Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 77 - Bagaimana Keadaanmu ?



Tepatnya hari ini Alberto sudah pulang dan karena belum mengetahui laporan dari Vena bagaimana keadaan Ziya yang sudah sadar hari ini, jadi dengan segera Alberto sengaja menelepon Vena.


Alberto ingin sekali menelepon Ziya secara langsung, namun tahu sendiri bagaimana sifat Alberto yang dingin terhadap seorang perempuan. Sehingga membuat dirinya lebih memilih mengawasi keadaan Ziya dari asisten pribadinya dibandingkan harus bertanya langsung pada Ziya.


Aneh ini Alberto, mengawasi sang istri dari asisten pribadinya tidak langsung nanya ke orangnya, mungkin lebih manis kali ya cara perhatiannya.


" Aku ingin tahu bagaimana keadaannya hari ini, apakah dia sudah benar-benar membaik,," Ucap Alberto yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.


" Heemm,, tidak mungkin aku menelepon dia,," Ucap Alberto segera beralih ke nomor ponsel Vena.


Alberto segera menyentuh nomor ponsel Vena, dan ternyata sudah berulang kali dirinya menelepon asisten pribadi Ziya ini, tapi panggilan telepon darinya sama sekali tidak diangkat. Sementara itu, Ziya yang sedang menyelidiki dinding berlubang di kamar Alberto mendengar suara getaran telepon milik Vena yang Vena letakkan di atas meja dekat sofa.


" Ponsel Vena bergetar,," Bilang Ziya mendekati meja.


Ziya melihat dari layar ponsel Vena tertulis


..."TUAN ALBERTO"...


Spontan Ziya kaget, karena yang menelepon ponsel Vena saat ini adalah Alberto suami kembarannya dan menganggap dirinya sendiri istri dari suami kembarannya itu. Ziya memundurkan langkahnya saat ini karena melihat ponsel Vena yang telah ditelepon oleh orang yang membuat Ziya merasa terbelenggu.


" Alberto,," Ucap Ziya saat melihat layar ponsel Vena.


" Kenapa dia menelepon, Vena, apa dia ingin tahu,," Ucapan Ziya terputus saat dirinya memundurkan langkahnya itu.


Lalu, saat terakhir ponsel itu bergetar, Ziya ingin sekali keluar mencari Vena, tapi, sesaat membuat Ziya menghentikan langkahnya saat dirinya mau keluar, karena, ponsel Vena telah bergetar kembali. Ziya segera kembali ke belakang dan melihat ponsel Vena. Ziya bimbang, takut, cemas dan khawatir saat Ziya ingin menerima telepon dari Alberto.


" Bagaimana ini,, angkat tidak, angkat tidak,," Ucap Ziya yang bingung akan ponsel Vena saat ini.


" Baiklah, angkat saja,," Bilang Ziya yang segera mengambil ponsel Vena di atas meja.


Lalu, Ziya segera menyentuh ponsel tersebut dan terdengarlah suara dingin Alberto yang sedang menelepon Ziya saat ini.


" Halo Vena, kenapa lama sekali mengangkat telepon, bagaimana keadaan dia..?" Tanya Alberto dengan segera ketika Ziya mengangkat teleponnya.


Ziya terperanjat saat mendengar Alberto seakan bertanya dengan Vena tentang keadaan dirinya apa bukan. Ziya ingin sekali bertanya tapi, dia takut nanti Alberto akan memarahi dirinya dan membuat tindakan kasar lagi seperti waktu saat ia mengakui identitasnya dulu.


Ziya sedikit bingung dan bergetar mau menjawab apa pertanyaan dari Alberto saat ini, karena, ia telah mengangkat telepon dari Alberto mau tidak mau Ziya harus ngomong tentang keadaan siapa yang ditanyakan olehnya itu.


" Keadaan siapa,,?" Tanya Ziya dengan suara singkat yang sedikit mengagetkan Alberto dan membuat Alberto diam sejenak.


Karena, merasa pertanyaannya itu membuat Alberto diam, Ziya berpikir kenapa dengan Alberto saat ini, apakah pertanyaannya itu salah.


" Kenapa dia diam,, atas pertanyaan dariku,," Ucap Ziya dengan suara kecil.


" Apakah pertanyaanku salah,,?" Sambung Ziya dengan suara kecil yang merasa bahwa pertanyaannya salah.


Alberto sama sekali tidak mendengarkan suara Ziya mengatakan tentang diri Alberto, kenapa Alberto terdiam saat dirinya mengangkat telepon ini. Saat memikirkan Alberto yang terdiam atas pertanyaannya itu, Ziya sedikit kaget saat suara Alberto mengagetkan dirinya.


" Keadaanmu,,?" Ucap Alberto jujur dan lembut, sontak membuat Ziya merasa tersentuh.


Saat ini gantian yang terperanjat, terdiam saat mendengarkan ucapan Alberto yang menyentuh perasaannya Ziya. Ziya sedikit tersentuh saat mendengar ucapan Alberto yang sengaja menelepon hanya untuk menanyakan keadaan dirinya.


" Dia menanyakan keadaanku ?" Ucap Ziya terperangah dengan suara kecil dan sama sekali tidak terdengar oleh Alberto, seketika Ziya sedikit menyunggingkan senyumannya.


Sesaat, Ziya terkejut saat suara Alberto mengagetkan dia dan menanyakan dirinya lagi.


" Kau sudah bangun,," Tanya Alberto seketika mengagetkan pergerakan Ziya.


" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk.


" Baguslah," Ucap Alberto terdengar santai suaranya saat ini bagi Ziya.


" Sebentar lagi aku akan pulang,," Bilang Alberto pada Ziya yang mendengar suara Alberto tidak sekejam kemarin padanya.


" Yah,," Ucap Ziya singkat, kaget, tidak tahu mau mengatakan apalagi saat dia tahu bahwa hari ini sebentar lagi Alberto akan pulang.


" Ya sudah, jaga dirimu,," Ucap Alberto seakan mengerti bahwa Ziya merasa cemas dan takut saat dia mengatakan dia akan pulang.


Tak terasa ponsel yang dipegang oleh Ziya saat ini telah terputus panggilannya oleh Alberto sendiri. Ziya merasa sedikit takut, cemas saat mendengar Alberto mengatakan bahwa dirinya akan segera pulang. Ziya takut dirinya bertemu dengan Alberto, takut akan kejadian yang pernah menimpanya kemarin. Takut akan sikap Alberto yang kembali kasar padanya, takut akan ucapan Alberto yang telah menghancurkan perasaannya. Semua ketakutan itu membuat Ziya mundur dari meja dan terduduk lemah di atas tempat tidur.


" Dia segera pulang,, bagaimana aku,,?" Ucap Ziya yang melangkah mundur terduduk di atas tempat tidur.


Sebenarnya Ziya ingin keluar memanggil Vena, tapi niat itu diurungkannya saat ada telepon masuk dari Alberto. Lalu, sesaat Ziya berpikir kembali, baru saja Alberto menelepon Vena hanya untuk menanyakan kabar dirinya.


" Dia menanyakan keadaanku,, kenapa,?" Tanya Ziya sendiri dengan dirinya sendiri.


Perasaan perempuan itu halus dan lembut, jika seseorang laki-laki menanyakan keadaannya saat dia merasa sendiri, saat dirinya merasa bosan, saat dirinya sedikit kecewa dan marah, ingatlah hati perempuan akan luluh seperti Ziya saat ini merasa sedikit tersentuh mendengar ucapan Alberto yang menanyakan keadaan dirinya.


Sementara itu, Alberto sendiri di dalam mobil sedikit menyunggingkan senyumannya karena, tidak sengaja hari ini Alberto yang ingin menelepon Vena menanyakan keadaan Ziya, tapi, ternyata Ziya sendiri yang mengangkat telepon darinya.


" Heeemm,, ternyata dia sendiri yang menerima teleponnya." Ucapan yang keluar dari bibir Alberto sambil tersenyum mengingat wajah Ziya yang seakan kaku saat bertatapan dengan dirinya langsung.


Seketika Alberto teringat, bahwa tujuannya menelepon itu menanyakan keadaan Ziya dan saat ini kemana keberadaan Vena kenapa Ziya yang mengangkat teleponnya.


" Kemana, Vena, kenapa dia yang mengangkat teleponnya,," Ucap Alberto yang sedikit bertanya kemana keberadaan Vena saat ini.


Alberto bertanya di dalam hati, kenapa Ziya sendiri di dalam kamarnya, tidak ada Vena yang berada di sampingnya saat ini. Kemana perginya Vena ?


Dengan segera Alberto menelepon Daniel dengan tujuan untuk memeriksa keadaan Ziya saat ini. Alberto segera mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor telepon Daniel, setelah mendapatkannya Alberto menelepon temannya ini.


" Heemm,, aku baru kembali, kau ikut aku ke rumah, periksa keadaannya sekarang." Bilang Alberto langsung kepada Daniel.


" Oke, Dude,, secepatnya aku akan tiba,," Suara Daniel yang terdengar semangat sekali saat Alberto menyebutkan nama Ziya untuk diperiksa langsung oleh dirinya.


Karena, mendengar suara Daniel yang begitu semangat sekali untuk memeriksa keadaan Ziya, Alberto geleng-geleng kepala sendiri atas kelakuan temannya ini.


" Dasar,, penjahat wanita,," Ucap Alberto yang melihat nomor Daniel.


Setelah merasa urusannya selesai menelepon Daniel. Alberto segera menelepon Frengky untuk bertanya dengan anak buahnya bagaimana keadaan di kediamannya saat ini. Karena, jarak tempuh dari lapangan terbang milik Alberto menuju ke kediamannya cukup jauh. Oleh sebab itu, Alberto sengaja memerintahkan Frengky menanyakan keadaan rumahnya saat ini.


Dengan memencet tombol alat yang berada di telinganya Alberto segera memanggil Frengky yang berada di mobil lain tepat di belakang mobil miliknya.


" Ya, Tuan,," Jawab Frengky suaranya yang terdengar oleh Alberto.


" Segera, tanyakan bagaimana keadaan di rumah, aku heran, kenapa saat ini istriku yang mengangkat telepon dariku bukan Vena, sedangkan aku menelepon dari nomor ponsel Vena." Bilang Alberto yang segera memerintahkan Frengky untuk menanyakan bagaimana keadaan di rumah kepada anak buahnya.


" Baik Tuan,," Jawab Frengky dengan singkat.


Setelah selesai memberi perintah kepada Frengky, Alberto merasa bahwa ada yang tidak beres saat ini di rumahnya.


Kemungkinan Vena telah berkhianat pada dirinya ?


Apakah Vena dalam bahaya ?


Dua pertanyaan ini yang telah berputar di dalam pikiran Alberto saat ini.


" Kemana dia, kenapa tidak ada bersama dengannya,," Ucap Alberto yang merasa bahwa ada kejanggalan di dalam rumahnya saat ini.


" Apakah Vena mau berkhianat denganku,,?" Ucap Alberto yang berpikir seperti itu pada Vena.


Alberto tidak mengetahui bagaimana keadaan di rumah saat ini. Memang benar di rumahnya banyak sekali bodyguard khusus hanya untuk menjaga istrinya, putranya Demian, Neneknya Madam Christin, serta kedua putrinya yaitu Krystal dan Isabelle. Dan, semua pengawal itu hanya menjaga keselamatan dalam memberi perlindungan kepada orang yang tertentu. Sedangkan orang lain yang berada di rumah yang sangat luas itu tidak ada pengawalan sedikitpun. Alberto mengawasi semua ruangan dan tempat di rumahnya hanya melalui kamera CCTV yang terekam dimana-mana.


Sementara itu,,,


Di dalam rumah Alberto, Vena yang masih berada di ruangan sedikit remang-remang itu tulang pada tubuhnya saat ini sangat terasa begitu remuk dan ngilu (nyeri). Tubuhnya yang telah terhuyung lemah di atas lantai membuat wajahnya pucat saat dirinya telah tersedak serbuk racun yang dipaksa oleh Claire. Saat ini, Gladys sudah tidak ada lagi di dalam ruangannya ini. Hanya tinggal Claire yang tersenyum senang melihat kelemahan pada wanita yang berada di hadapannya saat ini.


" Heeemm, dasar wanita bodoh, kau lebih memilih dipaksa meminum racun daripada mengikuti perintah dari kami,," Ucap Claire melangkah satu persatu ke arah Vena saat itu.


Terlihat di wajah Vena telah menitikkan air matanya, karena, sedikitpun dalam hatinya, tidak bersedia untuk mengkhianati kepercayaan Tuan Alberto saat ini. Cukup baginya Tuan Alberto saat sebelum kejadian mengenaskan pada Ziya membuat nyawanya hampir melayang. Karena, keteledorannya dalam menjaga Ziya yang telah diberi kepercayaan untuknya itu.


" Sekarang, kau keluar, katakan pada majikanmu wanita ja-lang itu saat ini juga untuk segera memerintahkan pengawal Alberto melepaskan Martin." Bilang Claire yang menatap tajam wajah Vena saat ini.


Vena tidak mengerti maksud dari perkataan Claire itu. Apa maksud Claire yang memaksa dirinya menelan racun yang cuma bertahan dalam waktu tiga jam segera memerintahkan dirinya untuk menyampaikan ucapannya ini untuk melepaskan Martin.


Maksudnya melepaskan Martin, apa,,?


Pertanyaan ini yang selalu terngiang di pikirannya.


" Maksudnya apa,, kenapa dia sengaja menyuruhku untuk meminta Nyonya melepaskan Tuan Martin,, aku tidak mengerti,," Ucap Vena yang sedang menahan rasa sakit dalam tubuhnya sambil memikirkan perkataan dari Claire saat ini.


" Ma,, maksudnya apa, Nyonya ?" Tanya Vena yang menahan sesak di dadanya saat ini.


" Heh! dasar bodoh,, tinggal katakan saja, ya katakan,, masih bertanya,," Umpat Claire yang menatap tajam wajah Vena saat ini.


" Ba,, baik, Nyonya,," Ucap Vena yang tidak mengerti maksudnya apa, cuma bisa mengangguk dan menuruti perkataan Claire saat ini.


" Heemm bagus,, ya sudah kalau begitu keluar, waktumu tinggal tiga jam lagi, setelah itu kau akan tewas, pelayan bodoh,," Ucap Claire yang terdengar sangat merendahkan Vena dan tersenyum sinis.


Vena tidak menghiraukan ucapan Claire saat ini, karena baginya saat ini adalah bisa keluar dari ruangan yang membuatnya seakan mati disaat ini juga bukan hanya sekedar menunggu tiga jam lagi.


Sehingga dengan gaya angkuhnya Claire sedikit menendang tubuh Vena, membuat Vena kuat untuk bangkit dengan tubuh yang sangat lemah. Mau tidak mau, Vena harus kuat dan keluar dari ruangan ini.


Claire membuka pintu dan segera mendorong Vena keluar dari pintu itu, Vena bisa bernafas sedikit lega saat dirinya telah keluar dari ruangan yang mematikan bagi dirinya itu.


Saat Claire membuka pintu, Claire teringat bahwa dirinya harus tetap mengawasi gerak-gerik Vena yang telah keluar dari ruangannya itu.


" Jangan lupa, tetap awasi pelayan bodoh itu, saat dia keluar dari ruangan kita,," Ucapan Gladys yang diingat oleh Claire.


Sehingga dengan senyuman sinisnya itu, Claire selalu mengingatkan ucapan yang telah diperintahkan Aunty Gladys padanya.


" Lakukan pekerjaanmu, Baby,," Ucap Claire tersenyum sinis setelah mendorong tubuh Vena keluar dari ruangan itu.


Vena mengingat dimana tempat dirinya telah disekap saat ini, ia bisa mengingat tempat itu. Lalu, dengan langkah gontai dan lemah, sambil menahan rasa sakit dan sesak di dadanya, Vena berjalan menelusuri tempat ruangan yang cukup jauh dari rumah utama milik Alberto ini.


" Aku harus cepat katakan pada Nyonya,, jangan sampai Nyonya kasihan pada diriku seperti ini hingga Nyonya tertekan dan melepaskan Tuan Martin." Ucap Vena terbata-bata dengan suara sangat kecil sehingga tidak ada orang yang mendengar dan melihat dirinya saat ini.


" Jangan sampai Nona Claire dan Nyonya Gladys menekan Nyonya untuk melepaskan Tuan Martin hanya karena, aku yang telah meminum racun darinya." Ucap Vena yang melangkah perlahan-lahan sambil tangannya menahan langkah kakinya di semua dinding dan pilar yang ada di rumah itu.


Claire tersenyum saat melihat Vena yang melangkah tertatih-tatih saat keluar dari ruangannya itu.


" Aku akan terus mengawasi dirimu, sebelum kau berhasil menyampaikan perintahku ini,," Ucap Claire yang menatap Vena dari kejauhan sambil tersenyum sinis.


Dari kejauhan Claire memang memandang Vena, tapi, Claire tidak mengetahui bahwa dirinya juga ada yang mengintai gerak-geriknya dari kejauhan yaitu rekaman CCTV pribadi milik Alberto yang selama ini terpasang dan sama sekali tidak diketahui oleh siapapun di rumah itu, selain Alberto dan Axeloe.


****