Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bab



Sesaat Vena menghentikan langkah kakinya sejenak, karena ia sangat tahu apa perbedaan antara ruang kerja dan juga ruang kamar pribadi di dalam kediaman Alexandre ini. Betapa terkejutnya Vena ketika melihat Axeloe yang sengaja berdiri di depan pintu kamarnya dan membuka pintu kamar itu menggunakan kode dari jari tangannya sendiri.


Sambil membelalakkan matanya dan sedikit menelan salivanya yang penuh di dalam rongga mulut, saat ini rasa takut dan juga rasa khawatir bercampur aduk ketika mendengar ucapan Axeloe yang menginginkan dirinya untuk ikut masuk ke dalam kamarnya itu.


" Apa?? bukannya ini ruangan kamar Tuan Axeloe ?" Tanya Vena dalam hatinya dengan mata terbelalak dan juga sedikit kaget melihat tempat yang dimaksud oleh Axeloe.


" Jadi maksudnya ruangan khusus itu, kamar pribadinya ?" Tanya Vena lagi dalam hatinya sambil mengangguk seolah baru memahami akan maksud dari perkataan Axeloe padanya tadi.


" Aduh, aku harus bagaimana, masa aku akan masuk ke dalam kamarnya, itu tidak mungkin,," Gumam Vena dalam hatinya yang masih bingung dengan kelakuan Axeloe serta terlihat jelas dari raut wajahnya yang kebingungan.


Setelah membuka pintu kamar menggunakan finger print sebagai kode untuk membuka pintu ruangan kamar pribadinya itu, sambil menoleh ke arah Vena, dengan sangat lembut Axeloe meminta Vena untuk masuk terlebih dahulu ke dalam kamarnya. Namun hal itu membuat Vena sedikit kaget dan juga kebingungan atas ucapan Axeloe yang memintanya terlebih dahulu untuk masuk ke dalam kamarnya itu.


" Masuk,," Ucap Axeloe yang memberikan sebuah permintaan pada Vena.


" Akkkhh iya Tuan,," Jawab Vena dengan wajah yang kebingungan karena, tidak mendengar ucapan Axeloe yang meminta dirinya untuk masuk.


" Heemmm,, masa kau tidak dengar, aku bilang masuk !!" Ucap Axeloe lagi dengan jelas kepada Vena sehingga membuat Vena hanya bisa mengangguk dan sedikit mengubah ekspresi wajahnya dengan kebingungan antara mau masuk atau tidak.


Saat ini Vena berada di dalam posisi yang sangat membingungkan antara mau masuk atau tidak. Karena, dengan sengaja sekali Axeloe menginginkan dirinya untuk masuk membawakan barang peralatan miliknya itu ke dalam kamar. Sebenarnya di dalam hati besar Vena, Vena sama sekali tidak mau masuk ke dalam ruangan kamar itu, tapi apa boleh buat, mau tidak mau Vena harus masuk ke dalam kamar itu menuruti perintah yang telah diberikan Axeloe kepadanya.


" Aakkhh baik Tuan,," Ucap Vena sambil menganggukkan kepalanya dan melangkah dari tempatnya berdiri saat ini mendekati Axeloe yang sedang berdiri di depan pintu kamar.


" Eemmm, tapi Tuan,," Seru Vena sesaat saat dirinya sudah berada di dekat pintu kamar Axeloe.


" Apa ?" Tanya Axeloe dengan suara sedikit tegas hingga membuat Vena hanya bisa menggelengkan kepalanya bingung mau mengatakan apa pada Axeloe.


" Tidak ada Tuan,," Jawab Vena sambil melangkahkan kakinya dengan pasti masuk ke dalam kamar pribadi Axeloe.


" Heehhh, dasar wanita polos,," Ucap Axeloe dalam hatinya sambil tersenyum nakal melihat Vena yang sedang menganggukkan kepalanya menuruti perintah darinya itu.


Sambil tersenyum nakal Axeloe ikut mengiringi langkah kaki Vena yang sudah masuk ke dalam kamarnya itu. Walaupun di dalam hati Vena saat ini sedang digandrungi perasaan yang bercampur aduk serta berkecamuk mengganggu pikirannya. Namun, langkah kakinya sama sekali tidak terlihat bahwa ia dalam perasaan yang begitu jelas ketakutan.


****