Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 152 - Pemeriksaan Kembali



Karena, Alberto saat ini tidak mengetahui betapa tulusnya Ziya untuk membantunya itu, membuat Alberto berpikir bahwa Ziya berkhianat padanya. Padahal sebenarnya Ziya sangat ingin menyenangkan hati Alberto, dengan caranya ini ia bisa membantu Alberto untuk membuka semua rahasia yang selama ini tertutup dan bahkan Alberto sangat sulit untuk mendapatkannya.


Sungguh terlihat saat ini, Alberto sangat marah pada Ziya sehingga Alberto berkata bahwa Ziya ingin berkhianat padanya.


" Atas kelakuanmu ini kau sengaja ingin berkhianat padaku Ziya,," Ucap Alberto yang menatap tajam wajah Ziya sambil menerka tindakan yang dilakukan oleh Ziya ini.


Ziya menatap tidak percaya atas ucapan yang dikatakan Alberto, bahwa Alberto menuduh dirinya akan berkhianat pada orang yang telah dibantunya itu.


" Apa ?" Gumam Ziya dengan mulut menganga


" Kau pikir aku berkhianat padamu Alberto, aku sudah katakan kalau aku tidak berniat untuk mengkhianatimu,," Jawab Ziya dengan sejujurnya.


" Tapi, kenapa kau lakukan ini ?" Tanya Alberto lagi dengan nada suara yang meninggi.


" Aku hanya ingin membantumu, Alberto,," Ucap Ziya yang juga menatap serius pada Alberto.


" Di malam itu, kau pernah bertanya padaku, apakah aku Putri Zalina." Bilang Ziya yang mengingatkan suatu hal dimana Alberto pada malam itu menanyakan tentang dirinya.


" Jawabannya, ya, memang benar, aku adalah Putri dari Zanetti Berlina atau Zalina,," Bilang Ziya yang membuat mulut Alberto sedikit terbuka.


" Dan kau tahu kenapa aku melakukan ini, hanya karena, aku ingin membantumu Alberto. Kau pernah berkata di malam itu, apakah aku bisa membantumu ? Dan jawabannya adalah sekarang, aku sengaja melakukan ini demi untuk membantumu Alberto." Jawab Ziya lagi yang masih membuat Alberto terdiam.


" Asal kau tahu hanya dengan cara ini aku bisa membantumu, aku sama sekali tidak ada niat untuk mengkhianatimu, Alberto,," Bilang Ziya lagi pada Alberto untuk meyakinkan akan suatu tindakan yang ia lakukan ini.


" Aku sengaja tidak memberitahumu tentang rencanaku ini, karena, aku tahu kau pasti tidak mengizinkanku, aku sudah terlalu mencintaimu Alberto, sehingga apapun caranya aku harus bisa mendapatkan semua bukti yang selama ini kau cari, tapi, kenapa kau tega mengatakan bahwa aku telah berkhianat padamu, Alberto,," Ucap Ziya yang nada suara sedikit merendah.


Alberto terhenyak akan pengakuan yang dikatakan oleh Ziya padanya. Bahwa dengan setulus hatinya, Ziya sangat ingin membantu Alberto untuk memecahkan masalahnya selama ini, sebenarnya Alberto tidak ingin memarahi Ziya, namun, Alberto sudah terlalu kesal dengan kelakuan Ziya yang melakukan rencana tanpa meminta izin terlebih dahulu padanya.


Karena, ego yang terlalu besar dari dirinya ini, sehingga membuat Alberto masih merasa kesal atas kelakuan yang dilakukan Ziya ini. Sesungguhnya Alberto sudah lama ingin mendapatkan rahasia besar, namun, Alberto tidak ingin melibatkan Ziya dalam masalahnya ini. Alberto sama sekali tidak ingin terjadi sesuatu buruk pada wanita yang dicintainya ini.


" Aku harus memeriksa keadaan terlebih dahulu, bagaimana Ziya bisa mendapatkan ucapan Martin yang bersedia berkata semuanya dengan jujur,," Gumam Alberto dalam hati yang sengaja memilih keluar dari ruangan penelitian Ziya ini.


Suasana saat ini hanya penuh dengan keheningan, sehingga Alberto memilih keluar terlebih dahulu dari ruangan penelitian Ziya ini untuk meneliti dan memeriksa kebenaran ucapan yang disampaikan oleh Martin dalam rekaman yang diberikan Ziya padanya.


" Alberto, aku sudah mengatakan semuanya bahwa aku tidak pernah berniat untuk mengkhianatimu, percayalah,," Ucap Ziya pada Alberto sedangkan Alberto sama sekali tidak mendengar perkataannya lagi.


Lalu, Alberto dengan segera keluar dari ruangan penelitian ini membuat Ziya bingung atas sikap Alberto saat ini padanya.


" Alberto, kau mau kemana, jangan tinggalkan aku,, aku belum selesai bicara,," Ucap Ziya yang menahan lengan Alberto untuk tidak pergi dari hadapannya.


Namun, sayang Alberto tidak mengatakan apapun pada Ziya ketika ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan penelitian ini, Ziya masih saja mengejar langkah Alberto sehingga sampailah tepat di depan pintu kamar Ziya. Saat sampai di depan pintu kamar pribadinya Ziya, barulah Alberto mengatakan sesuatu yang berupa perintahan pada Ziya. Sehingga membuat Ziya hanya bisa merasa bersalah, sedih dan juga kecewa dengan ucapan yang dilontarkan Alberto padanya.


" Jangan keluar tanpa seizin dariku dan jangan lakukan apapun tanpa sepengetahuanku, jika kau masih melakukan suatu kesalahan, maka aku tidak akan segan untuk mengurungmu di kamar ini." Ucap Alberto yang terdengar sangat tajam di telinga Ziya.


" Haah!! Apa ?" Tanya Ziya dengan wajah yang terperangah saat mendengarkan ucapan pedas dari Alberto.


Alberto segera menutup pintu kamar Ziya dan berkata kepada semua pengawal di depan untuk tidak mengizinkan Ziya keluar dari kamarnya hari ini.


" Alberto,, Alberto, aku mohon jangan lakukan ini padaku, Alberto,," Bilang Ziya yang mencegah tangan Alberto untuk pergi dari kamarnya.


Dan


BRAAKK !!


Pintu kamar Ziya tertutup rapat, sehingga saat ini Ziya hanya bisa menerima kenyataan bahwa Alberto sama sekali tidak mempercayai akan tindakan yang ia lakukan ini, Ziya hanya bisa terduduk lemas di belakang pintu memikirkan suatu hal yang telah dilakukannya itu.


" Alberto, aku mencintaimu, apakah aku salah melakukan ini untukmu,," Ucap Ziya yang merasa menyesal telah melakukan tindakan ini tanpa sepengetahuan Alberto.


" Sebenarnya, aku ingin memberikan kejutan padamu, tapi, ternyata kau tidak bisa menerima tindakan yang kulakukan ini,," Gumam Ziya yang mulai menangis dan menitikkan air matanya.


Saat itu juga Ziya mendengar dengan jelas bahwa Alberto menyampaikan perintah kepada semua pengawalnya untuk selalu menjaga kamarnya Ziya dan dengan sengaja melarang Ziya untuk keluar dari kamar ini.


" Aku perintahkan kalian semua untuk menjaga Zoya di kamar ini jaga setiap sudut kamar dan jangan biarkan dia keluar dari kamar ini,," Ucap Alberto yang terdengar sangat tajam di telinga Ziya.


" Alberto aku mohon jangan kurung aku lagi,," Bilang Ziya yang menangis sendiri sambil duduk di belakang pintu.


" Aku janji, aku tidak akan pernah lagi melakukan sesuatu tanpa seizin mu, jangan kurung aku Alberto, jangan kurung aku,, hiks, hiks,," Bilang Ziya yang memohon pada Alberto untuk tidak mengurungnya.


Ketika Ziya memohon pada Alberto dari dalam pintu kamarnya, Alberto sedikit mendengar ucapan Ziya yang meminta dirinya untuk tidak mengurungnya. Namun, Alberto harus tetap melakukan itu, karena, Alberto ingin melakukan pemeriksaan terhadap hasil rekaman yang telah dilakukan Ziya ini, pasti sebelum mendapatkan rekaman, Ziya terlebih dahulu menemui Martin.


" Aku harus melakukan ini padamu, Ziya, karena, kau telah berani melakukan tindakan lain tanpa sepengetahuanku,," Ucap Alberto dalam hati saat mendengarkan suara permohonan yang dilontarkan Ziya untuknya.


Lalu, dengan segera Alberto melangkahkan kakinya menuju ke ruang CCTV yang merekam semua kegiatan di sekitar wilayah kediamannya. Alberto ingin melihat bagaimana Ziya bisa mendapatkan semua bukti rahasia dari mulut Martin langsung, apakah selama ini Ziya memiliki hubungan dengan Martin.


" Aku ingin lihat apa yang dilakukannya selama ini di belakangku,," Ucap Alberto yang sangat marah dan kesal akan tingkah laku Ziya padanya itu.


Dengan sangat cepat Alberto memeriksa sistem CCTV dan melihat satu persatu rekaman yang ada di dalam kamarnya Ziya, terlihatlah Ziya sedang membawa keluar sebuah keranjang yang berisi tanaman kering ke balkon kamarnya.


Dengan segera Alberto memindahkan posisi tubuhnya untuk melihat rekaman CCTV yang berada di luar kamar Ziya. Saat itu, Ziya masih terlihat sedang memilih dan memisahkan tanaman kering ke dalam botol-botol yang berbeda dan sangat terlihat sekali bahwa Ziya selalu mendongakkan kepalanya menatap arah luar. Terlihat begitu serius menunggu kepulangan seseorang.


" Heemmm,, sepertinya selama ini dia tidak bertemu Martin, bagaimana dia bisa berhubungan dengan Martin,," Ucap Alberto yang masih belum terpikirkan bahwa Martin mengira Ziya adalah Zoya.


Lalu, kemudian Alberto melihat ada seseorang yang sengaja melemparkan sebuah benda tepat di balkon kamar Ziya, pertama Ziya terlihat seperti tidak memperdulikan adanya benda yang sengaja dilemparkan ke kamarnya. Lalu, tak lama kemudian Ziya mengambil benda itu dan segera membacanya. Alberto terperangah ketika melihat orang yang melemparkan benda kepada Ziya adalah Martin.


" Kurang ajar, ternyata dia sengaja menggoda Ziya," Gumam Alberto yang sangat ingin langsung membunuh Martin ditempat.


Namun, Alberto kembali melihat bahwa Ziya tidak memperdulikan benda itu, lalu, saat Martin sudah tidak ada lagi di tempat itu, Ziya segera membuka benda itu yang berisi surat untuk dirinya. Alberto penasaran tentang isi surat itu, namun, dimana Alberto harus mendapatkan surat itu, sedangkan saat ini Alberto masih kesal dengan kelakuan Ziya.


Dan, Alberto kembali melihat kelakuan Ziya di kamar saat ia telah selesai membaca surat yang dilemparkan oleh Martin itu, terlihat Ziya sedang bolak balik di kamarnya terlihat sedang memikirkan suatu hal.


" Apa yang sedang ia lakukan ?" Tanya Alberto yang masih memperhatikan gerak-gerik Ziya di dalam kamar.


Sesaat Alberto menambah volume suara alat pengintai yang sengaja ia letakkan di kamar Ziya tanpa sepengetahuan siapapun, inilah keahlian yang dimiliki Alberto sengaja meletakkan suatu alat di suatu tempat yang membuat orang tidak mengetahuinya.


" Dasar gila, Martin dengan seenaknya dia mengatakan hal ini padaku, baik aku ingin lihat apa saja rencananya itu, apakah dia yang akan menang atau Albertoku yang akan mengalahkan dirinya,," Ucap Ziya yang terdengar jelas di telinga Alberto.


Setelah mendengarkan ucapan Ziya itu, Alberto sedikit merasa tergugah dan merasa bersalah telah mengurung Ziya di dalam kamarnya. Namun, Alberto masih saja tetap melihat tindakan yang dilakukan Ziya di dalam kamarnya.


Lalu, rekaman CCTV di dalam kamar, memperlihatkan kembali kelakuan Ziya yang mulai membuat rencana untuk menghadapi Martin. Dan, kamera CCTV berikutnya Alberto diperlihatkan tentang rekaman kegiatan yang dilakukan Ziya, bahwa saat itu Ziya sengaja memberitahu Vena akan rencana yang ingin dilakukannya. Namun, Alberto merasa kenapa cuma Vena saja yang diberitahu akan rencananya ini.


" Sepertinya, Ziya tidak melakukan rencana ini sendiri tapi, dia juga memberitahukan Vena akan rencananya itu." Ucap Alberto sendiri setelah mendengar ucapan yang dikatakan Ziya pada Vena dalam melakukan rencananya ini.


Alberto sedikit terkejut saat mendengarkan ucapan Vena yang mengatakan bahwa isi surat itu jelas merupakan ancaman dan Vena ingin segera memberitahu kepada Tuan Besarnya yaitu Alberto sendiri tentang hal yang dilakukan Martin pada majikannya itu. Namun, Ziya melarang Vena untuk memberitahu hal ini pada Alberto, karena, jika Martin tertangkap langsung oleh Alberto, maka dia tidak akan berhasil mendapatkan sebuah rahasia besar itu.


Sehingga Alberto merasa bahwa tindakan yang dilakukan Ziya ini cukup pintar, melakukan sebuah tindakan dengan sangat hati-hati berupa jebakan yang terhebat dilakukannya untuk Martin. Setelah mendengarkan ucapan Ziya yang berkata seperti itu, Alberto baru menyadari akan ungkapan yang dikatakan Ziya tadi, bahwa dalam hatinya tidak ada niat sedikitpun untuk berkhianat.


Lalu, Alberto seakan teringat akan suatu hal yang pernah ia diskusikan pada Ziya, tentang Martin, Gladys dan juga Claire. Bahwa saat itu, jelas sekali terlihat bahwa Ziya bersikeras untuk menyuruh Alberto membebaskan Martin.


" Jadi, karena, hal inikah Ziya terlihat sangat jelas memerintahkanku untuk membebaskan Martin, karena, ia ingin mendapatkan rahasia ini,," Bilang Alberto yang menerka ucapan Ziya saat itu padanya.


" Tapi kenapa dia melakukan ini,," Gumam Alberto lagi yang berpikir tentang kelakuan Ziya ini.


Setelah mendengarkan ucapan Ziya bersama Vena itu, Martin kembali melihat kelakuan Ziya di dalam kamar saat Vena telah keluar dari kamarnya. Alberto dengan sangat jelas mendengar ucapan Ziya sambil tertawa melihat kertas surat pemberian dari Martin.


" Hahahaha, dasar bodoh kau Martin, kau telah tergoda dengan wajahku yang mirip sekali dengan Zoya, sehingga kau menganggapku adalah Zoya, kau tidak tahu aku siapa, aku bukanlah Zoya yang selama ini menjadi idamanmu,," Ucap Ziya yang terlihat sedang menertawakan kelakuan Martin pada dirinya.


Alberto terperangah mendengar ucapan Ziya, bahwa memang benar dia sama sekali tidak berniat untuk mengkhianati Alberto. Karena, Martin mengira bahwa Ziya saat ini adalah Zoya.


" Oh My God, jadi Ziya berkata jujur bahwa ia memang tidak berkhianat padaku dan ini semua karena ulah Martin yang menyukai Zoya. Dan, Martin menganggap Ziya adalah Zoya." Bilang Alberto yang merasa sedikit menyesal telah membuat Ziya dikurung dan pastinya menangis.


" Maafkan aku sayang, aku akan segera membebaskan mu,," Ucap Alberto ingin segera melangkahkan kakinya menuju kamar Ziya kembali.


Namun, langkah kaki itu berhenti ketika, Alberto kembali melihat Ziya yang menidurkan Demian dan masuk ke ruang penelitiannya lalu, masih membawa keranjang tanamannya dan duduk ke balkon kamar. Alberto segera memindahkan posisi tubuhnya ke kamera CCTV yang merekam daerah luar balkon untuk melihat kembali apa yang dilakukan Ziya malam itu.


Namun, sayang kamera CCTV itu sejenak mati dan rusak, sehingga membuat Alberto terkejut melihat keadaan CCTV yang rusak itu.


" Kenapa bisa seperti ini, apakah ada yang sengaja meretasnya,," Ucap Alberto dengan segera mengotak-atik kamera CCTV yang berada di luar balkon kamar Ziya.


Walaupun Alberto sudah mengotak-atik kamera CCTV itu, namun, Alberto tidak mendapatkan hasilnya sedikitpun, masih saja kamera itu rusak. Tiba-tiba Alberto kaget ketika kamera CCTV kamar Ziya yang sengaja separuh merekam kegiatan diluar balkon. Jelas sekali memperlihatkan ada seseorang yang melompat masuk ke dalam balkon kamarnya Ziya.


" Martin,," Gumam Alberto saat melihat wajah Martin yang sengaja datang menghampiri Ziya.


Dan Alberto sangat jelas melihat bahwa Martin memang sengaja mendatangi Ziya lewat balkon kamarnya. Terlihat dari wajah Ziya sedikit takut akan kedatangan Martin, namun sesaat ekspresi takut itu berubah menjadi biasa, seolah Ziya sengaja sedang bersandiwara di depan Martin.


Alberto sangat kesal sekali akan tindakannya yang tidak meletakkan sistem perekam suara di dekat balkon kamar Ziya, namun, samar-samar Alberto mendengar ucapan Martin yang menyatakan bahwa ia akan membawa Ziya setelah ia berhasil dalam rencananya itu.


" Kurang ajar, kau Martin,," Ucap Alberto saat mendengar perkataan Martin yang ingin membawa Ziya pergi setelah berhasil melakukan rencananya.


Lalu, ketika Martin ingin mendekati Ziya, Ziya jelas sekali mencegah Martin untuk terlalu dekat dengannya dan terlihat sekali gerak-gerik Ziya mencurigakan bagi Alberto, terlihat Ziya sedang menekan tombol alat perekam suara untuk merekam perkataan Martin tentang rahasianya itu. Alberto baru menyadari dengan cara ini Ziya mendapatkan rekaman itu dan Alberto sedikit menyunggingkan senyumannya melihat kelihaian Ziya dalam melakukan rencananya itu.


" Oh God aku tidak menyangka jika ia melakukan rencananya seperti ini,," Bilang Alberto yang merasa kagum akan tindakan Ziya sangat pandai dalam melakukan perbuatannya itu.


" Tapi, untuk saat ini aku harus menghukumnya, karena, ia telah berani melakukan suatu tindakan yang tidak meminta izin dariku terlebih dahulu,," Ucap Alberto yang masih saja melihat rekaman CCTV yang berada di kamarnya Ziya


Dan, terakhir kali Alberto melihat kelakuan Martin yang ingin memeluk Ziya dengan paksa, Alberto marah dan jelas sekali terlihat bahwa Ziya melawan perbuatan Martin itu dengan menendang bagian inti Martin, lalu, ketika Martin terduduk lemah dan lengah, dengan segera Ziya menyemburkan serbuk racun tepat di wajah Martin, sehingga membuat Martin melemah dan sengaja Ziya menyeret Martin keluar balkon. Alberto terperanjat dengan kelakuan Ziya yang terlihat bagaikan bidadari cantik yang sangat tangguh.


" Apa ? Jadi, Ziya telah menyemburkan serbuk racun tepat di wajah Martin dan Haaahhh!!! beraninya dia menyeret Martin seperti itu." Gumam Alberto yang melihat kelakuan Ziya memang patut diacungi jempol.


" Baru kali ini aku menemukan wanita yang tangguh seperti dia,," Ucap Alberto yang memuji kehebatan dan kecerdasan Ziya.


" Oh God aku telah mengurungnya, aku telah bersalah melakukan hal ini padanya, padahal dia jelas sekali ingin membantuku," Ucap Alberto yang segera ingin keluar dari ruangan CCTV ini.


Namun, Alberto kembali melihat tubuhnya Martin memang terlihat sangat lemah atas efek racun yang sengaja disemburkan oleh Ziya itu, lalu, Alberto kembali melihat kamera CCTV sampai setuntas mungkin, karena, Alberto tidak mau memeriksa suatu hal hanya setengah-setengah saja.


" Sepertinya, efek racun dari Ziya memang bermanfaat,," Ucap Alberto sambil mengeluarkan botol racun yang telah diberikan Ziya padanya.


Lalu, Alberto kembali melihat kelakuan Ziya yang segera masuk dan mengunci pintu kamarnya itu, Alberto sedikit menyunggingkan tawanya melihat tingkah Ziya yang bernapas sangat cepat, sangat terlihat bahwa ia baru saja berlari sepuluh keliling saat menghadapi Martin.


Dan, suara Ziya kembali jelas terdengar oleh Alberto, Alberto memang benar menyadari bahwa kelakuan tindakan Ziya ini memang sangat tulus ia lakukan demi membantu Alberto dalam mendapatkan rahasia ini.


" Maafkan aku sayang, aku telah salah menilai tindakanmu,," Ucap Alberto yang merasa menyesal telah berkata kasar pada Ziya.


" Tapi, hanya dengan bukti ucapan Martin ini, belum membuktikan suatu hal yang valid, karena, sudah sangat jelas bahwa salah satu pelaku pembunuh Mommyku adalah Gladys. Bukti ucapan Martin ini akan aku berikan kepada Daddy, supaya Daddy mengetahui bagaimana sifat licik dari istrinya itu." Gumam Alberto yang merasa ingin sekali langsung membunuh Martin dan juga Gladys.


Namun, Alberto belum bisa melakukan hal itu, karena, saat ini ia belum mendapatkan barang bukti yang digunakan Gladys untuk membunuh Mommynya.


" Karena, Ziya sudah banyak membantuku untuk mendapatkan bukti keaslian dari mereka, maka tiba saatnya aku untuk bergerak mendapatkan barang bukti yang digunakan mereka untuk membunuh Mommyku," Bilang Alberto dengan mata yang penuh semangat dan berapi-api.


" Aku ingin lihat, bagaimana mereka menghadapi wajah Axeloe dan juga Daddy, jika aku sudah mendapatkan barang buktinya," Gumam Alberto sambil menaikkan sedikit ujung bibirnya.


Lalu, Alberto kembali teringat akan ucapan Ziya bahwa ia memang benar adalah Putri dari Zalina, sedangkan, Alberto sungguh mengenal nama itu, namun Alberto tidak mengetahui bagaimana seorang yang bernama Zalina ini. Karena, di waktu kecil Alberto selalu teringat akan ucapan Mommynya bahwa Mommynya memiliki seorang teman yang sangat pintar dan ahli dalam bidang racun.


" Baru saja Ziya mengakui bahwa ia memang benar Putri dari Zalina, berarti aku harus cepat menemuinya dan menanyakannya bagaimana kejadian di saat itu, karena, hanya Zalina saja yang merupakan sahabat akrab dari Mommy." Ucap Alberto yang baru saja mengingat suatu rencana yang akan dilakukannya untuk membalas dendam kepada orang yang telah membunuh Mommynya.


Oleh sebab itu, Alberto sangat tercengang mendengar penjelasan Ziya bahwa memang benar Ziya yang berada di hadapannya itu adalah Putri dari Zalina.


" Terima kasih sayang, terima kasih telah banyak membantuku,," Bilang Alberto kepada layar monitor CCTV sedang memperlihatkan wajah Ziya tertawa ketika melihat Martin dengan tubuh yang sangat lemah.


Setelah selesai melihat semua rekaman CCTV di kamarnya Ziya. Alberto kembali mengaktifkan kamera CCTV dengan normal di kamarnya Ziya, karena, kamera CCTV di ruang balkon telah diretas dengan sengaja oleh orang, Alberto segera memperbaiki kamera CCTV itu.


Setelah selesai memperbaiki kamera CCTV itu, dengan segera Alberto kembali memeriksa kamera CCTV di kamarnya Ziya dan saat ini kamera itu jelas sekali merekam keadaan Ziya yang sedang menangis dan dalam hitungan detik tubuh Ziya terkulai lemah, terbaring di atas lantai tepatnya di belakang pintu. Jelas saja ketika melihat tubuh Ziya terkulai lemah Alberto segera keluar dari ruangan CCTV ini. Karena kesalahannya yang dilakukannya itu membuat Ziya kembali lemah dan pingsan.


" Oh My God Ziya,," Teriak Alberto yang terkejut melihat keadaan Ziya yang terbaring lemah di kamarnya.


Alberto teringat akan sesuatu yang pernah terjadi dulu pada Ziya, dimana Alberto dengan sengaja mengurung Ziya di dalam kamar dan saat itu terjadilah peristiwa yang sangat mengenaskan terhadap Ziya. Sambil memikirkan kesalahannya terhadap Ziya, Dengan segera, Alberto meninggalkan ruangan CCTV dan berlari sekencang mungkin melangkahkan kakinya kembali menuju kamarnya Ziya.


****