
Cuaca saat ini berganti menjadi senja, sehingga, membuat Alberto sedikit terbangun ketika mendengarkan suara ponselnya yang sedang berbunyi di dalam saku jas yang diletakkan di atas meja samping tempat tidurnya itu, sambil membuka matanya perlahan Alberto mengambil jasnya itu dan langsung merogoh ponselnya. Sambil menerima panggilan telepon yang sedang menghubunginya itu, Alberto sedikit melirik ke arah Ziya, melihat respon Ziya, apakah Ziya terbangun dari tidurnya saat ini.
Alberto melihat layar ponselnya bahwa yang menghubunginya saat ini adalah Melly baby sitter dari putranya sendiri Demian. Dengan segera Alberto mengangkatnya karena, pasti yang meneleponnya itu adalah Demian putranya yang begitu ia banggakan.
" Ya ada apa ?" Tanya Alberto ketika mengangkat telepon dari Melly.
" Halo Daddy, dimana Mommy ?" Tanya Demian langsung kepada Alberto yang suaranya terdengar nyaring pada ponsel Alberto.
" Demi, Mommy sedang tidur di kamar Daddy,," Jawab Alberto santai sekaligus ingin menggoda putra kesayangannya itu.
Alberto semakin menyayangi putranya Demian, ketika ia tahu jelas bahwa Demian adalah putra yang telah dilahirkan oleh Ziya seorang wanita di malam itu yang tidak sengaja menjadi bahan pelampiasan hasrat Alberto.
" Iiihhhh Daddy, Mommy itu miliknya Demi, jadi, sekalang buka pintunya, Demi mau masuk,," Ucap Demian yang terdengar sedang memaksakan Alberto untuk menuruti kehendaknya.
" Hihihi, Daddy tidak mau bagaimana sayang ?" Tanya Alberto sengaja menggoda Demian.
" Pokoknya, sekalang pintunya halus dibuka,," Pinta Demian yang terdengar begitu memaksa.
" Hahahaha Oke Putranya Daddy, sekarang Daddy buka pintunya, tunggu sebentar,," Jawab Alberto sambil menurunkan dirinya dari tempat tidur.
Saat Alberto akan turun dari tempat tidurnya, terlihat Ziya seperti meringis dalam tidurnya, sehingga Alberto kembali naik ke atas tempat tidur dan segera menimang Ziya lagi seperti seorang ayah yang sedang menimang anaknya.
" Ada apa sayang, heemm ?" Tanya Alberto lembut pada Ziya.
" Jangan, jangan, ambil,," Gumam Ziya dalam tidurnya.
" Apa sayang, apa yang kau katakan ?" Tanya Alberto yang begitu penasaran dengan ucapan igauan Ziya.
Karena, tidak terlalu mendengar ucapan yang sedang digumamkan oleh Ziya, Alberto segera mendekatkan telinganya tepat di dekat mulutnya Ziya yang sedang mengigau.
" Jangan, jangan,, aku mohon jangan ambil,," Ucap Ziya yang terbata-bata dan terdengar oleh Alberto.
Sungguh terhenyak Alberto mendengar ucapan Ziya yang sedang mengigau itu dan juga terlihat saat ini kondisi Ziya yang sedang bermimpi dalam ketakutan dan juga tampak dari dahinya mengeluarkan keringat dingin. Sambil mengelap dahi Ziya menggunakan tangannya itu, wajah Alberto sungguh terlihat jelas begitu mencemaskan keadaan Ziya saat ini. Sehingga Alberto sendiri seakan lupa dengan Demian yang sedang menunggu kedatangannya untuk membukakan pintu kamarnya itu.
" Oh God, Ziya sedang bermimpi apa ?" Tanya Alberto sambil mengusap dahi Ziya menggunakan tangannya sendiri.
" Kenapa sepertinya ia begitu merasa ketakutan sekali,," Ucap Alberto yang berniat untuk membangunkan Ziya dari tidurnya.
" Lebih baik aku bangunkan Ziya sekarang, daripada dia harus menderita dalam mimpinya ini,," Gumam Alberto langsung menggoyangkan tubuhnya Ziya.
Dengan segera Alberto segera menggoyangkan tubuhnya Ziya, karena, sebenarnya Alberto tidak sanggup melihat Ziya menderita dalam keadaan mimpinya itu.
" Sayang, sayang, bangun,," Bilang Alberto sambil menggoyangkan tubuhnya Ziya.
" Daddy !!" Suara Demian yang terdengar begitu nyaring di dalam ponselnya itu.
Karena, adanya suara Demian yang berteriak memanggil Alberto, sehingga Ziya langsung tersadar dan secara spontan bangun dari tidurnya. Sehingga hal itu membuat Alberto kaget melihat mata Ziya yang menatap tajam ke depan.
" Jangan !!" Teriak Ziya kaget dan langsung bangkit dari baringnya.
" Sayang, ada apa ?" Tanya Alberto spontan melihat keadaan Ziya yang spontan bangun dari baringnya namun mata Ziya masih menatap kosong ke depan.
" Daddy !!" Teriak Demian lagi yang terdengar dari ponselnya dan membuat Ziya langsung menoleh ke arah ponsel Alberto.
" Dimana Demian ?" Tanya Ziya langsung pada Alberto.
" Aaahh Demi, ada sayang,," Jawab Alberto langsung kepada Ziya.
" Aku ingin segera bertemu Demi, bawa Demi sekarang juga ke hadapanku, aku mohon,," Pinta Ziya kepada Alberto seperti sedang memohonkan sesuatu.
" Baik sayang, tunggu sebentar,," Ucap Alberto dengan segera pergi meninggalkan Ziya.
Tanpa mengangguk ataupun menjawab pertanyaan dari Alberto, Ziya hanya termangu menatap serius ke depan. Dengan segera Alberto berlari menuju ke arah pintu kamarnya dan segera membuka pintu kamar itu, setelah terbuka tanpa melihat wajah Alberto lagi langsung saja si kecil Demian yang lucu masuk ke dalam kamar dan langsung berlari menuju ke arah tempat tidur.
" Mommy !!" Teriak Demian yang berlari langsung menuju ke ruangan khusus tempat tidur kamar Alberto.
Alberto hanya bisa tersenyum melihat kelakuan manis dari putranya itu. Dan, Alberto sendiri menanyakan aktivitas keseharian Demian hari ini, karena, Alberto memang setiap harinya mengetahui aktivitas keseharian yang dilakukan Demian.
" Bagaimana aktivitas keseharian Demian hari ini ?" Tanya Alberto langsung pada Melly.
" Aktivitas keseharian Tuan Muda seperti biasanya Tuan dan hari ini juga Tuan Muda baru saja menyelesaikan ujian pelajaran khusus yang telah diberikan oleh guru private nya Tuan,," Jawab Melly dengan jujur menjelaskan aktivitas yang sudah dilakukan Demian hari ini.
" Bagus, apakah Demian sudah makan ?" Tanya Alberto lagi pada baby sitter anaknya ini.
" Sudah semuanya Tuan,," Jawab Melly dengan jelas.
" Ya sudah kau bisa pergi,," Gumam Alberto yang memberi kesempatan baby sitter Demian untuk berisitirahat.
" Terima kasih, Tuan,," Jawab Melly sambil memberikan hormat kepada Tuan Besarnya ini.
" Oh ya sampaikan kepada Vena, apabila dia sudah menyelesaikan tugasnya, katakan padanya bahwa ia sudah bisa untuk berisitirahat." Bilang Alberto yang menyampaikan pesannya kepada Melly.
" Baik Tuan segera saya sampaikan,," Ucap Melly lagi sambil menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Alberto.
Setelah merasa puas mendengar hasil laporan dari Melly tentang aktivitas sehari-hari Demian yang setiap harinya selalu saja disibukkan dengan berbagai kegiatan itu, membuat Alberto begitu merasa bangga memiliki putra seperti Demian yang tidak pernah membantah akan perintahnya dalam mempelajari semua ilmu pelajaran di usia mudanya ini.
Lalu, Alberto kembali melangkah masuk ke dalam kamar pribadinya dan melihat dua orang yang begitu ia sayangi sedang bercengkrama bersama. Betapa bahagianya Alberto ketika melihat dua orang yang telah terpisah lama ini akhirnya bisa bersatu dan bersama kembali walaupun keduanya sama-sama tidak mengetahui bahwa mereka berdua memiliki hubungan yang begitu erat sekali.
Sebenarnya Alberto ingin memberitahukan kepada Ziya bahwa Demian adalah putra kandung mereka berdua, namun hal itu diurungkan oleh Alberto karena, Alberto tidak sanggup melihat Ziya mengalami penderitaan yang menahan rasa sakit di kepalanya itu. Oleh sebab itu Alberto hanya bisa tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang sedang terjadi di hadapannya ini.
Sebenarnya Alberto ingin memberitahukan kepada Ziya bahwa Demian adalah putra kandung mereka berdua, namun hal itu diurungkan oleh Alberto karena, Alberto tidak sanggup melihat Ziya mengalami penderitaan yang menahan rasa sakit di kepalanya itu. Oleh sebab itu Alberto hanya bisa tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang sedang terjadi di hadapannya ini.
" Mommy, Demian mau main sama Mommy,," Ucap Demian sambil menaiki tempat tidur di kamar Alberto.
Saat Demian berlari-lari kecil menuju ke ruang dimana ruangan itu adalah tempat khusus untuk Alberto berisitirahat, Ziya tersenyum bernafas lega seakan napasnya yang baru saja hilang telah didapatkannya lagi.
" Demi, sayang, Mommy kangen kamu nak,," Gumam Ziya langsung tersenyum dan merentangkan tangannya membantu Demian untuk naik di atas tempat tidurnya.
" Demi juga, Daddy nakal masa Daddy mau ambil Mommy untuk Daddy sendilian,," Ucap Demian yang mengadukan perkataan Alberto di telpon tadi saat menggoda dirinya.
" Hah! benarkah sayang ?" Tanya Ziya sambil memeluk erat tubuh putranya itu.
" He'em Mom,," Jawab Demian mengangguk dan seolah begitu manja sekali kepada Ziya.
Saat Alberto menghampiri kedua orang yang begitu ia cintai ini, Alberto tersenyum ketika melihat tingkah Demian yang begitu manja di hadapan Ziya. Seolah Demian sendiri tahu siapa sebenarnya Mommy kandungnya itu, sungguh berbeda sekali kasih sayang yang selama ini diberikan Zoya kepadanya dibandingkan kasih sayang Ziya saat ini.
" Demi sengaja mengadu sama Mommy ya ?" Tanya Alberto menatap wajah Demian tepat di depan dadanya Ziya.
" Bukannya sengaja mengadu, tapi memang benal, bahwa Daddy ingin merebut Mommy sendili dali Demian," Jawab Demian yang terdengar begitu lucu bagi Ziya maupun Alberto.
" Hahaha, Daddy tidak akan merebut Mommy dari Demian ya, karena, Mommy ini hanya khusus untuk Demian saja,," Gumam Alberto sambil tersenyum dan mencolek pipi Demian yang lucu.
" Heemm memang betul,," Jawab Demian mengangguk.
Lalu, Alberto tersenyum sambil berpikir lain terhadap Ziya dan juga Demian.
" Demi sayang, Mommy kalau sedang bangun dan membuka matanya memang untuk Demian, tapi sebelum Mommy Demian ini tidur akan menjadi milik Daddy seutuhnya,," Ucap Alberto dalam hati yang berpikir nakal terhadap Ziya.
Oleh sebab itu, Alberto begitu menghargai kebaikan dan ketulusan yang diberikan Ziya kepadanya itu, tidak ada kata terlambat bagi Alberto untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukannya selama ini terhadap Ziya. Karena, bagi Alberto keinginannya saat ini hanya satu yaitu bisa membahagiakan Ziya dan anak-anak yang akan dilahirkan oleh Ziya sebagai ibu kandung dari anak-anaknya itu.
Hari sudah semakin meninggalkan cahaya terangnya dan saat ini suasana sudah cukup gelap untuk suasana di luar rumah. Terlihatlah Isabelle yang baru saja kembali dari sekolahnya dan sedang berjalan menuju ke arah istana kedua. Krystal saat ini sudah merasa bahagia dan cukup tenang karena, sudah mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu yang begitu baik seperti Ziya. Walaupun Ziya seorang Ibu tirinya, namun Ziya begitu berbeda dengan Ibu tiri yang lain. Dan, bahkan kebaikan yang Ziya berikan itu melebihi kebaikan dari seorang Ibu kandung terhadap anak tirinya ini.
" Heemm, sepertinya Isabelle baru pulang sekolah ?" Tanya Krystal yang melihat Isabelle baru saja kembali dari sekolahnya itu.
Dengan segera Krystal mendekati adiknya itu, karena, walau bagaimanapun kesalnya Krystal kemarin dan juga sebelum pergi ke sekolahnya tadi terhadap Isabelle yang sudah lebih dahulu dekat dan akrab pada Ziya, seharusnya Krystal harus meminta maaf kepada adiknya itu terhadap sikapnya yang begitu menjengkelkan. Krystal sendiri saja jengkel akan sikapnya sendiri, apalagi adiknya ini.
" Belle adikku kau baru pulang sekolah ?" Tanya Krystal langsung pada Isabelle, saat menghampiri Isabelle yang baru saja masuk ke dalam istana kedua.
" Iya Kak,," Jawab Isabelle terlihat biasa saja.
" Oh ya Kakak cuma mau bilang kalau Kakak mau minta maaf sama kau Belle,," Ucap Krystal sesaat membuat langkah Isabelle terhenti.
" Minta maaf, memangnya Kak Krystal salah apa pada Belle ?" Tanya Isabelle dengan wajah penasaran.
" Ya, kakak baru menyadari bahwa ucapan kau memang benar, Mommy Zoya memang orang yang begitu baik, jadi, Kakak minta maaf padamu karena, Kakak tidak memperdulikan ucapan yang kau sampaikan kemarin pada Kak Kryst,," Gumam Krystal menatap wajah adiknya dengan tatapan sayang.
" Heemm, ya Kak Kryst, Kak Kryst sama sekali tidak salah dan juga sikap Mommy Zoya juga tidak ada salahnya. Apa tindakan Mommy Zoya salah jika dia memberikan kasih sayangnya kepada kita ?" Tanya Isabelle balik pada Krystal.
" Tidak," Jawab Krystal singkat.
" Nah, betul sekali Kak, karena, itu Belle semalam begitu membela dan memuji tindakan Mommy Zoya terhadap Belle, karena sikap Mommy Zoya yang memberikan kasih sayangnya kepada Belle memang tulus adanya Kak,," Ucap Isabelle sambil tersenyum meskipun tubuhnya begitu lelah karena mengikuti kegiatan tambahan di sekolahnya.
" Kau benar, mulai saat ini Kakak juga akan mencoba menerima kasih sayang yang diberikan oleh Mommy Zoya kepada Kakak dan juga terutama kepada kita berdua Belle,," Ucap Krystal sambil tersenyum.
" Iya Kak,," Jawab Isabelle mengangguk.
Saat sedang berbincang dengan Krystal, Isabelle melihat wajah Krystal memerah sepertinya habis menangis, namun, tidak terlalu tampak, karena, Krystal sendiri saat ini sudah bersih dan rapi. Jadi, Isabelle hanya menanyakan sesuatu hal lain yang kepada Krystal yang tidak menyangkut dengan kondisi Krystal saat ini.
" Maaf, Kak Kryst, apakah Kak Kryst sudah lama pulang dari sekolah ?" Tanya Isabelle menatap Krystal sambil melangkah bersama menaiki tangga menuju ke kamarnya.
" He'eh Bell, Sebenarnya Kak Kryst sudah lama pulang dari sekolah dan sebenarnya juga Kak Kryst sudah satu minggu ini dilarang untuk masuk ke dalam kelas." Jawab Krystal dengan jujur.
" Kenapa seperti itu Kak, bagaimana bisa itu terjadi ?" Tanya Isabelle pada kakaknya ini.
" Heemm, ya karena Kakak ada masalah di sekolah,," Jawab Krystal dengan santai, namun hal itu membuat Isabelle malah terkejut dan juga penasaran akan keadaan Krystal yang terlihat biasa saja terhadap masalahnya itu.
" Ada masalah ? apakah Daddy tahu bahwa Kak Krystal dilarang ke sekolah ?" Tanya Isabelle lagi yang begitu penasaran terhadap Krystal.
" Heemm, ya ada masalah dan Daddy juga sudah tahu semuanya Belle, karena, bantuan dari Mommy Zoya akhirnya Kak Krystal sama sekali tidak dimarahi Daddy, karena, memang benar Kakak sama sekali tidak melakukan kesalahan di sekolah,," Jawab Krystal dengan santai dan tenang.
" Oooohhh jadi seperti itu, tapi, bukannya Kak Kryst bilang kalau Kakak tidak melakukan kesalahan dan kenapa Kak Kryst yang mendapatkan hukumannya ?" Tanya Isabelle yang menghentikan langkahnya merasa begitu penasaran dengan kelakuan Kakaknya ini.
" Heemm, Kakak juga tidak mengerti kenapa Kakak saja yang dihukum dan besok Mommy Zoya akan datang ke sekolah untuk menyelesaikan semua masalah ini,," Gumam Krystal dengan wajah sendunya.
Dan, baru inilah Krystal menampakkan wajah sendunya itu kepada adiknya ini. Tampak Isabelle begitu perhatian dan merasa kasihan pada Kakaknya ini, walau bagaimanapun kesedihan yang dirasakan oleh Kakaknya ini, merupakan kesedihan yang ikut dirasakan oleh dirinya sendiri. Isabelle sedikit memahami perasaan Kakaknya saat ini, sepertinya Krystal sengaja melakukan sesuatu hal di sekolahnya, karena, memang Krystal sifatnya begitu emosional, jadi, siapa saja yang mengganggunya terlebih dahulu, maka Krystal akan langsung membalasnya.
Sungguh berbeda dengan sikap yang dimiliki oleh Isabelle, Isabelle cukup lembut terhadap penghinaan dan gangguan yang dilakukan oleh teman-temannya di sekolah terhadap dirinya. Karena, bagi Isabelle lebih baik diam tidak menanggapi perkataan dan hinaan dari semua orang di sekolahnya itu, dibandingkan harus melawan semua perbuatan semua orang terhadapnya itu.
Isabelle sendiri berpikir lebih baik orang yang telah menghinanya itu kaget tersentak diam ketika mengetahui kebenaran adanya tentang siapa identitas mereka berdua itu masing-masing.
" Heemm sepertinya Belle mengerti Kak, pasti mereka yang terlebih dahulu mengganggu Kakak bukan ?" Tanya Isabelle langsung sambil menerka tindakan yang dilakukan Krystal di sekolahnya.
" Dan Kakak sendiri pasti melawan perbuatan mereka terhadap Kakak bukan ?" Tanya Isabelle lagi kepada Krystal.
" Hehehe kau lebih mengerti siapa Kak Krystal, Belle,," Gumam Krystal sambil tersenyum menatap adiknya ini.
" Hihihi Iya kak, karena kita adalah saudara,," Jawab Isabelle sambil tersenyum.
" Walaupun Mommy kandung kita sama sekali tidak pernah memperdulikan kehadiran kita berdua Kak, seolah tidak pernah merasa bersedih ketika kita mengikuti Daddy, yang penting persaudaraan kita tidak pernah putus Kak,," Gumam Isabelle yang terlihat seperti memang tidak pernah merasakan kepedulian dari Mommy kandungnya sendiri.
" Heemm, sepertinya Kak Krystal kalah pemikirannya dari pemikiranmu ini Belle,," Bilang Krystal sambil menepuk pundak adiknya ini.
" Kak Kryst bisa saja memujinya," Jawab Isabelle sambil tersenyum.
" Ya sudah Belle Kak Krystal cuma mau minta maaf saja sama adik Kakak yang satu ini dan sekarang Belle segera balik kamar untuk istirahat,," Ucap Krystal yang terdengar begitu perhatian pada adiknya ini.
" Heemm oke Kak,," Jawab Isabelle tersenyum
Dengan segera Isabelle melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya sendiri. Sedangkan, Krystal tidak sengaja melewati kamar Aunty satu-satunya adik perempuan dari Daddynya itu yaitu kamarnya Alexa dan Krystal mendengar suara Alexa dari dalam sedang menghubungi seseorang.
" Aunty Alexa sedang berbicara dengan siapa ?" Tanya Krystal sambil menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar Alexa.
Dan, Krystal sengaja mendengarkan suara perbincangan yang dilakukan oleh Alexa bersama temannya itu. Krystal semakin mendekatkan telinganya pada bagian pintu kamarnya Alexa tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Sebenarnya Krystal tidak sengaja mendengarkan suara teriakan kaget dari Alexa, oleh karena itu, Krystal yang berniat akan melangkahkan kakinya ke bawah lagi dan sengaja terhenti di depan pintu kamar Alexa.
" Heemm, sepertinya Aunty Alexa sedang marah, marah dengan siapa ?" Tanya Krystal kaget ketika mendengar suara Alexa yang terdengar seperti sedang berteriak itu.
" Kau harus segera mencari tahu dimana keberadaannya sekarang ?" Suara Alexa yang terdengar oleh Krystal dari luar.
Ketika Krystal mendengarkan ucapan yang dikatakan oleh Alexa itu, Krystal sendiri sambil berpikir bahwa sepertinya Aunty Alexa ini sedang mencari seseorang. Dan begitu jelas sekali terdengar oleh Krystal bahwa Auntynya ini sedang merasa jatuh hati pada seseorang.
" Heemm, sepertinya Aunty Alexa sedang mencari seseorang, siapa dia ?" Tanya Krystal sendiri yang menerka ucapan Alexa di dalam kamarnya.
" Sepertinya Krystal harus segera cari tahu siapa orang itu, karena, Aunty Alexa terlihat selalu cuek selama ini pada setiap pria yang mendekatinya, hihihi,," Gumam Krystal sambil tertawa kecil.
" Lebih baik hal ini Krystal ceritakan pada Mommy Zoya bahwa Aunty Alexa sedang kasmaran,," Ucap Krystal lagi yang menertawakan perlakuan dan sikap dari Aunty Alexa adik dari Daddynya itu.
Ketika Krystal sedang asyik-asyiknya menertawakan Alexa sambil merencanakan sesuatu untuk Aunty Alexa di dalam kamar itu. Sesaat Krystal dikagetkan oleh suara pintu kamar Alexa yang terbuka begitu saja dan membuat Krystal tersungkur ke lantai dalam kamar. Sehingga membuat Alexa terkejut melihat kelakuan yang dilakukan Krystal pada malam ini.
" Krystal, apa yang sedang kau lakukan ?" Tanya Alexa geram seketika kaget melihat Krystal yang tidak sengaja tersungkur masuk ke dalam kamarnya.
" Hehehe, maaf Aunty, Krystal tidak sengaja, kebetulan Krystal lewat di depan kamar Aunty. Nah secara tidak sengaja Krystal sedikit terpeleset dan Krystal tidak tahu kalau pintu kamar Aunty tidak terkunci,," Ucap Krystal sedikit malu dan canggung di hadapan Alexa.
Namun, Krystal begitu pandai berkelit lidah saat menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Alexa kepadanya itu. Sambil menahan rasa canggung dan malunya akhirnya Krystal bisa menjawab pertanyaan Alexa dengan jawaban yang tepat tanpa adanya sedikit kesalahan.
Saat ini memang terlihat Alexa belum mempercayai sepenuhnya jawaban yang disampaikan oleh Krystal. Tapi, karena, memang terlihat Krystal menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang jelas, oleh sebab itu, Alexa tidak terlalu mempermasalahkannya. Dan, akhirnya Alexa membiarkan begitu saja Krystal keluar dari kamarnya tanpa merasa curiga dengan kelakuan keponakannya itu.
" Heemm, ya sudah kau boleh pergi,," Ucap Alexa pada Krystal.
Dan, dengan segera Krystal bangkit dari tempatnya bekas dirinya tersungkur tadi, lalu, tiba-tiba Alexa kembali menghentikan langkah kaki Krystal ketika Krystal sudah sampai di luar pintu.
" Tunggu Krystal !!" Panggil Alexa terhadap Krystal.
" Ya Aunty,," Jawab Krystal langsung menoleh tanpa menunjukkan sikap cemasnya.
" Apakah kau mendengar sesuatu dari kamar Aunty tadi sehingga membuat kau terpeleset dan tidak sengaja masuk ke dalam kamar Aunty ?" Tanya Alexa kepada Krystal dengan tatapan penasaran.
" Tidak Aunty,," Jawab Krystal dengan yakin sambil menggelengkan kepalanya.
" Oh ya sudah kau boleh pergi,," Bilang Alexa yang mempercayai ucapan Krystal.
Ketika melihat wajah Krystal yang menjawab pertanyaannya dengan begitu yakin, akhirnya Alexa kembali mempercayai Krystal bahwa memang benar adanya Krystal sama sekali tidak mendengarkan ucapan perkataannya yang sedang menghubungi temannya itu.
****