
Setelah memberikan sebuah perintah darinya, Zavier sendiri langsung mengangkat tubuh Zoya dengan segera langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan indah milik Mellina ini. Sedangkan, pengawalnya Zavier sendiri memerintahkan para prajuritnya untuk mengangkat tubuh Mellina. Dan, ia sendiri sedang mencari keberadaan Will yang sudah tidak terlihat lagi di dalam ruangan itu ketika Zavier masuk ke dalam ruangan.
" Dimana Will ?" Tanya pengawalnya Zavier ketika menyadari bahwa di dalam ruangan itu Will sudah tidak ada lagi.
" Heemm, cepat sekali dia menghilang,," Gumam pengawalnya Zavier sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan Mellina.
Pengawalnya Zavier sangat mengetahui bahwa sifat Will yang lincah dalam melakukan sebuah aksi tindakan rencananya itu. Sehingga dengan segera pengawalnya Zavier itu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Mellina sambil mengawasi para prajuritnya yang sedang membawa Mellina keluar dari markas besar milik grup mafia Roserish.
Sedangkan Will sendiri yang masih berada di dalam ruangan Mellina sengaja menyembunyikan dirinya di sebuah bilik agar tidak diketahui oleh Zavier saat Zavier masuk ke dalam ruangan tersebut. Sehingga membuat Zavier sendiri tidak mengetahui bahwa Will tersebut adalah seorang pengintai yang sengaja dikirim langsung oleh salah satu sahabatnya Alberto.
" Bagus, Tuan Zavier tidak tahu dengan keberadaanku saat ini,," Ucap Will melangkah keluar ketika mengetahui bahwa keadaan di dalam ruangannya itu sudah aman.
Dan, Will sendiri bisa melihat kondisi keadaan di dalam ruangan tersebut begitu jelas kelengangan yang terjadi, sudah tidak ada lagi Mellina di atas sofa empuknya serta sudah tidak ada lagi para pengawal yang berada di tempat itu. Setelah merasa lengang barulah Will keluar dari ruangan khusus milik Mellina dan langsung melompat keluar markas menuju tempat dimana asistennya sedang menunggu di luar markas.
" Bagus, ruangan sudah sepi dan saat ini aku tidak perlu lagi mengikuti kelompok mafia ini,," Gumam Will setelah melihat kondisi kelengangan yang terjadi di dalam ruangan.
" Aku harus segera membawa pergi tugas misi yang telah diberikan oleh Tuanku kembali ke Perancis sekarang juga,," Gumam Will seketika melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan angka tengah malam.
Namun sebelum keluar dari ruangan kamar milik Mellina, untuk terlebih dahulunya Will memastikan keadaan diluar dari markas, melihat keadaan rombongan tim yang dipimpin oleh Zavier apakah masih ada di luar markas tersebut. Karena, tidak mungkin Will keluar dari markas ini dan masih ada rombongan tim pasukan Zavier. Pastinya dengan mudah Zavier akan menahan dirinya dan bertanya langsung siapa yang telah memberikan sebuah misi tugas padanya itu.
Karena, walaupun Zavier sepertinya terlihat mengetahui siapa yang telah mengirimkan Will dalam misinya untuk selalu mengawasi Zoya, namun, Zavier sama sekali tidak mengetahui siapa sebenarnya orang yang telah mengirim Will ke negara Australia ini dan sengaja masuk ke dalam rombongan grup mafia Roserish.
Karena, Will sendiri sudah diberikan tugas oleh pimpinannya agar tugasnya itu tidak diketahui oleh Zavier yang merupakan anjing gila pelacak handal temannya dari salah satu sahabat Alberto itu juga.
" Tunggu sebentar, apakah timnya Tuan Zavier sudah pergi dari markas ini." Ucap Will untuk memastikan keadaan diluar dari sebuah kaca yang menampakkan sebuah posisi jelas dimana tempat posisinya itu diluar markas besar ini.
Dengan segera Will melangkahkan kakinya menuju ke sebuah kaca yang menampakkan sebuah posisi tempat dimana menunjukkan adanya beberapa para prajurit yang sedikit terlihat oleh Will dari atas markas itu.
Dan Will sendiri bisa memastikan bahwa keadaan diluar memang belum bisa untuk dirinya melakukan suatu tindakan agar bisa keluar dari ruangan ini. Serta untuk menjalankan tugasnya dalam misinya itu.
" Ternyata timnya Zavier masih ada di luar sana,," Gumam Will ketika ia sedang mengintip dari balik tirai kaca ruangan Mellina.
Saat Will sedang mengintip dari balik kaca jendela ruangan Mellina tiba-tiba terdengar suara telepon dari dalam saku outfitnya itu. Dan dengan segera Will mengambil ponselnya serta melihat siapa yang telah menghubunginya saat ini.
" Heemm, dia,," Gumam Will saat mengetahui siapa orang yang sedang menghubunginya itu.
Dengan segera Will menerima panggilan telepon yang dilakukan oleh asistennya di luar dari markas besar milik grup mafia Roserish. Yang mana di dalam gedung besar ini sudah tidak ada lagi pemilik maupun pekerjanya, karena, semua orang yang berada di dalam gedung ini sudah dilumpuhkan semuanya oleh para prajurit Zavier yang sungguh terlatih itu.
" Ada apa ?" Tanya Will ketika sedang menerima panggilan teleponnya itu.
" Tuan ada dimana ?" Tanya asisten Will yang menanyakan posisinya Will sendiri saat ini.
" Kau sudah berada dimana ?" Tanya Will balik pada asistennya itu.
" Posisi sebelah kiri gedung, tepatnya di belakang menara sirine gedung, Tuan,," Jawab asisten Will yang memberitahukan posisi keberadaanya.
" Bagus, tunggu aku disana, sebentar lagi aku akan keluar,," Ucap Will yang sengaja memberikan perintah kepada asistennya itu.
" Baik Tuan,," Jawab asisten Will.
Karena, sudah tahu dimana posisi keberadaan asistennya itu pastinya dengan segera Will memutuskan sambungan teleponnya dan segera beranjak dari tempatnya yang sedang mengintai pergerakan timnya Zavier.
Will sendiri mengakui dan memuji kepintaran dari asistennya itu yang sengaja memilih tempat dimana posisi keberadaan timnya Zavier sama sekali tidak tahu tempat asistennya itu yang sedang menunggu kehadiran dirinya.
" Bagus, ternyata dia pintar juga mencari tempat untuk strategi dalam misi ini,," Gumam Will yang seketika tersenyum mengagumi kepintaran asistennya itu.
Setelah selesai melihat kelompok Zavier yang terlihat sudah berangsur-angsur beranjak pergi dari tempat itu, pastinya Will juga bergegas bergerak keluar dari gedung markas besar ini yang sama sekali tidak ada lagi penghuninya.
Dengan gerakan cepat dan lincahnya akhirnya Will bisa melewati gedung-gedung tinggi hingga ia mencapai dimana tempat keberadaan asistennya itu. Terlihat di dalam sebuah mobil hitam yang tidak terlalu tampak dari sudut manapun, Will tahu bahwa itu mobil asistennya dengan segera Will masuk ke dalam mobil itu hingga membuat asistennya Will menoleh dan tersenyum senang karena, misi yang dilakukan oleh Will berhasil dengan sempurna.
" Selamat Tuan Will, misi yang ditugaskan oleh Tuan Besar telah berhasil dengan sempurna,," Ucap asisten Will sambil memberikan sebuah ucapan selamat kepada Will.
" Heh,, bagiku misi ini belum sempurna, karena, misi ini telah menelan korban,," Jawab Will sambil membuka topengnya.
" Ya, Tuan, walau ada suatu hal yang janggal dalam misi ini untuk menjadi korban, namun, tugas yang dilakukan oleh Tuan, sangatlah besar,," Bilang asisten Will lagi yang masih terdengar mengagumi kehebatan Will dan memuji kepintaran strategi majikannya ini.
" Heh,, sekarang jalan,," Gumam Will sambil memberikan perintah kepada asistennya itu.
Dengan segera asistennya Will menjalankan perintah dari Will untuk segera pergi dari tempat persembunyiannya di dekat gedung markas ini. Will ingin segera kembali ke Perancis untuk mendiskusikan misinya yang memang telah berhasil ia lakukan, namun sudah terlambat dalam melakukan tugas lainnya.
Walaupun saat ini Will sudah berada di dalam mobilnya sendiri dan bersama asistennya. Will sendiri merasa bahwa kurang dalam tugasnya itu dan walaupun Will sudah berhasil dalam melakukan misinya, namun hatinya masih terasa tidak puas akan tugas yang telah dikerjakannya.
Entah apa yang telah dirasakannya saat ini, yang pastinya Will merasa ada yang kurang dalam tindakannya saat melakukan misinya itu. Karena begitu jelas sekali terlihat dari raut wajahnya itu yang menandakan bahwa tindakannya dalam melakukan rencananya itu memiliki sebuah perasaan yang kurang memuaskan hatinya.
Sedangkan di sisi lain, Alberto saat ini terlihat sedang melangkahkan kakinya menuju ke tempat dimana Axeloe sering berada yaitu ruangan penelitian Axeloe. Dengan sengaja Alberto mencari keberadaan Axeloe karena, Alberto sendiri ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Ziya istrinya itu.
" Mumpung saat ini keadaan Ziya sedang membaik, lebih baik aku harus segera mendapatkan informasi yang sebenarnya terjadi pada tubuh Ziya,," Ucap Alberto sambil melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Axeloe.
Dengan langkah kaki yang sangat cepat Alberto juga ingin bertanya kepada Axeloe tentang sistem suara yang sengaja ia pasang di semua sudut ruangan kediamannya itu, kenapa saat ini sama sekali tidak berfungsi atau tidak terdengar olehnya saat ia tidak sengaja melihat Gladys sedang menerima telepon dari seseorang dan gelagatnya itu sangat terlihat begitu mencurigakan.
Oleh sebab itu, Alberto juga ingin menanyakan kepada Axeloe apakah saat ini Axeloe sedang melakukan sebuah tindakan di dalam ruangannya itu hingga mengganggu sistem suara di dalam kediamannya saat ini.
Tidak butuh waktu lama bagi Alberto untuk pergi menuju ke ruangan Axeloe karena, ruangan Axeloe memang tidak terlalu jauh dari ruangan penelitian milik dirinya. Sesampainya di dalam ruangan penelitian milik Axeloe, Alberto langsung saja masuk ke dalam dengan meletakkan terlebih dahulu jarinya pada sistem alat finger print yang ada di depan pintu ruangan penelitian milik Axeloe ini.
" Ada apa Brother ?" Tanya Axeloe langsung pada Alberto ketika Alberto sudah memasuki ruangan penelitian miliknya itu.
" Ternyata kau sudah berada di dalam,," Gumam Alberto melihat Axeloe sedang melakukan suatu tindakan pada meja laboratorium miliknya itu.
" Ya,, kau benar, aku akan melakukan sebuah penelitian untuk memberikan sebuah serum obat penawar racun yang telah masuk ke dalam tubuh istrimu itu, bro,," Ucap Axeloe sambil melangkahkan kakinya melewati Alberto dengan membawa beberapa botol yang akan ditelitinya itu.
" Tapi, bukannya kau sudah mengetahui cara untuk melawan obat dosis tinggi yang sudah dimasukkan ke dalam tubuhnya Ziya,," Ucap Alberto dengan raut wajahnya yang seketika bingung atas perencanaan tindakan Axeloe saat ini.
" Ya, kau benar, tapi, aku harus menelitinya kembali supaya obat penawar ini memang berhasil nantinya untuk melawan obat dosis tinggi dalam tubuhnya Ziya,," Ucap Axeloe yang dijelaskannya secara detail pada Alberto.
" Ooohhh kalau begitu aku harus banyak mengucapkan terima kasih padamu, karena, kau selalu ada dalam,," Ucap Alberto memberikan sebuah ucapan terima kasih kepada Axeloe.
Dan ucapan Alberto itu terhenti sendiri karena, dengan senyuman manisnya itu Axeloe segera menoleh menghadap dirinya dan memberikan sebuah jawaban yang tepat bagi Alberto sendiri.
" Kita adalah saudara, jadi, walaupun kau selama ini tidak pernah mau mendengarkan perkataan dariku, tapi, aku tetaplah saudaramu brother, aku tidak akan pernah melupakan bagaimana darahmu ini mengalir dalam darahku,," Jelas Axeloe dengan wajah tegasnya hingga membuat Alberto sedikit menyunggingkan senyumannya dan menepuk pundak adiknya itu.
" Terima kasih, Axeloe, jika kau tidak pernah memperhitungkan apa yang telah aku lakukan padamu waktu dulu,," Ucap Alberto saat menepuk pundaknya Axeloe.
Dengan anggukan yang jelas darinya itu, Axeloe langsung melanjutkan lagi pekerjaannya dalam meneliti obat yang akan ia suntikkan ke dalam tubuh Ziya. Disaat ini Axeloe memang terlihat sangat serius dengan penelitiannya itu. Dan, disaat Alberto ingin mengajukan kembali pertanyaan kepada Axeloe, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada orang yang sedang meneleponnya.
" Axeloe, aku ingin bertanya padamu ?" Tanya Alberto ketika melihat Axeloe yang sedang serius meneliti penelitiannya itu.
" Ya, katakan,," Jawab Axeloe dengan wajah santainya namun serius dalam penelitiannya itu.
" Menurut hasil pemeriksaan yang kau lakukan pada Ziya hari ini, memangnya apa yang sedang terjadi padanya ?" Tanya Alberto langsung kepada Axeloe.
Dan disaat Alberto menanyakan sesuatu hal yang sangatlah penting kepada Axeloe, hal itu membuat Axeloe spontan menoleh ke arah Alberto sambil meneliti dengan lekat wajah kakaknya itu. Karena, hanya kakaknya ini saja yang tidak tahu bagaimana ciri khas seorang wanita sedang mengandung.
Dan Axeloe sendiri merasa sakit perut ingin tertawa sepuas mungkin ketika melihat raut wajah kebingungan serta rasa penasaran dari wajah Alberto kakaknya saat ini. Sehingga Axeloe hanya bisa tersenyum melihat ketidaktahuan yang terjadi pada kakaknya itu.
" Heeemmm aku pikir kau orang yang sangat pintar, Kak,," Gumam Axeloe setelah ia meneliti ke dalam wajah Alberto dengan sangat dalam.
Betapa tercengangnya Alberto ketika mendengarkan perkataan Axeloe yang sengaja mengagumi dirinya namun juga membingungkan pikirannya selama ini. Oleh sebab itu, dengan segera Alberto bertanya maksud dari ucapan adiknya itu.
" Maksud perkataanmu ini apa Axeloe ?" Tanya Alberto lagi dengan wajah penasaran.
" Ya, selama ini kau adalah pemimpin Mafia Alexandre yang terhebat, tapi, nyatanya kau tidak tahu suatu hal apa yang biasa terjadi pada seorang wanita apabila ia sedang meng,,," Ucap Axeloe yang terhenti sesaat karena terdengar bunyi suara ponselnya Alberto mengganggu pembicaraan di antara mereka.
" Tunggu sebentar, Axeloe,," Ucap Alberto yang juga merasa terganggu dengan suara ponselnya itu.
Dengan segera Alberto mengambil ponselnya yang ia letakkan di dalam saku jasnya dan melihat dari layar ponsel siapa yang sedang melakukan panggilan padanya itu. Dan Alberto bisa lihat sendiri bahwa saat ini yang sedang meneleponnya itu adalah Madam Christin.
" Grandma,," Gumam Alberto ketika melihat layar ponselnya dan bertuliskan Grandma sedang meneleponnya.
" Grandma,," Gumam Axeloe juga ketika ia mendengarkan ucapan Alberto.
" Sebentar Axeloe, Grandma sedang menelepon,," Ucap Alberto sambil menerima panggilan dari Grandmanya.
Disaat ini Alberto sedang menerima panggilan yang dilakukan oleh Madam Christin. Pastinya, Axeloe tidak akan bisa kesal jika ucapannya terpotong karena, ada yang telah berani mengganggu pembicaraannya itu. Tapi, karena saat ini yang menelepon adalah Grandmanya sendiri, oleh sebab itu, Axeloe segera menganggukkan kepalanya ketika mendengar ucapan Alberto yang menyebutkan nama Grandmanya itu.
****