
Di luar pintu kamar Demi, ternyata Alberto masih menguping apa saja yang dilakukan oleh Ziya di dalam.
Alberto masih penasaran tentang istri palsunya ini. Lalu, karena tidak mendengar lagi suara di dalam Alberto melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
Karena, ia sangat tahu pasti Demian dan Ziya sudah tertidur pulas. Alberto masih memberikan kesempatan pada Ziya untuk menyayangi putranya Demian.
Ziya yang sangat terlelap dan pulas itu, tidak menyangka bahwa matahari sudah menembus ke dalam kamarnya.
Ziya terbangun karena ia merasa ada yang mengetuk pintu kamar Demian. Lalu ia pun bangkit dari tidurnya dan duduk, setelah itu Ziya langsung menguncir rambutnya.
Ziya tersenyum melihat Demian yang masih tertidur pulas itu. Lalu Ziya mengecup kening Demian dan turun dari tempat tidur, melangkahkan kakinya menuju pintu kamar.
Saat Ziya membukanya ternyata pengasuh Demian yang datang mengingatkan Ziya bahwa sebentar lagi Demian mau pergi ke sekolah dan pastinya pengasuh Demian juga ingin mempersiapkan semua kebutuhan Demian untuk sekolah.
Ziya mengerti dan membangunkan Demian yang masih tidur itu. Dikecupnya kening Demian dan mengelus rambutnya serta dengan suara halus Ziya membangunkan Demi.
" Demi sayang bangun,,, katanya mau ke sekolah,," Bilang Ziya lembut di telinga Demian.
Karena, anak kecil itu labil kadang mudah kadang juga sulit untuk membangunkannya, maka dari itu Ziya suka sekali mengganggu Demian saat susah bangun tidurnya ini.
" Sayang bangun,, katanya mau sekolah.." Ucap Ziya yang membuat Demi bergeliat semakin nyenyak.
Ziya dengan wajah senyumnya langsung menggelitik leher Demi, dan benar sekali sontak Demi bangun sambil tertawa riang.
" Mommy,,, geli,," Rengek Demian yang merasa geli itu.
" Kalo Demi lama bangunnya, ya Mommy kelitik lagi,," Bilang Ziya yang siap-siap menggelitik Demi.
" No, Mom,, oke Demi bangun,," Ucap Demi yang langsung duduk.
Baby Sitter Demian pun langsung merentangkan tangannya untuk menggendong Demian dan pergi menuju kamar mandi.
" Mom, Demi mandi dulu ya,," Ucap Demi yang pergi bersama Baby sitter nya.
" Iya sayang, Mommy tunggu di kamar Mommy ya,," Ucap Ziya tersenyum.
" Permisi Nyonya,," Bilang Baby sitter pada Ziya yang dibalas anggukan olehnya.
Ziya pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar Demian dan menuju ke kamarnya. Ziya menghela nafasnya karena dia merasa bangun kesiangan hari ini.
Setelah masuk ke kamarnya Ziya memencet remote di kamarnya untuk membuka semua tirai penutup jendela. Setelah selesai Ziya memilih baju yang akan dipakainya hari ini.
Ziya bingung mau memakai baju apa,,? Karena terlalu lama memilih, akhirnya pintu kamarnya telah diketuk oleh seseorang lagi.
Dan sangat terpaksa Ziya melangkahkan kakinya menuju pintu. Setelah membukanya Demian langsung berteriak memanggilnya.
" Mommy,," Panggil Demian sambil tersenyum merekah.
Ziya tersenyum melihat Demian yang sudah selesai semua.
" Putra Mommy udah ganteng,," Ucap Ziya tersenyum melihat Demian.
Lalu Ziya menggendong Demi dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
Namun langkahnya terhenti karena suara dari pengasuh Demian yang menyampaikan pesan.
" Maaf Nyonya,, Nyonya diminta untuk segera turun karena semua sedang menunggu Nyonya di ruang makan. Untuk sarapan bersama.." Bilang pengasuh Demi yang menyampaikan pesannya.
" Oke, tapi biarkan Demian bersamaku.." Ucap Ziya yang langsung menutup pintu kamarnya dan tersenyum pada Demi
Lalu Ziya melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur serta mendudukkan Demi disana.
" Mommy siap-siap dulu setelah itu, Mommy akan menemani Demi kemanapun Demi mau pergi,," Ucap Ziya menatap Demian.
" Janji,," Tanya Demian mengacungkan jari kelingkingnya.
" Janji,,!!" Ucap Ziya yang mengaitkan jari kelingkingnya.
Lalu Ziya menghidupkan Tv dan memilih channel program anak-anak.
Ziya cepat-cepat melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, ia pun segera mandi dengan cepat. Setelah selesai mandi Ziya langsung ke ruang ganti dan memilih baju yang menurutnya tidak terlalu mencolok.
Ziya memakai dress tanpa lengan yang panjangnya selutut yang berwarna soft blue dengan motif polos.
Setelah itu Ziya menyisir rambutnya dan menguncinya menjadi satu seperti kuncir ekor kuda. Tidak lupa bahwa Zoya suka sekali dengan make up, maka dari itu Ziya harus melakukannya juga, ia lebih memilih make up yang soft natural.
Setelah memandang dirinya cukup lumayan di depan kaca, Ziya langsung mendekati Demian dan menggendongnya.
" Ayo sayang,," Ucap Ziya yang menggendong Demi.
Demian pun langsung menurut. Ziya dengan sigapnya mematikan Tv dan memakai sepatu heels yang tidak terlalu tinggi, lalu keluar dari kamarnya.
" Mommy nanti antelin Demi sekolah ya,," Ucap Demi yang sudah berulang kali Ziya mendengarnya.
" Oke bos,," Ucap Ziya mencium pipi Demi.
Ziya turun dari lantai dua menuju ke ruang makan. Dan melihat semua keluarga Alberto telah duduk di kursi meja makan. Meja makan ini sangat panjang dan luas mungkin bisa menampung 20 orang lebih.
Ziya juga melihat beberapa pelayan yang menggunakan seragam sama sedang sibuk menyuguhkan makanan kepada Tuan dan Nyonya di kediaman besar ini.
" Lama sekali sih, kita semua udah lapar, karena menunggunya.." Kesal Krystal putri pertama Alberto.
Karena sedikit mendengar suara kekesalan dari putri pertama Alberto, Ziya cepat-cepat melangkahkan kakinya menuju ke meja makan.
Dan Ziya segera duduk tepat di dekat Alberto. Namun tak disangka tiba-tiba ada seorang wanita yang menarik tangan Ziya hingga hampir saja Demian terjatuh dari pangkuannya Ziya.
" Heh,!! Tempatmu bukan disini,," Ucap wanita itu menatap sinis Ziya.
Ziya tidak heran kepada wanita yang mengucapkan seperti itu padanya. Karena ia tahu pasti banyak sekali orang yang tidak menyukai Zoya di tempat ini.
Sementara Alberto hanya diam saja melihat tingkah wanita tersebut pada Ziya. Karena, Alberto sangat ingin sekali melihat reaksi Istri palsunya ini kepada wanita tersebut yang telah menghinanya.
" Kamu siapa, Istri Alberto juga, ya ?" Tanya Ziya yang membuat semua orang tidak percaya atas kelakuan dan ucapannya yang memang sebenarnya Ziya tidak mengetahui siapa wanita itu.
Semua keluarga memandang aneh pada penampilan Ziya saat ini, karena bagi keluarga Alberto Alexandre ia hanya mengetahui Ziya itu adalah Zoya.
Semua orang menatap aneh pada Ziya, karena Zoya yang mereka kenal akan berpenampilan glamor, cantik dan mewah. Serta Zoya juga tidak akan duduk di samping Alberto seperti saat ini Ziya lakukan.
Karena, sebenarnya Zoya sama sekali tidak perduli pada Alberto, baginya yang terpenting adalah asalkan Alberto memberikannya uang belanja yang lebih baginya itu sudah cukup.
" Zoya,, kau mulai kurang ajar,, aku Claire sekretaris sekaligus pacar Alberto,, apa kau lupa ?" Tanya Claire yang menyindir Ziya.
" Owh,,, sepertinya aku memang sudah lupa.." Ucap Ziya santai.
Ziya sama sekali tidak bergeming dari tempat duduknya. Ziya tetap duduk disana dan dengan sengaja mendudukkan Demian di sampingnya.
Claire sangat kesal atas ucapan Ziya yang memang tidak mengenalnya itu. Lalu ditambah lagi Ziya mendudukkan putranya tepat di sampingnya.
Jadi tidak ada lagi peluang Claire untuk duduk di dekat Alberto.
" Demi sayang,, kamu duduk disana saja ya,," Pinta Claire membujuk Demian sambil menunjuk tempat duduk yang berada di samping Isabelle.
" No,, Demi mau duduk di dekat Mommy,," Ucap Demi cemberut yang membuat seorang wanita paruh baya tersenyum sinis.
" Hoho,, bagus sekali Zoya,, ternyata menghilang beberapa bulan yang lalu membuatmu ingin menjadi Ibu yang baik rupanya.." Ucap Gladys sambil menepuk tangannya dan pastinya menyindir Ziya.
Gladys adalah perempuan paruh baya yang merupakan Ibu tiri Alberto.
Ziya tidak merespon sedikitpun ucapan demi ucapan kasar pada dirinya. Karena, ia merasa bahwa dirinya bukanlah Zoya, jadi dia tidak merasa bahwa dirinya buruk.
****