


" Sepertinya aku akan terlambat mendapatkan Alberto." Ucap Claire lagi yang menambah omongannya.


Saat Claire dan Gladys sedang menatap gerak-gerik Ziya. Terlihat saat ini wajah Ziya sedang tersenyum melihat semua pengawalnya yang begitu menjaga dirinya. Karena, pengawalnya merasa sedikit takut apabila Alberto pulang nanti, pasti mereka semua akan kena semprot dari Alberto, karena, tidak bisa menjaga keamanan istrinya dengan tepat.


" Silahkan Nyonya,," Ucap Friek yang membuka pintu mobil tempat Ziya duduk.


Karena, pintu mobil telah terbuka dengan segera Ziya keluar dari mobil dan sedikit memberikan senyuman kepada Friek yang terlihat cemas di wajahnya.


" Terima kasih,," Ucap Ziya pada Friek.


" Maafkan saya Nyonya karena, tidak bisa menjaga keamanan Nyonya dengan benar," Ucap Friek yang menundukkan kepalanya terhadap Ziya.


" Tidak apa-apa, ini bukan salahmu, jadi, jangan terlalu dipikirkan,," Bilang Ziya yang menguatkan perasaan Friek.


Sebenarnya, Friek sangat senang mendapatkan kata-kata semangat dari Nyonya besarnya ini, namun, perasaan takut dan cemas masih saja menyerang dirinya saat ini. Apa yang akan dilakukan oleh Tuan Besarnya jika tahu bagaimana kejadian di tempat pesta tadi.


" Terima kasih, Nyonya,," Jawab Friek yang masih menundukkan kepalanya menghadap Ziya.


" Yah," Jawab Ziya tersenyum dan segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


Setelah memberikan motivasi semangat kepada Friek adiknya Frengky dengan segera Ziya masuk ke dalam kediamannya yang diikuti oleh Vena. Saat masuk ke dalam, Ziya segera melangkahkan kakinya menuju ke tangga namun, saat Ziya mau menaiki tangga, Ziya melihat dari kaca jendela dekat tangga yang memperlihatkan daerah luar kediaman dan terlihatlah beberapa mobil datang ke kediaman mereka. Ziya sangat mengenal mobil itu, yaitu tidak lain dari mobilnya Demian. Lalu, Ziya mengurungkan kembali niatnya untuk menaiki tangga menuju kamarnya di atas. Yaitu, langsung menyambut kepulangan putranya dari sekolah.


" Demian, cepat sekali pulangnya,," Ucap Ziya yang melihat mobil Demian kembali ke kediaman.


" Bytel, nanti antelin Demi langsung ke kamal Mommy ya, kalena Demi mau nunjukin ini sama Mommy,," Ucap Demian yang baru saja turun dari mobil.


" Iya, Tuan Muda,," Jawab Melly sambil tersenyum.


Karena, Ziya telah memutar kembali tubuhnya untuk segera menemui Demian, ternyata Ziya sendiri sudah sampai di depan pintu untuk menyambut kedatangan Demian. Dengan segera Ziya memanggil Demian untuk menghampirinya, karena, dia juga baru kembali dari luar.


" Sayang,," Panggil Ziya pada Demian.


Karena, sudah terlalu kenal dengan suara Mommynya itu, dengan segera Demian mendongakkan kepalanya melihat dimana arah suara Mommynya itu.


" Mommy,," Ucap Demian yang masih jauh dari Ziya.


Dengan segera Demian berlari menuju ke tempat Ziya. Namun dengan segera juga Ziya mencegah Demian untuk berlari ke tempatnya itu, lebih baik dirinya saja yang melangkah mendekati Demian, daripada langkah kaki Demian yang kecil menuju ke arahnya.


" Eehh,, jangan berlari sayang, biar Mommy yang kesana,," Ucap Ziya yang segera melangkah menuju ke tempat Demian.


Dari kejauhan Demian tersenyum dan menghentikan langkahnya, karena, sudah terlihat dari langkahan kaki Mommynya yang berjalan ke arahnya itu. Saat dirinya telah sampai di dekat Demian, dengan segera Ziya menggendong tubuh Demian, secara spontan Demian langsung saja melompat ke dalam gendongan Ziya.


" Come, My Baby,," Ucap Ziya yang membuka tangannya.


" Holeee,," Ucap Demian setelah digendong oleh Ziya.


Karena, sudah ada dalam gendongannya, dengan gemas Ziya mencium pipi Demian. Demian tertawa riang saat dicium dan digendong oleh Ziya.


" Sayang, kenapa cepat sekali pulang dari sekolah ?" Tanya Ziya kepada Demian setelah menciumnya.


" Kalena, di sekolah gulu sedang meeting, jadi, Demi segela pulang, Mom,," Ucap Demian yang menjelaskan keadaan sekolahnya hari ini.


Karena, ingin memastikan kebenaran jawaban dari Demian, Ziya segera menolehkan kepalanya ke arah Melly. Menanyakan hal kebenaran dari jawaban Demian itu.


" Apakah benar Melly ?" Tanya Ziya pada Melly.


" Ya, Nyonya memang betul sekali,," Jawab Melly mengangguk yang membenarkan perkataan Demian.


" Demi, tidak belani bohong, Mom, kalena, Daddy bilang jangan pelnah membohongi Daddy and Mommy." Ucap Demian lucu di hadapan Ziya.


" Uuuhhh,, pintar anak Mommy, That's Good My Son, memang harus seperti itu,," Ucap Ziya yang menciumi pipi Demian.


Demian terlihat senang saat Zoya memeluk dan mengecup pipinya berkali-kali itu, membuat Grandma Christin yang melihat kelakuan Ziya menggendong Demian itu terlihat tulus dan memang benar menyayangi Demian.


" Sayang, apa saja kegiatan hari ini ?" Tanya Ziya kepada Demian sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam kediaman.


" Tidak ada sepeltinya Mom,," Jawab Demian yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


" Melly apakah hari ini Demian, tidak ada kegiatan ?" Tanya Ziya kepada Baby Sitternya Demian.


" Eemm,, sebentar Nyonya,," Jawab Melly sambil melihat daftar kegiatan Demian hari ini.


Setelah membuka daftar kegiatan Demian hari ini, ternyata hasilnya tidak ada kegiatan yang harus dilakukan, Melly segera mengatakan bahwa Demian tidak ada kegiatan apapun hari ini.


" Tidak ada kegiatan untuk Tuan Muda hari ini Nyonya,," Ucap Melly yang menjelaskan tentang kegiatan Demian hari ini.


Mendengar penjelasan dari Melly bahwa hari ini tidak ada kegiatan untuk Demian, dengan segera Ziya mengajak Demian untuk ke kamarnya, menemani Ziya dalam meneliti racun.


" Tidak ada kegiatan, baiklah aku akan membawa Demian ke kamarku,," Bilang Ziya kepada Melly.


" Baik Nyonya," Jawab Melly mengangguk.


" Oh ya Melly, tolong siapkan makan siang untuk Demian,," Bilang Ziya yang memerintahkan Melly untuk segera menyiapkan makan siang untuk Demian.


" Baik Nyonya permisi," Jawab Melly dengan segera melangkahkan kakinya ke atas terlebih dahulu untuk meletakkan barang-barang Demian.


Karena, sudah diperintahkan untuk segera menyiapkan makan siang untuk Demian, dengan segera Melly melakukan pekerjaannya. Sementara itu, Demian yang masih memegang kertas hasil nilainya hari ini segera ditunjukkannya pada Ziya.


" Mommy, ada yang ingin Demi tunjukkan,," Ucap Demian di gendongan Ziya.


Sesaat Ziya penasaran dengan ucapan Demian yang mengatakan bahwa ia memiliki sesuatu untuk ditunjukkan kepadanya.


" Apa sayang ?" Tanya Ziya yang masih penasaran dengan ucapan Demian.


" Ini,," Bilang Demian yang menunjukkan suatu kertas hasil nilainya.


Dengan segera Ziya melihat kertas yang ditunjukkan oleh Demian padanya. Ziya melihat lukisan atau sebuah gambar dari Demian yang menggambarkan seorang anak kecil bersama Ibunya sedang bermain di sebuah taman. Ziya teringat akan gambar yang dibuat oleh Demian ini terlihat seperti sebuah gambaran yang menggambarkan dirinya bermain bersama Demian di sebuah taman.


" Sebentar Mommy tebak dulu sayang, sepertinya ini, gambarnya Demian yang sedang bermain bersama Mommy, ya,," Ucap Ziya yang menebak gambaran Demian yang nilainya A+.


" Betul sekali Mommy,," Jawab Demian mengangguk.


" Aaahh,, anak Mommy pintar,, Good son,," Ucap Ziya yang memuji hasil nilai Demian.


" Terima kasih, Mom,," Jawab Demian yang langsung memeluk leher Ziya.


" Karena, mendapatkan nilai bagus, Demian mau hadiah apa dari Mommy,," Ucap Ziya yang memberikan kesempatan Demian memilih hadiah darinya.


" Demi,, mau main di dekat danau,," Ucap Demian yang membuat Ziya sedikit menyipitkan matanya.


" Main di danau ?" Tanya Ziya pada Demian.


" He'eh Mom, Demi mau main di danau." Ucap Demian yang terlihat sangat ingin bermain di danau.


" Baiklah,, tapi, Mommy mau minta izin dulu pada Daddy, apakah kita dibolehkan main disana, oke,," Ucap Ziya yang membujuk Demian.


" Oke, Mom,," Jawab Demian mengangguk. sambil mengacungkan jempolnya.


Ziya tersenyum melihat tingkah Demian yang terlihat begitu ingin bermain-main di dekat danau. Dengan segera Ziya menyuruh Vena untuk menelepon Frengky bertanya kepada Alberto, apakah mereka bisa bermain-main di sekitar taman danau.


****