Mafia And Angel

Mafia And Angel
Draft



Sambil berdesis Vena membuka perban yang telah melekat pada bagian luka di dadanya Axeloe sehingga membuat Vena secara perlahan membuka perban itu. Karena, Vena tidak ingin membuat Axeloe merasa kesakitan atas dirinya yang telah membuka perban luka ini. Vena jelas selalu melihat bahwa luka di bagian dada itu sedikit mengeluarkan darah mungkin karena, faktor pukulan yang ia lakukan saat dirinya digendong oleh Alberto.


" Ya ampun, lukanya berdarah, pasti karena, perbuatanku, yang telah memukul dadamu ini, Tuan,," Gumam Vena dengan suara kecilnya, namun sama sekali tidak dihiraukan oleh Axeloe.


" Maafkan perbuatan saya Tuan, saya tidak tahu jika di dadanya Tuan ada luka,," Ucap Vena dengan suara yang cukup jelas hingga membuat Axeloe menjawab ucapan itu.


" Tidak apa-apa, kerjakan saja tugasmu ini,," Jawab Axeloe singkat.


" Ba, baik Tuan, Tuan tahan sedikit ya, saya akan menarik bagian ujung perban ini yang sangat menempel di bagian kulit luka,," Ucap Vena lagi sambil memberitahukan kondisi luka di dadanya Axeloe.


" Heemm, tarik saja, aku bisa menahannya,," Ucap Axeloe kepada Vena, agar Vena bisa cepat menarik perban yang sudah lama menempel itu.


" Baik Tuan,," Jawab Vena.


Dengan sekali tarikan begitu cepat, akhirnya Vena berhasil membuka perban yang sudah menempel lama di bagian luka Axeloe. Sehingga membuat luka tersebut mengeluarkan darah dan dengan cepat Vena mengelap darah yang mengalir itu. Walaupun, terasa begitu sakit sekali disaat Vena menarik perban yang telah menempel itu, namun, bagi Axeloe sama sekali tidak merasakan rasa sakit sedikitpun.


" Akhirnya darahnya berhenti mengalir,," Gumam Vena seketika tersenyum melihat darah yang keluar begitu deras mengalir berhenti juga.


Karena, luka seperti ini adalah hal biasa yang sering terjadi pada tubuhnya. Saat ini Vena hanya fokus melanjutkan pekerjaannya itu yang masih tetap menahan darah keluar dari bagian luka yang terbuka karena telah tertarik mengikuti perban yang ditarik sebelumnya. Setelah darah itu cukup mengering dan berhenti keluar dari dalam luka barulah Vena meletakkan perban yang sudah dibubuhkan dengan serbuk obat sebelumnya.


" Heemmm," Jawab Axeloe singkat.


Secara perlahan Vena meletakkan perban itu ke atas luka dan menutupi semua area luka yang telah tergores besar itu. Terlihat dari wajah Vena bahwa Vena saat ini sedang meringis merasakan sakit dan juga perih pastinya di luka yang sedang ia rawat saat ini. Namun, tidak untuk Axeloe, sedari tadi, Axeloe tidak memiliki ekspresi sakit sedikitpun. Padahal sudah beberapa kali terdengar Vena berdesis ikut merasakan betapa sakitnya Axeloe saat ini.


" Luka sebesar ini, kenapa bisa dikatakan kecil,," Gumam Vena lagi sambil meletakkan perban di atas luka tersebut.


Setelah selesai meletakkan perban khusus ke atas lukanya Axeloe barulah Vena memasang perban lainnya untuk menutup rapi luka yang menganga itu. Sebenarnya Vena ingin bertanya pada Axeloe tentang luka besar seperti sebuah sab.etan pis.au, namun, hal itu tidak dilakukan Vena karena, Vena takut nanti pertanyaannya itu adalah suatu pertanyaan yang masuk ke dalam masalah pribadi Axeloe. Sehingga membuat Vena hanya bisa terdiam dan bertanya pada dirinya sendiri.


" Luka sebesar ini, bisa-bisanya dia menyebutkan lukanya kecil, heehh aneh memang Tuan yang aneh,," Gumam Vena dalam hatinya sambil perlahan-lahan memasang perban baru.


" Memangnya apa yang telah terjadi pada Tuan Axeloe ?" Tanya Vena lagi dengan wajah yang begitu penasaran atas luka besar di bagian dada Axeloe itu.


" Aaakkhh, aku baru ingat, apakah luka ini ada hubungannya dengan orang misterius yang sengaja masuk secara diam-diam ke dalam ruangan penelitian, Tuan Axeloe,," Gumam Vena dalam hatinya yang sepintas teringat dengan apa yang telah di dapatkannya hari ini.


Dan Vena baru teringat kembali atas apa yang telah ia lihat dan dapatkan hari ini. Bahwa sebenarnya Vena telah melihat seseorang dengan penampilan yang misterius sengaja masuk ke dalam ruangan penelitian Axeloe. Dengan sengaja orang itu melakukan suatu hal di dalam ruangan penelitian Axeloe yang sama sekali tidak dimengerti oleh Vena. Saat itu juga Vena berpikir apakah luka sebesar ini ada hubungannya dengan orang misterius yang sengaja masuk ke depan ruangan pribadi Axeloe.


****