
Harapan Ziya cuma satu yaitu agar Zoya cepat kembali sebelum dirinya terlanjur jatuh cinta pada Alberto. Dan Ziya tidak ingin hal itu terjadi hingga berlarut-larut lamanya. Saat ini hanya satu harapan di hari Ziya yaitu kepulangan serta kembalinya Zoya di kediaman Alberto agar ia bisa lepas dari jeratan Alberto seperti yang Alberto lakukan saat ini.
Ziya yang bingung, bagaimana caranya agar dirinya bisa lepas dari pelukan Alberto saat ini. Karena, semakin Ziya menatap Alberto dengan tatapan kesal, semakin Alberto mengganggu dan menggodanya.
" Alberto, tolong lepaskan aku, aku tidak bisa tidur kalau dipeluk, sesak kalau begini." Bilang Ziya yang sedikit merengek di dekat Alberto.
" Hah! Iya kah ?" Tanya Alberto yang merasa tidak tahu bahwa Ziya memang merasa sesak.
" Iya, aku sesak sekali kalau seperti ini, tidak leluasa untuk bergerak." Bilang Ziya yang menekan tubuhnya agar bisa terlepas dari Alberto.
" Oh baiklah." Ucap Alberto yang merenggangkan tangannya.
Alberto pun melepaskan tangannya dari pelukannya terhadap Ziya untuk sementara waktu.
Setelah, Ziya puas mengambil nafas, lalu Alberto melihat Ziya sudah lega dan kembali memeluk Ziya. Ziya kaget karena, dirinya telah dipeluk oleh Alberto lagi bahkan saat ini pelukan tangan Alberto hanya di tubuhnya saja tidak menjangkau ke tubuh Demian.
Dengan sengaja Alberto memeluk Ziya erat di dalam tubuhnya supaya ia bisa menguasai tubuh Ziya saat ini. Ziya terlihat sangat cemas sekali karena, telah dipeluk erat oleh Alberto.
" Alberto, aku sudah bilang, aku sesak kalau dipeluk, bagaimana aku bisa tidur kalau seperti ini." Bilang Ziya yang sedikit tegang saat di pelukan Alberto.
" Zoya, biasanya kau tidak pernah seperti ini, kau selalu suka jika aku memelukmu bahkan lebih dari pelukan ini,," Ucap Alberto di dekat telinga Ziya.
Ziya mulutnya ternganga mendengar ucapan Alberto yang mengucapkan lebih dari pelukan apabila dia sedang berdua bersama Zoya.
" Iya, jika itu kau bersama Zoya,, tapi ini aku Ziya bukan Zoya istrimu,," Gumam Ziya dalam hati.
" Alberto, itu, karena, karena,," Bilang Ziya yang mulai terbata-bata membuat Alberto sangat ingin memakan bibir Ziya saat ini.
Karena, melihat wajah Ziya yang seperti penuh dengan kekhawatiran, akhirnya Alberto mulai memainkan perannya sebagai suami sesungguhnya untuk Ziya.
Padahal selama ini, mana pernah Alberto menyentuh Zoya, melihat Zoya saja membuat Alberto muak. Karena, Zoya sangat suka sekali untuk menggoda dirinya.
Dan, sedangkan Ziya yang sedang berada di sampingnya ini malah selalu ingin menjauhi dirinya. Bahkan sekali belum pernah Ziya menggoda dirinya, dan sekali terlihat sekali bahwa apabila Ziya ingin menggodanya, sandiwara Ziya itu sangat mudah untuk diketahui oleh Alberto.
" Karena apa, hmmmm,," Ucap Alberto yang mulai mendekatkan bibirnya di pipi Ziya dan mengendus lembut pipi Ziya.
Tangan jahil Alberto sengaja dimainkannya di bagian perut Ziya, sehingga membuat Ziya begitu terlihat sekali di wajahnya penuh ketakutan dan kecemasan.
" Albert,, Alberto,," Ucap Ziya yang merasa geli bercampur aduk dengan ketakutan.
" Hmmm,,," Ucap Alberto yang mengendus lembut aroma leher Ziya.
Tangan Alberto masih saja bermain jahil meraba-raba perut Ziya. Walaupun masih di luar bagian bajunya, tapi, Ziya masih saja merasa geli dengan sentuhan tangan jahil Alberto.
" Alberto, aku,," Bilang Ziya yang cemas.
" Kenapa, sayang ?" Tanya Alberto yang sekarang mengecup lembut leher Ziya.
Kecupan lembut dari bibir Alberto membuat tubuh Ziya ingin menolak tapi tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali.
" Ada, Demian, jangan lakukan ini,," Ucap Ziya yang mencari alasan.
Tapi, sayang Alberto sama sekali tidak berhenti memainkan tangannya di bagian perut Ziya. Sehingga saat ini tangan Alberto segera masuk ke dalam baju Ziya dan mengelus-elus lembut perut Ziya, sehingga membuat Ziya secara langsung menolak dengan elusan lembut dari Alberto.
" Alberto, jangan,," Bilang Ziya yang segera menepis tangan Alberto dari bajunya.
Jelas saja hal itu membuat Alberto sangat terkejut dengan sikapnya Ziya saat itu. Alberto yang terkejut atas sikap Ziya yang menolak sentuhan lembut dari tangannya itu membuat dirinya terpana atas sikap Ziya seperti ini.
Alberto semakin tertantang untuk mendapatkan tubuh Ziya saat ini. Karena, bahasa tubuh Ziya ini sangat membuat ia penasaran.
" Kenapa, Hah ?" Tanya Alberto yang membuat Ziya bingung.
Ziya bingung mau mengatakan apa pada Alberto saat ini. Akhirnya Ziya memutar-mutar otaknya mencari alasan yang tepat untuk menghindari sentuhan Alberto saat ini, agar dirinya tidak tersentuh oleh tubuh Alberto sedikitpun.
Alberto merasa Ziya saat ini sedang beralasan untuk dirinya. Agar dirinya tidak menyentuh tubuh Ziya saat ini. Alberto sedikit menyunggingkan senyumannya walaupun tipis membuat Ziya saat itu terpana atas senyumannya saat itu.
" Oh iya, aku lupa,," Jawab Alberto sambil menyunggingkan senyumannya yang saat itu membuat Ziya terpana.
" Ternyata dia tampan sekali kalau tersenyum,," Gumam Ziya yang terdiam memandangi senyuman Alberto.
Alberto yang mengetahui bahwa Ziya terpana atas senyumannya, mengagetkan Ziya atas lamunannya itu.
" Kenapa, diam ?" Tanya Alberto yang membuyarkan lamunan Ziya.
" Hah! tidak apa-apa,," Ucap Ziya yang segera memalingkan matanya menatap arah lain.
" Ya sudah tidurlah, aku akan pindah di sebelah Demian, supaya aku tidak mengganggu tidurmu,," Ucap Alberto yang membuat Ziya mengangguk tersenyum.
" Baik,, terima kasih,," Bilang Ziya yang membuat Alberto sedikit terkekeh atas ucapan terima kasihnya itu.
" Hahahaha Zoya, Zoya sejak kapan kau lembut seperti ini dan mengucapkan terima kasih padaku,," Bilang Alberto yang membuat Ziya bingung sendiri.
Karena, memang benar, mana mungkin sosok Zoya yang mudah mengucapkan terima kasih kepada siapapun. Yang hanya dalam pikiran Zoya adalah uang, uang, dan uang. Hanya itu saja yang ada di benak Zoya berbeda dengan Ziya yang mengucapkan terima kasih apabila mendapatkan perlakuan tulus seperti ini.
" Ya, karena kau, sangat baik padaku, yang mengizinkan aku untuk tidur disini." Ucap Ziya yang mengubah ekspresi bingungnya menjadi ekspresi santai di wajahnya.
" Oh, ya sudah aku pindah dulu." Bilang Alberto yang bangkit dari tidurnya dan segera pindah ke sebelah Demian.
Ziya merasa kalau dirinya akan ketahuan apabila ia mengatakan boleh jika Alberto ingin pindah ke sebelah Demian. Maka, dengan sangat mudah sekali Alberto pasti mengetahui dirinya.
" Eemm,, Alberto, kau tidak usah pindah ke sebelah Demian." Bilang Ziya yang membuat Alberto menampakkan wajahnya sedikit bingung, tapi sebenarnya tahu bahwa Ziya takut ketahuan akan sandiwaranya itu.
Tapi, percuma saja Ziya melakukan ini, dari awal Alberto sudah mengetahuinya.
" Heemm,, dia takut kalau aku tahu akan dirinya yang sebenarnya." Gumam Alberto tersenyum tipis.
" Baiklah, aku akan mengikuti alur sandiwaramu, sampai dimana kau akan bertahan dengan sandiwaramu,," Gumam Alberto yang sangat senang sekali atas ucapan Ziya yang melarangnya pindah tidur di sebelah Demian.
" Kenapa ?" Tanya Alberto pura-pura tdiak mengerti.
" Tidak apa-apa,," Ucap Ziya yang menatap Alberto.
" Kau boleh tidur di sampingku, asal kau jangan menyentuhku, karena kepalaku masih sakit." Bilang Ziya yang menyambung omongannya tadi.
" Baik, aku akan tidur di sampingmu dan tidak akan menyentuhmu, kau jangan takut." Jawab Alberto yang menatap wajah Ziya serius.
" Silahkan tidur,," Sambung Alberto mempersilahkan Ziya untuk tidur duluan.
Setelah, Ziya berbaring dan tertidur dengan santai, Alberto pun memposisikan tubuhnya tidur di samping Ziya. Saat itu Ziya masih saja merasakan sedikit kekhawatiran pada dirinya, karena Alberto tepat berada di sampingnya.
Alberto yang melihat wajah Ziya penuh kecemasan memberi pesan bahwa dirinya tidak akan menyentuh dan mengganggu tidur Ziya saat ini.
" Tidurlah, aku tidak akan mengganggumu." Bilang Alberto yang membuat Ziya tersenyum tipis.
Akhirnya dengan menarik nafas lembut Ziya bisa tertidur pulas di samping Alberto. Alberto tersenyum melihat wajah Ziya yang telah tertidur pulas bersama putra kesayangannya itu. Dan, Alberto pun memasang selimut pada tubuh Ziya beserta Demian.
Setelah selesai, Alberto mematikan lampu kamarnya dan hanya menghidupkan lampu tidur di dekat meja tidurnya. Alberto pun segera mengecup kening Demian disusul juga dengan kecupan lembut di kening Ziya.
Dengan tersenyum Alberto segera membaringkan tubuhnya di samping Ziya.
****
Author
🌹Vira Lydia🌹