
Begitu juga dengan Vena yang menelan salivanya setelah melihat Ziya selesai berdandan. Ziya memang sangat cantik apabila ia berdandan seperti kembarannya itu Zoya.
Ziya hanya tersenyum mendengar pujian dari Vena. Karena, memang benar, Zoya sangatlah cantik, apalagi wajahnya itu selalu menghiasi majalah populer wanita tercantik di negara ini.
Ya, siapa yang tidak mengetahui dan tidak mengenali dengan wajah dan sosok Zoya.
Setelah melihat wajahnya di cermin Ziya sekarang sangat mirip dan bahkan berubah menjadi sosok Zoya. Ziya pun terpukau melihat kecantikan dirinya sendiri.
Ya, mungkin karena Ziya selama ini tidak suka berdandan yang berlebihan dan hanya berdandan yang standar.
" Ternyata aku terlihat lebih cantik apabila berdandan seperti Zoya. Mulai sekarang aku tidak bisa lagi berpura-pura memiliki sikap seperti Zoya. Mulai sekarang Zoya yang harus berubah menjadi Ziya. Tidak ada lagi Zoya yang dulu, Sekarang Zoya yang baru yang memperbaiki sikapnya di mata mereka melalui aku, Ziya,," Gumam Ziya dalam hati sambil tersenyum melihat dirinya di cermin.
Lalu seketika, bunyi ketukan pintu di luar kamar Alberto terdengar. Segera Vena membuka pintu dan melihat ada seorang pelayan perempuan yang sedang berdiri di depan pintu.
" Ada apa ?" Tanya Vena kepada pelayan perempuan tersebut.
" Tuan Alberto sudah pulang dan sekarang meminta Nyonya Zoya untuk segera bergabung dengan mereka di ruang makan,," Ucap salah seorang pelayan perempuan yang berdiri di depan pintu.
" Oh baik, saya akan sampaikan pada Nyonya Zoya,," Bilang Vena mengangguk dan menutup pintunya kembali.
Vena pun melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Ziya masih duduk.
Lalu menyampaikan pesan dari pelayan perempuan tadi bahwa Alberto sedang menunggunya di ruang makan.
" Nyonya,, barusan ada pesan dari seorang pelayan, bahwa Tuan Besar Alberto sudah pulang,," Ucap Vena langsung setelah mendapatkan pesan dari seorang pelayan kepada Ziya.
Mendengar nama Tuan Alberto sudah pulang, sedikit mengagetkan perasaan Ziya.
Mungkin berdebar-debar kali ya,, 😁
" Hah! Dia sudah pulang,," Ucap Ziya.
" Iya Nyonya,, dan sekarang Tuan dan yang lainnya sedang menunggu Nyonya di ruang makan." Bilang Vena menjelaskan pesan dari pelayan perempuan tadi.
Ziya mengangguk mendengarkan ucapan Vena saat itu.
" Baiklah,," Ucap Ziya menurut.
Lalu Ziya bangun dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu kamar Alberto.
Diikuti oleh Vena di belakangnya, karena sang pemilik kamar sudah kembali, oleh sebab itu Ziya berpikir bahwa dirinya ingin segera pindah lagi ke kamar Zoya.
Karena, ia tidak mau nantinya akan dimarahi Alberto apabila ia sudah sadar ini masih tetap di kamar Alberto.
" Vena nanti saya akan segera kembali ke kamar saya,," Ucap Ziya.
Vena menjawab sambil mengikuti langkah kaki Ziya.
" Tidak Nyonya,, Mulai sekarang Nyonya akan tetap tinggal dan tidur di kamar Tuan, bersama Tuan Alberto,, Nyonya,," Ucap Vena yang membuat Ziya sedikit kaget dan menghentikan langkahnya.
Ziya merasa tidak percaya atas ucapan Vena saat ini. Karena, menurut Pamannya Erwin, Zoya dan Alberto selama ini menjalankan hubungan yang sangat buruk, sehingga Alberto tidak pernah memperlakukan Zoya sebagai seorang istri bahkan Alberto saja menginginkan Zoya untuk tidur terpisah darinya dan memiliki kamar yang berbeda.
" Paman bilang,, bukannya Alberto tidak memperdulikan Zoya, dan kenapa dia ingin ini melakukan padaku,, bahkan selama ini Zoya juga memiliki kamar sendiri,, aku jadi curiga,," Gumam kecurigaan Ziya dalam hati.
Yang lebih membuat Ziya sedikit bingung adalah sikap Alberto yang telah memberikannya seorang pelayan pribadi dan seolah Alberto sendiri sangat memperdulikannya ?
" Memang,, apa yang dipikirkannya saat ini padaku,, apa dia ingin mencari tahu tentang diriku..?" Ucap Ziya dalam hati.
Ziya pun menghembuskan nafasnya, dan memilih pasrah saja atas permintaan dan perlakuan Alberto padanya. Daripada tidak menuruti kehendaknya dan membuat keluarganya mendapatkan ancaman besar dari seorang Alberto lebih baik menuruti kehendak Sang Tuan Besar Alberto.
" Baiklah,, berarti saya akan tetap tidur di kamar ini,," Ucap Ziya yang membuat Vena tersenyum.
" Iya Nyonya,," Ucap Vena.
" Ya sudah, kita ke ruang makan,," Ajak Ziya pada Vena.
" Baik Nyonya,," Ucap Vena mengangguk.
Lalu, Ziya melangkahkan kakinya menuju ke tangga dan turun dari tangga, Ziya masih saja takjub dan kagum atas kemegahan kediaman Alberto Alexandre ini.
Sungguh-sungguh megah bahkan Ziya merasa bahwa ia sekarang sedang berada di sebuah istana yang sangat megah, apalagi sentuhan desain gaya rumah Alberto ini khas dengan sentuhan gaya Eropa dan Yunani yang membuat rumah ini begitu indah.
Memang Alberto memiliki selera yang cukup tinggi sehingga membuat dirinya membangun rumah yang sangat indah dan pastinya besar.
" Heemm,, rumah ini begitu indah, walaupun aku sudah melihatnya tetapi mataku tidak pernah bosan untuk memandang setiap sudut rumah ini,, Alberto begitu memiliki selera yang sangat bagus,," Puji Ziya dalam hati.
Lalu, Ziya menatap semua barang-barang antik yang diletakkan di setiap sudut rumah Alberto, membuat dirinya kagum atas semua barang antik tersebut, Ziya hanya memikirkan berapa semua harga barang tersebut,, mungkin sekitar jutaan dolar.
" Heeemm,, Alberto ternyata suka juga dengan koleksi barang antik,, mungkin semua ini sangat mahal,," Ucap Ziya yang menggelengkan kepalanya.
Ziya sedikit merasakan takut dan ngeri atas pekerjaan Alberto yang berada di dunia hitam, apakah sangat penting bekerja di jalur dunia hitam.
" Apa sangat penting bergelut mencari uang di dalam dunia hitam ? Apakah Alberto juga memiliki bisnis perdagangan manusia ? Dan apakah Alberto juga menjalankan bisnis perdagangan organ tubuh manusia ?" Gumam Ziya dalam hati.
" Hiiihhhh,," Ucap Ziya yang sedikit gemetar dan merinding.
Vena yang melihat Ziya diam dan merinding itu langsung menanyakan kepada Nyonya nya kenapa sampai merinding seperti saat ini.
" Ada apa, Nyonya,, ?" Tanya Vena menghampiri Ziya.
" Hah! Tidak apa-apa,," Ucap Ziya menggelengkan kepalanya.
Memang benar semua hal di dalam pikiran Ziya saat ini membuat bulu kuduknya meremang berdiri, karena memang ia merasakan hal yang takut terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh Alberto saat ini.
Ingin sekali rasanya Ziya memaki Zoya, jika suatu saat ia bertemu dengan saudara kembarnya itu. Bagaimana mungkin Zoya bisa masuk ke dalam keluarga Alexandre yang sangat mengerikan ini. Ziya tidak habis pikir atas tindakan yang dilakukan Zoya selama ini.
" Hem,, Zoya, Zoya, jika aku bertemu denganmu nanti,, maka aku akan memakimu, kenapa kau mau masuk ke dalam keluarga ini, sehingga menyebabkan ancaman besar bagi keluarga kita,," Gumam Ziya kesal pada Zoya.
Ziya menghela nafasnya, karena ia teringat bahwa Zoya betapa sangat menyukai uang dan kemewahan. Oleh sebab itu, Zoya akan rela melakukan apapun yang ingin dia gapai dalam hidupnya. Hidup dalam bergelimang harta sangat ingin dicapai oleh Zoya dan apabila hidup tanpa adanya harta maka itu tidak mungkin bagi Zoya.
" Heemm,, tapi memang Zoya sangat menyukai kemewahan,, ya, karena itu hal ini dilakukannya,," Ucap Ziya terakhir kali mengingat kelakuan Zoya yang selama ini telah memiliki hubungan dengan keluarga Alexandre ini.
Membuat Ziya sedikit geram, atas kelakuan saudara kembarnya ini.
Ziya menghela nafasnya dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan yang begitu menakjubkan bagi semua mata yang memandang.
Ziya pun melangkahkan kakinya perlahan menuju ruang makan.
****