
Terdengar suara ketukan dari pintu luar membuat Ziya sedikit kaget dan melepaskan pelukannya dari tubuh Alberto. Lalu, tanpa membiarkan Ziya menjauhi tubuhnya itu dengan segera Alberto menarik tangan Ziya kembali dan menyuruh orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk ke dalam kamarnya.
" Masuk,," Ucap Alberto kepada orang yang telah mengetuk pintu kamarnya.
Karena, sudah mendapatkan izin untuk masuk ke dalam, dengan segera orang yang mengetuk pintu tadi langsung masuk ke dalam. Dan, terlihatlah wajah Daniel yang sedikit kesal dengan sikap Alberto yang sengaja tidak menemuinya di rumah sakit.
" Kenapa tidak langsung ke rumah sakit,," Bilang Daniel kesal yang segera duduk di samping Alberto.
" Hanya luka kecil,," Jawab Alberto dengan entengnya.
" Heh!! kau ini merasa paling hebat,," Gerutu Daniel sambil melihat keadaan luka di kepala dan di bagian lengan Alberto.
Daniel segera mengeluarkan peralatan medisnya untuk memeriksa keadaan luka yang terjadi di bagian tubuh Alberto dan benar saja, luka tersebut perlu di jahit segera, kalau tidak darah yang mengalir tidak akan berhenti menetes karena, luka robekan yang terjadi di kepala maupun di lengan Alberto telah memutuskan sedikit urat kecil aliran darah.
" Kau bilang luka kecil, ini lukanya cukup besar,," Ucap Daniel yang segera mengeluarkan alat jahitnya.
Ziya sedikit khawatir saat Daniel mengatakan bahwa lukanya itu cukup besar, sehingga membuat Ziya langsung bertanya pada Daniel dengan wajah yang penuh kecemasan.
" Apakah tidak akan terjadi apa-apa pada lukanya ?" Tanya Ziya dengan wajah yang begitu cemas dan terlihat merasakan kesakitan yang dialami Alberto.
" Kau begitu manis,," Ucap Daniel yang sengaja memperhatikan sikap Ziya yang begitu memperdulikan keadaan Alberto.
" Dasar gila kau,," Ucap Alberto yang kesal menatap tajam wajah Daniel.
" Oh Rileks Dude, maksudku istrimu sangat manis, karena, kau yang terluka tapi dia yang merasakan sakitnya." Bilang Daniel yang tersenyum kepada Ziya.
Ziya merasa bahwa dirinya saat ini sedang mengganggu pekerjaan Daniel untuk mengobati Alberto, oleh sebab itu, Ziya ingin segera pergi dari tempatnya itu, namun, Alberto melarang kepergiannya itu.
" Jangan pergi, tetap disini,," Ucap Alberto yang menarik tangan Ziya.
" Baiklah,," Jawab Ziya mengangguk menuruti perintah Alberto.
Namun terlihat sekali bahwa Ziya sangat merasakan kesakitan pada luka yang ada di tubuh Alberto. Apalagi saat ini, dimana saat Daniel menyuntikkan obat bius pada lengannya membuat Alberto menahan rasa sakit itu dengan memegang erat tangan Ziya. Ziya merasa bahwa genggaman tangan Alberto itu sangatlah kuat dan juga bergetar sehingga membuat Ziya, sedikit mengeluarkan air matanya saat memberikan kekuatan pada Alberto.
" Aku mohon bertahanlah,," Ucap Ziya yang terdengar lirih karena, suaranya terdengar seperti sedang menangis melihat keadaan Alberto yang terluka parah itu.
Setelah selesai disuntikkan obat bius yang begitu terasa perih dan sakit. Dengan napas dalam keadaan normal, Alberto mengelus lembut wajah Ziya.
" Jangan menangis, aku tidak apa-apa,," Ucap Alberto yang mengelus lembut wajah Ziya.
" Aku tidak ingin terjadi apa-apa, padamu," Ucap Ziya dengan tangisan yang pecah membuat Daniel tersenyum melihat pasangan yang ada di depan matanya ini.
" Oh kalian sungguh manis,," Bilang Daniel di sela perlakuan lembut Alberto pada Ziya.
Setelah selesai menjahit luka di kepala maupun di bagian lengannya Alberto dengan segera Daniel berpamitan keluar dan menunggu Alberto dalam ruang kerjanya.
" Penjahitan telah selesai, oke Dude aku permisi, aku akan menunggumu bersama Zavier di ruang kerja." Bilang Daniel setelah menyelesaikan pekerjaannya.
" Oke," Jawab Alberto.
Saat Daniel keluar dari kamar dan pintu telah tertutup dengan segera Alberto menarik tubuh Ziya hingga Ziya saat ini berada dalam pelukannya.
" Alberto, apa yang kau lakukan, kau sedang terluka,," Ucap Ziya yang sangat khawatir akan tubuh Alberto yang telah berada di bawah tubuhnya ini.
" Eeemmm,, aku merindukanmu sayang, terima kasih sudah memperdulikan keadaanku,," Bilang Alberto yang masih memeluk tubuh Ziya seakan lupa dengan luka yang ada di bagian kepala dan lengannya.
" Aku akan mati dengan bahagia jika kau menyayangiku seperti ini,," Ucap Alberto yang membuat Ziya segera menutup mulutnya.
Jelas Ziya tidak mau jika Alberto mati karena, jika Alberto mati, sama saja dengan mengambil nyawanya juga, oleh sebab itu dengan segera Ziya menutup mulut Alberto menggunakan tangannya karena, tidak terima akan ucapan Alberto seperti itu. Alberto kaget saat merasakan bibirnya yang ditutup oleh tangan Ziya. Dengan segera Alberto menatap wajah Ziya.
" Jangan pernah berkata seperti itu lagi, aku mohon jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku,," Ucap Ziya yang menatap lembut mata Alberto.
Dengan sangat erat Alberto memeluk tubuh Ziya karena, mendengar ucapan Ziya yang begitu tulus padanya.
" Aku berjanji tidak akan pernah mengatakan itu lagi dan aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu, sayang,," Ucap Alberto yang segera mengecup lembut kening Ziya.
" Janji,," Pinta Ziya menatap Alberto dengan serius.
" Janji,," Jawab Alberto dengan tatapan lembut.
" Aku akan segera kembali setelah aku menyelesaikan pekerjaanku di ruangan kerja." Ucap Alberto yang membuat Ziya bangkit dari tubuhnya.
" Heeemmm,," Jawab Ziya mengangguk dan membantu Alberto untuk bangun.
Karena, merasa dibantu oleh Ziya Alberto tertawa melihat kelakuan Ziya yang menganggap dirinya seperti anak kecil.
" Sayang, aku bukan anak kecil." Bilang Alberto yang merasa bahwa Ziya terlalu berlebihan mengurus dirinya.
" Kau sedang terluka Alberto, apa kau bisa melakukannya sendiri,," Jawab Ziya yang sengaja membuka baju Alberto satu persatu.
" Heemmm aku akan menuruti kehendak istriku ini,," Ucap Alberto yang mengalah akan tindakan Ziya padanya itu.
Ziya segera membantu Alberto dalam membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai mengganti pakaiannya, Alberto merasa tubuhnya bersih dan segera melangkahkan kakinya menuju keluar untuk menemui ketiga temannya itu. Namun sebelum itu, Alberto memberikan sebuah pesan kepada Ziya untuk tetap menunggu dirinya di dalam kamar.
" Terima kasih sudah membantuku sayang,," Ucap Alberto lembut pada Ziya dan terlihat Ziya hanya tersenyum mendengarnya.
" Aku tidak apa-apa, jangan khawatir, aku akan selalu bersamamu,," Bilang Alberto lagi yang lembut menyentuh wajah Ziya.
" Heemm,," Jawab Ziya mengangguk.
" Aku akan menyelesaikan pekerjaanku sebentar dan ingat jangan kemana-mana, kau harus menemaniku malam ini,," Ucap Alberto yang berbisik lembut pada Ziya.
" Baiklah,," Jawab Ziya mengangguk dan sedikit menyunggingkan senyumannya.
" Kau terlihat semakin cantik sayang,," Ucap Alberto yang segera menciumi bibir Ziya.
Ziya sedikit kaget saat Alberto mendaratkan bibirnya itu pada bibir miliknya.
Setelah mencium bibir Ziya dengan segera Alberto melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju ke ruang kerjanya. Namun, Ziya merasa bahwa pesona Alberto begitu menjerat dirinya hingga sampai saat ini, Ziya selalu merutuki kesalahannya terhadap saudara kembarnya itu.
" Zoya, kenapa kau pergi meninggalkan suamimu, apakah ini semua salahku, apakah aku salah jika mencintainya,," Ucap Ziya dalam hati yang saat ini selalu bimbang akan perasaannya itu.
Di sisi lain Ziya berpikir bahwa hatinya ini salah jika ia mencintai Alberto, namun, sangat terlihat juga bahwa Alberto sangat mencintai dirinya, jadi Ziya tidak bisa mengelak akan perasaannya itu, jika Zoya tidak pergi bersama laki-laki lain, tidak mungkin dirinya bisa ada di dalam istana ini.
Menurut pendapat hatinya apakah ini kesalahannya atau kesalahan Zoya ?
Entahlah yang pastinya saat ini Ziya berpikir lebih baik dia menjalankan kehidupannya bersama Demian yang jelas-jelas adalah keponakannya sendiri. Namun, Ziya tidak pernah menganggap bahwa Demian adalah keponakannya melainkan anak itu adalah anaknya sendiri.
Saat ini di ruang kerja pribadi milik Alberto telah ada beberapa teman yang terlihat sedang duduk bersama. Sang walikota Samuel terlihat sangat marah atas apa yang telah terjadi menimpa temannya itu. Saat ini Alberto yang baru saja diserang oleh beberapa penyerang yang tidak dikenal, karena, beberapa Minggu yang lalu sang walikota baru saja juga diserang oleh penyerang yang tidak diketahui siapa orang yang telah bermain di belakang ini.
Dalam penyerangan itu sangat terlihat sekali bahwa aksi mereka itu begitu disengaja untuk membunuh orang-orang yang berperan penting di negara ini, terlihat seperti Samuel dan Alberto yang diserang oleh penyerang rahasia.
" Kurang ajar, sepertinya ini bukan lelucon lagi, apakah di tempat kita ada penyusup ?" Tanya Samuel pada kedua temannya.
" Sepertinya memang ada penyusup,," Jawab Zavier yang memang ikut dalam penyerangan tadi.
" Ini tidak bisa dibiarkan lagi, kita harus cari tahu siapa orang dibalik ini semua,," Ucap Samuel yang begitu sangat marah besar.
" Aku setuju," Jawab Daniel yang merasa sudah lama dirinya tidak mengikuti perang antar klan mafia.
Dan, tiba-tiba Alberto masuk ke dalam ruang kerjanya itu, mata Samuel menatap Alberto sedikit penuh kecemasan, sementara Daniel dan Zavier menatap Alberto dengan senyuman.
" Bagaimana keadaanmu, Dude ?" Tanya Samuel yang bangkit dari duduknya.
" Seperti yang kau lihat,," Ucap Alberto yang melangkah masuk dan duduk di kursinya.
" Bagaimana, apakah sudah mengetahuinya ?" Tanya Alberto pada ketiga temannya.
" Heh!! seperti yang kau lihat Dude, ada penghianat yang ingin mengambil posisimu dan jabatanmu, Sam,," Ucap Zavier yang baru mengetahui dari hasil pendeteksian asistennya.
" Heh!! aku sudah tahu itu," Jawab Alberto dengan tatapannya yang menerawang.
" Oh ya beberapa hari yang lalu aku mendapatkan laporan bahwa mereka membuat keributan di jalan lintas A dan sengaja menculik beberapa wanita lalu memper-kosanya,," Ucap Daniel yang melaporkan hasil dari laporan anak buahnya.
" Sepertinya penjahat kecil itu harus ditumpas sampai ke akar-akarnya." Ucap Alberto yang merasa resah dengan keadaan yang ada di tempatnya ini.
" Ya, kau benar Dude, sepertinya Axeloe harus kembali untuk membantu kita dalam membereskan semua kegiatan ini," Ucap Zavier yang sangat ingin meminta Axeloe untuk kembali dari Eropa.
" Ya, aku setuju,," Jawab Daniel menyetujui ucapan dari Zavier.
" Heemmm aku sama, kapan dia kembali ?" Tanya Samuel pada Alberto.
Alberto tersenyum memandang wajah ketiga temannya yang begitu sangat menginginkan Axeloe untuk kembali ke negaranya ini.
" Dalam waktu lima hari lagi dia kembali,," Jawab Alberto yang meyakinkan ketiga temannya.
" Oke, setelah dia kembali baru kita akan kembali susun rencana untuk menumpas para penghianat yang telah menyerang itu,," Ucap Alberto yang menatap serius pada ketiga temannya.
" Oke Dude, aku setuju,," Ucap ketiga temannya menyetujui pendapat yang dikeluarkan oleh Alberto.
" Kami permisi,," Ucap ketiga temannya.
Namun, saat kaki Samuel dan Daniel telah melangkah terlebih dahulu keluar dari ruangan Alberto, terlihat Zavier memundurkan langkahnya untuk memberitahu Alberto tentang suatu hal yang telah dilakukan Alexa saat di bandara pagi tadi.
" Ada apa ?" Tanya Alberto kepada Zavier.
" Dude, apakah kau tahu Alexa keluar negeri ?" Tanya Zavier langsung pada Alberto.
" Ya, aku tahu,," Jawab Alberto singkat.
" Oh ya sudah kalau kau mengetahuinya." Ucap Zavier yang segera melangkahkan kakinya keluar.
" Zavier tunggu, apa maksudmu ?" Tanya Alberto balik pada Zavier yang baru saja ingin keluar dari ruangannya itu.
" Kau bilang kau mengetahuinya, jadi untuk apa aku menjelaskannya,," Jawab Zavier yang masih membuat Alberto penasaran.
" Sepertinya, aku mencurigai omonganmu ini,," Tanya Alberto yang mendekati Zavier.
" Kau tidak perlu mencurigaiku Dude, adikmu Alexa keluar negeri bukan menggunakan pesawat pribadi milikmu, melainkan pergi menaiki pesawat di bandara,," Bilang Zavier yang menjelaskan keadaan yang ada.
" Haah!! kau yakin kau telah melihatnya." Ucap Alberto yang penasaran dengan kelakuan adiknya itu.
" Yah, lihat ini,," Bilang Axeloe yang memperlihatkan video rekamannya tadi.
Alberto segera mengambil ponsel yang diberikan oleh Zavier, dimana ponsel itu telah merekam kegiatan Alexa yang berbohong telah keluar negeri menggunakan pesawat pribadinya. Alberto sangat marah besar dengan tindakan adik perempuan satu-satunya ini. Bukannya melakukan hal yang benar malah dengan berani-beraninya pergi bersama temannya untuk keluar negeri.
" Benar, sepertinya Alexa harus dikasih pelajaran, supaya dia tahu bagaimana menjadi seorang wanita yang benar,," Umpat Alberto yang merasa kesal akan tindakan yang dilakukan adiknya itu.
Alberto sangat marah pada Alexa karena, dia tidak tahu apa yang dilakukan Alexa yang sengaja membohonginya itu, sebenarnya Alexa memiliki sebuah rencana. Entah apa rencana yang dilakukannya itu.
" Calm down Dude, jangan memarahinya langsung, mungkin dia memiliki suatu rencana yang tidak mau diketahui olehmu,," Ucap Zavier menasehati Alberto yang memanas ini.
" Zavier, aku ingin kau mengawasi Alexa dengan pasukan rahasia yang kau miliki,," Bilang Alberto yang memberikan perintah kepada temannya itu.
" Oke," Jawab Zavier singkat yang segera berlalu pergi.
Setelah selesai melakukan rapat di ruang kerjanya ini, Alberto segera melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya lagi, saat masuk ke kamar, Alberto memikirkan suatu hal yang dilakukan oleh Alexa saat diluar dari pengawasannya itu. Alberto berpikir lebih baik saat ini juga harus ada yang mengawasi Alexa dari kejauhan, supaya apapun yang dilakukannya Alberto bisa mengetahuinya langsung.
" Sepertinya, aku tidak boleh lengah dengan Alexa adik perempuanku satu-satunya, walau bagaimanapun dia adalah keturunan dari Alexandre dan adik kandung perempuanku, keselamatannya adalah hal yang paling utama bagi keluargaku ini, walaupun dia memiliki Ibu yang sangat jahat tapi di dalam tubuhnya mengalir darah Alexandre, aku tidak boleh membedakan kasih sayangku terhadapnya dengan Axeloe." Ucap Alberto yang segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan kamar pribadinya.
Saat masuk ke dalam kamarnya, Alberto melihat seorang wanita cantik telah tertidur pulas di tempat tidurnya itu. Dengan menyunggingkan senyuman, Alberto segera merebahkan tubuhnya di samping Ziya yang sudah tertidur pulas itu. Alberto sengaja merentangkan lengannya untuk menaruh kepala Ziya disana dan memeluk tubuh wanita itu dengan erat.
****