
Maaf ya harus diulang, karena lagi turun LV nya harap dimengerti, kalau udah naik pasti di sambung lagi.
Menyebabkan Ziya yang mendengarkannya itu menangis dengan pecah, karena, satu sisi dari hatinya sakit mendengarkan ucapan Alberto, dan satu sisi lain sakit menahan rambutnya yang ditarik paksa oleh Alberto.
" Sakit,,, aku tidak membohongimu, Alberto,," Bilang Ziya yang membela dirinya.
" Kau masih berani katakan, kalau kau tidak berbohong padaku, Hah!" Bentak Alberto yang masih merenggut rambut Ziya.
" Lalu, siapa, orang yang menyentuhmu, Hah!" Tanya Alberto berbisik kasar pada telinga Ziya.
" Aku tidak tahu,,," Teriak Ziya yang menangis.
Karena, mendengar jawaban yang tidak sesuai dengan harapannya membuat Alberto segera menghempaskan rambut Ziya dengan kasar, sehingga membuat Ziya terhempas bergeser dari tempat tidurnya.
" Dasar perawan palsu,, kau telah membohongiku,, sampai kapanpun, aku tidak percaya padamu,," Ucap Alberto kasar pada telinga Ziya.
" Dan ingat, sampai kapanpun, kau tidak bisa lepas dariku,," Bilang Alberto dingin yang memperingati Ziya.
Ziya pun menangis mendengar ucapan Alberto yang selalu mengatakan bahwa dirinya perawan palsu. Bagi Ziya lebih baik dirinya mati dibunuh saat ini juga daripada mendapatkan kecaman kasar yang begitu menyayat hatinya.
Alberto pun segera melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke arah pintu. Dan, membuka pintu lalu keluar dari kamar.
Ziya berteriak menangis tersedu-sedu memanggil Alberto karena, bagi dirinya lebih baik Alberto membunuhnya saat ini juga daripada ia menjadi burung mainan yang berada di dalam sangkar mematikan seperti ini.
" ALBERTO,,, BUNUH AKU,," Teriak Ziya saat ini.
Tapi, Alberto sama sekali tidak mendengarkan ucapan permintaan Ziya. Karena, merasa Alberto telah menguncinya dari luar menyebabkan Ziya menangis histeris dan saat ini Ziya merasa kepalanya begitu sakit.
Ziya merasakan begitu sakit, sakit dan sakit pada kepalanya. Kemungkinan karena, rambutnya ditarik menyebabkan kepalanya begitu sakit saat ini.
" Aaakkkhh,,, sakiiitttt,," Teriak Ziya yang memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Ziya ingin bangkit tapi sayang, pandangannya saat itu kabur dan akhirnya Ziya tergeletak di lantai.
" Mama,, tolong Ziya,," Ucap Ziya saat pandangan matanya kabur.
Ziya pun terhuyung lemah, tergelak di atas lantai yang begitu dingin saat ini.
Ziya tidak bisa merasakan apa-apa lagi pada tubuhnya, pandangannya kabur, dan akhirnya Ziya tidak sadarkan diri.
Alberto yang telah keluar dari ruangan kamarnya itu, merasa sedikit bersalah atas perbuatan kasarnya pada Ziya. Dan, Alberto ingin sekali kembali ke kamar untuk melihat keadaan Ziya. Tapi, niatnya itu diurungkannya, karena, ia seharusnya pantas dan wajar memberi pelajaran kepada Ziya.
Walaupun saat ini, ia tahu bahwa Ziya telah mengakui identitas tentang dirinya tapi, saja membuat Alberto merasa tidak puas akan ucapan Ziya itu.
Entah kenapa, Alberto ingin sekali mengetahui maksud dari Ziya yang sengaja masuk ke dalam kehidupannya itu. Walaupun selama ini, Alberto telah mendengarkan dari semua temannya bahwa dirinya Ziya itu adalah alat, tapi Alberto sama sekali belum puas akan jawaban seperti itu.
Akhirnya dengan menarik nafasnya, Alberto menyampaikan kepada pengawalnya untuk selalu menjaga Ziya di dalam kamar.
" Jaga dia, jangan sampai dia keluar dari kamar ini,," Ucap Alberto yang memerintahkan pengawalnya saat itu.
" Baik Tuan,," Ucap beberapa pengawal yang saat itu telah menunggu siaga di depan kamar Alberto.
Alberto pun segera melangkahkan kakinya ke arah tangga meninggalkan kamarnya itu.
Ternyata, dari kejauhan posisi Alberto saat ini, ada seorang laki-laki yang memakai pakaian serba hitam, telah mengintip gerak-gerik Alberto dan melihat apakah Alberto telah pergi dari tempat itu.
Lama sekali laki-laki itu menunggu kesempatan yang tepat untuk mengganggu istrinya itu. Karena, sudah beberapa minggu saat Ziya datang, laki-laki itu telah lama menahan hasrat nafsu dirinya pada Ziya.
" Lama sekali dia pergi,," Ucap laki-laki yang telah memperhatikan gerak-gerik Alberto itu.
Karena, ia berpikir bahwa yang sedang berada di kamar Alberto saat ini adalah Zoya, mendapatkan pengawalan ketat dari Alberto membuat dirinya begitu sulit untuk mendekati Ziya.
Sedangkan, Ziya di dalam telah pingsan dan tidak sadarkan diri itu, dia tidak mengetahui bahwa begitu banyak sekali bahaya yang akan menyergapnya saat ini.
Walaupun, di depan pintu kamar banyak sekali pengawal yang menjaga dan mengawasi Ziya, tapi di sisi lain pasti ada saja titik kelemahan rumah mewah milik Alberto ini.
Oleh sebab itu, walaupun Ziya telah mendapatkan pengawalan yang begitu mengawasi dirinya agar bisa terlewatkan dari bahaya, masih saja bahaya itu suka sekali mengganggu dan mendatangi dirinya saat ini.
****
Bag. 56 - Mengakui !!
Ziya yang telah tertidur pulas di kamar Alberto saat ini, membuat Vena bernafas lega dan bisa keluar dari kamar itu. Saat Vena keluar dan ingin menutupi pintu, kebetulan disana sudah ada sang Tuan Besar Alberto yang sengaja ingin masuk ke dalam kamarnya. Tetapi berhubung Vena asisten pribadi istrinya itu sudah keluar dari kamarnya. Jadi, Alberto dengan sengaja menanyakan keadaan Ziya padanya.
" Oh,, Tuan, maaf, saya tidak melihat Tuan," Ucap Vena yang hampir menabrak Alberto.
" Tidak apa,, Bagaimana keadaannya,," Tanya Alberto kepada Vena.
Vena seperti biasa takut kalau menatap langsung wajah Alberto, karena, terlihat sangar dan menakutkan, walaupun Alberto tampan, tapi tetap saja sorot matanya itu yang membuat orang takut akan melihatnya.
" Keadaan, Nyonya, sekarang sedikit membaik, Tuan,," Jawab Vena yang mengatakan keadaan Ziya sesungguhnya.
Karena, mendengar ucapan yang membuat Alberto merasa risih yaitu kata sedikit, menyebabkan kening Alberto sedikit berkerut.
" Sedikit,," Bilang Alberto singkat.
" Ya, betul Tuan,," Jawab Vena mengangguk.
" Kalau keadaannya belum membaik kenapa kau keluar,," Tanya Alberto dengan menyelidik.
" Eemm,, Tuan, Nyonya sedang tidur,, jadi saya biarkan Nyonya untuk beristirahat." Jawab Vena dengan nada sedikit takut.
" Oh baiklah,, pergilah," Bilang Alberto saat ini pada Vena.
" Baik, Tuan,," Jawab Vena yang mengerti akan perintah dari Alberto padanya.
Alberto pun dengan perlahan membuka pintu kamarnya dan membiarkan Vena pergi dengan memberi kode tepisan tangan pada Vena, Vena mengerti akan maksud dari Tuannya itu.
Alberto pun dengan perlahan melangkah masuk ke dalam kamarnya, dan menuju ruangan tempat tidur pribadinya. Ternyata benar, wanita yang telah membuat hatinya tersentuh itu, sedang tertidur pulas di atas tempat tidurnya.
Alberto sedikit menyunggingkan senyumannya. Dan, melangkah mendekati tempat tidurnya saat itu.
Alberto melihat wajah polos dan wajah cantik Ziya yang sedang tertidur pulas. Begitu cantik, begitu indah, dan begitu menggoda.
" Kau, terlihat sangat cantik, dan kau terlihat begitu sempurna dibandingkan kembaran dirimu itu," Bilang Alberto yang memuji kecantikan wajah Ziya saat tertidur pulas.
Alberto sesaat ingin menyentuh lembut wajah Ziya, tapi, saat ia teringat, bahwa Ziya seorang gadis yang terlihat polos tapi tidak memiliki mahkota lagi, membuat Alberto membenci dirinya.
" Tapi, sayangnya dibalik kepolosan dirimu itu, membuatku benci dan kecewa padamu," Bilang Alberto yang merasa kecewa pada Ziya.
" Mulai sekarang, aku tidak akan percaya lagi dengan kepolosan dirimu, Ziya,," Ucap Alberto yang menatap tajam wajah Ziya.
Alberto ingin sekali menyeret tubuh Ziya untuk keluar dari kamarnya. Sesaat Alberto berbalik dan menatap wajah Ziya lagi, kenapa, di dalam dirinya merasa tidak tega untuk melakukan kekerasan pada Ziya. Alberto kembali mengoceh sendiri dan ucapannya itu sama sekali tidak diketahui dan didengar oleh Ziya.
" Siapa yang telah mengambil mahkota milikmu, hah!" Tanya Alberto yang membuat Ziya sedikit terusik dan sedikit menggerakkan tubuhnya.
Saat langkah kaki Alberto melangkah, mata Ziya sudah terbuka membulat dan melihat punggung tubuh Alberto menjauhi dirinya. Ziya ingin sekali memanggil Alberto tapi, ia takut akan sikap Alberto yang akan berbuat kasar lagi padanya.
" Al,, bert,," Ucap mulut Ziya yang terhenti dan suaranya sama sekali tidak terdengar sedikitpun.
Membuat Alberto segera menjauhi dirinya, dan melangkah semakin cepat untuk keluar dari ruangan itu.
Ziya berpikir lebih baik dirinya memberitahu tentang identitas dirinya yang sebenarnya, daripada dia harus menanggung beban berat yang menghimpit dadanya ini, membuat dirinya setiap hari merasakan sesak dan tidak sanggup lagi akan untuk menghadapi sikap Alberto yang dingin padanya.
Semenjak malam itu, Alberto tidak pernah lagi menegur dirinya, sangat berbeda seperti biasanya saat ia baru sampai di tempat ini.
Mungkinkah, Alberto mengetahui dirinya, bahwa ia bukanlah Zoya ?
Mungkin juga,?
Karena, sangat terlihat sekali bahwa Alberto saat ini membenci dirinya.
Ziya saat ini bukan mengkhawatirkan dirinya melainkan orang tuanya yang berada di bawah ancaman Paman Erwin.
Ziya berpikir lebih baik dirinya saat ini memberitahu identitasnya, entahlah apa yang akan dilakukan Alberto apabila dirinya memberitahu identitasnya itu.
Apakah Alberto juga akan membuat dirinya seperti Claire yang akan menjadi sasaran tembakannya.
Masa bodoh ?
Dalam pikiran Ziya saat ini adalah supaya bisa terbebas dari Alberto Alexandre. Walaupun dirinya telah kehilangan mahkota berharga miliknya itu dan sama sekali tidak diakui oleh Alberto.
Masa bodoh ?
Dengan saudara kembarnya itu, dalam pikiran Ziya tidak ada lagi rasa kekeluargaan pada dirinya saat ini, dan.
Masa bodoh juga dengan ancaman Pamannya Erwin pada keluarganya itu.
Yang terpenting sekarang adalah memberitahu tentang dirinya yang sebenarnya.
" Aku harus memberitahunya bahwa aku bukanlah Zoya,, aku tidak akan sanggup menahan hidup seperti ini, lebih baik aku dibebaskan olehnya atau dibunuh olehnya." Ucap Ziya yang bernyali kuat.
Akhirnya dengan nyali yang cukup besar, Ziya bangun dari tidurnya dan berlari mengejar Alberto yang sedikit lagi sampai di dekat pintu kamarnya itu.
" Alberto,,, tunggu,," Teriak Ziya menghentikan langkah kaki Alberto.
Dan, sesaat Ziya melihat Alberto sama sekali tidak berhenti lalu, Ziya dengan semua kekuatan dan energi tubuhnya itu berlari mengejar Alberto. Sesaat, Ziya akhirnya bisa menggapai lengan Alberto.
Karena, merasa Ziya memegang lengannya, membuat Alberto membenci akan sikap Ziya yang sengaja mendekati dirinya itu.
Dengan sikap kasar Alberto menghempaskan tangan Ziya dari lengannya itu, sehingga membuat Ziya terhuyung lemah dan terhempas ke lantai.
BRUUKKK!!!
Tubuh Ziya terhempas ke lantai, sedangkan Alberto yang telah melakukan itu sama sekali tidak menoleh ke arah Ziya sedikitpun.
Kemana hati lembut dirimu selama ini pada Ziya, Alberto ???
Walaupun terhempas ke lantai, Ziya sama sekali tidak merasa sakit sedikitpun. Karena, yang terpenting sekarang adalah memberitahu identitas aslinya saat ini.
Ziya tidak mau lagi bersandiwara menjadi Zoya di mata Alberto dan pastinya, apabila dirinya tidak lagi bersandiwara, kemungkinan dia akan bisa bebas dari cengkraman Alberto.
" Alberto,, tunggu, aku mohon,," Ucap Ziya yang memohon di lantai.
Sesaat Ziya melihat, Alberto menghentikan langkah kakinya. Dan, membuat Ziya secara cepat merangkak mendekati Alberto.
Sambil terduduk lemah, Ziya menahan air matanya agar tidak tumpah. Dengan keyakinan yang kuat, untuk Ziya saat ini.
" Apa yang ingin kau katakan,," Tanya Alberto tanpa menoleh ke arah Ziya saat ini.
Karena, Alberto tidak mau menatap wajah polos Ziya saat ini. Apabila ia menoleh dan menatapnya maka, kemungkinan Alberto akan merasa luluh dan tidak bisa untuk melakukan perilaku kekejaman pada Ziya saat ini.
" Alberto,, aku,, aku,," Bilang Ziya terbata-bata.
Karena, Alberto tidak mau menunggu lama, atas sikap Ziya yang masih memikirkan untuk membicarakan apapun padanya, akhirnya Alberto dengan langkah kakinya melangkah lagi, dan saat itu Ziya segera berteriak bahwa dirinya bukanlah Zoya.
" Alberto,, tunggu,," Cegah Ziya pada Alberto.
Dan, Alberto sama sekali tidak mau lagi mendengarkan ucapan cegahan dari Ziya padanya saat ini.
Karena, melihat Alberto segera memegang gagang pintu Ziya pun berteriak dan sangat jelas suaranya saat ini.
" Alberto,, aku bukanlah ZOYA,,,,????" Teriak Ziya yang sangat lantang membuat Alberto menghentikan langkahnya.
Sesaat, Ziya merasa begitu sesak di dadanya dan membuatnya begitu khawatir serta takut atas ucapannya saat ini.
Apalagi saat melihat Alberto menghentikan langkah kakinya, membuat Ziya sedikit lega, karena, kemungkinan besar Alberto akan menerima kenyataannya dan memberikan kebebasan pada dirinya.
Alberto pun membalikkan badannya dan menatap wajah Ziya dengan tajam.
" Apa yang kau katakan,," Tanya Alberto dengan tatapan tajam dan suara dinginnya.
Ziya sedikit takut, cemas dan khawatir atas tatapan tajam dari mata Alberto saat ini.
" Ak,, ak,, aku,, bukanlah Zoya,," Bilang Ziya terbata-bata dan menundukkan kepalanya.
Alberto sangat membenci seseorang apabila berbicara tanpa melihat wajahnya.
" Angkat wajahmu saat berbicara denganku,," Bentak Alberto pada Ziya.
Saat mendengar Alberto membentak dirinya, Ziya ingin sekali menangis tapi air mata itu masih bisa ia tahan.
" Apa yang kau katakan," Tanya Alberto dengan meraup dagu Ziya.
" Kau bukanlah Zoya,, kalau kau bukan Zoya, lalu kau siapa,,?" Tanya Alberto keras sambil menghempaskan dagu Ziya dengan kasar.
Karena, mendapatkan perlakuan kasar seperti itu, akhirnya dengan berani Ziya berteriak melawan Alberto.
" Sudah ku katakan, aku bukanlah Zoya, aku bukan Zoya,," Teriak Ziya yang membuat Alberto menarik rambut Ziya dengan kasar.
Sehingga membuat Ziya tidak bisa menahan air matanya atas perlakuan Alberto saat ini padanya.
" Akkkhhh,, sakit," Teriak Ziya.
" Kau tahu, ini sakit, kenapa kau berani masuk dalam kehidupan ku Hah!!" Ucap Alberto yang memegang erat rambut Ziya.
" Beraninya kau membohongiku, beraninya kau menggunakan wajah polosmu ini merayuku, beraninya kau,,," Ucap Alberto yang sedikit berteriak di telinga Ziya.