Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 47 - Menerka !!



Karena, terlalu banyak berpikir membuat kepala Ziya kembali merasakan sakit, bahkan rasa sakit itu begitu sangat kuat dan membuat Ziya tidak bisa menahannya. Saat Ziya sedang merasakan sakit di kepalanya yang begitu dalam, ia pun ingin sekali berniat bunuh diri, untuk mengakhiri hidupnya. Tapi, sesaat dia mengingat wajah Demian, dan juga kedua orang tuanya. Oleh sebab itu, Ziya mengurungkan niatnya.


Ziya akhirnya pingsan terkulai lemah di dalam bath tub yang berisikan penuh dengan air.


Alberto yang telah kembali dari ruang kerjanya itu dan sampai ke dalam kamarnya, mencari keberadaan Ziya di dalam kamar. Tapi, sayang Ziya sama sekali tidak kelihatan di atas tempat tidurnya.


" Hah!! Ziya, Ziya,," Ucap Alberto yang tengah mencari Ziya di dalam kamarnya.


Tanpa berpikir panjang lagi Alberto segera masuk ke dalam kamar mandi, dan terkejut sehingga matanya terbelalak melihat Ziya yang telah memejamkan matanya meringkuk di dalam bath tub yang hampir tenggelam karena air telah memenuhi ruang bath tub.


" Oh my god, Ziya,," Ucap Alberto yang sedikit merasa panik atas keadaan Ziya.


Alberto segera menghampiri Ziya dan menggapai kepala Ziya lalu dengan segera pula Alberto memeriksa bagian hidung Ziya, ternyata masih mengembuskan nafasnya hingga hal itu membuat Alberto menjadi lega.


" Oh God,, Syukurlah,," Ucap Alberto yang meletakkan punggung telapak tangannya di bagian hidung Ziya.


Terlihat sedikit kelegaan di wajah Alberto saat itu. Sehingga tanpa menggunakan waktu lama Alberto segera mengangkat tubuh Ziya yang telah pingsan itu dan menggendongnya keluar dari bath tub. Alberto segera membawa tubuh Ziya ke dalam kamarnya dan meletakkan Ziya di tempat tidurnya.


Dalam keadaan tubuh yang basah, Alberto membungkus tubuh polos Ziya dengan selimut tebal. Dan segera keluar memanggil Vena, di tengah malam itu.


Yang pastinya Vena kaget pada suasana malam begini, Alberto berteriak memanggil dirinya.


" Vena,," Teriak Alberto memanggil Vena sang pelayan pribadi Ziya di luar kamar Demian.


Vena yang kaget, tergesa-gesa bangun, dan melangkahkan kakinya berlari kecil keluar kamar Demian.


" Ya ada apa Tuan,,?" Tanya Vena membungkukkan tubuhnya menghadap Alberto.


" Ke kamar saya sekarang," Bilang Alberto yang memerintah dirinya.


" Ya, baik Tuan,," Jawab Vena mengikuti langkah Alberto.


Di dalam pikiran Vena yang sedang tidak karuan, karena, baru bangun tidur, kenapa Tuan besarnya memanggilnya malam begini.


" Ada apa Tuan, menyuruhku ke kamarnya, akkhh mungkin untuk membantu Nyonya yang sedang di kamarnya." Pikir Vena yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sesampainya di kamar Alberto menyuruh Vena untuk segera memakaikan baju Ziya dan menyadarkan Ziya dari pingsannya.


" Pakaikan dia baju,, dan sadarkan dia,," Bilang Alberto dengan nada memerintah sambil menunjuk ke arah Ziya.


Vena terkejut, kaget melihat majikannya bisa pingsan dengan kondisi yang menyedihkan seperti saat ini. Membuat Vena menjadi kasihan melihat Nyonya nya ini yang begitu baik. Tetapi, tega-teganya Tuan besarnya ini melakukan tindakan kasar dan menyedihkan kepada Nyonya nya ini.


" Baik Tuan,," Jawab Vena sedikit bergetar ngeri saat melihat kondisi Ziya yang lemah terkulai di atas tempat tidur.


" Ya ampun, Nyonya ada apa denganmu,," Bilang Vena di dalam hati.


Vena pun segera mengambil pakaian Ziya untuk dikenakan oleh Ziya saat ini. Setelah mendapatkannya Vena segera membuka selimut yang menutupi tubuh Ziya dan mengelap tubuh Ziya yang basah dengan lembut menggunakan handuk yang telah disiapkannya juga. Setelah itu dengan sangat lembut Vena mengurasi semua tubuh Ziya menggunakan minyak hangat agar bisa memberikan kehangatan di tubuh Ziya yang saat ini dipegangnya begitu dingin.


" Apa yang telah dilakukan Tuan, sehingga Nyonya begini,, ?" Tanya Vena dalam hatinya.


Sementara itu, Alberto hanya melihat Vena bekerja membantu Ziya memakai bajunya. Dengan sangat gesit dan telaten dalam pengurusan pasien, Vena akhirnya selesai juga mengelap tubuh Ziya dengan kering, dan sekarang tanpa rasa malu Vena memakaikan baju untuk Ziya.


Ziya masih saja belum sadarkan dirinya, walaupun Vena sudah berulang kali membolak-balikkan tubuhnya. Setelah selesai membersihkan tubuh Ziya, Vena membaringkan tubuh Ziya dengan benar di tempat tidur dan merapikan tempat tidur Alberto, mengambil semua bantal, guling, seprai, serta baju Ziya yang ada di lantai. Setelah melihat keadaan bersih Vena segera menghadap ke tempat Alberto.


" Sudah Tuan,," Ucap Vena membungkukkan tubuhnya ke hadapan Alberto untuk melaporkan hasil pekerjaannya.


" Oke," Jawab Alberto memerintahkan Vena segera keluar dari kamarnya.


Vena pun keluar,,


Setelah Vena keluar, Alberto melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur. Duduk di samping Ziya dan menatap kepala Ziya tapi tidak merasakan suhu tinggi seperti orang pada umumnya yang terkena demam.


Alberto bertanya dalam hati,,,


Siapa sebenarnya sosok Ziya ini.?


Apakah dia wanita yang waktu itu,?


Apakah dia wanita di malam itu,?


Pertanyaan itu yang selalu berputar mengelilingi kepalanya hingga membuat dirinya sendiri pusing.


" Aku tidak mengerti apa maksud yang dikatakan oleh Zavier,, ?" Tanya Alberto pada dirinya sendiri di dalam kamar saat ia duduk di samping Ziya.


" Kenapa, Zavier bilang wanita ini hanya alat yang digunakan Erwin,," Ucap Alberto lagi.


" Maksudnya apa,,?" Tanya Alberto dalam keadaan bingung.


" Erwin hanya menggunakan dia sebagai alat dalam rencananya. Tapi kenapa wanita ini ikhlas melakukannya ?" Tanya Alberto lagi.


" Apa karena faktor ancaman dari Erwin yang mengancam keselamatan orang tuanya,," Ucap Alberto yang menerka keadaan Ziya sambil menatap Ziya wajah Ziya penuh dengan pertanyaan dan perasaan yang heran terhadap wanita di hadapannya ini.


" Kalau dia takut akan ancaman Erwin terhadap orang tuanya,, dimana orang tuanya." Ucap Alberto sambil berpikir dengan sangat matang.


" Memangnya siapakah wanita ini,?" Bilang Alberto.


" Kenapa dia begitu tulus dan baik, seperti,,,?" Ucap Alberto yang menerka siapakah Ziya sebenarnya.


Lalu, Alberto mengingat bahwa anjing pelacak yang terbaik adalah temannya yaitu Zavier dan tidak ada lagi orang selain Zavier yang bisa melakukan ini semua. Alberto berpikir bahwa misi rencana Zavier selanjutnya adalah orang tua Ziya.


" Baik, setelah urusan Zoya selesai, maka orang tuanya juga yang akan jadi target." Ucap Alberto yang melihat wajah cantik Ziya.


Lalu, Alberto yang merasa bahwa Ziya adalah perempuan yang bodoh yang maunya dimanfaatkan oleh saudaranya beserta Erwin. Membuat Alberto sedikit kesal yang berada di samping Ziya.


Tapi, sayang walaupun Alberto berbicara dengan sangat kesal, Ziya sama sekali tidak mengetahuinya. Karena, dirinya masih dalam keadaan yang begitu terlelap dalam tidurnya.


" Kenapa kau bodoh sekali,, Hah!! ?" tanya Alberto yang melihat wajah Ziya sambil memaki Ziya.


" Mau-maunya kau dimanfaatkan oleh Erwin. Kenapa tidak melawan, kenapa tidak menolak,, hanya karena, ancaman kau masuk dalam keadaan yang berbahaya,," Bilang Alberto yang sangat kesal pada perilaku Ziya yang mau bersandiwara menjadi Zoya.


" Kita akan lihat setelah kau sadar, apakah kau masih bersandiwara menjadi Zoya." Bilang Alberto menerka.


" Apabila kau, masih bersandiwara menjadi Zoya di depan mataku, maka saat itu juga aku akan menghabisimu,," Bilang Alberto yang sangat marah terhadap Ziya.


Karena, merasa kesal pada Ziya Alberto segera bangun dan ingin meninggalkan Ziya. Tapi langkah dan tindakannya terhenti karena dia mendengar suara rintihan memilukan dari Ziya.


" Ma,, mama,, Zi,, Ziya sakit,," Ucap Ziya yang terbata-bata dan tengah mengigau dalam tidurnya.


Alberto terbelalak mendengar ucapan Ziya yang mengigau mengatakan dirinya sakit. Alberto kembali mendengarkan Ziya mengigau karena, saat Ziya mengigau Ziya menyebutkan namanya sendiri yaitu Ziya.


" Ma,,, ma,, mama Ziya kangen,, mama,," Bilang Ziya di tengah tidurnya yang sedang mengigau.


Lalu, dengan sengaja Alberto meletakkan punggung telapak tangannya ke arah puncak kepala Ziya menatap, merasakan suhu tubuh Ziya. Dan, ternyata membuat Alberto kaget, karena, suhu tubuh Ziya sangat panas.


Alberto spontan bingung segera menelepon temannya yaitu Daniel. Siapa lagi yang bisa membantunya menyembuhkan sakit Ziya saat ini.


Di tengah malam entah Daniel mau tidur apa belum, bagi Alberto adalah segera menyuruh Daniel untuk datang ke rumahnya karena, itu merupakan tugas seorang dokter yang harus segera menangani pasiennya di dalam keadaan apapun. Apalagi Daniel adalah seorang dokter muda yang merupakan dokter pribadi keluarganya serta teman terbaiknya juga.


***


Up Readers ❤️❤️