
Akhirnya Ziya saat ini telah berhasil membuat penemuan yang selalu diajarkan oleh Mamanya selama ini padanya itu, tak terasa walaupun menggunakan jangka waktu seharian penuh alhasil racun yang ia ciptakan itu berhasil dilakukan. Dan, orang pertama yang telah memperlihatkan bukti dari keberhasilannya itu adalah Alberto salah satu orang yang tidak mengetahui bagaimana efek dari racun yang sering diciptakan oleh Zalina selama ini. Dan, ternyata hasilnya sangat memuaskan bagi Ziya dan juga Alberto yang telah merasakan efek racun pada tubuhnya itu.
Pagi harinya Ziya terbangun lebih dahulu dibandingkan Alberto, biasanya setiap pagi Alberto yang lebih duluan bangun daripada dirinya. Hari ini berbeda, Ziya yang terlebih dahulu bangun dibandingkan orang yang selalu menciumi dirinya di pagi hari dengan lembut. Ziya tersenyum melihat dua wajah yang masih tertidur pulas di samping kiri dan kanannya. Karena, posisi tubuh Ziya saat ini tertidur pulas di antara dua orang tercinta yaitu Demian dan Alberto.
" Heeemm, biasanya kau yang sering meninggalkanku di pagi hari, tapi kali ini aku yang bangun terlebih dahulu daripada dirimu, Alberto sayang,," Ucap Ziya yang sengaja mengejek Alberto.
Ziya tersenyum puas, karena, ia sudah berhasil membuat sesuatu agar Alberto dan Demian bisa terlindungi dengan racun buatan dirinya. Setelah merasakan jiwanya telah kembali sepenuhnya di raganya itu, Ziya segera duduk dan merentangkan seluruh bagian-bagian otot pada tubuhnya. Setelah merasa bugar, Ziya sengaja menciumi pipi Demian yang sangat mirip dengan orang di sebelahnya.
" Mmmmuuuuaaaacccchhhh,, Selamat pagi putra Mommy tercinta." Ucap Ziya setelah mencium hangat pipi Demian.
" Kau mirip sekali dengan wajah Daddymu,," Ucap Ziya lagi yang tersenyum menatap wajah Demian.
Lalu, setelah selesai menciumi pipi Demian, Ziya beralih ke sebelah kanannya dimana Alberto yang terlihat masih tertidur pulas. Ziya berpikir Alberto masih tertidur pulas karena, efek racun yang masih ada di tubuh Alberto. Dengan tertawa kecil Ziya mempermainkan wajah Alberto dengan sangat lucu, sehingga membuat Alberto terbangun dari tidurnya.
" Hihihihi, dan kau sayang, mulai saat ini, kau tidak bisa lagi mengganggu aktivitas tidurku,," Ucap Ziya dengan wajah gemas menatap wajah Alberto yang masih tertidur.
Sebenarnya, Alberto sudah lama bangun dari tidurnya namun, efek racun yang baru saja dibuat oleh Ziya itu sangatlah kuat, sehingga membuat dirinya masih sedikit lemah. Namun, tidak selemah seperti malam tadi saat dirinya masuk ke dalam ruangan penelitian Ziya dan terhirup dengan sedikit uap dari hasil penelitiannya itu.
" Daaahhh,, selamat tidur, king handsome,," Ucap Ziya yang sengaja mencubit gemas pipi Alberto.
Lalu, Ziya segera bergeser ke bawah untuk menuruni tempat tidurnya namun, sesaat Ziya kaget ketika sebuah sentuhan tangan yang sengaja memegang pergelangan tangannya.
" Aaahh,," Suara Ziya kaget ketika merasakan pergelangan tangannya dipegang oleh Alberto.
Ziya segera menoleh, melihat tangan Alberto yang memegang erat tangannya itu. Lalu, dengan senyuman lucunya Ziya sedikit mendekati Alberto dan menaikkan kedua alisnya menatap wajah Alberto seakan memberikan pertanyaan.
" Hehehe,, kau sudah bangun,," Ucap Ziya yang terlihat seperti sedang nyengir sendiri.
" Heeemm,," Jawab Alberto dengan suara beratnya.
" Terus ini kenapa tanganku dipegang,," Bilang Ziya yang menunjukkan pergelangan tangannya masih ditahan oleh Alberto.
Lalu, terlihat saat ini Alberto sudah membuka kedua matanya dan menatap tajam wajah Ziya, sambil memegang erat pergelangan tangan Ziya. Ziya sedikit takut ketika melihat tatapan mata Alberto yang begitu tajam menatapnya itu. Seketika Ziya segera mundur kembali ke posisi awalnya dan mendekati Alberto.
" Ada apa ?" Tanya Ziya dengan senyuman manisnya.
" Apa yang kau katakan barusan ?" Tanya Alberto balik pada Ziya yang membuat Ziya bingung.
" Hah!! apa ?" Tanya Ziya lagi yang terlihat bingung dengan perkataannya sendiri.
" Jangan berpura-pura sayang,," Ucap Alberto yang segera duduk dan memutar tubuh Ziya.
Sehingga saat ini posisi tubuh Ziya telah dibawa posisi tubuh Alberto lagi, membuat Ziya menelan salivanya dan menatap mata Alberto dengan senyuman yang dipaksa.
" Alberto,, aku tidak mengatakan apa-apa,," Ucap Ziya dengan posisi tubuh dibawah Alberto.
" Bukannya kau tadi bilang, aku tidak akan bisa lagi mengganggu aktivitas tidurmu,," Bilang Alberto yang membuat Ziya tersenyum karena ketahuan dengan ucapannya tadi.
" Ternyata dia tidak tidur,," Gumam Ziya dalam hati karena, kaget saat mendengar ucapan Alberto yang menyatakan ucapannya tadi.
" Hehehehe, bukan begitu Alberto, aku hanya bercanda,," Ucap Ziya yang sangat manis terlihat saat ini.
Dengan segera Alberto tidak bisa menahan keinginannya untuk menghajar habis bibir Ziya yang begitu manis dalam berbicara ini.
CUP!! Alberto segera menciumi bibir lembut milik Ziya.
Karena, perlakuan yang dilakukan Alberto itu sangat spontan hingga Ziya hanya bisa pasrah atas kelakuan Alberto yang menciumi bibirnya. Setelah cukup lama menciumi bibirnya Ziya dan Ziya terlihat sangat sulit untuk bernapas barulah Alberto melepaskan ciumannya. Dan, tersenyum menang menatap wajah Ziya bahwa apapun yang dilakukan Ziya untuk menolak keinginannya, tidak akan bisa Ziya lakukan, karena, pasti Alberto saja yang jadi pemenangnya.
" Aku pemenangnya, sayang, kau tidak akan pernah bisa lari dari genggamanku,," Ucap Alberto yang tersenyum penuh kemenangan setelah mencium bibir Ziya dengan sangat lama.
" Dasar licik, kau sengaja menciumku ketika aku lengah,," Ucap Ziya yang menampakkan wajah cemberutnya.
" Cepat turun, nanti Demian bangun,," Ucap Ziya yang memerintahkan Alberto untuk turun dari tubuhnya.
Saat Alberto mendengarkan ucapan Ziya seperti itu, bagi Alberto ucapan seperti itu sangatlah lucu. Sebenarnya hari ini, Alberto tidak ingin keluar dari rumahnya melainkan ingin mengikuti pekerjaan Ziya yang dilakukannya dalam penelitiannya itu, namun, masih banyak suatu hal yang harus dikerjakannya.
Alberto segera turun dari tubuh Ziya dan Ziya hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Alberto yang sudah terlihat bugar dibandingkan keadaannya semalam.
" Alberto, bagaimana keadaanmu hari ini ?" Tanya Ziya yang bermaksud untuk mengetahui efek racun itu, apakah masih terasa di dalam tubuhnya.
" Eemmm,, tidak lagi terasa lemah seperti semalam,," Ucap Alberto jujur pada Ziya.
" Bagus, berarti efek racunnya sudah tidak ada lagi," Bilang Ziya yang memeriksa tubuh Alberto.
" Berarti setelah ini aku harus segera membuatnya seperti serbuk, lalu, akan aku gunakan kepada,," Ucap Ziya sendiri yang merasa senang lalu terputus karena, Alberto yang memutuskan omongannya itu.
" Akan kau gunakan kepada siapa ?" Tanya Alberto langsung yang memotong omongan Ziya.
Ziya seketika tersenyum menoleh ke arah Alberto dan menggelengkan kepalanya.
" Hehe, tidak ada,," Bilang Ziya yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Karena, tubuhmu sudah memperlihatkan akan efek dari racun itu, jadi racun ini bisa digunakan untuk melindungi Demian dan juga,," Ucap Ziya yang lagi-lagi terputus karena pertanyaan Alberto.
" Dan juga siapa ?" Tanya Alberto penasaran.
Ziya cukup kesal ketika dirinya ingin benar-benar membicarakan suatu hal yang serius, tapi, Alberto selalu saja memotong perkataannya itu.
" Iiihhhh, Alberto kau ini,," Bilang Ziya kesal yang mencubit lengan Alberto.
" Jadi yang satunya lagi untuk siapa ?" Tanya Alberto lagi yang menatap wajah Ziya dengan tatapan lembut.
" Untukmu,," Jawab Ziya sedikit mengecilkan suaranya.
Saat Alberto mendengarkan ucapan Ziya yang menyatakan satunya lagi untuk dirinya, membuat Alberto tersenyum manis semakin dalam menyayangi Ziya. Lalu, Alberto segera bangkit dari baringnya, menciumi keningnya Ziya dan segera berlalu keluar dari kamar Ziya.
" Aku pergi, jaga dirimu, jangan melakukan apa-apa tanpa sepengetahuanku,," Ucap Alberto yang selalu memberikan peringatan kepada Ziya.
" Heemmm,," Jawab Ziya mengangguk.
Saat Alberto keluar dari kamarnya Ziya terlihatlah Vena dan Melly masuk ke dalam kamar pribadinya. Melly segera menggendong Demian untuk kembali ke kamarnya dan pastinya melakukan aktivitas seperti biasanya, sementara itu, Ziya juga ingin melakukan aktivitasnya yang berkaitan dengan penelitian racun.
Vena selalu standby di dalam kamar untuk menjaga Ziya. Setelah Ziya menyelesaikan aktivitasnya seperti biasa itu, lalu, Ziya masuk ke dalam ruangan penelitiannya dan mengambil sedikit bahan racun itu keluar dari kamarnya. Ziya segera melangkahkan kakinya menuju ke balkon kamarnya untuk mencari udara segar sambil memikirkan kembali dengan bahan racun yang belum dirubahnya menjadi bentuk serbuk.
Saat itu, Vena datang ke kamarnya dengan membawakan makan siang untuk Ziya. Saat mendengar suara Vena, Ziya meletakkan bahan racunnya itu ke atas meja yang berada di samping tempat duduknya dan Vena sama sekali tidak tahu botol itu berisi apa, karena, cuma terlihat seperti sebuah botol yang berisi cairan.
" Nyonya, ini makan siangnya,," Ucap Vena yang meletakkan sebuah nampan makan siang ke atas meja.
" Terima kasih, Vena," Jawab Ziya singkat.
" Silahkan dinikmati, Nyonya,," Ucap Vena yang mempersilahkan Ziya untuk makan.
" Ya, Vena," Jawab Ziya yang segera menyantap makan siangnya.
Setelah selesai menyantap makan siangnya itu, Vena segera membereskan semua peralatan makan bekas Ziya, lalu membawanya keluar dari kamar ini. Vena sekarang tidak merasa takut lagi akan kejadian yang telah terjadi padanya dulu, karena, saat ini dengan sengaja Ziya telah memerintahkan beberapa pengawalnya untuk selalu menjaga Vena dimanapun Vena berada. Sedangkan, Vena sendiri juga tidak merasa keberatan akan perlakuan Ziya terhadap dirinya, bagi, Vena ini merupakan suatu hal yang baik, yang telah diberikan oleh majikannya pada dirinya itu.
Saat ini Ziya sedang duduk sendiri di atas balkon kamarnya yang begitu luas sekali, Ziya sengaja duduk di atas balkon karena, ingin mencari udara segar supaya bisa mendapatkan inspirasi yang baru untuk mengubah bahan tanaman racunnya ini menjadi serbuk. Karena, Ziya sedikit lupa akan pengajaran dari Mamanya itu.
" Apa ya, kenapa aku bisa jadi lupa,," Bilang Ziya yang berusaha untuk mengingatkan suatu pengajaran dari Mamanya.
Saat Ziya sedang fokus memikirkan suatu pengajaran dari Mamanya itu, Ziya merasa kaget ketika ada suara siulan dekat dirinya. Ziya menoleh ke arah kanan tidak ada siapapun disana, lalu, Ziya menoleh ke arah kiri ternyata ada seseorang yang sangat jauh sedang memperhatikan dirinya dengan sorot mata yang begitu liar.
Saat panggilan pertama yang dilakukan Martin untuk dirinya, Ziya pura-pura tidak melihatnya, namun yang kedua dari kejauhan dengan sengaja Martin melemparkan sesuatu yang cukup keras ke arah balkon kamarnya. Ziya terperanjat saat melihat sesuatu yang dilemparkan itu tepat mengenai dinding balkon.
" Iiiihhhh dasar lelaki ja-lang, jika aku tidak bersandiwara menjadi Zoya, sampai mati aku tidak mau berurusan dengan orang sepertimu,," Umpat Ziya yang merasa kesal dengan kelakuan Martin padanya.
Ziya merasa aneh dengan kelakuan Martin padanya, seperti menganggap dirinya itu wanita rendahan yang bisa diajaknya untuk bermain panas. Ziya sengaja tidak mengambil benda yang dilemparkan oleh Martin padanya itu. Namun, Ziya teringat bahwa selama ini ia ingin mencari tahu maksud dari Martin yang selalu mengejar Zoya dan menyukainya.
" Oh God aku hampir lupa dengan rencanaku terhadapnya, baik aku akan berpura-pura terlihat seperti Zoya dan melakukan apa yang telah diucapkan oleh Krystal selama ini pada Zoya." Ucap Ziya dengan segera bangkit dari duduknya.
" Walaupun aku merasa takut dengan hal ini, tapi aku harus bisa untuk mendapatkan semua bukti yang diinginkan oleh Alberto padanya,," Ucap Ziya lagi dengan segera melangkahkan kakinya mengambil suatu benda yang telah dilemparkan oleh Martin padanya.
Hal yang paling penting bagi Ziya adalah suatu hal yang dilakukan Martin saat di kamar Alberto waktu itu, Ziya ingin mengetahui apa maksud dari rencana Martin yang telah berencana melakukan sesuatu di kamarnya Alberto.
Ziya segera mengambil benda yang terlihat seperti kertas dan dibungkus dengan sebuah batu supaya saat dilemparkan tepat mengenai sasaran yaitu balkon kamar Zoya.
Ziya berdiri dan melihat ke arah kirinya ternyata disana masih ada Martin yang tersenyum liar menatapnya, Ziya seakan bertanya apa maksud dari kertas yang dilemparkannya itu. Dan Martin sendiri memberikan kode padanya bahwa ia ingin mengunjungi Ziya di suatu tempat, yang seperti biasa ia lakukan bersama Zoya.
" Dasar gila,," Umpat Ziya kesal akan kelakuan Martin terhadap saudara kembarnya dulu.
Lalu, dengan perlahan Ziya membuka kertas yang telah dilemparkan padanya, saat itu, Ziya membaca isi surat yang telah dituliskan Martin untuk dirinya.
" Aku ingin bertemu denganmu, di tempat biasa dan aku ingin bercumbu denganmu seperti biasanya,," Ucap Ziya saat membaca surat dari Martin, ingin sekali rasanya Ziya muntah saat membaca isi surat ini.
" Uweekkk, siapa juga yang mau dengannya," Umpat Ziya merasa kesal dengan isi surat Martin yang membuat perutnya merasa mual.
Lalu, Ziya kembali membaca isi surat itu dan ternyata kali ini Ziya seperti mendapatkan pencerahan dari isi surat itu.
" Kenapa kemarin kau menolakku Zoya, aku hanya ingin memberikan kejutan padamu, bahwa aku sudah berhasil melakukan sesuatu rencana terhadap orang yang ingin kusingkirkan,," Ucap Ziya lagi saat membaca isi surat Martin yang sebenarnya.
" Oh My God, Maksudnya apa ?" Tanya Ziya sendiri pada dirinya.
Ziya terperanjat saat membaca isi surat yang terakhir bahwa Martin sudah berhasil melakukan sesuatu hal yang sesuai dengan rencananya itu. Lalu, Ziya kembali membaca sambungan isi surat yang masih ada dibawahnya.
" Aku ingin kita bersama, setelah aku berhasil sepenuhnya melenyapkan orang yang selama ini membuatku tidak bisa mendapatkan dirimu,," Ucap Ziya lagi yang semakin terperangah saat membaca isi surat itu.
" Apa,, jadi, selama ini Martin dan Zoya berkomplot untuk melenyapkan Alberto,," Gumam Ziya berpendapat sendiri tentang pikirannya itu.
Ziya menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya terhadap apa yang selama ini dilakukan Martin bersama dengan Zoya. Tapi, Ziya merasa tidak percaya dengan ungkapan Martin padanya itu, tidak mungkin Zoya bekerja sama dengan Martin untuk melenyapkan Alberto. Hanya dengan kesenangan semata yaitu harta berlimpah yang mutlak semuanya dimilki oleh Alberto.
" Tidak mungkin, tidak mungkin Zoya melakukan ini, sekejam apapun saudara kembarku itu, tidak mungkin dia ingin melakukan hal jahat ini kepada suaminya sendiri." Ucap Ziya yang merasa sedikit pusing atas pemikirannya itu.
Lalu, Ziya membacakan lagi isi surat yang dituliskan Martin padanya itu, untuk menelaah kembali isi surat itu yang sebenarnya. Setelah membacanya Ziya sedikit mengerti akan maksud dari pernyataan Martin di dalam surat itu, Ziya berpikir lagi, lebih baik saat ini dia harus memberanikan diri untuk menghadapi keinginan Martin yang tertunda pada dirinya itu.
" Oohhh, aku mengerti maksud darinya ini, dia ingin mendapatkan diriku dan memberitahu apa saja yang telah dilakukannya itu,," Ucap Ziya yang berpikir akan isi surat yang telah dituliskan Martin padanya.
" Baik, aku akan menemuinya langsung dan segera mencari tahu maksud dari kejutannya itu apa,," Bilang Ziya lagi saat merasa yakin akan kekuatan dirinya itu.
Ziya segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu balkon dan segera masuk ke dalam ruangan penelitiannya itu, Ziya ingin segera menyelesaikan penelitian racunnya itu, supaya langsung bisa digunakan untuk melindungi orang yang sangat penting bagi dirinya yaitu keselamatan dari Alberto dan juga Demian.
Setelah masuk, Ziya segera mempercepat penelitiannya itu dimana semua bahan harus dirubah menjadi serbuk supaya bisa dibawa kemana-mana oleh dirinya, seperti saat ia masih remaja dulu, selalu membawa serbuk racun yang diberikan oleh Mamanya.
" Aku harus mempercepat proses penelitian ini, jika tidak aku akan terlambat melindungi keluargaku,," Ucap Ziya yang bergegas memakai baju khusus di ruangan penelitiannya.
Di dalam ruangan itu, bisa dilihat bahwa Ziya sangat sibuk sekali dengan semua botol yang ada, hari semakin lama semakin sore, sementara itu, Vena baru saja datang ke kamarnya dan melihat pintu balkon sudah ditutup, Vena mencari-cari keberadaan Ziya. Dan, terlihat sekali ciri di depan pintu ruangan khusus milik Ziya ada sepatu Ziya yang diletakkannya di depan kamar itu, Vena menghembuskan napas leganya.
Di dalam ruangan khususnya itu, Ziya merasa senang dan gembira saat melihat perubahan yang terjadi dengan bahan beracunnya selama ini, dan ternyata bisa diubah menjadi serbuk ketika Ziya tidak sengaja memasukkan selembar kertas ke dalam bahan itu.
" Haah!! Oh My God berhasil,," Teriak Ziya senang dari dalam.
Namun suaranya itu sama sekali tidak terdengar oleh orang yang sedang menunggunya diluar yaitu Vena. Ziya tersenyum senang saat melihat semua bahan penelitiannya itu telah berhasil berubah menjadi bentuk serbuk.
" Baik, aku akan menerima tantanganmu Martin," Ucap Ziya sambil melihat benda yang dipegangnya itu yaitu, beberapa bungkus serbuk racun yang sudah ditelitinya selama dua hari ini.
" Benar yang dikatakan Alberto, dia memang bodoh untuk bisa mengalahkan kepintaran Alberto, dan sekarang aku ingin tahu apa yang selama ini kau inginkan dengan memperalat saudara kembarku Zoya." Ucap Ziya yang menatap tajam ke depan seakan di depannya ada Martin yang ingin sekali Ziya robek wajahnya.
Lalu, Ziya berpikir dengan kejadian yang terjadi pada Zoya selama tinggal disini. Ziya berpikir sepertinya selama Zoya tinggal disini pasti selalu dihina, dilecehkan bahkan dijadikan budak oleh orang-orang yang telah terlihat rencana jahatnya itu.
" Apa mungkin selama ini Zoya tertekan berada disini,,?" Tanya Ziya sendiri dengan pikirannya itu.
" Apa mungkin selama ini Zoya tidak merasa bahagia hidup disini ?" Tanya Ziya lagi dengan pemikirannya itu.
" Baik, aku akan mencari tahu semua kebenarannya dari Martin. Seperti apa yang dikatakan Martin dia sudah berhasil melakukan sesuatu rencana yang diinginkannya, sepertinya dia tidak sendiri melakukan rencana besar ini, pasti ada orang lain yang mendukung rencananya itu terhadap Alberto." Bilang Ziya lagi sambil melepas baju khususnya.
Lalu, Ziya membuka pintu ruangan penelitiannya itu dan melihat bahwa Vena saat ini sedang tertidur di atas sofa sambil menunggu dirinya.
" Apakah aku harus memberitahu Vena akan rencanaku ini," Pikir Ziya saat melihat Vena yang tertidur di sofa.
Tapi, apakah Vena bisa dipercaya untuk menyimpan rahasiaku ini,," Bilang Ziya lagi saat menatap Vena yang sedang tertidur.
Ziya ingin memberitahu Vena tentang apa yang ingin dilakukannya itu, namun Ziya merasa belum percaya dengan Vena, jika nanti rencananya baru berjalan setengah tapi sudah ketahuan Alberto. Ziya berpikir lagi untuk mengajak Vena atas misinya ini. Lalu, Ziya teringat dengan kejadian yang terjadi pada Vena beberapa waktu yang lalu, bahwa Vena berani menjadi perisai untuk keselamatan dirinya.
" Sepertinya, aku harus membawa Vena atas misi yang kulakukan ini, jika aku sendiri maka Alberto akan cepat mengetahui semua rencana yang kulakukan ini." Ucap Ziya yang melangkah mendekati Vena.
Ziya sangat yakin jika Vena adalah orang yang bisa dipercaya untuk melakukan suatu tugas darinya. Oleh sebab itu, Ziya juga melibatkan Vena untuk masuk dalam rencananya ini.
" Vena," Sapa Ziya yang membangunkan Vena dari tidurnya itu.
Karena, sudah tertidur cukup pulas, Vena kaget saat mendengar suara Ziya memanggil dirinya.
" Aakkh, Iya Nyonya ada apa,," Ucap Vena yang segera bangkit dari tidurnya dan berdiri.
Ziya sedikit tertawa melihat kelakuan Vena yang masih saja bersikap canggung di depannya. Lalu, Ziya segera menyuruh Vena untuk duduk kembali.
" Duduk," Ucap Ziya lembut pada Vena.
Vena segera duduk dan menatap wajah Ziya dengan perasaan takut, karena, merasa bahwa dirinya telah bersalah, dia dikhususkan bekerja untuk menjaga Ziya malah di enak-enakan tidur di atas sofa.
" Maafkan, saya Nyonya jika saya tertidur,," Ucap Vena menundukkan kepalanya di hadapan Ziya.
" Jangan takut Vena, aku sudah seringkali katakan jangan pernah menganggapku seperti seorang majikan, tapi anggaplah aku seperti seorang saudara atau teman bagimu, mengerti,," Ucap Ziya yang selalu meyakinkan Vena atas anggapannya selama ini.
" Baik Nyonya,," Jawab Vena mengangguk.
" Sebenarnya ada yang ingin kusampaikan padamu,," Ucap Ziya dengan tatapan ke depan.
" Apa itu Nyonya ?" Tanya Vena langsung menoleh ke arah Ziya.
" Apakah kau ingin membantuku untuk melakukan suatu rencana ?" Tanya Ziya yang menoleh ke arah Vena.
" Ya, Nyonya pasti akan aku lakukan, karena aku adalah asisten pribadimu,," Jawab Vena mantap dan yakin terhadap Ziya.
" Baik, aku mempercayaimu untuk melakukan hal ini, Vena,," Bilang Ziya lagi dengan tersenyum lembut menatap Vena.
" Sedikit mendekat,," Ucap Ziya yang memerintahkan Vena untuk mendekati telinganya pada mulutnya.
Vena langsung mengerti dan segera mendekati Ziya. Lalu, Ziya segera membicarakan suatu hal yang telah terjadi padanya dan rencana yang dimilikinya terhadap Martin. Vena sangat terperangah mendengar ucapan Ziya itu, awalnya Vena takut akan keselamatan majikannya ini, namun, Ziya telah meyakinkan Vena untuk tetap melakukan hal ini. Vena hanya bisa pasrah merasa cemas dan takut untuk melakukan rencana besar dari majikannya itu. Vena cuma berharap semoga rencana besar dari majikannya itu bisa berhasil.
****