Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 111 - Undangan Pesta



Ketika Daniel menyebutkan Ziya dan Zoya adalah kemungkinan besar putri dari Zalina. Alberto terlihat menganggukkan kepalanya menandakan bahwa dia juga setuju, seakan mengerti maksud dari ucapan Daniel padanya.


" Jika benar mereka adalah putri Zalina, maka dengan mudah juga mereka akan membantu rahasia yang kau simpan selama ini dengan bantuan dari orang tuanya." Ucap Daniel lagi yang menambah kepercayaan Alberto pada kemampuan Ziya.


" Yeah, kau betul Daniel,," Jawab Alberto mengangguk.


Menurut Alberto saat ini ucapan Daniel sangat benar sekali sehingga membuat dirinya yakin bahwa kemungkinan besar istrinya Ziya bisa membantu rahasianya yang tertutup selama ini.


" Dan, saat kau bilang, bahwa dia sama seperti aku dan Axeloe yang memahami tentang penawar racun. Maka saat itu juga, aku berpikir, tentang apa kejadian yang pernah ku lihat dulu,," Ucap Daniel yang berbicara serius pada Alberto.


" Dan kau tahu, Dude, sepertinya dia bukan hanya mengerti akan penawar racun melainkan mengerti cara pembuatan racun." Ucap Daniel lagi yang terdengar seperti membanggakan kehebatan Ziya.


Alberto sedikit tergelak saat mendengar ucapan Daniel yang mengira bahwa Ziya sebenarnya bukan hanya mengerti reaksi penawar racun, melainkan juga mampu untuk membuat racun.


" Cuma sedikit wanita yang pintar dan mengerti atas semua racun di dunia ini, Dude yaitu sahabat Aunty Frisca, Zalina." Bilang Daniel lagi yang membuat Alberto semakin berpikir keras atas penyampaian informasi yang disampaikan oleh Daniel saat ini.


" Yeah kau benar sekali, Daniel,," Ucap Alberto seketika membuat Daniel juga menganggukkan kepalanya.


Dalam seketika Daniel berpikir bahwa kemungkinan besar istri Alberto saat ini, bisa membantu Alberto dalam mengungkapkan semua rahasia besar dalam kehidupannya selama ini.


" Alberto, apa yang harus kau lakukan,, aku akan selalu siap membantumu untuk memecahkan rahasia ini, membongkar rahasia yang telah lama kau simpan selama ini,," Ucap Daniel yang membuat Alberto semangat untuk mendapatkan hasil dari rahasia kehidupannya.


" Terima kasih, Daniel, atas kesetiaan yang kau berikan padaku." Bilang Alberto pada Daniel sambil tersenyum terlihat seperti sedang merencanakan sesuatu.


Sehingga membuat Daniel tersenyum tulus, karena, saat ini dirinya akan bisa membantu temannya untuk membuka semua masalah-masalah yang selama ini seakan tenggelam. Menjadikan beberapa pelaku bisa hidup tenang disaat Alberto dan Axeloe pusing memikirkan siapa sebenarnya otak dari masalah yang selama ini menjadi pertanyaan besar di dalam pikirannya.


" Ok, kapanpun rencana itu beraksi, aku akan siap,," Ucap Daniel lagi yang membuat Alberto semakin yakin atas sikap teman-temannya itu.


" Hemm,," Jawab Alberto mengangguk.


Daniel berpikir sepertinya saat ini cukup baginya untuk membicarakan sesuatu hal penting pada Alberto. Dan, Daniel juga masih memiliki tugas lainnya di rumah sakit. Oleh sebab itu, Daniel segera meminta izin kepada Alberto untuk kembali ke rumah sakit.


" Ok, Dude, karena pembicaraan telah selesai,, aku akan kembali ke rumah sakit,," Ucap Daniel pada Alberto, karena saat ini masih jam Daniel untuk melakukan penelitiannya di rumah sakit.


Alberto yang mendengarkan ucapan Daniel meminta izin darinya untuk kembali lagi ke rumah sakit, terbersit Alberto mengingat akan Vena yang sedang di rawat di rumah sakit. Alberto segera menanyakan bagaimana keadaan Vena saat ini, Alberto merasa Ziya akan lebih aman lagi jika Ziya memiliki seorang asisten pribadi.


Tidak seperti saat ini, Ziya harus melakukan apa-apa saja sendiri, tapi, jika Ziya memiliki asisten pribadi yang begitu jujur dan tulus seperti Vena, maka Alberto tidak akan terlalu khawatir akan diri Ziya yang ditinggalkannya di rumah.


" Kau ingin kembali ke rumah sakit,," Tanya Alberto sedikit pada Daniel.


" Yes Dude,," Jawab Daniel seketika mengambil jas dokternya dan stetoskop yang ia letakkan di atas sofa.


" Aku ingin tahu, bagaimana keadaan, Vena,," Tanya Alberto seketika pada Daniel.


Daniel diam sejenak mengerutkan dahinya dan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Ternyata tindakan yang sedang dilakukannya itu ialah mengingat ucapan Dokter dan perawat yang merawat Vena saat di rumah sakit.


" Menurut Dokter yang merawat Vena di rumah sakit, sebenarnya hari ini Vena sudah bisa kembali ke kediaman mu, Dude,," Jawab Daniel yang menjelaskan keadaan Vena di rumah sakit.


" Cuma, kalau kembali hari ini, akan terlalu cepat bagi tubuh Vena untuk melakukan aktivitasnya, jadi kemungkinan besok dia akan pulang,," Ucap Daniel lagi yang menjelaskan keadaan Vena saat ini memang sudah membaik, namun belum bisa untuk melakukan aktivitasnya.


" Oohh, begitu, baiklah,," Jawab Alberto mengangguk mengerti akan ucapan yang disampaikan oleh Daniel.


Daniel sedikit penasaran dengan wajah Alberto yang terlihat sedikit khawatir itu.


" Memangnya ada apa, Dude,," Tanya Daniel lagi.


" Aaahh tidak, jika Vena cepat kembali, maka dia tidak akan sendiri di rumah,," Jawab Alberto yang matanya memandang ke depan seperti sedang menerawang keadaan Ziya saat ini.


Daniel sedikit geli mendengar ucapan Alberto yang seakan memperhatikan keadaan Ziya. Dan, sangat terlihat bahwa saat ini Alberto telah merasakan perasaan yang begitu mendalam terhadap wanita yang menunggu dirinya di rumah.


" Hahahaha,, ternyata kau masih punya hati dan perasaan, Dude." Ledek Daniel pada Alberto.


Alberto yang mendengarkan ucapan Daniel merasa bahwa Daniel sedang meledek dirinya dengan segera menyuruh Daniel pergi dari tempatnya ini. Alberto terdengar sedikit mendengus sebelum ucapannya keluar untuk mengusir Daniel.


" Dasar kau,, pergi sana,," Ucap Alberto yang sengaja mengusir Daniel.


" Hahaha,, Ok Dude,," Jawab Daniel seraya tertawa sambil keluar dari ruangan Alberto.


Saat Alberto sedang sendirian di dalam ruangannya itu, Alberto berpikir bahwa saat ini dirinya harus segera meminta Zavier untuk kembali ke negaranya.


" Sepertinya, saat ini aku harus meminta Zavier untuk kembali,," Ucap Alberto yang sedang berpikir seperti sedang merencanakan sesuatu.


Dengan segera, Alberto menghubungi Zavier yang saat ini sedang berlibur di luar negeri, pastinya di negara Australia tepatnya sedang mengawasi dan memantau Zoya bersama kekasihnya itu.


Dering pertama langsung diterima oleh Zavier.


" Halo, Dude,," Ucap Zavier yang terdengar oleh Alberto.


" Hemm,," Jawab Alberto yang cuma berdehem dalam teleponnya.


" Ada apa,," Tanya Zavier pada Alberto.


" Aku ingin kau segera kembali ke Perancis,," Ucap Alberto yang memerintahkan Zavier untuk kembali lagi ke Perancis.


Terdengar saat ini Zavier tidak mengeluarkan suara, sepertinya sedang memikirkan sesuatu atas perintahan dari Alberto.


" Ada apa, apakah di Perancis sedang ada masalah,," Tanya Zavier pada Alberto dan terdengar begitu serius sekali.


" Heemm,, aku membutuhkan bantuan mu saat ini juga,," Ucap Alberto pada Zavier yang telah mengucapkan tujuannya.


" Baik, Dude,," Ucap Zavier menyetujui permintaan Alberto.


" Terus bagaimana misi rahasia yang kulakukan disini,," Tanya Zavier lagi pada Alberto.


Memang benar saat ini Zavier sedang berada di Australia karena dia telah memiliki misi rahasia yang diperintahkan oleh Alberto padanya.


" Misi rahasia yang kau lakukan disana, bisa kau berikan sementara pada pengintai yang kau kirim,," Ucap Alberto pada Zavier.


" Oke Dude,, aku akan segera kembali,," Jawab Zavier yang menyetujui perintahan dari Alberto


Dalam seketika, Alberto ingin segera memutuskan teleponnya tapi, terdengar suara Zavier sedang menyampaikan sesuatu padanya.


Alberto memikirkan kejutan apalagi yang akan diberikan Zavier untuknya. Dalam seketika Alberto segera menjawab perkataan Zavier yang akan memberikannya hadiah.


" Memangnya hadiah apa,?" Tanya Alberto seketika membuat Zavier terkekeh.


" Hahahaha,, aku akan memberitahukan mu saat aku tiba disana,," Ucap Zavier seolah membuat Alberto semakin penasaran.


" Heh!! Oke," Jawab Alberto sedikit mendengus seolah kesal atas sikap Zavier yang selalu membuat kepalanya pusing memikirkan suatu hal yang disampaikan olehnya itu.


Dengan segera Alberto memutuskan teleponnya pada Zavier. Lalu, Alberto segera keluar dari markasnya ini untuk kembali ke kediamannya. Bertemu dengan istri cantiknya Ziya dan bermain bersama dengan putranya Demian. Sesaat Alberto mendapatkan telepon dari asistennya yang berada di kantor utama Alexandre.


Alberto segera menerima telepon itu.


" Ada apa,," Tanya Alberto pada asisten pribadinya yang sedang berada di kantor.


" Begini, Tuan, baru saja dari perusahaan yang telah ikut berbisnis dengan perusahaan kita memberikan undangan pesta untuk dihadiri oleh Tuan dan Nyonya." Ucap asisten pribadi Alberto memberitahukan bahwa saat ini perusahaan grup A milik Alexandre telah mendapatkan undangan pesta untuk dirinya.


" Undangan pesta,," Ucap Alberto seketika berpikir sejenak.


" Ya, Tuan," Jawab asisten pribadi Alberto.


" Antarkan langsung ke rumahku,," Ucap Alberto yang memerintahkan segera asistennya itu untuk mengantarkan undangan pesta itu ke rumahnya langsung.


" Baik, Tuan,," Jawabnya.


Seketika, Alberto teringat bahwa dia perlu mengambil sesuatu di kantornya. Oleh sebab itu, Alberto sendiri pergi ke kantor saat ini juga.


" Tunggu,, biar saya sendiri yang ke kantor,," Ucap Alberto pada asistennya.


" Tapi, tidak apa-apa, Tuan kalau saya yang mengantarkan undangan ini ke rumah,," Pinta asisten Alberto.


" Tidak perlu,, aku akan segera ke kantor,," Ucap Alberto seketika membuat asisten itu segera mengiyakan.


" Ya, Tuan,," Jawab asisten pribadi Alberto.


Setelah selesai menerima telepon dari asistennya itu dengan segera Alberto keluar dari markasnya dan segera pergi ke kantor utama yaitu kantor Grup A Alexandre. Saat keluar dari ruangannya, Alberto berpikir sudah lama dirinya tidak pergi ke sebuah pesta, tapi itu tidak penting baginya, karena, sebuah pesta yang telah membuat dirinya lupa akan sesuatu.


" Undangan pesta,," Ucap Alberto sendiri yang berpikir sejenak akan informasi yang ia dapat dari asistennya yaitu tentang undangan pesta.


" Heemm sepertinya itu tidak penting bagiku,," Ucap Alberto lagi sambil memikirkan bahwa sebuah pesta tidak penting bagi dirinya.


Lalu, dalam sejenak Alberto berpikir bahwa Ziya selama masuk dalam kehidupannya, Ziya sama sekali belum pernah keluar dari kediamannya dan berpesta seperti para istri-istri petinggi lainnya, bertemu dengan semua petinggi di perusahaan miliknya.


" Sepertinya dia belum pernah pergi keluar dan berpesta,," Ucap Alberto yang memikirkan keadaan Ziya.


" Baik, aku akan memberikan kebebasan baginya untuk merasakan bagaimana rasanya dihormati oleh banyak orang." Gumam Alberto lagi sambil tersenyum membayangkan wajah Ziya yang terlihat bahagia saat dirinya bisa keluar dari kediaman Alberto.


Saat ini waktunya Alberto untuk membahagiakan Ziya, karena, pastinya Ziya akan merasa bahwa dirinya begitu dihormati, diagungkan dan bahkan banyak disukai oleh orang. Karena, dia merupakan istri dari pemilik perusahaan terbesar di Perancis ini.


Dan juga pastinya istri dari mafia yang terkenal di negaranya ini. Sungguh bangganya Ziya saat dirinya bisa keluar dari kediaman Alberto, bukan hanya ingin pergi ke sebuah pesta, melainkan bisa keluar menghirup udara segar di daerah bagian luar kediaman Alexandre.


Sebelum Alberto menaiki mobilnya, dengan segera Alberto memerintahkan pengawalnya untuk pergi menuju kantor perusahaan grup A milik Alexandre.


" Kantor A,," Ucap Alberto yang memerintahkan supir dan pengawalnya untuk segera meluncur ke kantor A.


Sementara itu,,


Di dalam kediaman Alberto dan tepatnya di kamar pribadi Alberto, Ziya yang sedang mondar-mandir di kamarnya, masih merasa sendiri dan kesepian.


" Heemm, masih berapa lama lagi, Demian pulang,," Ucap Ziya saat matanya menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


" Huuuhh,, sepertinya masih lama,," Gumam Ziya setelah melihat jarum jam di tangannya.


Ziya merasa bahwa dirinya bosan jika seharian tanpa ada orang yang berada di sisinya untuk mengajaknya berbicara. Ya, setidaknya, anak lucu yang selalu jahil akan dirinya, yaitu Demian.


" Demian, Mommy kangen,," Ucap Ziya yang masih stay berdiri di dekat jendela menatap mobil yang terlihat seperti masuk ke kediamannya itu.


Satu mobil pun tidak ada yang masuk ke dalam kediamannya saat ini, sehingga membuat Ziya harus segera berpikir bagaimana caranya dia bisa membantu Alberto untuk mendapatkan jawaban dari pikiran Martin.


" Aku harus bagaimana,," Pikir Ziya dalam hatinya.


" Jika, aku ingin mendapatkan rahasia dari pikiran Martin, maka aku harus bisa untuk merayunya,, tapi, bagaimana cara merayu Martin, masa harus bersandiwara menjadi Zoya dan melakukan,,," Ucap Ziya seakan terputus ketika pikirannya teringat akan melakukan hal-hal lain yang berhubungan dengan keseriusan antara suami dan istri.


" Aahhh,, tidak, tidak, itu tidak mungkin,," Ucap Ziya yang menggelengkan kepalanya.


" Aahhh,, sepertinya aku harus melakukan sesuatu akan kemampuan ku yang dulu,," Ucap Ziya yang menjelentikkan jari-jarinya untuk merencanakan sesuatu.


Sepertinya, saat ini semangat Ziya telah kembali, dan pikirannya pun sama sekali tidak terpuruk lagi akan sikap dari Alberto dulu padanya.


Karena, saat ini Ziya telah mendapatkan izin dari Alberto untuk pergi keluar dari kamar, Ziya kembali bersemangat untuk melakukan sesuatu hal yang sesuai dengan kemampuannya itu.


" Aku akan melakukan hal penting dulu, Istana Alexandre ini begitu luas dan tanamannya juga banyak, pasti akan ada tanaman yang akan membuatku berkarya lagi." Ucap Ziya seolah tersenyum karena api semangat dalam tubuhnya sedang berkobar-kobar.


Apalagi kalau bukan mencari tanaman yang bisa membuahkan hasil dari kemampuannya selama ini. Kemampuan Ziya ini di dapatkan dari kepintaran dan kemampuan Ibunya yaitu Zalina.


Sesaat, Ziya teringat akan ucapan Alberto bahwa dirinya sama sekali tidak diperbolehkan untuk keluar dari kamarnya sebelum Demian pulang dan pastinya juga Alberto.


" Tapi, Alberto, sendiri yang mengatakan bahwa aku tidak boleh keluar,," Ucap Ziya sembari cemberut atas perintahan Alberto pada dirinya.


" Bagaimana aku bisa membantumu, kalau aku masih terkurung di dalam kamar ini,," Gumam Ziya lagi yang menundukkan kepalanya.


Karena, saat ini, Alberto sedang pergi keluar kantor dan juga Vena sang asisten belum kembali ke kediaman, sementara itu Ziya hanya seorang diri, oleh sebab itu, dengan sengaja Alberto tidak menyuruh Ziya untuk keluar.


" Alberto,, apakah aku bisa keluar,," Teriak Ziya seketika di dalam kamarnya.


Ziya sengaja berteriak di dalam kamarnya itu, secara tidak langsung memberitahukan Alberto bahwa, ia sangat ingin keluar dari kamar ini.


Melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Yaitu membuat hasil karya kemampuannya terdahulu. Yang sudah lama tidak ia lakukan.


****