
Karena, melihat Alberto tertawa kegelian dengan tindakan yang baru saja Ziya lakukan itu, hingga membuat Ziya merasa heran bukannya sakit karena, cubitan yang ia lakukan melainkan rasa geli yang dirasakan oleh Alberto saat ini. Dan sehingga membuat Ziya menghentikan tindakannya yang masih saja mencubit perutnya Alberto.
Karena, melihat Alberto tertawa kegelian dengan tindakan yang baru saja Ziya lakukan itu, hingga membuat Ziya merasa heran bukannya sakit karena, cubitan yang ia lakukan melainkan rasa geli yang dirasakan oleh Alberto saat ini. Dan sehingga membuat Ziya menghentikan tindakannya yang masih saja mencubit perutnya Alberto.
" Kau ini aneh, Alberto, bukannya terasa sakit di cubit oleh tanganku, malah membuat kau merasa geli,," Gerutu Ziya yang langsung menghentikan tindakannya itu.
" Hahahaha, tanganmu ini sayang bukan membuat rasa sakit di tubuhku melainkan rasa nikmat dan juga enak,," Jawab Alberto dengan tatapan matanya yang terlihat nakal.
" Sudahlah, kau pemenangnya, memang aku tidak bisa melakukan apapun pada tubuhmu ini,," Gerutu Ziya sambil memanyunkan bibirnya hingga membuat Alberto langsung mencium bibir Ziya yang sedang monyong itu.
Cuuupppp!!
Seruput Alberto dengan segera memberikan ciuman hangat nan lembut tepat di bibirnya Ziya yang sedang monyong itu.
" Eeehhmmm, Alberto kau ini,," Seru Ziya yang seketika kaget saat bibirnya dicium oleh Alberto.
" Supaya bibir ini tidak cemberut lagi,," Ucap Alberto sambil menyentuh lembut bibir Ziya dengan menggunakan jarinya.
" Heemmm, aku sama sekali tidak cemberut Alberto, aku hanya merasa bahagia jika kau, memperlakukan aku seperti ini,," Jawab Ziya dengan reaksi wajahnya yang terlihat begitu bahagia.
" Iya sayang, karena, aku sangat mencintaimu dan menyayangimu,," Bilang Alberto dengan lembut pada Ziya.
Saat ini Ziya dan Alberto sedang merasakan kebahagiaan yang begitu mendalam, sehingga tidak mendengar suara ketukan pintu yang dilakukan oleh Vena dari luar ruangan kamarnya itu. Dan, di saat Alberto sedang memeluk erat tubuh Ziya di tengah keheningan yang sesaat itu barulah Ziya menyadari dan mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
TOK !!
TOK !!
TOK !!
" Sepertinya ada yang mengetuk pintu,," Gumam Ziya sambil menggeliatkan tubuhnya dari pelukan Alberto.
" Eemmm, aku tidak mendengarnya sayang,," Bilang Alberto yang seolah tidak mendengar suara ketukan pintu dari luar.
Dan sekali lagi ketukan pintu itu terdengar oleh Ziya, karena, ketukan pintu yang dilakukan oleh orang dari luar begitu jelas di telinga Ziya bahkan Alberto.
" Benar, ada orang yang mengetuk pintu,," Bilang Ziya sambil mendongakkan kepalanya melihat Alberto dan memasang telinganya dengan jelas mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
" Heemmm benar Sayang," Gumam Alberto yang mulai merenggangkan pelukannya terhadap Ziya.
" Mungkin itu Vena, karena, Vena juga sudah cukup lama pergi bersama Axeloe ke ruangannya,," Bilang Ziya secara langsung mengetahui siapa saja orang yang berani datang masuk ke dalam kamarnya itu.
" Heemm, betul juga Sayang" Jawab Alberto menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Ziya.
Dengan segera pastinya Ziya menyuruh Vena untuk langsung masuk ke dalam kamarnya.
" Ya, silahkan masuk,," Bilang Ziya terhadap orang yang telah mengetuk pintu kamarnya itu.
Karena, sudah mendapatkan izin dari sang tuan pemilik kamar, dengan sopan pastinya orang yang telah mengetuk pintu kamarnya Ziya itu langsung segera membuka pintu kamar itu dengan hati-hati. Dan terlihat dengan jelas bahwa orang yang sedang membuka pintu kamar itu adalah Vena.
****