
Membuat Ziya sedikit geram, atas kelakuan saudara kembarnya ini. Ziya menghela nafasnya dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan yang begitu menakjubkan bagi semua mata yang memandang.
Ziya pun melangkahkan kakinya perlahan menuju ruang makan. Dan melihat semua keluarga sedang berkumpul dan berada di ruang makan, kecuali Demian putra kecilnya.
Ada perasaan khawatir dan cemas dalam diri Ziya karena, ia tidak melihat adanya Demian di ruang makan saat ini. Lalu Ziya bertanya kepada Vena kenapa di ruang makan tidak ada Demian disana.
" Vena, kenapa Demian tidak ada,," Tanya Ziya yang khawatir karena tidak melihat Demian.
" Tuan Muda, masih berada di kamarnya Nyonya,," Ucap Vena yang membuat Ziya mengangguk.
Alberto dan yang lainnya melihat kehadiran Ziya di ruang makan itu. Terlihat sekali wajah sinis Gladys dan Claire yang memandangnya dengan tatapan tajam.
Ziya melangkahkan kakinya duduk di sebelah Isabelle putri kedua Alberto.
Disaat Vena ingin menarik kursi tempat duduknya Ziya tepat di sebelah Alberto karena perintah dari Alberto, Ziya lebih memilih duduk di sebelah Isabelle putri kedua Alberto.
" Silahkan duduk Nyonya,," Ucap Vena lembut pada Ziya.
Lalu, Ziya melihat wajah Alberto dan mata Alberto menatapnya untuk menyuruhnya duduk di sebelahnya yang telah disediakan untuknya.
" Aku duduk disini saja,," Ucap Ziya yang memilih tempat duduk tepat di sebelah Isabelle.
Untung saja saat itu Isabelle tidak bergeming sedikitpun atas adanya Ziya yang sedang berada di samping.
Karena, Ziya mengingat bahwa kejadian yang membuat kepalanya terluka karena ia telah memilih tempat duduk tepat di sebelah Alberto.
Daripada memilih duduk di sebelah Alberto dan menambah kecemburuan Claire, sehingga memancing masalah dirinya dengan Claire lebih baik dia duduk menjauh dari Alberto.
Ziya melirik wajah Gladys dan Claire yang tersenyum penuh kemenangan, karena menurut pendapatnya, sepertinya Ziya takut atas hal yang terjadi padanya kemarin.
Di dalam benak Ziya yang melihat Claire tersenyum merekah, mengumpat Claire yang sedang senang sekali sekarang.
" Heh!! senang sekali dia, karena, aku lebih memilih duduk disini, daripada di sebelah Alberto,, dia pikir, aku telah kalah,, kita lihat saja nanti,," Gumam Ziya dalam hati yang sangat tidak menyukai adanya Claire sedang tersenyum merekah itu.
Karena, Ziya telah duduk di barisan meja makan. Alberto memerintahkan untuk dirinya segera makan, bukannya hanya sekedar melihat semua makanan itu.
" Ayo makan,," Ucap Alberto yang menawarkan Ziya memakan, makanan yang telah disiapkan pelayan untuk dirinya.
Ziya pun menuruti tawaran dari Alberto yang menyuruhnya makan. Ziya mulai menyuapkan sup yang ada di hadapannya dengan pelan, namun sesaat sup itu masuk ke mulut membuat Ziya batuk karena merasakan rasa asin dan pedas merica di mulutnya.
Karena, melihat Ziya terbatuk saat menyuapkan sup di mulutnya. Claire tersenyum senang, melihat Ziya yang kena atas perangkap makanannya.
" Sialan, mereka benar-benar jahat,," Gumam Ziya dalam hati yang menatap wajah Claire terlihat sekali atas senyuman kemenangannya itu.
Alberto mengerutkan dahinya, saat melihat Ziya tidak lagi memilih untuk memakan sup yang ada di hadapannya.
" Apa yang harus ku makan,," Ucap Ziya merasa dipermainkan.
Ziya memilih memakan sandwich, namun saat Ziya memasukkan sepotong sandwich dalam mulutnya, kembali Ziya merasakan sesuatu yang tidak enak dari sandwich yang berada di mulutnya. Spontan, Ziya ingin memuntahkan sandwich yang berada di mulutnya itu.
" Pahiitt,," Ucap Ziya ingin muntah.
Disaat Ziya berdiri dari tempat duduknya dan ingin berlari menuju ke toilet, serta memuntahkan potongan sandwich di dalam mulutnya, namun suara dingin Alberto membuat diri Ziya menghentikan langkahnya.
" Mau kemana kamu ?" Tanya Alberto dengan suara dinginnya.
" Ke toilet,," Ucap Ziya dengan mulutnya yang penuh dengan potongan sandwich.
Karena, semua keluarga sangat tahu bagaimana kebiasaan Alberto kalau sedang berada di ruang makan. Alberto tidak menyukai jika ada orang yang dengan sengaja meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan makanannya.
Atau orang tersebut sengaja pergi meninggalkan makan pagi keluarga dan mendahului dirinya. Semua orang harus menunggu sang penguasa di keluarga besar Alexandre itu selesai menyantap sarapan paginya.
" Duduk!!" Perintah Alberto pada Ziya.
Ziya tidak bisa menahan rasa pahit yang berada di dalam mulutnya, kebetulan Martin yang duduk tepat di sebelahnya juga langsung cepat-cepat mengambilkan tisu untuk Ziya lalu memberikannya.
Sangat terlihat sekali tatapan tajam mata Gladys terhadap Martin yang sangat marah itu. Namun, Ziya mengerti ia tidak mau mengambil tisu dari tangan Martin. Ziya meraih tisu sendiri lalu mengeluarkan sandwich pahit yang berada di dalam mulutnya saat itu.
" Wuuuueeeekkk,,," Suara mulut Ziya mengeluarkan sandwich nya.
" Maaf,," Ucap Ziya melihat semua orang yang memandangnya dengan jijik.
Lebih terlihat lagi di mata Gladys dan Claire pastinya.
Dengan gerakan cepat Vena langsung mengambil segelas air putih dan memberikannya pada Ziya saat itu. Ziya langsung meminumnya.
" Terima kasih, Vena,," Ucap Ziya tersenyum lembut pada Vena dan hanya dibalas senyuman serta anggukan dari Vena.
" Selera makanku hilang!! kau sungguh menjijikkan,," Bentak Claire yang menatap tajam pada Ziya.
" Tidak tahu sopan santun,," Timpal Gladys yang menambah api dari kekesalan Claire pada Ziya.
Gladys dan Claire memang sengaja ingin membuat Ziya tidak betah hidup dan tinggal di tempat ini bersama Alberto. Dan di pikiran mereka sangat menginginkan bahwa Ziya saat ini lebih memilih bercerai dari Alberto daripada tetap harus tinggal di tempat ini.
Apalagi sekarang, mereka telah melihat perlakuan dan sikap Alberto yang mulai memperhatikan Ziya dan membuat Claire berencana untuk segera menyingkirkan Ziya di dalam kehidupan Alberto.
Apapun konsekuensinya akan dilakukan oleh Claire agar ia bisa menduduki jabatan menjadi Nyonya Alberto Alexandre, apapun yang terjadi Claire tetap mantap untuk melakukan rencananya.
Daripada melayani perkataan Gladys dan Claire, Ziya lebih memilih diam dibandingkan harus melawan dan berdebat lagi dengan mereka.
Karena, Ziya duduk terdiam tanpa menyentuh satu makanan pun membuat Krystal putri pertama Alberto menatapnya dengan sinis.
" Apa menurutmu makanan disini tidak enak ? Atau apakah lebih enak makanan di rumah kekasihmu ?" Ucap Krystal memaki Ziya dan membuat Ziya menatap dingin pada Krystal saat ini.
Ziya kesal sekali atas ucapan yang dilontarkan oleh Krystal padanya saat ini. Memang Krystal adalah putri tertua atau putri pertama Alberto dengan mantan istri pernikahannya yang pertama.
" Sungguh tidak sopan ucapan gadis yang baru berusia enam belas tahun ini." Ucap Ziya dalam hati yang menatap Krystal dingin.
Entah bagaimana Alberto mendidik putri pertamanya hingga mengeluarkan ucapan-ucapan kasar sama seperti ucapan Gladys dan juga Claire.
Saat ini Krystal putri pertama Alberto, baru berusia enam belas tahun, sedangkan Isabelle putri keduanya baru berusia empat belas tahun. Dua orang remaja yang seharusnya sangat perlu untuk diperhatikan oleh kedua orang tuanya yang terlebih lagi adalah sosok Ibunya.
" Mungkin, karena mereka tidak diperhatikan oleh Ibunya makanya, didikannya sama seperti Claire dan Gladys,," Ucap Ziya sambil menatap kedua wajah anak Alberto saat ini.
Suasana makan saat ini sangat tidak mengenakkan bagi Ziya, baru dua kali bagi Ziya untuk mengikuti makan bersama, dua kali juga dia dipermalukan dan dipermainkan seperti saat ini.
Ingin rasanya Ziya lari dari ruang makan dan lebih baik dirinya bersama Demian di kamar, dibandingkan harus bersama dan berdebat dengan orang-orang yang tidak menyukai akan kehadirannya itu.
Membuat diri Ziya sendiri merasa tidak mau melakukan apa-apa saat ini termasuk makan.
****