
Disisi lain Alberto tersenyum saat melihat peluru pistol milik dirinya saat ini menembus tepat di sebuah sasarannya. Setelah merasa puas dengan mainannya saat ini, Alberto dengan sengaja melewati seorang wanita yang tergeletak dan terhuyung secara lemah di tanah.
Alberto dengan sengaja melangkahkan kakinya pada tubuh Claire yang tergeletak lemas, saat dirinya telah tepat menembak sasarannya yaitu jeruk, membuat tubuh Claire bergetar merasakan ketakutan saat itu. Tapi, Claire tidak pernah gentar untuk maju dan mendapatkan hati dan perasaan dari Alberto. Sayangnya dari pertama kali mereka bertemu, Alberto sangat tidak menyukai sikap perayu dari Claire, ya, secara dirinya begitu dingin dengan perempuan.
Dengan perempuan cantik seperti Zoya saja, Alberto sama sekali tidak memperdulikan dan memperhatikannya, apalagi Claire yang sama sekali bukanlah tipe wanita yang ia inginkan.
Satu-satunya wanita yang sedikit menggerakkan hati Alberto hanyalah sosok kehadiran Ziya yang datang dan masuk ke dalam kehidupannya itu, Baru hanya satu wanita yang bisa meluluhkan hati seorang mafia kejam dan terkenal dingin ini yaitu hanyalah Ziya.
Entah apa yang ada pada diri Ziya sehingga bisa menggelitik perasaan dan pikiran seorang Alberto.
Sebelum Alberto melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumahnya, Alberto dengan sengaja melangkahkan tubuh seorang wanita yang tergeletak lemah dan sedikit bergetar di tanah siapa lagi kalau bukan Claire.
Dengan gaya angkuhnya, Alberto memberikan sebuah peringatan terhadap wanita licik yang sedang berada di bawah langkahnya ini.
" Aku telah memperingati kau, untuk tidak melakukan kesalahan lagi di dalam kediamanku ini, tapi, kau masih saja melakukannya bahkan dengan beraninya kau, melakukan itu disaat aku tidak berada di rumah." Bilang Alberto yang memperingatkan Claire saat ini.
Claire tidak bisa menjawab apa-apa. Karena, dia masih merasa takut atas tembakan dari Alberto yang sama sekali tidak memakai aba-aba lagi saat menembak sebuah jeruk di atas kepalanya.
" Jika aku tau, kau melakukan kesalahan lagi, maka aku tidak akan segan menembak tembus otak di kepalamu itu,," Ucap Alberto menatap dingin wajah Claire.
Claire tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Alberto saat itu padanya. Karena, dirinya saja belum melakukan apa-apa untuk mengganggu Ziya, tapi, rencananya saja belum dilakukan dan dikerjakan kenapa, Alberto sudah memperingatkan dirinya dengan ucapan yang begitu tajam.
Apakah Alberto mengetahui ide niatnya itu ?
Alberto berlalu pergi, meninggalkan tubuh Claire yang masih tergeletak di bawah tanah. Karena, telah melihat Alberto jauh pergi meninggalkan dirinya. Claire bangun dan segera membersihkan tubuhnya dari serpihan tanah yang menempel pada bajunya.
" Aakkhhh,, untung saja tembus di jeruk, apabila meleset mati aku,," Ucap Claire yang segera bangun dari posisinya yang tengah terguling itu.
Lalu, Claire berdiri dan membersihkan tubuhnya dengan menepis-nepis semua daun yang menempel pada rambutnya.
" Iiihhh,, apa-apaan ini daun menempel di rambutku,, aduhhh,, padahal baru habis spa,, akhirnya rambutku kotor lagi,," Gerutu Claire yang sangat menyayangi rambutnya itu.
Claire memikirkan perihal ucapan Alberto padanya barusan, kenapa Alberto tanpa sebab melakukan ini padanya. Padahal dia sama sekali belum menjalankan rencananya itu.
" Alberto, tau darimana, kalau aku mau merencanakan sesuatu ?" Tanya Claire heran dengan mimik wajahnya seperti memikirkan sesuatu.
Lalu, seketika Claire teringat akan sesuatu dari peristiwa yang telah terjadi padanya saat ini.
" Apa wanita ja-lang itu yang telah menghasut Alberto untuk melakukan ini padaku,," Ucap Claire yang mengira bahwa Ziya telah menghasut Alberto untuk melakukan hal ini padanya dan ucapan itu seketika keluar begitu saja dari pikiran kotor di otaknya.
" Baik,, karena, kembalinya dirimu, ke rumah ini wanita ja-lang, menyebabkan aku lebih sulit untuk mendapatkan Alberto. Aku akan tetap merencanakan ini padamu,, lihat saja apa kau sanggup untuk menahannya." Ucap Claire yang berencana melakukan kejahatan terhadap Ziya lagi.
Walaupun Claire telah mendapatkan peringatan dari Alberto, tapi niat jahat dari rencananya itu tetap ada dan selalu ada. Dengan perasaan yang berkobar dan berapi-api membuat diri Claire akan tetap menjalankan rencana rahasianya itu.
Sesaat Ziya dan Vena yang melihat Claire bangun dari rasa bergetarnya membuat Ziya dan Vena sesaat ternganga sedikit mengagumi aksi Alberto yang sangat tepat sekali dalam menembak.
" Waaaahhh,, Nyonya, ternyata Nona Claire tidak apa-apa,," Bilang Vena yang menutup mulutnya.
" Benar, Vena, berarti bagus buat Claire, untuk sekarang nyawanya masih ada,," Ucap Ziya yang segera pergi meninggalkan balkon.
Vena yang tidak melihat Ziya sudah meninggalkan tempat itu, membuat Vena yang masih berada di pinggiran balkon kaget saat Ziya sudah tidak ada disana.
" Iya Nyonya,, Vena kagum terhadap Tuan,," Ucap Vena seakan menoleh ke sampingnya dan sekarang tidak ada lagi Ziya disana.
Vena menoleh ke kiri dan ke kanan melihat kesana kemari ternyata sosok Ziya tidak ditemukan.
" Nyonya,, Nyonya,," Bilang Vena yang segera mencari Ziya.
Vena segera masuk ke dalam kamar dan ternyata Nyonya majikannya itu sedang berbaring di tempat tidurnya. Karena, tubuh Ziya yang masih terasa lemah menyebabkan dia segera berbaring saat ini.
Vena, tersenyum lega, saat melihat Ziya yang sedang berbaring itu. Lalu, Vena segera memasangkan selimut untuk Ziya dan membetulkan semua bantal-bantal yang berada di dekat Ziya.
Ziya tidak merasakan apa-apa saat ini, karena, Ziya telah masuk ke dalam alam mimpinya.
Vena pun segera mengambil nampan yang berisikan makanan dan minuman untuk Ziya tadi. Semua pintu dan jendela telah ditutup oleh Vena, dan setelah merasa cukup aman, Vena melangkahkan kakinya keluar dari kamar Alberto saat ini.
Gladys yang mengendap-endap melihat kejadian peristiwa yang terjadi pada Claire membuat dirinya segera melangkahkan kakinya secara perlahan keluar dari rumah dan mendekati Claire.
Karena, merasa Alberto sudah tidak ada lagi di taman saat ini. Gladys segera menghampiri Claire yang masih berada di taman.
" Sayang,, bagaimana,, apa kau tidak apa-apa ?" Tanya Gladys pada keponakannya ini.
" Hem,, tentu saja ada apa-apanya Aunty,, lihat ini rambutku kotor semua." Bilang Claire yang menunjukkan rambutnya.
Gladys merasa pertanyaannya itu dijawab salah oleh Claire.
" Heh!! Aunty bisa lihat sendiri, sekarang aku masih bisa bernafas." Ucap Claire yang menjawab bahwa dirinya saat ini memang masih bisa bernafas.
" Baguslah,," Jawab Gladys yang tersenyum tipis melihat kelakuan Claire saat ini.
Gladys yang heran dan curiga, kenapa sikap Alberto tiada angin tiada hujan saat ini dengan segera melakukan permainan seperti ini pada Claire.
Padahal mereka saja belum melakukan rencana yang akan mereka lakukan terhadap Ziya.
" Kenapa dia melakukan ini padamu,, ?" Tanya Gladys yang penasaran akan sikap Alberto saat ini.
" Hem,, bukan kali ini saja, Alberto melakukan ini padaku, tapi, kemarin juga menjadikan aku mainannya." Bilang Claire yang mulutnya nyerocos tanpa henti.
Gladys yang kaget mendengar ucapan Claire dan tidak mengerti apa maksud Claire mengatakan bahwa diri Claire bukan kali ini saja menjadi mainan Alberto melainkan sudah sering.
" Maksudnya,,?" Tanya Gladys singkat tapi penuh pertanyaan dan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaannya itu.
" Heeh!! tidak ada maksud apa-apa Aunty,," Bilang Claire yang belum bisa memberitahu pada Gladys tentang peristiwa kemarin yang ia lakukan sendiri itu.
" Aunty jadi heran padamu, memangnya Alberto melakukan apa padamu, sehingga barusan Aunty dengar kamu sebut bahwa kamu hanya mainan untuk Alberto. ?" Tanya Gladys yang ingin tahu dan begitu penasaran.
Dengan menghembuskan nafasnya secara kasar, akhirnya Claire menjawab pertanyaan dari Gladys saat ini.
" Huuhh,, Aunty merasa heran tidak dengan wanita ja-lang itu,," Bilang Claire yang membuat Gladys menjadi penasaran.
" Maksudmu, ?" Tanya Gladys heran.
" Masa Aunty tidak merasa heran, dengan dirinya itu," Bilang Claire yang tambah membuat Gladys merasa bingung dan semakin penasaran.
" Aduhhh, Claire,,, tidak perlu kasih pertanyaan, dengan Aunty,, Aunty bingung,, to the point saja,," Bilang Gladys yang tidak mau diberi sebuah pertanyaan yang membentuk seperti teka teki.
" Aunty, tahu semenjak kapan, Alberto memperhatikan wanita ja-lang itu," Bilang Claire lagi.
" Iya, tahu, semenjak wanita itu kembali ke rumah ini,," Jawab Gladys yang mengerti akan maksud dari Claire saat ini.
" Nah,, benar sekali,, semenjak dia kembali ke rumah ini, Alberto secara diam-diam begitu sangat memperhatikan wanita itu. Aku jadi penasaran dan curiga, sebenarnya dia siapa..?" Bilang Claire yang mencurigakan sosok Ziya.
" Kau benar sayang,, Aunty juga curiga dengan wanita itu, tapi ingat kita jangan sampai ketahuan, kalau kita sedang memantau dia," Ucap Gladys yang memberikan tips dan peringatan kepada Claire.
" Yeahh,, aku tahu itu Aunty, tapi, sebelum kita melakukan apapun rencana kita, kenapa Alberto saat ini sudah mengetahuinya terlebih dahulu, sebelum kita melakukan rencana apapun." Bilang Claire yang merasa bahwa Alberto seakan mengetahui semua rencananya itu.
Wajar kalau Alberto cepat mengetahui apa saja yang akan dilakukan dirinya pada rencananya itu. Namanya juga mafia yang memiliki banyak mata di seluruh tempat. Jadi, hal sekecil apapun pastinya sangat mudah diketahui oleh dirinya dalam sekejap.
" Heh! Kau ini bodoh apa lupa,, masa kau tidak mengenali siapa Alberto.." Ucap Gladys yang mengingatkan Claire saat ini.
" Heemm,, Aku tahu Aunty, tapi,,," Ucapan Claire terputus karena Gladys segera memotong perkataannya itu.
" Aakkhh,, sudahlah, yang penting saat ini kau selamat, ingat jaga terus nyawamu, apa kau tidak ingin tetap menjadi Nyonya dari Alberto Alexandre." Bilang Gladys yang mengingatkan Claire.
" Of course Aunty,, itu memang yang ku harapkan selama ini,," Bilang Claire yang memanyunkan bibirnya.
" Heh! Ya sudah kita masuk,, dan mulai melakukan rencana kita,," Bilang Gladys yang seakan tidak takut itu.
" Tapi, Aunty, dia masih ada," Ucap Claire yang mencegah kelakuan Gladys untuk menjalankan rencananya itu.
" Kau bodoh, tunggu dia pergi,," Bilang Gladys yang sedikit memelototi Claire yang dalam minggu-minggu ini seakan bodoh sekali.
" Oh iya,, tapi, saat dia pergi aku selalu mengikuti dia,," Bilang Claire yang membenarkan posisi dirinya bahwa dia masih menjadi sekretaris Alberto saat ini.
" Yah,, tanpa dirimu juga Aunty bisa melakukannya,," Bilang Gladys yang saat itu mendapatkan ciuman pipi kiri dari Claire saat ini.
" Aaakkhh,, terima kasih Aunty,," Ucap Claire yang menciumi pipi kiri Auntynya itu.
Claire tersenyum sinis karena senang selalu mendapatkan bantuan dari Auntynya itu. Membuat dirinya juga sangat menyayangi Auntynya.
Gladys yang menerima pelukan dan ciuman dari Claire dengan segera mengajak Claire untuk masuk ke dalam rumah dan pastinya berbicara khusus di dalam kamarnya.
Bukan diluar seperti ini.
****
Up lagi My Love Readers ❤️❤️