
Karena, saat ini Ziya ingin meminta penjelasan langsung dari pihak kepala sekolah untuk menyelesaikan masalah yang terjadi itu, dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu angkuh dan hanya berpihak di sebelah Vanny saja hal itu membuat Ziya merasa bahwa kepala sekolah ini sengaja memojokkan posisi Ziya supaya bisa dipermalukan oleh dirinya.
" Heemmm, sepertinya ada yang ingin bermain untuk mempermalukan aku juga disini, oke aku ingin lihat bagaimana kalian melakukan rencana busuk itu terhadapku,," Gumam Ziya dalam hati sambil tersenyum tenang menatap semua orang yang ada di hadapannya saat ini.
Namun, Ziya sama sekali tidak merasa takut ataupun khawatir untuk menghadapi sikap ketidakadilan yang dilakukan oleh pihak kepala sekolah dalam menyelesaikan masalah Krystal ini.
" Baik, sebagai kepala sekolah disini, pastinya saya begitu mengenal bagaimana sikap dan kepribadian anak murid di sekolah saya, saya tidak akan melakukan tindakan yang tidak adil terhadap murid-murid saya apabila dia bersalah maka saya akan berikan hukuman, oleh sebab itu disini saya mengundang orang tua dari kedua pihak siswa yang sedang bermasalah di sekolah ini." Ucap Kepala Sekolah itu yang terdengar begitu pintar sekali dalam berbicara.
" Menurut pendapat dari Madam Zoya bahwa putrinya Krystal telah diberikan hukuman yang tidak sebanding dengan hukuman dari murid yang bernama Vanny, jelas sekali tidak sebanding, karena, disini Krystal putrinya Madam Zoya telah melakukan kesalahan yang besar terhadap teman satu kelasnya sendiri, dimana Krystal dengan arogannya berani membakar semua barang-barang Vanny yang ada di lemari sekolah, oleh sebab itu, yang bersalah jelas sekali Krystal." Ucap kepala sekolah itu dengan gaya santainya.
" Maaf kalau saya boleh menyanggah, apakah Ibu kepala sekolah tidak bertanya terlebih dahulu kepada Krystal dan Vanny, faktor dari mereka berdua bertengkar terjadi karena, apa, dan sebagai pemimpin di sekolah ini, Ibu kepala sekolah berhak untuk mengusut terlebih dahulu masalah ini sebelum terjadi,," Sanggah Ziya dengan gaya berwibawa.
" Heemm, tentu saja saya sudah mengusut masalah ini Madam Ziya, bahwa sebenarnya Krystal merasa iri kepada Vanny, karena, Vanny merupakan salah satu siswa terpintar di sekolah ini dan bahkan memiliki kedua orang tua yang begitu menyayanginya, tidak seperti Krystal sendiri yang mengakui perbuatannya bahwa ia merasa iri kepada Vanny,," Ucap Kepala Sekolah itu yang membuat masalah lain terhadap Ziya.
" Benarkah seperti itu, masalah utama antara Krystal dan Vanny menjadi sebuah pertengkaran ?" Tanya Ziya langsung pada Kepala Sekolah dengan wajah yang menyelidik.
" Tentu saja benar, karena, saya sudah mengusut semua permasalahan ini dengan tuntas, oleh sebab itu, saya wajib memberikan hukuman kepada Krystal yang melakukan kesalahan di sekolah ini,," Jawab kepala sekolah dengan gaya angkuhnya.
" Baik, kalau itu pendapat dari Ibu Kepala Sekolah, saya belum bisa memastikan apakah benar seperti itu masalah yang sudah terjadi, saya ingin menanyakan langsung kepada dua murid yang sedang bermasalah ini, saya ingin bertanya langsung kepada Vanny dan juga putri Krystal." Ucap Ziya yang terdengar menantang perkataan dari kepala sekolah.
" Maaf Madam Zoya, disini rumah sekolah, bukan tempat umum dan sebagai pemimpin saya yang harus melakukan suatu tindakan untuk menyelesaikan masalah ini dan Madam Zoya sama sekali tidak berhak untuk melakukan suatu penyidikan di sekolah ini,," Jawab kepala sekolah itu dengan sengaja.
" Heh!! berarti saya benar, bahwa putri saya Krystal sama sekali tidak bersalah, karena, kenapa, saya melihat Ibu Kepala Sekolah juga tidak berani untuk mempertemukan kedua siswa ini di hadapan kita semua, karena, saya ingin tahu bagaimana keaslian bukti dari pendapat di antara kedua murid ini,," Gumam Ziya sambil tersenyum tenang.
" Baiklah, kalau seperti itu, saya akan meminta bagian staf untuk memanggil Vanny yang sedang belajar di kelas dan apakah Krystal putri anda datang ke sekolah hari ini ?" Tanya Kepala Sekolah itu kepada Ziya sambil menatap sinis.
" Setiap hari, putri saya Krystal datang ke sekolah untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya, namun, pihak sekolah yang tidak mengizinkan putri saya untuk masuk ke dalam kelasnya,," Gumam Ziya sambil tersenyum sinis.
" Sungguh tidak dapat dipercaya, sekolah sehebat ini, tapi, telah membuat salah satu murid menjadi terpuruk dan putus asa hanya karena, satu kesalahan yang belum diusut dengan tuntas." Bilang Ziya lagi dengan wajah dinginnya.
Ketika, Ziya mengatakan suatu hal yang terdengar penting itu, membuat amarah kepala sekolah menjadi naik, namun, tidak bisa diungkapkan olehnya, karena, saat ini sudah ada orang tua dari siswa lain. Sehingga membuatnya hanya bisa memanggil bagian stafnya untuk memanggil Vanny. Dengan segera Kepala Sekolah itu memanggil stafnya melalui telepon.
" Segera panggilkan Vanny sekarang juga untuk datang ke ruangan saya dan biarkan Krystal untuk masuk ke dalam ruangan saya sekarang." Ucap kepala sekolah itu di dalam teleponnya.
Setelah selesai melakukan teleponnya terhadap stafnya itu, sambil menunggu kedatangan Vanny, Ziya segera membisikkan sesuatu kepada Vena sang asisten yang sedang duduk di sampingnya.
" Vena, bawa masuk Krystal saat ini juga,," Ucap Ziya yang sedang berbisik kepada Vena.
" Baik, Nyonya, tapi, Nyonya sendiri di dalam ruangan ini,," Gumam Vena dengan wajah cemasnya.
" Tidak apa-apa, jangan khawatir !" Jawab Ziya sambil tersenyum dan memberikan keyakinan pada Vena.
Namun, ketika Vena akan beranjak untuk berdiri tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan terlihatlah wajah Krystal masuk ke dalam ruangan itu, membuat Ziya tersenyum dan memberikan kekuatan kepada Krystal bahwa Ziya selalu mendukungnya.
" Selamat pagi,," Ucap Krystal saat masuk ke dalam ruangan kepala sekolah.
" Pagi," Jawab semua orang yang ada di ruangan itu.
Dan, Krystal langsung saja melangkah mendekati arah tempat duduk Ziya. Lalu, tak lama kemudian Vanny yang sudah dipanggil oleh bagian stafnya tanpa rasa hormat dan mengucapkan salam langsung saja masuk ke dalam ruangan kepala sekolah duduk di samping orang tuanya.
" Mommy, Daddy kenapa datang ke sekolahnya Vanny ?" Tanya Vanny yang baru masuk ke dalam ruangan.
" Mommy ingin menyelesaikan masalahmu Vanny, bahwa anak di hadapanmu ini yang sudah merugikan semua barang-barang berharga milikmu di sekolah,," Jawab Ibunya Vanny yang terdengar ketus juga sama seperti anaknya.
Sementara itu, Ziya tersenyum senang ketika melihat Vanny yang baru saja dibanggakan oleh pihak sekolah bahwa Vanny merupakan salah satu murid terpintar di sekolahnya namun tidak memiliki rasa hormat sama sekali terhadap orang. Walaupun, Krystal putrinya Alberto memiliki mulut yang ketus saat berada di rumah, namun, sikap Krystal di sekolahnya ini terlihat begitu patuh. Jadi, Ziya merasa bahwa saat ini pihaknya selangkah lebih maju dibandingkan pernyataan dari kepala sekolah terhadap Krystal.
" Selamat Pagi, Vanny, saya adalah orang tua dari Krystal, apakah benar Krystal telah melakukan tindakan yang salah terhadapmu ?" Tanya Ziya langsung kepada Vanny.
" Ya, benar, dengan beraninya Krystal telah membakar semua barang-barang berharga milikku di lemari sekolah,," Jawab Vanny dengan begitu yakin.
" Bagaimana Madam Zoya sudah jelas bahwa Krystal putri anda bersalah,," Gumam Kepala Sekolah yang masih terlihat memihak kepada Vanny.
Namun, Ziya masih saja tetap tenang dan juga masih terus memberikan pertanyaan kepada Vanny dan juga Krystal.
" Maaf Ibu Kepala Sekolah apabila saya lancang, saya ingin menanyakan hal yang sebenarnya lagi kepada Vanny dan juga Krystal,," Ucap Ziya yang masih memberikan tatapan kepada Vanny tanpa menoleh sedikitpun ke arah kepala sekolah.
" Silahkan, jika anda belum puas atas jawaban dari Vanny saat ini,," Ucap Kepala Sekolah itu lagi.
" Baik, Vanny sekali lagi saya mau tanya, atas dasar apa Krystal sampai berani melakukan hal itu kepadamu, apakah kau yang telah bersalah terlebih dahulu kepada Krystal atau tidak mungkin Krystal melakukan hal itu jika tanpa sebab apapun darimu," Ucap Ziya yang membuat Vanny sedikit terdiam, karena, memang benar Vanny merasa bahwa dia adalah puncak utama yang bersalah terlebih dahulu terhadap Krystal.
" Eemm, Eemm, karena,," Gumam Vanny yang mulutnya sedikit sulit untuk berbicara.
Karena, terlihat saat ini Vanny sulit untuk mengatakan apapun, karena, memang benar kelakuan dia yang terlebih dahulu bersalah terhadap Krystal, oleh sebab itu, Ibunya Vanny langsung menyatakan bahwa Krystal yang telah membuat anaknya ketakutan untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Ziya.
" Sudah jelas bahwa anak kau bersalah, tapi, kau masih saja tidak bisa menerima kenyataan yang ada." Umpat Ibunya Vanny yang terlihat begitu tidak menyukai adanya Krystal di dalam ruangan ini.
" Maaf, bukan seperti itu Ibu, saya disini hanya ingin melihat keadilan yang ada di sekolah ini." Ucap Ziya yang terdengar seperti memberikan penekanan kepada kepala sekolah.
" Madam Zoya sudah jelas bahwa Krystal telah bersalah atas semua kesalahan ini, tapi, Madam Zoya masih saja bersikeras tidak menerima kenyataan yang ada,," Ucap Kepala Sekolah itu yang masih terlihat begitu membela Vanny.
" Oh tidak bisa kepala sekolah jika anda menganggap bahwa kesalahan ini adalah kesalahan Krystal sepihak, berarti anda selama ini tidak pernah mendengarkan pendapat dari putriku Krystal. Jika benar, pantas saja bahwa anda hanya memberikan hukuman kepada putri saya saja dan juga di sekolah ini terlihat begitu jelas tidak ada keadilannya sama sekali," Ucap Ziya langsung menoleh ke arah kepala sekolah dengan tatapan mata yang begitu tajam.
Ketika, melihat Ziya yang begitu besar membela kebenaran Krystal, tak disangka air mata Krystal terjatuh dan mengalir di wajahnya. Karena, melihat bahwa sebenarnya sosok Ziya ini begitu berani membuat kepala sekolah itu akhirnya membuat suatu rencana lain, supaya Ziya merasakan suatu kejelasan bahwa memang benar Krystal bersalah.
" Madam Zoya, saya sudah jelaskan bahwa Krystal memang bersalah, jadi anda tidak perlu membuat masalah ini semakin besar,," Ungkap kepala sekolah itu dengan gaya angkuhnya.
Ketika, kepala sekolah itu terlihat begitu jelas membela Vanny dan sedikitpun tidak ada rasa keadilannya dalam menyelesaikan masalah yang dilakukan oleh Krystal terhadap Vanny, dengan gaya beraninya Krystal langsung saja menyanggah ucapan dari kepala sekolah demi memberitahukan kebenaran yang ada.
" Maaf Ibu Kepala Sekolah, jika Krystal menyanggah ucapan dari Ibu. Krystal pernah berkata pada Ibu disaat Krystal dipanggil hari itu, bahwa sebenarnya Krystal tidak akan membalas semua kesalahan yang telah dilakukan oleh Vanny, karena, memang jelas Vanny telah bersalah kepada Krystal. Ibu mau tahu yang sebenarnya, bahwa Vanny selama ini telah berani membuat fitnah jika Krystal adalah seorang wanita malam yang mendapatkan dukungan ekonomi dari keluarga Alexandre. Dan, asal kau tahu Vanny bahwa Alberto Alexandre adalah Daddyku selama ini, kenapa aku tidak mau memberitahukan kepada pihak sekolah dan juga teman-teman di sekolah bahwa Daddy Alberto sama sekali tidak mengizinkanku untuk memberitahukan siapa identitas yang sebenarnya tentang diriku,," Ucap Krystal dengan wajahnya penuh tangisan.
Untuk sesaat Ziya terperanjat mendengar pengakuan Krystal yang ternyata lebih menyayat hati dibandingkan cerita Krystal kemarin padanya. Sungguh wajar sekali jika Krystal menangis sesenggukan dan terlihat murung di setiap harinya, karena, selalu dianggap oleh semua temannya bahwa dirinya bukanlah bagian dari keluarga Alexandre. Melainkan wanita malam yang menjualkan dirinya demi mendapatkan uang yang banyak. Sungguh miris sekali semua cerita yang telah diungkapkan Krystal saat ini, sehingga membuat Ziya langsung memeluk erat tubuh putrinya ini.
" Maafkan Mommy, sayang yang tidak pernah memperhatikan perkembanganmu disaat remaja," Gumam Ziya sambil memeluk erat tubuh Krystal.
" Mommy tidak bersalah tapi mereka yang bersalah sehingga membuat Krystal menjadi begini,," Ungkap Krystal yang menangis dengan sesenggukan di pelukan Ziya.
" Maaf Bu, jika anda tidak mengetahui apapun yang terjadi di dalam keluarga Alexandre, jangan pernah berani mengungkapkan suatu hal yang tidak diketahui,," Umpat Ziya dengan matanya yang menatap tajam.
" Heh!! tidak perlu kau katakan Madam Zoya, memang itu kebenarannya, karena, sudah jelas bahwa Tuan Alberto Alexandre sama sekali tidak pernah memperdulikan kau sebagai istrinya dan juga anak-anaknya ini, hehehe,," Ucap Kepala Sekolah dengan suara dinginnya yang terdengar ketika suasana sedikit sunyi.
Saat ini Ziya merasakan bahwa kepala sekolah yang ada di hadapannya ini harus mendapatkan sebuah peringatan dari suaminya Alberto, bahwa sebenarnya Alberto Alexandre tidak pernah memiliki sifat yang buruk seperti itu terhadap keluarganya, oleh sebab itu, Ziya dengan rasa penuh percaya diri memerintahkan Vena untuk segera meminta Alberto datang ke sekolah Krystal saat ini juga.
" Maaf Ibu kepala sekolah, saya datang kesini hanya untuk membahas mengenai permasalahan yang terjadi pada anak-anak, bukan masalah kehidupan saya, saya sudah pernah berkata bahwa Alberto Alexandre bukanlah orang seperti itu, jika dia tidak memperdulikan keluarganya, tidak mungkin putri saya menuruti semua perintah dari Daddynya." Ucap Ziya yang masih saja bisa menahan emosinya.
" Heemm, ternyata benar, saya bisa membuktikan bahwa ucapan yang ku sampaikan saat ini adalah sebuah kenyataan, karena, memang betul Alberto Alexandre sama sekali tidak pernah memperdulikan keluarganya, jika ucapan saya ini salah buktikan kalau kau bisa memberi perintahan kepada Tuan Alberto untuk datang ke sekolah saat ini juga,," Ungkap Kepala Sekolah itu yang memberikan tantangan kepada Ziya.
" Baik, jika itu kemauanmu, saya akan segera meminta Alberto Alexandre untuk datang ke sekolah ini dan membuktikan kepada kalian semua bagaimana keperdulian yang ada dari suamiku,," Ungkap Ziya dengan wajah yang begitu sinis.
" Vena, segera hubungi Alberto sekarang juga, katakan padanya saat ini juga dia harus datang ke sekolahnya Krystal, jika dia tidak mau datang, aku tidak akan pernah mau untuk menemuinya di rumah,," Ucap Ziya yang terdengar seperti kekanak-kanakan namun, membuat Vena asistennya tersenyum menang.
Ketika, Ziya memerintahkan Vena untuk menyuruh Alberto segera datang ke sekolahnya Krystal memang terdengar seperti kekanak-kanakan, namun, Vena menyukainya hanya karena, majikannya itu berani mengungkapkan siapa sebenarnya suaminya itu. Bahwa memang benar suami majikannya saat ini begitu tergila-gila mencintai istrinya sendiri dan bahkan Alberto sendiri juga tidak lagi cuek terhadap putrinya, dikarenakan permintaan Ziya yang begitu besar terhadap suaminya itu.
" Baik Nyonya,," Jawab Vena mengangguk dengan segera mengeluarkan ponselnya.
" Tapi, Mom, bukannya Daddy hari ini ada rapat dengan semua relasinya," Ucap Krystal yang mengingat perkataan Alberto sebelum mereka pergi ke sekolah tadi.
" Biarkan saja sayang, semua orang disini begitu ingin mengetahui bagaimana sikap keperdulian Daddymu terhadap kita,," Jawab Ziya dengan gaya angkuhnya.
Dengan segera Vena mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi Alberto yang sedang berada di kantornya saat ini. Memang benar saat ini Alberto sedang melakukan rapat bersama karyawan dan semua relasinya, namun, Alberto lebih mengutamakan kepentingan Ziya dibandingkan perusahaannya saat ini. Karena, ancaman yang diberikan Ziya kepadanya itu begitu berat sekali bagi Alberto sendiri.
" Tunggu sebentar, saya terima telepon dulu,," Gumam Alberto kepada semua karyawan dan juga relasinya di ruangan rapat, ketika ponselnya berbunyi dan bertuliskan nama Vena.
" Baik Tuan," Jawab semua karyawan Alberto Alexandre.
" Ya, ada apa, Vena ?" Tanya Alberto kepada Vena.
" Tuan, Nyonya Zoya mengatakan saat ini juga Tuan harus segera datang ke sekolahnya Nona Krystal dan jika Tuan tidak datang saat ini juga, maka Nyonya tidak akan mau lagi untuk bertemu dengan Tuan,," Bilang Vena yang terdengar begitu menyeramkan bagi Alberto.
" Apa, kenapa seperti itu, Vena, apa yang sedang terjadi pada istriku ?" Tanya Alberto yang wajahnya menunjukkan kecemasan.
" Nyonya Zoya hanya berkata seperti itu, Tuan,," Bilang Vena lagi di dalam ponselnya.
" Baiklah, katakan pada Nyonya Besarmu, Istri kesayanganku bahwa suaminya akan datang sekarang juga,," Jawab Alberto dengan suaranya yang terdengar begitu ketakutan akan ancaman Ziya.
" Baik Tuan,," Jawab Vena yang mengakhiri teleponnya.
Setelah selesai menerima telepon dari Vena dengan segera, Alberto menghentikan rapat yang sedang berlangsung dan segera saja keluar dari ruang rapat, karena ia harus mendatangi sekolahnya Krystal.
" Untuk hari ini rapat dihentikan sementara, karena, saya baru saja mendapatkan masalah yang lebih penting,," Ucap Alberto kepada semua karyawannya.
" Baik Tuan," Jawab semua karyawan Alberto.
" Frengky, segera antarkan saya ke sekolah Krystal,," Ucap Alberto sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah lobby kantor.
" Baik, Tuan,," Jawab Frengky dengan cepat dan langsung memerintahkan semua pengawalnya untuk segera menyiapkan kendaraan Tuan Besarnya ini.
Saat ini Alberto sedang pusing memikirkan perkataan Vena yang segera menginginkan dirinya untuk datang ke sekolahnya Krystal. Dan, begitu jelas sekali bahwa Ziya istrinya begitu memaksakannya untuk datang ke sekolah. Hal ini membuat Alberto sendiri bingung atas sikap dan sifat Ziya yang selalu membuatnya merasa bingung sendiri. Apalagi saat ini, kenapa Ziya menyuruhnya datang ke sekolah Krystal dan begitu memaksakan dirinya.
" Apa yang terjadi padanya, kenapa sikapnya saat ini selalu berubah-ubah ?" Tanya Alberto dalam hatinya yang merasa bingung sendiri atas permintaan Ziya padanya.
Dengan segera mobilnya Alberto langsung saja meluncur ke arah sekolahnya Krystal. Sementara itu, Vena tersenyum sendiri merasa senang sekali mendengar suara Tuan Besarnya yang terdengar begitu sigap sekali ketika mendapatkan sebuah ancaman dari Ziya. Dengan sengaja Vena mengaktifkan speaker ponselnya, supaya semua orang yang sedang berada di ruangan kepala sekolah saat ini bisa mendengarkan ucapan yang disampaikan oleh Alberto.
Betapa terkejutnya wajah Kepala Sekolah ketika mendengarkan suara Alberto yang jelas sekali terdengar bahwa ia begitu mencintai istrinya yang sedang berada di ruang kepala sekolah itu.
" Bagaimana Vena ?" Tanya Ziya langsung kepada Vena dengan gaya angkuhnya.
" Seperti yang dikatakan oleh Tuan Alberto, bahwa ia segera datang ke sekolah ini Nyonya,," Jawab Vena sambil tersenyum.
" Heemm, bagus,," Jawab Ziya mengangguk.
Sambil menunggu kedatangan sang Tuan Besar, Ziya duduk dengan begitu tenang dan terlihat di wajahnya kepala sekolah saat ini, begitu cemas akan kedatangan Alberto, namun, dibalik kecemasannya itu bahwa kepala sekolah ini begitu senang bahwa ia bisa bertemu langsung dengan pria idamannya selama ini.
Tak lama dari penungguannya itu, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Alberto Alexandre dan beberapa pengawalnya telah sampai di depan pintu gerbang masuk sekolah Krystal, saat tiba di depan gerbang sekolah dengan segera Alberto turun dari mobilnya dan langsung saja melangkah masuk ke dalam sekolah. Saat sampai di sekolah, Alberto langsung menanyakan keberadaan Ziya saat ini.
" Dimana istriku ?" Tanya Alberto kepada Friek.
" Sudah di dalam Tuan, mungkin saat ini Nyonya berada di ruang kepala sekolah,," Jawab Friek dengan begitu yakin.
" Kenapa kau diluar, tidak menjaganya, bukannya saya memberikan tugas padamu untuk selalu menjaganya ?" Tanya Alberto lagi kepada Friek.
" Karena, saya sebagai pengawal dilarang masuk ke dalam atas aturan yang diberikan oleh kepala sekolah di sekolah ini, Tuan,," Jawab Friek dengan segera.
" Ooohh, semuanya masuk,," Ucap Alberto yang langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam sekolah.
Disaat Alberto dan semua pengawalnya ikut masuk ke dalam, saat itu juga dengan beraninya, penjaga sekolah mencegah tindakan Alberto yang mengajak semua pengawalnya untuk masuk ke dalam sekolah.
" Maaf, tidak ada yang boleh masuk ke dalam sekolah, jika tidak diberikan izin dari pihak sekolah,," Ucap penjaga sekolah itu dengan beraninya.
" Kau tidak mengenali siapa Tuan Alberto Alexandre ?" Tanya Frengky langsung kepada penjaga sekolah itu.
Dan, penjaga sekolah itu langsung melihat wajah Alberto yang sedang berdiri tegap di hadapannya tanpa memberikan suatu kata apapun. Dan, begitu jelas sekali menunjukkan wajah dinginnya, dengan wajah yang dipaksakan tersenyum dan jelas juga terlihat bahwa kakinya bergetar saat mengetahui orang yang dicegahnya itu adalah Alberto Alexandre. Dengan gaya ramahnya akhirnya penjaga sekolah itu langsung mempersilahkan Alberto beserta semua pengawalnya untuk masuk ke dalam sekolah.
" Hehehehe, maaf Tuan jika saya lancang, karena, saya tidak tahu jika Tuan Alberto yang datang,," Ucap Penjaga Sekolah itu dengan gaya penjilat.
Alberto sama sekali tidak menghiraukan ucapan yang dikatakan oleh penjaga sekolah, karena, saat ini di dalam pikiran Alberto adalah ancaman yang diberikan Ziya terhadap dirinya begitu menakutkan dibandingkan hal lainnya.
****