
Alberto yang dikawal hanya dengan beberapa pengawal yang mengikutinya dengan segera melangkahkan kakinya keluar menuju tempat dimana Frengky menempatkan sasarannya di ruang permainan miliknya itu. Dalam perjalanannya, Alberto tersenyum sendiri sambil memikirkan tindakan dan keinginan dari Gladys Ibu tirinya.
" Heh! dasar perempuan licik, benar yang dikatakan Ziya, lebih baik aku mengikuti langkah rencana mereka, supaya aku mengetahui kebenarannya lebih mendalam,," Ucap Alberto yang memikirkan pemikiran Ziya, sambil melangkah menuju tempat yang telah disediakannya itu.
Alberto yang lebih dahulu sampai di ruangan permainan miliknya itu, membuat dirinya terlebih dahulu menunggu kedatangan dua wanita ular yang begitu licik di dalam kediamannya ini.
" Sebenarnya, aku bisa saja langsung membunuh dan melempar mereka keluar dari kediamanku ini, tapi dendam Axeloe tidak akan bisa terbalas kalau aku melempar mereka semua tanpa mendapatkan jawaban yang pasti,," Ucap Alberto yang merasa bahwa dirinya sampai saat ini belum mendapatkan bukti dan jawaban pasti dari kehidupan mereka terdahulu.
Sebenarnya Alberto bisa saja melempar keluar dua wanita ular ini dan bahkan anak laki-lakinya itu, tapi sampai saat ini Alberto belum mendapatkan bukti dan jawaban yang pasti atas cerita kehidupan mereka terdahulu.
" Dan, sepertinya, istriku saat ini lebih pintar dibandingkan kembarannya itu," Ucap Alberto lagi sambil memandang suasana di luar dengan memuji kecerdasan pikiran Ziya.
" Bagus, kemungkinan besar karena adanya Ziya masuk dalam kehidupanku, aku dan Axeloe bisa mendapatkan jawaban dan bukti dari kehidupan kami yang terdahulu." Ucap Alberto yang tersenyum nakal sambil mengingat wajah Ziya.
Alberto berpikir ternyata dia tidak salah tetap menerima Ziya menjadi Istri palsunya, ya, walaupun Zoya sudah diketahui keberadaannya tapi, Alberto lebih tertarik akan pemikiran Ziya saat ini, terbukti pemikiran Ziya yang pintar atas ucapan-ucapannya yang beberapa minggu lalu, saat Ziya tiba di rumahnya ini.
" Heemmm, ternyata dibalik sisi lembutnya itu, ada sisi lain yang membuat hatiku penasaran dan kagum pada sifatnya,," Bilang Alberto yang sedikit menyunggingkan senyumannya kagum atas sikap Ziya yang begitu membuatnya penasaran.
Sejak awal Ziya masuk dalam kehidupan Alberto, Alberto mengakui bahwa semua ucapan yang disampaikan oleh Ziya membuat Alberto mengaguminya.
" Baik istri palsuku, kau tidak akan lagi menyandang nama istri palsu melainkan istri yang sebenarnya dari Alberto Alexandre,," Ucap Alberto yang sedang memikirkan sifat dan karakter dari Ziya.
" Kau tidak akan bisa lepas dari genggamanku, karena, baru hanya kau seorang wanita yang bisa membuatku kagum,," Ucap Alberto yang mengenang sifat dan pikiran Ziya selama ini.
Hal yang membuat Alberto kagum, paling utama ialah ucapan Ziya saat pertama kali dirinya bergabung dalam acara sarapan pagi keluarga besar, dimana saat itu Ziya melawan ucapan Claire yang begitu terlihat mencari perhatian Alberto.
" Siapa kau,, apakah kau istri Alberto juga,," Ucapan Ziya yang teringat dan terngiang pada pikiran Alberto.
" Sebenarnya sejak saat pertama kali dia datang harusnya aku sudah mengacungkan jempol padanya, ucapan-ucapannya begitu pintar dan membuatku kagum atas perlawanannya terhadap Claire dan Gladys. Di masa Zoya berada disini, Zoya sama sekali tidak mengacuhkan kedua wanita ular itu, tapi semenjak dia masuk, kenapa dia pintar sekali melawan dua wanita itu,," Ucap Alberto tersenyum senang, karena saat ini dirinya mendapatkan wanita yang tepat untuk menjadi pendampingnya.
Disaat Alberto sedang berpikir dan mengenang sifat dan karakter Ziya, tak terasa semua pengawalnya yang sedang membawa Gladys dan Claire sudah tiba di ruangannya ini. Memang cukup jauh dari tempat dimana Gladys dan Claire sedang bersantai ria. Sehingga membuat Alberto cukup lama menunggu kehadiran dua wanita licik ini.
" Silahkan masuk Nyonya,," Ucap Frengky yang mempersilahkan Gladys dan Claire untuk masuk ke dalam ruangan Alberto.
" Aku tidak akan masuk ke dalam, sebelum aku melihat Putraku dibebaskan,," Jawab Gladys dengan gaya angkuhnya.
Karena mendengar suara Frengky di luar, Alberto segera memerintahkan anak buahnya untuk membuka pintu ruangan, dan menyuruh Gladys untuk masuk ke dalam supaya tidak banyak waktu lagi yang terbuang.
" Buka pintunya,," Ucap Alberto memerintahkan anak buahnya.
Dengan segera anak buah Alberto membuka pintu ruangan tersebut, dan saat ini terlihatlah Alberto sedang menatap dengan tatapan tajam kepada dua wanita licik di depan matanya itu. Begitu juga sebaliknya tatapan Gladys juga terlihat menatap Alberto dengan tatapan yang tajam.
" Silahkan masuk, Mommy,," Ucap Alberto dengan gaya santainya menyambut kedatangan Gladys.
Alberto yang terlihat duduk tenang di hadapan Gladys dan menyambutnya dengan gaya santai, membuat Gladys sangat tidak menyukai gaya Alberto saat ini.
" Dimana Anakku, keluarkan sekarang juga,," Pinta Gladys yang menatap tajam wajah Alberto.
Mendengar ucapan Gladys seperti itu, dengan santai, Alberto bermain mata dan tangan pada Frengky yang telah diberikan tugas darinya untuk membawa Martin ke ruangannya ini.
" Bawa dia,," Ucap Alberto yang memberi kode pada Frengky.
Frengky dengan segera masuk ke dalam ruangan untuk menjalankan perintah dari Alberto. Karena, melihat Frengky yang melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Alberto, barulah dengan berani Gladys melangkah masuk ke dalam ruangan itu
" Baik, Martin akan dibebaskan asal kau memberiku botol penawar racun yang kau paksakan pada Vena,," Bilang Alberto yang tidak mau basa-basi lagi menghadapi dua wanita licik di hadapannya ini.
" Hahahaha,, tidak, tidak semudah itu Alberto, aku ingin melihat jelas putraku keluar dan bebas dari penahanan yang kau lakukan." Ucap Gladys yang menyanggah keinginan Alberto.
" Wow,, ternyata kau ingin mengulur waktu padaku, Hah!" Ucap Alberto tersenyum sinis pada Gladys dan Claire.
" Baik, aku bisa saja menembak mati kepala kalian, tapi itu semua percuma bagiku membunuh orang yang tidak berarti seperti kalian sama saja membuang sia-sia peluruku ini,," Ucap Alberto dengan tatapan yang sangat tajam.
" Heh! tembak saja Alberto, kau pikir dengan menembak mati aku, kau bisa mendapatkan semua dalam pikiranmu, Hah! Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan sekarang, dan Daddy mu Vasco Alexandre lebih mempercayai diriku dibandingkan kau anaknya sendiri." Ucap Gladys yang semakin membuat Alberto marah.
Memang semenjak Gladys masuk di dalam kehidupan Alberto dan Axeloe, tindakannya itu membuat pertanyaan besar dalam hati Alberto dan juga Axeloe. Memang saat ini Axeloe belum kembali dari luar negeri karena, sedang melakukan penelitian dan penelusuran terkait penemuannya itu.
" Kau pikir, dengan menekankanku seperti itu, aku akan takut untuk membunuh kalian, heh! tidak sama sekali,," Ucap Alberto menunjuk tepat di wajah Claire.
Saat Alberto menunjuk wajah Claire, Claire begitu kaget dan spontan merubah ekspresi wajahnya menjadi sangat ketakutan. Yang tadinya cukup berani atas rencana Auntynya, tapi kali ini ternyata pemikiran Claire salah. Aunty nya hanya bisa melakukan rencana untuknya sendiri bukan untuk membantu rencana Claire.
" Tangkap wanita itu dan bawa dia kemari." Bilang Alberto memerintahkan kepada pengawalnya untuk menangkap Claire dan membawa Claire tepat di hadapan Alberto untuk menjadi sasaran tembakannya kali ini.
" Baik Tuan,," Jawab pengawal Alberto yang segera menahan Claire dan membawa Claire tepat di hadapan Alberto.
Dalam seketika Alberto mengeluarkan pistolnya, lalu dengan sengaja Alberto mengacungkan pistol tepat di hadapan Claire. Tentu saja, Claire begitu kaget atas tindakan Alberto yang secara tiba-tiba terhadap dirinya. Claire segera berteriak menolak dan ingin berlari dari tempat Alberto saat ini, namun pintu ruangan sudah ditutup dan juga banyak pengawal yang menahan tubuhnya saat itu.
" Aaakkkhh,, Aunty,, Aunty, Claire mohon berikan penawar racunnya pada Alberto, daripada Claire yang mati, lebih baik berikan saja penawar racun kepada pelayan bodoh itu,," Ucap Claire yang merasa takut terhadap pistol yang telah diacungkan Alberto tepat di kepalanya.
" Heh! wanita munafik,," Ucap Alberto segera melepaskan kakinya dari pegangan Claire yang memohon pada dirinya.
Saat Alberto menarik pelatuk pistol dan segera menembakkan pistolnya ke arah Claire yang terlempar jauh dari Alberto, membuat Gladys segera menyerahkan botol penawar racun kepada pengawal Alberto.
" Jangan tembak, Alberto," Ucap Gladys yang mencegah tindakan Alberto.
" Baik, kau ingin ini bukan, aku akan menyerahkan botol penawar racun ini padamu, asal kau jangan menembak Claire dan bebaskan putraku,," Pinta Gladys dengan segera memberikan botol penawar racun kepada pengawal Alberto.
Setelah mendapatkan botol penawar racun dari Gladys dengan segera pengawal itu memberikan botol penawar racun pada Alberto. Alberto tersenyum karena, posisinya saat ini cukup imbang. Martin belum dibebaskan dan dia sudah mendapatkan botol penawar racun hanya dengan menakut-nakuti Claire yang begitu disayangi oleh Gladys.
" Bagus,, Mommy aku akan menepati janjiku, untuk membebaskan putramu dan tidak akan menembak wanita itu,," Ucap Alberto yang sudah menerima botol penawar racun, sambil tersenyum sinis.
" Aku akan memberikan penawar ini pada Vena apabila nyawanya terselamatkan maka kalian bisa bebas, tapi jika tidak kalian akan tetap mendekam di ruang tahanan ini,," Ucap Alberto segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang tahanannya itu.
Gladys terperangah mendengar ucapan Alberto yang sangat tajam di telinganya ini, dan dirinya tidak menyangka bahwa saat ini mereka telah dikelabui oleh Alberto dan akan mendekam di ruang tahanan milik Alberto, yang terlihat di matanya seperti bukan ruang tahanan.
" Kurang ajar kau Alberto, kau telah menipuku,," Teriak Gladys yang saat ini dirinya di tahan oleh pengawal Alberto dan sama sekali tidak bisa menggapai tubuh Alberto.
Alberto begitu mendengarkan ucapan Gladys yang menyebutkan dirinya itu penipu, sehingga membuat wajahnya menoleh ke belakang dan memberikan suatu pesan tajam bagi Gladys dan Claire saat ini.
" Aku tidak pernah menipu orang lain, hanya orang seperti kalian yang selalu menipu orang," Suara Alberto yang terdengar begitu tajam di telinga Gladys.
" Dan, kalian cuma bisa berharap dari penawar racun ini, jika penawar racun ini bisa menyelamatkan nyawa Vena maka kalian bisa selamat dan akan kubebaskan Martin, tapi, jika penawar racun ini tidak bisa menyelamatkan nyawa Vena maka, kalian akan mendekam di ruang tahanan ini selamanya." Pesan Alberto yang membuat Claire semakin takut dan bingung.
" Alberto,, tolong lepaskan kami, kami sama sekali tidak menipumu,," Teriak Claire pada Alberto, yang merasa bahwa memang benar suatu benda yang telah diberi Gladys itu merupakan penawar racun jantung untuk Vena.
" Heh! aku tidak semudah itu mempercayai ucapanmu,," Suara Alberto yang terdengar terakhir oleh Gladys dan Claire.
Alberto segera melangkah pergi meninggalkan ruang permainan untuk mengelabui dua wanita licik yang berada di rumahnya itu.
" Aakkhhh,, Alberto lepaskan aku,," Teriak Claire memanggil Alberto yang berlalu pergi meninggalkan Claire dan Gladys di ruang tahanan.
Dengan sengaja, Alberto pura-pura tidak mendengarkan teriakan dari Claire. Karena, sengaja ingin segera pergi dari ruangan itu dan melangkahkan kakinya menuju lantai atas.
Sementara itu,,
Ziya yang berada di lantai atas, saat ini sedang mengajak Vena mengobrol supaya Vena tidak kehilangan kesadarannya dan mencegah Vena untuk tertidur.
Karena, Menurut pesan Daniel orang yang baru termakan racun ganas maka dilarang untuk tertidur. Apabila tertidur dapat menyebabkan penyebaran racun di dalam tubuh semakin aktif, jadi supaya racun tidak mudah untuk menyebar diusahakan mata untuk tidak tertidur atau pingsan.
" Vena, kau masih bisa bertahan bukan, sebentar lagi Alberto atau Daniel akan tiba membawa penawar racun untukmu,, kau jangan tertidur aku mohon Vena, kau harus bertahan,," Kata Ziya yang sengaja mengajak Vena mengobrol.
" Nyonya,, jangan biarkan Tuan Alberto untuk membebaskan Martin, karena, dia telah bersalah pada Nyonya, dia yang menyebabkan Nyonya terluka disaat Vena tidak ada, jika dia dibebaskan oleh Tuan maka dia akan mengganggu Nyonya lagi." Jawab Vena yang membuat Ziya terperangah.
Ternyata, orang yang mencelakakan Ziya disaat dia pingsan adalah Martin kakak iparnya sendiri. Ziya berpikir kenapa Martin ingin memasuki kamar Alberto dan mencelakakan dirinya.
Apakah disaat Zoya berada di kediaman ini, Zoya bermain gila padanya ?
Akkhhh entahlah, yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan nyawa Vena. Karena, suatu hal mengenaskan yang menimpa Ziya sudah terlewatkan dan Ziya sudah tidak mengingatnya lagi. Yang menjadi pertanyaan besar dalam benak Ziya adalah siapa laki-laki yang telah menolongnya itu, Ziya tidak terlalu melihat wajah orang yang menolongnya disaat itu.
" Maksudnya,, Martin yang telah mencelakakan diriku saat itu,," Tanya Ziya menatap serius kepada Vena.
" Betul Nyonya,, tidak mungkin Tuan menangkap Martin tanpa adanya penyebab dan bukti yang kuat,," Jawab Vena sedikit tidak merasakan sesak di dadanya karena, telah diberikan cairan sementara pembuang racun di dalam pencernaannya itu.
" Jadi, siapa yang telah menyelamatkan,,," Ucapan Ziya terputus karena dirinya melihat Alberto yang berjalan menuju tempatnya saat ini.
Dalam seketika Ziya melupakan pertanyaan di kepalanya, karena saat ini Alberto telah menghampiri mereka. Dan, Alberto dengan segera memberikan botol penawar racun kepada Ziya. Ziya yang merasa sedikit canggung apabila berhadapan langsung dengan Alberto.
" Segera berikan pada Vena, aku ingin lihat apakah penawar racun ini bereaksi,," Ucap Alberto yang sengaja memberikan botol penawar racun itu pada Ziya.
" Hah!! akhirnya kau mendapatkannya,," Jawab Ziya yang tersenyum senang saat menerima botol penawar racun dari Alberto.
Setelah menerima sebuah botol penawar racun dari Alberto dengan segera Ziya memberikan penawar racun itu kepada Vena. Awalnya Vena tidak mau meminum penawar racun yang telah diberikan Ziya padanya, Vena ingin mengetahui apakah Tuannya itu membebaskan Martin. Seperti permintaan Claire pada dirinya sebelum ia dipaksa untuk meminum racun itu.
" Ayo Vena, kau harus kuat ini penawar racun untukmu,," Bilang Ziya memberikan semangat pada Vena.
" Tidak Nyonya,, Vena tidak mau, pasti Tuan sudah membebaskan Martin,," Ucap Vena yang merasa bahwa percuma saja dirinya selamat, atas timbal balik yang dilakukan oleh Alberto menyebabkan bahaya bagi majikannya ini.
Mendengar ucapan Vena seperti itu, Alberto percaya bahwa Vena memang jujur untuk selalu menjadi asisten pribadi Ziya saat ini. Karena, terlihat Vena begitu jujur akan pengabdiannya itu.
" Minum saja dulu Vena, semua sudah ku atur, aku ingin melihat reaksinya,," Ucap Alberto yang sangat ingin melihat reaksi dari penawar racun jantung dari Gladys.
Karena, mendengar ucapan Alberto yang meyakinkan diri Vena, akhirnya Vena segera menenggak obat penawar racun yang berada di tangannya ini. Dalam seketika setelah Vena meminum penawar racun yang telah diberikan oleh Alberto, Vena merasa matanya kabur dan tubuhnya lemah merasakan sakit dan sesak di dadanya, lalu akhirnya Vena pingsan.
****