Mafia And Angel

Mafia And Angel
Bag. 139 - Penyerangan Tidak Terduga



Saat mobil Alberto telah meluncur ke jalan yang diikuti oleh beberapa mobil pengawalnya. Di saat itu juga ada beberapa mobil yang terlihat sangat banyak sekali yang sengaja menyerang mobil Alberto.


DOOORRR!!!


Bunyi tembakan yang mengenai kaca mobil Alberto sebelah kiri.


Tepat di samping kiri mobil yang dikendarai oleh Alberto dengan sengaja mobil yang mengiringi mobilnya itu, menembakkan peluru pistolnya ke arah mobilnya itu. Alberto kaget dengan apa yang telah terjadi saat ini. Memang benar, karena, sebuah penyerangan secara langsung menyergap dirinya yang tidak terlalu banyak membawa pengawal.


" Oh sh.it, Damn it,," Umpat Alberto kesal melihat beberapa mobil yang berani mengiringinya itu.


Karena, sudah terlalu sering mendapatkan penyerangan yang bukan pertama kalinya bagi Alberto. Oleh sebab itu, Alberto tetap harus waspada dengan penyerangan yang ada. Dengan segera, Alberto mencari cara untuk menghadapi semua orang yang telah berani bermain dengan menyerangnya ini.


" Berani-beraninya mereka menggangguku, baik akan aku layani kalian semua,," Ucap Alberto yang sengaja menundukkan kepalanya ke dalam mobil.


Mobil pengawal Alberto yang terlatih segera mengapit mobilnya itu supaya bisa melindungi Tuan Besar yang sedang berada di dalam mobil. Karena, mendapatkan perlindungan dari mobil pengawalnya dengan segera Alberto mengambil senjata api yang ia letakkan khusus di dalam mobilnya.


Dan segera menggunakan pengaman tubuhnya yang ia letakkan di dalam mobil. Alberto belum ingin kalah dari musuh-musuhnya sebelum ia menuntaskan semua masalah yang telah banyak terjadi pada dirinya. Oleh sebab itu, dengan membabi buta, Alberto segera menembak dan melawan mereka yang telah berani menyerangnya itu.


" Baik, aku hadapi kalian semua,," Bilang Alberto yang segera mengeluarkan kepalanya dari kaca dan menembak dalam keadaan jarak jauh mobil yang ada.


Dengan kehebatannya itu, Alberto segera mengeluarkan tangan dan sedikit kepalanya yang sudah memakai pengaman, sehingga dengan bebas Alberto menembak kemanapun yang ia mau. Sesuai dengan keahliannya itu, Alberto sangat mahir sekali dalam menembak hingga sekali tembakan saja sudah menembus tepat ke sebuah sasaran yang ada.


Karena, jumlah lawannya itu sangat banyak, Alberto tidak yakin dengan keadaan pengawalnya yang terlihat begitu sedikit. Oleh sebab itu dengan segera Alberto, memanggil bantuan dari kelompok mafia yang berada di dekat wilayahnya ini.


" Tembak mereka semua,," Teriak Alberto yang memerintahkan semua pengawalnya untuk tetap melawan semua musuhnya saat ini.


Dengan segera Alberto masuk kembali ke dalam mobil dan mengambil ponselnya. Alberto segera menelepon nomor darurat yaitu nomor kelompok gengster mafia yang berada di dekat wilayahnya saat ini. Di saat Alberto ingin memasukkan ponsel ke dalam kantong jasnya. Terdengar suara dari supir pribadi Alberto untuk menyuruh Alberto segera keluar dari mobil. Karena, sang supir jelas sekali melihat ada sebuah bom yang sengaja dilemparkan ke arah mobilnya.


" Tuan segera keluar,," Teriak supir Alberto yang sudah membuka pintu mobil milik Alberto secara otomatis.


Mendengar teriakan dari supirnya dengan segera Alberto keluar dari mobilnya menggelinding jatuh ke aspal dan pastinya tubuh Alberto bagian kepalanya sedikit terluka.


Dan,,


BAAAMMM !!


Sebuah bom yang dilemparkan tidak jauh dari mobil Alberto meledak seketika.


Alberto yang meloncat bersama supirnya dari mobil itu bangkit dari posisi tiarapnya dan melihat beberapa mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya dan terlihat sekali bahwa mobil itu bergerak ke arahnya dengan tujuan yang sangat diketahui olehnya yaitu menabrak dirinya dan supirnya.


" Bagus, dengan beraninya mereka ingin menabrak ku,," Umpat Alberto kesal saat melihat beberapa mobil yang melaju tinggi ke arahnya.


Namun, karena kepintaran yang dimilikinya dengan cepat Alberto mengambil sebuah korek gas yang memiliki daya api tinggi dan segera dihidupkan, lalu dengan cepat Alberto melemparkan korek itu ke arah mobil berkecepatan tinggi yang melaju ke arahnya dan tepat sekali dengan keinginan Alberto korek itu mengenai mobil yang melaju dan dengan senyuman sinisnya.


Terdengarlah bunyi ledakan dari arah pandangannya itu.


BAAAMMM !!


Ledakan mobil yang terjadi tepat di hadapannya. Dengan segera Alberto mengajak supirnya berlari ke arah mobil pengawalnya yang sedang melawan semua mobil lain.


" Come,," Ucap Alberto yang mengajak supir pribadinya segera berlari ke arah mobil pengawalnya.


Melihat musuh sangat banyak, Alberto hanya bisa yakin dengan kekuatan dirinya dan juga pengawalnya yang sedikit itu. Sebenarnya, Alberto sedikit menyesal kenapa hari ini dia sedikit sekali membawa pengawal tidak seperti biasanya.


Saat, Alberto bersama supirnya segera berlari ke arah mobil pengawalnya itu, disaat itu juga Alberto melihat dua truk besar yang saling berhadapan dengan sengaja melaju dengan kecepatan yang tinggi untuk menghimpit tubuhnya namun, disaat itu juga Alberto meloncat ke arah jalanan sebelahnya.


" Ooohh, Sh.it,," Umpat Alberto kesal yang melihat kedua truk kembali melaju ke arahnya.


" Ke sana,," Teriak Alberto pada supirnya.


Dengan segera supir pribadi Alberto itu menuruti dan juga pintar dalam sebuah perang yang terjadi saat ini.


Dan, Alberto mendorong supirnya untuk segera meloncat terlebih dahulu. Otomatis Alberto berhasil meloncat ke jalan sebelahnya sedangkan mobil truk itu tidak bisa mendapatkan dirinya yang telah lolos dari cengkraman mereka.


Saat Alberto meloncat ke jalanan sebelah, tanpa sadar lengannya itu sedikit tersangkut ke besi palang pembatas jalan, otomatis karena sangkutan itu membuat lengan bagian sebelah kiri tubuhnya itu, terluka robek cukup besar sehingga membuat pendarahan yang sangat banyak pada lengannya. Alberto kaget ketika mendengar suara seseorang memanggil dirinya.


" Dude, cepat naik,," Ucap Zavier yang segera berhenti di depannya dan menjulurkan tangannya itu.


Alberto yang melihat Zavier menggunakan mobil tercepatnya yaitu mobil sport yang anti dari peluru segera langsung masuk ke dalam mobil Zavier.


" Kau bodoh Dude, kau mau mati apa hah!" Ucap Zavier yang terlihat marah akan sikap Alberto yang hanya membawa beberapa pengawalnya Alberto.


" Bunuh mereka semua !!" Umpat Alberto yang menahan sedikit robekan di tangannya dan terlihat darah yang cukup banyak menetes dari luka di atas kepalanya.


" Pasti, mereka semua akan dikalahkan oleh pasukan Zavier." Ucap Zavier yang segera membawa mobilnya menjauh dari tempat penyerangan ini.


Alberto teringat dengan supir pribadinya, seorang supir yang selalu setia melindunginya itu, entah dimana keberadaannya saat ini.


" Sebentar Zavier, supir pribadiku,," Ucap Alberto yang teringat akan supir pribadinya.


" Tenang Dude, dia sudah bersama dengan Clifton, asistenku,," Ucap Zavier langsung kepada Alberto.


Sebenarnya, Clifton adalah asisten terbaru yang dibimbing oleh Zavier. Menurut Zavier anak ini sangatlah penting baginya, karena, kelincahan dan kelihaian dalam tubuhnya itu, membuat Zavier sangat menyukai anak ini untuk dididiknya.


" Huuuuhhhhh, baguslah," Jawab Alberto merasa cukup tenang setelah mendengarkan keadaan yang aman terhadap supirnya.


" Zavier, perintahkan kepada pasukan yang ada untuk menghabisi mereka semua." Ucap Alberto sangat marah sekali dengan perbuatan yang telah direncanakan ini.


" Tentu saja Dude, karena, mereka sudah berani mengganggumu hingga kau hampir terbunuh,," Bilang Zavier yang sudah memposisikan mobilnya sangat jauh dari daerah penyerangan.


" Heh!! tidak semudah itu mereka membunuhku,," Ucap Alberto sambil tersenyum sinis mengenang kejadian yang telah terjadi.


" Sebentar Dude, aku akan segera memerintahkan pasukanku, untuk menghabisi mereka semua tanpa tersisa." Ucap Zavier segera menghubungi asistennya untuk segera menghabisi semua orang yang telah berani menyerang Alberto secara terencana.


Dengan segera Zavier menghubungi tim bayangannya untuk menyerang semua pasukan yang ada.


" Habiskan mereka semua, jangan sampai ada yang tersisa,," Ucap Zavier berkata pada alat yang ia letakkan di telinganya itu.


Alberto sangat mengetahui dengan kondisi yang terjadi saat ini, pasti penyerangan ini dengan sendirinya merupakan suatu rencana dari seseorang yang sangat ingin mengambil nyawanya itu. Namun, bagi Alberto tidak akan mudah bagi orang yang bermusuhan dengannya untuk mengambil nyawanya itu, karena, di satu sisi Alberto percaya bahwa dirinya terlindungi.


" Sudah selesai, Dude, jika Axeloe tahu kau diserang seperti ini, mungkin dia segera kembali dan menyerang mereka semua tanpa ampun." Ucap Zavier yang sangat mengetahui bagaimana kehebatan Axeloe adik dari temannya itu.


" Heh! aku biarkan saja Axeloe bermain dengan keahliannya itu, asal keahliannya itu tidak melukainya, apa salahnya jika aku membebaskan dirinya." Ucap Alberto yang membanggakan adik laki-lakinya itu.


Memang benar sekali Axelo dan Zavier sama-sama memiliki sifat dan sikap yang suka membunuh musuh dan lawannya tanpa memikirkan apa saja bukti yang ada, tidak seperti Alberto yang masih bisa memaafkan kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan musuhnya, untuk mendapatkan bukti yang valid.


" Terserah kalian berdua saja, yang penting jangan lupa dengan misi rencana yang ada,," Ucap Alberto sambil menutup lukanya dengan menggunakan dasi panjang yang ada di lehernya.


Saat, Alberto sedang merapikan lukanya dengan segera Zavier mencari tahu bagaimana keadaan saat ini dari Clifton sang asisten pribadi yang sangat handal menurut dirinya itu. Zavier memperhatikan keadaan penyerangan saat ini, ternyata dengan sangat mudah sekali pasukannya menyerang balik atas tim penyerangan yang ada, sehingga dengan mudah semua penyerang itu telah berhasil dibabat habis oleh tim pasukan khusus Zavier.


" Dude, sepertinya mulai saat ini, kau harus selalu dijaga oleh tim pasukan khusus dariku, kau selalu menolak atas usulan dariku ini, kau selalu merasa hebat akan nyawamu itu,," Ucap Zavier yang memberikan dukungan dan nasihat pada Alberto.


" Ingat masih banyak orang yang ingin merebut posisimu itu,," Bilang Zavier yang mengingatkan akan posisi yang dimiliki oleh temannya itu.


" Baiklah, aku akan menerimanya, asal tim pasukan khusus yang kau berikan itu tidak merepotkanku,," Jawab Alberto tegas.


" Heh! tenang mereka adalah pasukan khusus yang kumiliki, mereka bekerja di sampingmu dalam keadaan yang tidak terlihat, sehingga semua musuh tidak mengetahui bahwa kau memiliki banyak pasukan yang tertutup, percuma saja aku mengajar mereka jika tak berguna." Ucap Zavier yang tersenyum pada Alberto.


" Bagaimana dengan lukamu, kita ke tempat Daniel ?" Tanya Zavier pada Alberto sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


" Tidak perlu, hubungi Daniel dan Samuel kita ke rumahku saja,," Ucap Alberto yang sedikit menyunggingkan senyumannya.


Saat di dalam mobil Alberto tersenyum sendiri merasa senang dan bahagia atas dirinya yang terluka ini. Alberto merasa bahwa dengan lukanya ini dia akan melihat bagaimana cara dan sikap Ziya menghadapi dirinya, apakah Ziya panik, apakah Ziya akan tertawa melihatnya seperti ini. Entahlah yang pasti jawabannya akan didapatkan setelah mereka sampai di rumah nanti.


Zavier merasa heran dengan sikap Alberto yang tersenyum sendiri saat ini. Ingin sekali rasanya Zavier memukul wajah Alberto supaya bisa kembali sadar dengan pikiran gilanya itu.


" Oh God, sepertinya Tuan Besar yang kumiliki ini sudah gila,," Umpat Zavier yang sedikit menoleh ke arah Alberto.


" Aku ingin lihat apakah, istriku itu benar-benar menyayangiku,," Ucap Alberto sambil menjilati darah yang mengalir dari atas kepalanya.


Zavier hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengarkan ucapan Alberto yang terdengar seperti seorang laki-laki yang sedang dimabuk cinta. Tanpa menghiraukan kelakuan Alberto di sampingnya itu, dengan cepat Zavier melajukan mobilnya.


Tak lama kemudian, akhirnya mobil yang dikendarai Zavier telah tiba di kediaman, Alberto segera turun dari mobil dan juga diikuti oleh Zavier di sampingnya. Dengan segera Alberto masuk ke dalam rumah dan terlihatlah di dalam rumah sedang berkumpulnya beberapa wanita yang ada di rumahnya itu, siapa lagi kalau bukan Gladys, Claire, Isabelle dan Krystal.


Saat Alberto masuk dalam keadaan terluka seperti itu, rasa simpati dari Claire masih ada walaupun Alberto tidak memperdulikannya, Claire segera menghampiri Alberto dalam keadaan yang begitu cemas dan khawatir.


" Aaahh, Alberto apa yang terjadi denganmu ?" Tanya Claire segera berjalan menghampiri Alberto.


" Alberto apa yang terjadi padamu ?" Tanya Christin saat baru keluar dari kamarnya.


Melihat kondisi Alberto yang terluka membuat Christin kaget dan begitu juga dengan Gladys yang berpura-pura panik akan kejadian yang terjadi pada Alberto.


" Oh My God, Alberto, apa yang terjadi padamu, nak," Ucap Gladys yang begitu terlihat berpura-pura akan kepanikan di wajahnya itu.


Kedua putri Alberto ingin sekali memeluk Daddynya yang sedang terluka seperti itu, namun kedua putri itu seakan takut jika berdekatan dengan Alberto. Karena, selama ini Alberto selalu bersikap dingin dengan mereka. Oleh sebab itulah terjadi kerenggangan hubungan di antara kedua putri ini dengan Daddynya.


Saat tangan Claire ingin membersihkan darah yang menetes dari atas kepala Alberto dengan segera Alberto menepis tangan itu. Dan, berbicara langsung kepada Neneknya serta menyuruh Zavier untuk menunggu dirinya di ruangan kerja seperti biasanya.


" Grandma, Alberto langsung ke atas,," Ucap Alberto segera melangkahkan kakinya menuju ke atas.


" Dan kau Zavier tunggu aku di ruang kerja,," Bilang Alberto yang memerintahkan Zavier untuk menunggunya di ruang kerja.


Alberto segera melangkahkan kakinya ke atas setelah meminta izin dari Neneknya, saat Alberto menaiki tangga, Alberto melihat Vena baru saja keluar dari kamarnya Demian. Dengan segera Alberto bertanya dimana keberadaan Ziya saat ini. Saat, Alberto bertanya dengan Vena, pastinya Vena sangat terkejut akan keadaan yang terjadi pada tubuh Alberto.


" Vena,," Panggil Alberto terhadap Vena yang baru saja keluar dari kamar Demian.


" Aaahh Tuan, apa yang terjadi ?" Tanya Vena pada Alberto.


" Tidak apa-apa, dimana majikanmu," Tanya Alberto langsung pada Vena.


" Nyonya baru saja kembali ke kamar pribadi Tuan," Jawab Vena jujur.


Dengan segera Alberto melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya sendiri. Saat membuka pintu kamar Alberto masuk ke dalamnya dan melihat keadaan di dalam kosong, lalu, Alberto segera masuk ke dalam ruang tempat tidurnya terlihatlah Ziya sedang duduk sambil memisahkan dedaunan yang sudah mengering untuk membuat penelitiannya.


Melihat kaki Alberto yang mendekati dirinya dengan segera Ziya mendongakkan kepalanya melihat wajah Alberto yang mendekatinya itu. Betapa terkejutnya Ziya saat melihat wajah Alberto yang penuh akan darah mengalir dan lengan kirinya ditutupi dengan dasi yang sudah penuh dengan darah.


" Aaahh Alberto, apa yang terjadi padamu ?" Teriak Ziya bertanya saat melihat kondisi Alberto.


Ziya segera bangkit dari duduknya dan segera merangkul tubuh Alberto yang wajahnya penuh dengan darah itu.


" Alberto apa yang terjadi padamu ?" Tanya Ziya yang terdengar sedikit meringis ikut merasakan kesakitan yang terdapat pada tubuh Alberto.


" Hal biasa yang sering terjadi." Jawab Alberto yang membuat Ziya sedikit kesal.


" Hal biasa kau bilang, lebih baik kita ke rumah sakit,," Ucap Ziya yang terdengar cerewet di telinga Alberto.


" Tidak perlu, lebih kau yang mengobati lukaku,," Jawab Alberto sedikit menyunggingkan senyumannya.


" Tidak, aku tidak bisa mengobati lukamu,," Jawab Ziya sambil meletakkan tubuh Alberto di atas tempat tidur.


Setelah meletakkan tubuh Alberto di atas tempat tidur dengan segera Ziya mengambil tisu untuk membersihkan darah yang mengalir di wajah Alberto. Namun, saat Ziya ingin beranjak ke sebelah kiri tubuhnya, Ziya melihat di lengan Alberto sebuah dasi yang telah terikat sangat kuat.


Dengan segera Ziya membuka ikatan dasi itu, saat terbuka Ziya sedikit menjerit dan meringis kesakitan ikut juga merasakan apa yang sudah terjadi pada tubuh Alberto saat ini.


" Haaahh,, Oh God Alberto, ini lukanya sangat besar, kita harus ke rumah sakit, luka ini harus dijahit,," Ucap Ziya yang terdengar sangat cemas sekali melihat luka pada tubuh Alberto.


" Aku sudah mengatakan hanya kau yang bisa mengobatinya." Jawab Alberto yang masih bersikeras berdebat dengan Ziya.


" Alberto,, aku bukanlah dokter, lebih kita ke rumah sakit, bagaimana kalau luka ini infeksi,," Ucap Ziya yang masih saja bersikeras untuk membawa Alberto ke rumah sakit.


" Tidak apa-apa infeksi, asal selalu ada kau di sampingku, sayang,," Ucap Alberto yang membuat Ziya merasa takut akan kehilangan laki-laki di hadapannya ini.


" Aku akan selalu tetap di sampingmu,," Jawab Ziya yang segera memeluk tubuh Alberto.


" Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku Alberto,," Ucap Ziya saat berada di dalam pelukan Alberto.


" Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Ziya,," Bilang Alberto yang segera mencium puncak kepala Ziya.


" Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang, kalau tidak,," Ucap Ziya lagi yang mengangkat kepalanya dan menatap wajah Alberto yang penuh akan darah.


" Jangan khawatir sayang, lukaku ini pasti akan sembuh,," Jawab Alberto sedikit menyunggingkan senyumannya.


Terdengar suara ketukan dari pintu luar membuat Ziya sedikit kaget dan melepaskan pelukannya dari tubuh Alberto. Lalu, tanpa membiarkan Ziya menjauhi tubuhnya itu dengan segera Alberto menyuruh orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk ke dalam kamarnya.


****