Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 86 - Ruang Permainan



Daniel yang mengetahui bahwa racun yang diberikan oleh Claire pada Vena adalah racun jantung dengan sangat marah sekali Daniel segera pulang ke rumahnya untuk segera mengambil penawar racun yang telah termakan oleh Vena saja.


" Kurang ajar, Mereka memberikan racun jantung pada Vena,," Ucap Daniel setelah mengetahui racun yang ditelan oleh Vena.


Karena, mendengar ucapan Daniel yang menyatakan bahwasanya Vena telah diberikan racun jantung oleh Claire menyebabkan kemarahan pada Alberto. Karena, Alberto berpikir berarti Claire dan Gladys akan menyuruh Vena untuk memberikan racun ini pada Ziya.


" What,, racun jantung,," Tanya Alberto serius pada Daniel.


Lalu, Alberto terpikir akan kehebatan Daniel pasti dirinya memiliki penawar racun jantung ini.


" Apa kau memiliki penawarnya,," Tanya Alberto langsung kepada Daniel.


" Yeah, Daniel apa kau memiliki penawarnya, aku tahu kau dokter yang hebat, tidak mungkin kau tidak memiliki penawar racun seperti ini," Bilang Ziya yang juga mengetahui bahwa Daniel sangat hebat dan pintar dari Vena yang sering menjelaskan kemampuan Daniel.


" Aku memilikinya, tapi percuma saja aku pulang dan mengambilnya, karena, waktu yang aku tempuh tidak mungkin akan membantu keselamatan Vena." Jawab Daniel yang bingung akan dirinya itu.


Benar yang dikatakan Daniel, percuma saja dirinya pulang karena, jarak waktu tempuh dari kediaman Alberto menuju ke rumahnya saja sepuluh menit dan harus kembali lagi kesini bisa menghabiskan waktu selama dua puluh menit. Daniel juga bingung sendiri sedangkan Vena, kondisinya sudah sangat mengenaskan sekali. Tinggal menunggu beberapa menit lagi, nyawa Vena akan melayang.


" Jadi, kita harus bagaimana," Tanya Ziya yang terlihat sangat bingung menghadapi kondisi Vena yang begitu kritis.


" Vena, aku harap kau bisa bertahan, jangan pergi dariku,," Ucap Ziya yang memeluk Vena.


Vena terharu mendengar ucapan Ziya yang mengatakan pada dirinya bahwa Vena jangan pergi dalam kehidupan Ziya. Sementara itu, Daniel mengambil keputusan yang tepat, yaitu lebih baik dirinya kembali mengambil penawar racun daripada tidak sama sekali.


" Baik, Dude aku akan pulang, dan aku harap kau bisa menekan mereka untuk segera memberi penawar racun pada Vena, sebelum kau membebaskan Martin." Ucap Daniel yang menepuk bahu Alberto.


" Aku tahu kau lebih pintar dan licik dalam mengatur ini semua,," Ucap Daniel yang tidak mengetahui masalah Alberto menahan Martin di kediamannya itu.


Benar ucapan yang dikatakan oleh Daniel, Daniel tidak mengerti akan ucapan Vena yang mencegah Alberto untuk membebaskan Daniel, dan kemungkinan besar menurut Daniel, Martin yang telah ditangkap oleh Alberto merupakan seseorang yang menyebabkan Ziya terluka seperti kemarin yang mengenaskan itu.


" Baik, terima kasih, atas bantuan yang selalu kau berikan,," Ucap Alberto yang membuat Daniel tersenyum.


" Baru kali ini aku mendengar kau mengucapkan terima kasih,," Ledek Daniel yang sedikit mencibirkan bibirnya sendiri.


Pembicaraan antara Daniel dan Jimmy sama sekali tidak didengar oleh Ziya dan Vena, karena, saat ini Ziya fokus merawat Vena sebagaimana Ziya menganggap Vena adalah saudaranya sendiri.


" Aku ingin kau cepat kembali lagi kesini,," Ucap Alberto pada Daniel.


" Oke, Dude aku akan cepat mengambilnya,," Bilang Daniel dengan segera melangkahkan kakinya keluar.


Lalu, Daniel segera menyampaikan pesan untuk Vena jangan tertidur sebelum mendapatkan penawar racunnya.


" Vena, ingat jangan tidur sesakit apapun yang kau rasakan, jangan tidur, sebelum kau meminum penawar racunnya," Ucap Daniel kepada Vena agar Vena tidak tertidur dalam kondisi sedang terkena racun seperti saat ini.


" Ba,, baik Tuan,," Jawab Vena dalam kondisi yang lemah.


" Vena kau dengar itu, kita akan cepat menyelamatkanmu,," Ucap Ziya yang selalu memberi semangat kepada Vena.


Dengan segera Daniel melangkahkan kakinya keluar dari koridor depan kamar Alberto, karena, rumah Alberto yang terlalu besar jadi, semua orang di rumah ini tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam rumahnya ini.


Sementara Daniel keluar dari rumah Alberto, Frengky yang berjalan menuju ke tempat dimana biasanya Gladys dan Claire sedang santai bersama. Sangat terlihat jelas bahwa Claire dan Gladys saat ini sedang duduk santai di sebuah tempat dekat dengan ruangan yang telah disebutkan oleh anak buahnya Frengky sendiri.


" Itu Tuan, Nyonya Gladys dan Nona Claire,," Ucap anak buah Frengky yang menunjuk keberadaan Claire dan Gladys terlihat seperti sangat tidak menyadari kesalahannya sendiri.


" Baik,," Jawab Frengky yang segera melangkahkan kakinya mendekati tempat keberadaan Claire dan Gladys.


Frengky dengan segera menghubungi Alberto yang masih berada di rumah utama bersama dengan Ziya sedang menjaga Vena.


" Tuan, dari kejauhan kami sudah melihat keberadaan Nyonya Gladys dan Nona Claire." Bilang Frengky yang melapor kepada Alberto.


" Perintahkan mereka untuk segera menghadapku dan membawa penawar racun yang mereka berikan pada Vena,, kalau mereka tidak mau paksa dengan kekerasan." Ucap Alberto yang memberi perintah kepada Frengky.


" Baik Tuan, segera dilaksanakan,," Ucap Frengky mengangguk lalu menekan tombol alat yang terpasang di telinganya.


Disaat Frengky berjalan menuju tempat Gladys dan Claire, Gladys telah mengetahui bahwa saat ini Alberto sudah kembali ke kediamannya dan rencananya sebentar lagi untuk menyelamatkan putranya Martin.


" Hahahaha,, Aunty apakah rencana kita hari ini akan berhasil,," Ucap Claire dengan wajah liciknya.


" Yeah, Of Course, rencana kita kali ini akan berhasil, Alberto tidak tahu bermain dengan siapa,, hehehe,," Jawab Gladys dengan wajah senang karena, merasa rencananya ini akan berhasil.


" Tapi, jangan lupa Aunty akan rencana kita untuk membuang wanita ja-lang itu dari rumah ini,," Bilang Claire yang merasa bahwa sampai saat ini dirinya belum bisa menjadi istri dari Alberto.


" Aunty, tidak lupa itu, Baby,," Ucap Gladys yang mengedipkan matanya kepada Claire.


Dalam seketika Claire tersenyum senang melihat kelakuan Gladys yang mengedipkan mata pada dirinya. Gladys yang melihat kedatangan pengawal Alberto mendatangi keberadaan mereka saat ini tersenyum sinis seperti tahu sekali apa kehendak dari semua pengawal Alberto yang mendatangi keberadaan mereka itu.


" Kau lihat, siapa yang datang,," Ucap Gladys kepada Claire sambil menunjuk ke arah pengawal Alberto yang mendatangi keberadaan mereka.


Claire pun segera menoleh melihat apa yang ditunjukkan oleh Auntynya.


" Itu semua pengawal Alberto, Aunty, bagaimana dengan kita,," Ucap Claire yang merasa sedikit takut dan khawatir.


Kemungkinan besar saat ini Alberto segera menembak kepalanya. Dan impiannya untuk menjadi istri atau Nyonya besar dari Alberto Alexandre pupus sudah.


" Tenang Claire sayang,, kau lihat bagaimana Aunty menghadap mereka." Ucap Gladys yang memiliki perasaan tidak takut akan semua tindakan Alberto saat ini padanya.


Wajar dan pantas sekali kalau Gladys merasa berani saat ini pada setiap sikap Alberto pada dirinya. Karena, Alberto juga akan bergantung pada dirinya dalam menyelamatkan Vena atas tindakannya memberikan racun secara paksa pada Vena.


" Nyonya, anda dipanggil oleh Tuan Besar Alberto." Ucap Frengky yang memberikan perintah dan pesan dari Alberto.


" Heh! untuk apa dia memanggilku,," Ucap Gladys dengan wajah angkuhnya.


" Tuan Alberto bilang, Sekarang Nyonya harus menghadapinya, kalau Nyonya tidak mau maka kami akan membawa Nyonya secara paksa." Bilang Frengky secara tegas pada Gladys.


Mendengar ucapan Frengky yang sangat berani itu, membuat emosi Gladys naik dan memaki Frengky di depan semua pengawal Alberto.


" Hei,, beraninya kau, memaksa diriku, Hah! Kau hanya pengawal Alberto, dan kau tahu aku siapa,, aku Nyonya besar di rumah ini aku adalah istri dari Vasco Alexandre, Daddy Alberto Alexandre dan Alberto Alexandre adalah anak Vasco jadi kau tidak memaksa Nyonya besar di rumah ini, kau mengerti pengawal rendahan." Bilang Gladys dengan angkuhnya, mempermalukan Frengky saat itu di depan semua pengawal lain.


Memang sebenarnya Gladys tidak mengetahui siapa pemilik kuasa di kediaman Alexandre, karena, Gladys berpikir bahwa kekuasaan tertinggi di Istana Alexandre adalah Vasco Alexandre. Tapi, sayangnya Gladys tidak tahu bahwa pemilik semua dari kekayaan Alexandre adalah Alberto Alexandre bukan Daddynya Vasco Alexandre.


Vasco tidak mungkin bisa sekaya dan sehebat Alberto seperti saat ini, karena, Vasco tidak memiliki kemampuan yang dimiliki oleh kedua putranya itu yaitu Alberto dan Axeloe.


" Kami hanya menjalankan perintah dari Tuan Alberto, Nyonya, saya harap Nyonya bisa mengerti,," Ucap Frengky dengan segera memainkan mata pada semua pengawalnya.


" Aku tidak akan mengerti sebelum Putraku Martin dibebaskan,," Teriak Gladys membuat pengawal lain sedang mengintai, mengawasi pembicaraan Gladys dan Claire sebelum mereka duduk manis bersantai ria siap bergerak untuk menangkap Gladys dan Claire.


Ternyata sebelum melangkah ke tempat keberadaan Claire dan Gladys, Frengky sudah memasang posisi semua anak buahnya di dekat tempat Gladys dan Claire saat ini.


" Saya jelaskan sekali lagi Nyonya,, Nyonya akan mengikuti perintah Tuan Alberto untuk menghadapnya atau kami akan membawa Nyonya secara paksa." Ucap Frengky yang masih memiliki rasa hormat pada dua majikan besar di kediaman Alexandre ini.


" Heh! aku sudah jelaskan, aku akan mau berhadapan langsung dengan Alberto kalau putraku sudah bebas dari jeratan Alberto." Ucap Gladys yang terlihat sangat marah dengan semua Pengawal Alberto.


" Baik, kalau Nyonya tidak mau,," Jawab Frengky dengan segera memberi kode kepada semua anak buahnya.


Semua anak buah Frengky mengerti bahwa saat ini adalah perintah bagi mereka semua untuk menangkap Gladys dan Claire.


" Tangkap mereka dan bawa ke ruang tahanan." Bilang Frengky dengan segera memerintahkan semua anak buahnya.


Dengan segera anak buah Frengky menangkap Gladys dan Claire saat ini, pastinya Claire teriak kaget ternyata anak buah Frengky sudah ada di taman saat mereka semua keluar dari taman yang tidak terlalu jauh tempat mereka selalu membuat rencana.


" Oh God,, Aunty,," Teriak Claire ketakutan yang membuat Gladys sangat geram dan teriak marah.


" Awas kau pengawal rendahan akan aku laporkan kau pada Vasco, setelah suamiku kembali kalian semua akan dipecat." Teriak Gladys tidak terima atas perbuatan Frengky yang menangkap dirinya secara tiba-tiba.


" Bawa mereka ke ruang interogasi,," Ucap Frengky kepada semua pengawalnya yang telah menangkap Gladys dan Claire.


Terlihat sekali saat ini Gladys melawan dan memberontak atas penahan semua pengawal yang telah menangkap dirinya.


" Tidak perlu menangkapku, katakan pada Alberto, aku akan memberikan penawar racun ini padanya, ini bukan yang dia mau,," Ucap Gladys yang segera mengeluarkan penawar racun dan menunjukkannya pada Frengky.


" Baik, Nyonya kami akan segera memberi penawar racun ini pada Tuan Besar, apabila Nyonya berbohong dan menipu Tuan, maka Tuan tidak akan segan-segan menembak Nyonya,," Bilang Frengky yang segera mengambil botol penawar racun dari tangan Gladys.


" Lepaskan aku,, kau tidak memaksa ku untuk memberikan penawar racun ini,, sebelumnya Alberto membebaskan putraku saat ini juga,," Ucap Gladys yang membuat Frengky segera melaporkan keinginan Gladys pada Alberto.


" Aku tahu Vena pelayan bodoh itu sebentar lagi akan mati, jadi percuma saja kalian meminta penawar racun ini padaku." Ucap Gladys lagi dengan tersenyum sinis merasa dirinya akan menang.


Karena, mendengar ucapan Gladys seperti itu, membuat Frengky dengan segera menghubungi Alberto.


" Tidak perlu menghubungi Alberto, aku akan segera meminta imbalan darinya, lepaskan,," Ucap Gladys lagi sambil melepaskan tubuhnya dari penahanan anak buah Alberto.


Mendengar ucapan Gladys seperti itu, Frengky segera memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan Gladys, karena, yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan Vena sesuai dengan kehendak dari istri Tuan Besar mereka. Oleh sebab itu, Frengky tidak terlalu menahan dan memaksa mereka sesuai perintah dari Alberto dan Ziya.


" Lepaskan mereka,," Ucap Frengky kepada semua anak buahnya dan anak buah Frengky mendengarkan perintahan dari Frengky.


Gladys dan Claire telah dilepaskan oleh anak buah Frengky, setelah membersihkan tangannya dari penahanan anak buah Frengky dengan gaya angkuhnya Gladys melewati Frengky dan anak buah lainnya untuk menemui Alberto secara langsung.


Sementara itu, Frengky tetap mengawasi langkah kaki dari Gladys dan Claire. Dengan segera Frengky menghubungi Alberto yang masih berada di rumah utama.


" Halo, Tuan, sasaran sudah masuk ke dalam monitor,," Ucap Frengky yang memberi kode kepada Alberto.


" Baik,, arahkan sasaran ke ruang permainanku dan apakah mereka membawanya,," Ucap Alberto yang serius menanyakan penawar racun yang dimiliki oleh Gladys.


" Ya Tuan, mereka membawanya, mereka ingin bernegosiasi untuk mengeluarkan tawanan Tuan." Ucap Frengky yang mengetahui bahwa Tuan Besarnya ini tidak mungkin semudah itu melepaskan tawanan.


" Heh! mereka pikir aku bodoh,," Ucap Alberto sedikit menaikkan ujung bibirnya, lalu dengan segera menyelesaikan panggilannya.


Alberto dengan sengaja berbicara sedikit berbisik menjauh dari Ziya. Karena, Alberto tidak ingin Ziya mendengar rencananya ini, Alberto adalah orang yang paling licik di dalam dunia kejahatan, jadi tidak mungkin dia melepaskan Martin yang telah menjadi tahanannya hanya dengan pertukaran nyawa Vena. Dengan sangat mudah Alberto bisa mendapatkan penawar racun di tangan Gladys saat ini. Karena, Gladys dan Claire sudah masuk dalam perangkapnya.


" Zoya,, kau tunggu disini aku akan segera mendapatkan penawar racun untuk Vena,," Ucap Alberto yang berbicara lembut pada Ziya.


Ziya terperanjat mendengar ucapan Alberto yang rela turun tangan mendapatkan penawar racun untuk Vena.


" Baik,," Jawab Ziya mengangguk dan terlihat sekali bahwa Ziya begitu berharap Alberto mendapatkan penawar racun untuk Vena.


" Kau dengar itu Vena,, kau harus bertahan,," Ucap Ziya yang meyakinkan Vena untuk menguatkan dirinya itu.


" Jaga istriku, jangan sampai terjadi apa-apa pada dirinya,," Ucap Alberto kepada pengawal yang ada di depan kamarnya itu.


Sementara itu, Alberto sendiri hanya beberapa pengawal yang mengikutinya dengan segera melangkahkan kakinya keluar menuju ke tempat dimana Frengky menempatkan sasarannya di ruang permainan milik Alberto terhadap semua tawanannya.


****