
Tentu saja hal itu membuat Axeloe menyadari akan sikap Vena yang tulus membantunya dalam merawat luka di dadanya. Sehingga dengan segera Axeloe beranjak bangkit dari posisinya semula yang sedang terbaring di tempat tidur dan langsung mengejar langkah kaki Vena yang sudah cukup jauh keluar dari ruangan khusus tempat tidurnya itu.
" Gadis polos itu sudah menggantikan perban di luka ini,," Gumam Axeloe baru menyadari ketika tangannya tidak sengaja menyentuh perban yang terdapat di bagian dadanya teringat akan kebaikan Vena dalam merawat lukanya itu.
" Heemm, karena, dia sudah membantuku menggantikan perban ini, lebih baik aku tidak menyusahkan gadis polos itu lagi,," Ucap Axeloe sambil beranjak bangun dari tempat tidurnya.
" Baiklah, karena kau, sudah mengganti perban untuk lukaku ini, maka aku bersedia untuk membukakan pintu kamarku sendiri dan datang langsung untuk membuka pintu kamar ini,," Gumam Axeloe sambil menghela sedikit napasnya saat dirinya sudah beranjak bangun dari tempat tidurnya itu.
Dengan segera Axeloe melangkah keluar dari kamar khususnya itu dan pastinya langsung menuju ke arah pintu kamar yang telah terkunci sebelumnya olehnya itu. Tidak butuh waktu lama untuk Axeloe melangkah menuju ke arah pintu, karena, kakinya yang begitu jenjang hal itu membuat Axeloe lebih cepat dalam langkahan yang sedang ia lakukan. Karena, sudah tidak melihat Vena lagi di depan langkah kakinya itu, Axeloe telah berpikir bahwa Vena ternyata cepat sekali melangkah ingin segera keluar dari kamarnya itu.
" Heemmm ternyata langkah kaki gadis polos itu cepat juga,," Gumam Axeloe yang sedang melangkah menuju ke arah pintu dan sama sekali tidak melihat Vena di depan langkahnya.
Sedangkan, saat ini Vena telah sampai di dekat pintu keluar kamarnya Axeloe, disaat Vena akan membuka pintu kamar itu, Vena baru teringat bahwa pintu kamar itu memiliki akses kode dari jari tangan Axeloe sendiri untuk bisa membukanya. Dan setelah teringat Vena merasa kesal sendiri dengan kelakuannya yang langsung saja pergi dari hadapan Axeloe, tidak meminta tolong pada Axeloe untuk membuka pintu tersebut.
" Bagaimana ini ?" Tanya Vena dengan wajah yang terlihat bingung.
" Kenapa aku langsung pergi dari hadapan Tuan Axeloe jika, pintu ini tidak bisa terbuka tanpa kode dari jari tangannya itu,," Ucap Vena lagi yang terlihat sedikit kesal dengan kelakuannya sendiri.
" Aku harus bagaimana, apa mungkin, aku harus kembali lagi ke dalam dan membangunkan Tuan Axeloe yang sedang beristirahat serta memintanya untuk membukakan pintu ini agar aku bisa keluar,," Gumam Vena lagi sambil memikirkan sesuatu hal yang terbaik untuk dilakukannya.
" Aakkhh, tapi, itu tidak mungkin, disaat aku keluar dari ruangannya, dengan jelas aku lihat bahwa Tuan Axeloe sedang beristirahat, aku harus bagaimana tidak mungkin aku mengganggu jam istirahatnya,," Sambung Vena lagi sambil bergumam sendiri di depan pintu dan melangkahkan kakinya mondar-mandir di dekat pintu itu.
Disaat Vena sedang melangkah mondar-mandir sambil memikirkan suatu hal yang harus dilakukannya agar bisa keluar dari kamar yang telah membuatnya menjadi kalang kabut untuk mencari ide itu, ternyata saat ini Axeloe sendiri telah sampai tepat di depan ruangan pintu kamarnya sendiri dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh Vena saat ini.