
Sambil mengulum senyumannya, Krystal seakan mengerti maksud dari perkataan Alberto yang terdengar begitu serius dan mengandung arti bahwa Daddynya itu cemburu ketika melihat tubuh Ziya disentuh oleh lelaki lain. Walaupun itu seorang dokter tapi, masih saja membuat Alberto merasa cemburu.
" Heemmm, Daddy cemburu ya kalau Uncle Daniel memeriksa keadaan Mommy ?" Tanya Krystal tidak sengaja pada Alberto sambil mengulum senyumannya.
" Hihihi, kalau Daddy cemburu, wajar sekali karena, Mommy Zoya wanita yang begitu cantik dan semua mata pria pastinya tertuju pada kecantikan Mommy dan langsung meleleh ketika melihat Mommy secara langsung,," Celetuk Krystal lagi sambil terkekeh geli.
Karena, merasa diledekin oleh putri sendiri yang sedang melalui masa remajanya itu, Alberto segera memberikan ungkapan untuk Krystal supaya Krystal bisa melakukan suatu hal yang seharusnya dilakukannya. Bukan seperti saat ini, Krystal sengaja meledek Alberto dengan kata-kata yang begitu lucu.
" Heemm, Krystal kau tidak ada pekerjaan lain selain mengiringi Daddy ke kamar untuk membawa Mommymu ?" Tanya Alberto yang terdengar serius namun tetap saja membuat Krystal menahan tawanya.
" Eeehhh,, sebenarnya memang tidak ada Daddy, karena, Krystal mau mengobrol suatu hal pada Mommy,," Jawab Krystal dengan santai.
" Kau tidak lihat Mommymu sedang sakit,," Jawab Alberto spontan yang masih membuat Krystal tersenyum.
" Ya, pastinya Krystal lihat Daddy, oleh sebab itu, Krystal mau mengikuti Daddy untuk merawat Mommy, karena, Mommy sudah begitu baik pada Krystal,," Ujar Krystal yang bersikeras untuk mengikuti langkah Alberto.
" Heemm Krystal, kau tidak mengerti apa maksud dari Daddy apa ?" Gumam Alberto dalam hati merasa kesal dengan kelakuan putrinya yang tidak mau pergi ke kamarnya dan sengaja selalu mengiringinya itu.
" Sudah ada Vena yang akan merawat Mommymu,," Jawab Alberto dengan spontan.
" Tapi, Krystal mau tahu juga Mommy sakit apa Dad," Pinta Krystal yang terdengar begitu memaksakan kehendaknya terhadap Alberto.
" Ya sudah kalau begitu,," Jawab Alberto sambil menghembuskan nafasnya secara langsung.
Sebenarnya, Krystal sedikit merasa geli dengan kelakuan Daddynya saat ini yang begitu terlihat jelas mencintai dan juga menyayangi Mommy Zoya. Karena, selama ini Alberto tidak pernah menunjukkan rasa cinta dan juga kasih sayang terhadap Mommynya itu.
Saat Alberto akan melangkahkan kakinya menuju lantai kedua, Madam Christin tidak sengaja melewati Alberto dan juga Krystal yang sedang melangkah bersama ke lantai atas sambil menggendong tubuh Ziya.
" Ada apa dengannya, kenapa sepertinya dia terlihat sedang sakit,," Gumam Madam Christin dalam hatinya saat melihat Alberto yang sedang menggendong Ziya.
Dengan segera Madam Christin melangkahkan kakinya mendekati Alberto dan juga Krystal. Ketika melihat Madam Christin yang mendekatinya itu, Alberto langsung saja menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Neneknya itu.
" Selamat siang Grandma,," Ucap Alberto terhadap Madam Christin.
" Selamat siang Grandma cantik,," Ucap Krystal seperti biasa saat sedang menyapa Madam Christin.
" Siang," Jawab Madam Christin santai.
" Kenapa dia digendong Alberto, apa yang telah terjadi pada Istrimu ?" Tanya Madam Christin langsung pada Alberto ketika melihat Ziya yang sedang berada di dalam gendongan Alberto.
" Saat di perjalanan Mommy Zoya muntah Grandma,," Jawab Krystal sebelum mulut Alberto menjawabnya.
" Muntah, apakah Zoya sakit ?" Tanya Madam Christin lagi pada Alberto.
" Tidak Grandma, sebelum Mommy sehat-sehat saja, tapi, setelah di perjalanan pulang dari sekolahnya Krystal Mommy Zoya muntah dan tubuhnya lemas seperti ini,," Jawab Krystal lagi yang mulutnya memang terkenal paling cerewet di kediaman Alexandre ini.
Karena, melihat tubuhnya Ziya memang terlihat seperti tidak berdaya, tanpa memberikan pertanyaan lagi Madam Christin langsung saja menyuruh Alberto untuk membawa istrinya itu ke kamarnya.
" Ya sudah bawakan langsung ke kamarnya dan segera panggilkan dokter,," Ucap Madam Christin yang terlihat seperti mengerti akan keadaan Ziya.
" Baik, Grandma,," Jawab Alberto mengangguk.
" Sebenarnya Krystal sudah memberikan saran kepada Daddy Grandma untuk memanggil Dokter, cuma Daddy tidak mengizinkan Krystal untuk memanggil dokter Grandma,," Jawab Krystal sambil tersenyum kepada Madam Christin.
" Heemm, seperti itu,," Gumam Madam Christin seolah mengerti apa yang sedang terjadi kepada Ziya saat melihat kondisi tubuh Ziya dari dekat.
Sebenarnya, Madam Christin sudah tahu apa yang sedang dialami oleh Ziya, namun, Madam Christin belum mau memberikan sebuah keterangan pada Alberto cucunya itu sebelum adanya diagnosa langsung dari seorang dokter.
" Alberto, menurut pendapat Grandma lebih baik segera periksa keadaan istrimu pada dokter langsung, supaya bisa tahu sakit apa yang sedang terjadi pada Istrimu ini,," Ucap Madam Christin sambil tersenyum menatap wajah cucunya itu.
Alberto memang seorang mafia yang terkenal akan kekejamannya dalam memberikan hukuman dan tindakan terhadap musuh-musuhnya, namun, bagi Madam Christin Alberto hanyalah seorang cucu yang memiliki hati lembut terhadap dirinya dan juga wanita yang begitu ia cintai. Oleh sebab itu, Madam Christin selalu mendukung keinginan dan kehendak dari cucunya itu dan pastinya masih menganggap Alberto sebagai seorang cucu kecilnya yang tangguh.
" Heemm, baik Grandma," Jawab Alberto mengangguk perkataan dari Madam Christin.
" Oh ya Alberto untuk beberapa waktu ini Grandma akan pergi keluar kota dan sebagai pemimpin kediaman Alexandre Grandma titipkan semuanya padamu,," Ucap Madam Christin yang memang akan pergi keluar negeri.
" Keluar kota, apakah Grandma mau pergi ke pemakaman Grandfa ?" Tanya Alberto penasaran pada Madam Christin.
" Ya benar,," Jawab Madam Christin.
Ketika Madam Christin memberitahukan kepergiannya kepada Alberto bahwa ia ingin pergi keluar kota, hal itu cukup membuat Krystal merasa tergelitik untuk mengikuti sang Nenek pergi. Dan, Krystal sendiri memohon pada Alberto untuk mengikuti kepergian Neneknya itu.
" Aahhh, Grandma mau ke pemakaman Grandfa, Krystal mau ikut ya ?" Tanya Krystal pada Madam Christin.
" Boleh, asalkan kau diizinkan oleh Daddymu,," Ucap Madam Christin yang mengizinkan Krystal untuk mengikutinya.
" Daddy boleh ya Krystal ikut, bukannya tempat pemakaman Grandfa dekat sekolahnya Krystal yang baru Dad,," Gumam Krystal yang terlihat seperti sedang memohon sesuatu pada Alberto.
Alberto berpikir sepertinya jika Krystal mengikuti Grandma Christin yang akan pergi keluar kota sama saja bisa membantunya untuk terlepas dari anak jahil ini. Selama ini Krystal tidak pernah mengganggu waktu Alberto dan Ziya saat berdua karena, Krystal sendiri belum terlalu akrab pada istrinya itu.
" Sepertinya cukup bagus juga, jika, Krystal mengikuti Grandma untuk keluar kota, sekaligus memberikan waktu luang untukku berduaan saja pada istriku ini,," Gumam Alberto dalam hati sambil memikirkan suatu hal penting.
Namun, saat ini waktunya sudah berbeda, Ziya yang sudah bisa membuat Krystal lengket padanya itu sama saja membuat Alberto merasa waktunya sedikit berkurang untuk berduaan bersama Ziya. Oleh sebab itu Alberto mengizinkan Krystal untuk pergi bersama Madam Christin keluar kota saat ini juga.
" Baiklah, Daddy izinkan asal kau bisa menjaga keamanan dirimu sendiri dan juga selalu menjaga kesehatan Grandma,," Ucap Alberto yang terdengar tegas.
" Haah!! benarkah Daddy ?" Tanya Krystal lagi yang merasa kurang yakin.
" Iya, sekaligus kau bisa melihat sekolahmu langsung sebelum kau masuk dan belajar disana,," Jawab Alberto serius.
" Yesssss, thank you Daddy,," Ucap Krystal sambil tersenyum memeluk tubuh Alberto yang sedang menggendong Ziya.
Secara spontan tentu saja hal itu membuat Krystal melompat kegirangan, ketika mendapatkan izin dari Alberto untuk mengikuti kepergian Neneknya itu. Namun, hal itu juga membuat Alberto merasa lega ketika memberikan izin kepada Krystal untuk pergi bersama Madam Christin.
Karena, sudah mendapatkan izin dari Alberto tentu saja Krystal langsung pergi ke kamarnya untuk menyiapkan semua pakaiannya saat ia pergi berlibur keluar kota bersama Madam Christin.
" Oke Grandma, Kryst bersiap-siap dulu,," Ucap Krystal dengan segera berlari menuju ke arah kamarnya.
" Heemm, Grandma tunggu,," Jawab Madam Christin.
Sedangkan Madam Christin hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Krystal yang begitu dekat dengan keluarganya Alexandre padahal bukanlah anak kandung Alberto. Mungkin karena, Madam Christin memang sudah menyayangi putri-putrinya Alberto walaupun bukan anak kandungnya itu.
" Sepertinya, Krystal sungguh bahagia, karena, bisa mengikuti Grandma keluar kota,," Gumam Madam Christin yang masih berbicara dengan Alberto.
" Heemm, tentu saja Grandma karena, kebetulan selama seminggu ini Krystal juga sedang mengalami kesedihan dan juga rasa kecewa pada pihak sekolahnya dan Alberto juga sudah mendiskusikan tentang sekolah barunya yang tidak jauh dari pemakaman Grandfa." Jawab Alberto langsung pada Madam Christin.
" Heemm, ya sudah kembalilah ke atas, kasihan istrimu, Alberto,," Ucap Madam Christin yang terlihat begitu perhatian pada kondisi Ziya.
" Baik Grandma,," Jawab Alberto mengangguk dan langsung melangkahkan kakinya menuju tangga.
Setelah melihat Alberto yang sedang membawa Ziya ke lantai atas menuju kamarnya, Madam Christin langsung menuju ke arah kamarnya untuk menunggu Krystal sudah menyiapkan semua barang keperluannya saat berpergian jauh keluar kota bersama Grandma Christin itu.
Sementara itu, Helen yang sedang berada di dalam ruangannya itu merasa tidak percaya atas ucapan yang disampaikan oleh Alberto kepadanya. Bahwa dengan jelas Alberto segera memutuskan perjanjian yang sudah terjadi sejak lama pada pihak perusahaan keluarganya dan juga bantuan untuk sekolahnya itu.
" Iiihhhh, ini semua karena, wanita itu, jika dia tidak menambahkan masalah di ruanganku ini, tidak mungkin Alberto memutuskan semua kerjasama yang sudah terjalin terhadap perusahaan Daddy dan juga sekolahku ini,," Umpat Helen yang begitu marah atas sikap Ziya hari ini kepadanya itu.
" Lihat saja kau Zoya, aku akan membalas semua permainanmu ini,," Ucap Helen dengan sorot mata yang geram.
" Tapi kenapa pagi ini dia bisa hadir dan juga datang karena surat pemanggilan yang sengaja kulakukan itu,," Gumam Helen merasa bingung atas keberadaan Zoya saat ini.
Wajar sekali bila Helen tahu dimana keberadaan Zoya selama ini, karena, selama ini juga Helen selalu mencari kesempatan agar bisa menyingkirkan wanita itu dari kehidupan Alberto. Helen sendiri memiliki misi yang sama seperti Claire ingin mendapatkan Alberto sang mafia terkenal agar bisa menjadi suaminya, namun, Helen tidak seberuntung Claire yang bisa tinggal bersama langsung di kediamannya Alberto.
" Kenapa aku bodoh sekali tidak bertanya langsung pada Daddy tentang wanita itu, bukannya dulu Daddy berteman dengan Erwin." Gumam Helen yang merasa selalu saja kalah atas sikap Zoya Andricha.
" Heeehh tidak mungkin Daddy juga tahu tentang informasi kebenaran keberadaannya Zoya, karena, sampai saat ini Daddy tidak terlalu akrab lagi dengan Erwin.
" Hanya karena di pagi itu Erwin yang telah berhasil mendapatkan Alberto, padahal itu semua adalah perangkap yang kulakukan, tapi, kenapa Erwin berhasil masuk ke dalam rencanaku dan juga Daddy," Ucap Helen lagi yang memikirkan sesuatu hal yang telah terjadi beberapa tahun lalu.
" Memang sungguh licik keluarga Andricha, bukan hanya Daddynya saja yang licik, tapi, anaknya juga licik," Umpat Helen berdecih yang terdengar begitu membenci kelakuan Zoya yang selalu menang dibandingkan dirinya.
" Awas kau Zoya, akan aku tunjukkan siapa kau sebenarnya di depan mata Alberto, karena, kau sengaja mengelabui Alberto dengan strategi yang kau buat itu. Heemm bukannya aku tidak tahu siapa dirimu ketika kau berada di Australia,," Gumam Helen yang selama ini mengetahui keberadaannya Zoya.
Karena, secara tidak sengaja Helen mencari informasi tentang keberadaan Zoya dari Ayahnya sendiri. Walaupun selama ini Ayahnya Helen terlihat selalu akrab menjalin persahabatan kepada Erwin, namun dibalik itu semua adalah kebohongan. Agar ia bisa tetap menjalin kerjasama kepada perusahaan terbesar Alexandre di negaranya ini.
" Heemm lebih baik, aku hubungi wanita itu, sepertinya saat ini dia bekerja tidak efektif sama sekali, masa dia tidak memberitahuku bahwa Zoya sudah kembali ke kediamannya Alexandre. Dan, kenapa Alberto terlihat begitu menyayanginya bahkan begitu mesra memperlakukan wanita itu, siapakah dia ?" Tanya Helen yang bingung saat melihat kemesraan yang ditunjukkan Alberto pada Ziya di depan matanya.
" Sepertinya aku harus mencari tahu dimana keberadaan Zoya saat ini, karena, begitu terlihat jelas bahwa aku sudah ketinggalan informasi tentang rencana apalagi yang akan dibuat oleh Erwin untuk menghalangi rencana Daddy untuk melenyapkan wanita itu,," Ucap Helen lagi yang begitu membenci Zoya.
Karena, merasa terkejut saat kedatangan Ziya yang langsung menghadapi dirinya dan juga membuktikan kebenaran bahwa Alberto begitu menyayanginya membuat Helen dengan segera menghubungi pengintai wanita yang selama ini ia kirimkan keluar negeri agar bisa mengawasi pergerakan Zoya yang sengaja pergi keluar negeri bersama Jimmy.
" Halo, Madam,," Ucap wanita pengintai yang terdengar dari ponselnya.
" Heemm, sebenarnya kau bisa atau tidak bekerja untukku, Hah?" Tanya Helen langsung kepada pengintainya.
" Maksud Madam, saya tidak mengerti ?" Tanya pengintainya lagi kepada Helen.
" Wanita itu sudah kembali ke negara ini, kenapa kau tidak memberitahuku,," Ungkap Helen dengan wajah geramnya.
" Apa !! bagaimana dia bisa berada di sana Madam, sedangkan wanita itu masih ada disini,," Jawab pengintainya dengan suara santai.
" Apa kau katakan wanita itu sedang berada disana, tapi, kenapa pagi ini dia datang ke sekolahku ?" Tanya Helen penasaran dan juga bingung.
" Baiklah kalau Madam mau lihat buktinya wanita itu ada disini akan aku kirimkan fotonya,," Jawab pengintai itu masih dengan gaya santainya.
" Baiklah aku ingin lihat," Ucap Helen sambil memutuskan sambungan teleponnya.
Setelah terputus sambungan teleponnya kepada pengintainya itu, selang beberapa detik ponselnya berbunyi dan Helen dengan segera membuka ponselnya. Ternyata pengintainya itu telah mengirimkan foto keberadaan Zoya yang masih berada diluar negeri. Sebenarnya itu foto lama sebelum pengintai yang dikirimkannya itu secara tidak sengaja telah dikecoh oleh pengintai yang telah dikirimkan oleh Zavier.
" Apa, ternyata benar wanita ini sedang berada di luar negeri,," Gumam Helen seketika kaget saat melihat foto Zoya yang sedang memancing di danau.
" Tapi, kenapa dia bisa berada di sini hari ini, apakah ini foto lamanya atau,,?" Tanya Helen yang bingung dengan keberadaan Zoya.
Karena, saat ini Helen tidak ada yang bisa dihubungi olehnya untuk mengetahui dimana keberadaan Zoya dan juga Helen belum mengetahui bahwa yang sedang berhadapan langsung dengannya itu adalah Ziya, Helen hanya bisa berpikir lebih keras lagi untuk mengetahui siapa sebenarnya orang yang sedang berhadapan dengannya tadi.
" Kalau benar Zoya ada di Australia, jadi, siapa yang telah datang ke sekolahku hari ini, apakah Zoya memiliki saudara kembar ?" Tanya Helen yang merasa bingung sendiri dengan orang berwajah mirip sekali dengan Zoya.
" Aku harus mencari tahu siapa dia ?" Ucap Helen lagi dengan tekadnya yang begitu kuat.
" Baiklah, aku akan kembali membuat sebuah rencana kepada Daddy, untuk bisa mengambil apa yang telah menjadi milikku,," Ucap Helen yang bertekad kuat untuk melakukan rencana ulang kepada Daddynya.
Selama ini Helen memang tidak pernah lagi berkomunikasi dengan baik kepada Daddynya, karena, Helen sendiri yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa enam tahun yang lalu, rencana yang telah dirancang oleh Daddynya sama sekali tidak berhasil ia dapatkan. Oleh sebab itu karena, Helen merasa kecewa akan rencana Daddynya yang tidak berhasil, Helen sendiri lebih memilih untuk melakukan rencananya sendiri untuk mendapatkan Alberto walaupun melalui jalan sesulit apapun.
Dengan segera Helen menghubungi Daddynya lagi, cukup lama Helen menunggu saluran teleponnya yang sengaja ia lakukan untuk menelepon Daddynya itu, setelah diangkat langsung oleh Daddynya, Helen langsung mengutarakan maksud dari perasaannya yang sedang bingung ini.
" Halo,," Ucap Daddy Helen di teleponnya.
" Ya, Dad ini Helen,," Ucap Helen yang sedang menundukkan wajahnya.
" Ada apa sayangnya Daddy ?" Tanya Daddynya Helen dan sontak membuat Helen bahagia.
" Aaakkkhh ternyata Daddy sama sekali tidak marah padaku, walaupun aku sudah meninggalkannya, heheheh bagus,," Gumam Helen dalam hatinya sambil tersenyum senang ketika mendengarkan pertanyaan dari Daddynya itu yang masih memanggilnya kesayangan.
" Eemmm apakah Helen boleh bertanya ?" Tanya Helen dengan suaranya yang terdengar begitu perlahan-lahan.
" Ya, katakan putriku,," Jawab Daddy Helen.
" Oke, baiklah langsung saja pada intinya,," Gumam Helen secara langsung.
" Apakah Daddy masih berteman dan melakukan komunikasi kepada Aunty Gladys ?" Tanya Helen langsung yang ingin mengetahui rencana Daddynya.
" Ya, tentu saja Putriku, ada apa ?" Tanya Tuan Roserish.
" Eemmm, apakah istrinya Alberto sudah kembali ke kediamannya, Dad ?" Tanya Helen kepada Daddynya.
" Daddy tidak pernah mengurus istrinya Alberto, Helen, karena, kau tahu bahwa Daddy hanya mengurus kerjasama yang dilakukan Daddy padanya,," Jawab Roserish jelas terhadap putrinya.
" Heemm, Helen mau pulang ke rumah Daddy, karena, Helen mau minta bantuan Daddy untuk mencari tahu tentang istrinya Alberto." Ungkap Helen yang terlihat begitu besar tekadnya mencari tahu tentang siapa wanita yang begitu mirip dengan Zoya.
" Eeemm Helen bukannya Daddy sudah pernah berpesan bahwa jangan pernah melakukan rencana sendiri, pasti rencana yang kau lakukan itu tidak akan berhasil,," Ucap Roserish yang mengingatkan peristiwa enam tahu lalu.
" Apakah kau masih ingin bersaing dengan keponakannya Gladys yang sudah tinggal bersama Alberto ?" Tanya Roserish kepada putrinya itu.
" Heh!! Claire, dia tidak sebanding denganku, karena, dia hanyalah wanita lemah yang selalu membuat rencana untuk mendapatkan Alberto tapi tidak pernah berhasil, siapapun wanitanya tidak ada yang bisa menandingi Helen untuk mendapatkan semua kekayaan Alberto Dad,," Ucap Helen sambil tersenyum senang.
" Ternyata Putrinya Daddy sama seperti dulu selalu pintar dalam melakukan rencananya." Bilang Roserish yang tidak sengaja meledek anaknya itu.
" Heemm, Daddy sengaja menertawakan Helen, ya, karena, rencana Helen yang gagal enam tahun lalu," Gerutu Helen kepada Daddynya.
" Bukannya menertawakan Helen, tapi mengingatkan pikiranmu supaya tidak lagi gagal dalam melakukan sebuah rencana ingat itu,," Ucap Roserish terhadap putrinya.
" Heemmm baik Daddy, mulai saat ini Helen akan selalu mengingat semua perkataan Daddy bahwa Helen harus pintar dalam bertindak." Ucap Helen dengan sorot mata yang begitu kuat dalam melakukan sebuah rencana.
Roserish adalah Daddy kandung dari Helen yang selama ini memiliki kontak khusus kepada Gladys Ibu tiri dari Alberto Alexandre. Walaupun Roserish tidak tahu bahwa Alberto sudah memutuskan semua kerjasamanya terhadap perusahaanya itu. Namun hal itu sama sekali tidak memiliki pengaruh besar terhadap dirinya, karena, itu semua secara langsung dilakukan oleh Alberto atas tindakan yang telah dilakukan oleh Helen putrinya sendiri.
Karena, yang terpenting bagi Roserish adalah suatu rencana besar yang akan dilakukannya terhadap Alberto untuk mendapatkan semua apa yang selama ini ia inginkan dari keluarga Alexandre berpuluh-puluh tahun yang lalu.
Karena, mendapatkan dukungan langsung dari Daddynya tentu saja hal itu membuat Helen merasa bahagia dan kembali lagi bersemangat untuk melakukan sesuatu rencana besar dalam mendapatkan apa yang telah diinginkannya selama beberapa tahun ini.
Dan, Helen juga kembali teringat ucapan Daddynya yang mengatakan bahwa keponakan dari Gladys yang bernama Claire juga memiliki peran penting dalam kehidupannya untuk mendapatkan Alberto. Karena, perempuan itu juga begitu ingin sekali mendapatkan Alberto, tentu saja hal itu merupakan saingan terberatnya juga.
" Heh!! Daddy bilang sainganku adalah Claire, Heheheh Daddy bisa saja membuat perutku mual karena, mendengar namanya, wanita seperti dia begitu mudah untukku singkirkan, walaupun dia keponakannya Gladys hal itu tidak membuatku merasa takut,," Ucap Helen dengan mata yang penuh arti.
Saat Helen Roserish sedang memikirkan sesuatu untuk menyingkirkan Claire. Claire sendiri malah sedang mencari sesuatu informasi di dalam kamarnya Gladys. Karena, kebetulan hari ini Auntynya sedang pergi keluar dan sengaja tidak mengajak dirinya itu. Oleh sebab itu dengan segera Claire mengendap-endap masuk ke dalam Gladys untuk mendapatkan hasil dari rasa penasarannya itu.
" Heemm, sepertinya aku juga curiga kepada Aunty." Gumam Claire sambil mengendap masuk ke dalam kamarnya Gladys.
" Waktu itu saat aku dan Aunty bertabrakan, jelas sekali mataku melihat bahwa Aunty bukan dari kediamannya melainkan dari tempat lain. Aku harus waspada jangan-jangan Aunty tidak terlalu serius untuk menjodohkan aku pada Alberto." Gumam Claire lagi yang masih melangkah perlahan-lahan di dalam kamarnya Gladys.
Saat ini Claire begitu mencurigai Auntynya sendiri, karena, memang beberapa hari ini, sikap dari Auntynya itu terlihat begitu mencurigakan dan tidak pernah lagi berkata jujur kepadanya serta yang paling membuat Claire penasaran adalah Auntynya selalu saja pergi sendiri apabila mau keluar rumah tidak lagi mengajak dirinya.
****