
Setelah mendapatkan sebuah kamar yang indah barulah Claire menyuruh pelayan itu untuk keluar dari kamarnya saat ini. Karena, Claire sendiri harus segera memikirkan sebuah rencana yang akan dilakukannya itu.
" Baik Nona, silahkan panggil saja jika membutuhkan sesuatu,," Ucap pelayan itu kepada Claire yang sedang mengelilingi suasana kamar.
" Hemm, ya sudah silahkan keluar,," Ucap Claire kepada pelayan yang telah memberikannya sebuah kehormatan.
Disaat semua pelayan keluar dari kamarnya itu dengan segera Claire membuka semua lemari pakaian di dalam kamar itu. Memang terlihat banyak sekali barang mewah di mansion Martin ini, Claire merasa curiga dengan keadaan Martin yang begitu terlihat mewah saat dirinya kabur dari kediaman Alexandre itu.
" Wah, memang semuanya begitu mewah,," Gumam Claire saat membuka sebuah lemari yang berisikan pakaian mewah wanita itu.
" Memangnya semua ini punya siapa, kenapa sudah tersedia di dalam lemari ini,," Gumam Claire sendiri sambil melihat-lihat kondisi lemari kamar barunya itu.
" Heemm, masa bodoh punya siapa yang penting saat ini aku berada di kediaman sepupuku sendiri, jadi, aku bebas mau memakainya,," Ucap Claire tersenyum puas melihat barang yang ada di lemari itu cukup mewah jika untuk digunakannya.
Setelah selesai melihat semua isi lemari yang ada di dalam kamar itu dan puas saat mengenakannya barulah Claire bisa menaiki tempat tidurnya dan berisitirahat ria hari ini. Untuk menghilangkan penat dalam tubuhnya setelah apa saja yang terjadi hari ini pada dirinya. Dimulai dari Claire mengendap-endap masuk ke dalam kamar pribadi Auntynya lalu terjadilah perdebatan hebat antara Claire dan Gladys.
Yang kedua Claire begitu lelah mengangkut semua barang berharga miliknya saat tinggal di kediaman Alexandre sengaja perjalanannya dicegah oleh Axeloe. Dan yang ketiga karena tidak berhasil mendapatkan semua barang berharga miliknya itu Claire bisa saja keluar dari kediaman Alexandre asal tidak membawa semua barang berharga yang sudah dikumpulkannya itu.
Dan, disaat Claire keluar dengan sengaja juga Krystal mengejek kelakuannya yang sedang keluar dari kediaman Alexandre dengan berjalan kaki. Sambil menghembuskan napasnya Claire langsung saja menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur yang begitu nyaman sekali digunakan untuk menghilangkan kepenatan dalam tubuhnya itu.
" Uuuhhh, untung saja Martin cepat menjemputku, kalau tidak harus berapa lama lagi aku menunggu diluar sana dengan kulitku yang akan meleleh." Gumam Claire yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya.
Karena, merasa terlalu penat akhirnya Claire bisa menutup matanya sementara untuk menyiapkan kesehatan tubuhnya dalam melakukan sebuah rencana lain agar bisa mendapatkan Alberto yang seutuhnya yaitu dengan cara mengambil salah satu kesayangan ataupun yang telah menjadi kelemahan Alberto.
Sementara itu, di dalam kediaman Alexandre, Alberto yang sedang berduaan dengan Ziya istrinya, terlihat Alberto sedang mengelus lembut rambut Ziya sambil menatap lembut wajah polos itu. Sambil tersenyum Alberto menanyakan sesuatu kepada Ziya tentang hal rencananya terhadap tubuh Ziya supaya penyakit yang selama ini dirasakan oleh Ziya bisa menghilang untuk selamanya.
" Sayang ?" Tanya Alberto lembut pada Ziya.
" Heemm," Jawab Ziya mendongakkan wajahnya menatap Alberto.
" Apakah aku boleh bertanya sesuatu ?" Ucap Alberto sambil memberikan sebuah pertanyaan pada Ziya.
" Katakan saja, Alberto," Ucap Ziya sambil tersenyum menatap wajah Alberto.
" Heemm, apakah rasa sakit di kepalamu ini masih sering terasa sakit ?" Tanya Alberto kepada Ziya dengan lembut.
" Tidak,," Jawab Ziya menggelengkan kepalanya menatap lembut wajah Alberto.
" Benarkah ?" Tanya Alberto lagi begitu serius menatap wajah Ziya.
" Heemm, ya Alberto, benar." Jawab Ziya mengangguk yakin.
" Sebenarnya, kepalaku saat terasa sakit memang begitu menyakitkan seluruh tubuhku, tapi, entah kenapa di balik rasa sakit itu, aku melihat ada sebuah petunjuk yang telah terjadi padaku di masa lalu, Alberto,," Jawab Ziya dengan memberikan penjelasan yang panjang pada Alberto.
" Dan juga walaupun aku begitu menderita saat merasakan rasa sakit yang mulai terulang, memang ada perasaan yang begitu menakutkan dalam hidupku terdahulu, tapi, dibalik rasa takut yang menghantuiku itu, aku merasa semakin penasaran apa yang telah terjadi dalam hidupku terdahulu,," Gumam Ziya lembut menatap wajah Alberto.
Setelah mendengarkan ucapan Ziya yang menjelaskan keadaan dirinya saat ia harus merasakan sakit di kepalanya itu, membuat perasaan bersalah Alberto terulang kembali. Karena, telah menyia-nyiakan Ziya disaat enam tahun lalu, memang begitu besar kesalahan yang telah dilakukan oleh Alberto kepada Ziya. Namun, karena, saat ini Ziya sudah berada di dalam kehidupannya, oleh sebab itu Alberto ingin mengembalikan lagi semua kebahagiaan yang selama ini tertunda untuk Ziya dari dirinya itu.
" Maafkan aku sayang, ini semua karena kesalahanku yang lalu terhadapmu, jika waktu itu aku,," Ucap Alberto sambil menatap wajah Ziya dengan tatapan sendu dan menyesal.
Ketika Alberto terlihat seperti orang yang begitu menyesali perbuatannya itu, sehingga membuat Ziya merasa kasihan terhadap apa yang telah disesalkan oleh Alberto selama ini kepada Ziya. Dengan segera Ziya menutup mulutnya Alberto dengan satu jarinya agar Alberto tidak meneruskan lagi ucapan penyesalannya itu.
" Alberto, jangan lagi pernah berpikir bahwa ini semua adalah kesalahanmu, karena, suatu perbuatan kesalahan memang terjadi jika adanya suatu garis kehidupan yang akan terjadi terhadap diri kita masing-masing." Gumam Ziya sambil menutup mulutnya Alberto menggunakan jari tangannya itu.
" Dan, kita juga sebagai seorang manusia tidak bisa mengelak sebuah perbuatan yang berbentuk kesalahan itu, aku juga merasa bahagia, jika kau melakukan kesalahan padaku, karena, hal itu merupakan suatu proses kebahagiaan yang akan terjadi kepada hubungan kita berdua Alberto." Ucap Ziya lembut menatap wajah Alberto.
" Terima kasih sayang, karena sifatmu sungguh mulia, kau adalah bidadari yang dikirimkan tuhan untukku, jadi, jangan pernah berpikir untuk pergi dalam hidupku, Ziya,," Ucap Alberto sambil memeluk tubuh Ziya dengan erat.
" Heemmm iya Alberto, aku selalu berjanji untuk tidak pernah meninggalkanmu, kau juga jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku dan memilih yang lain." Ucap Ziya yang terdengar sedikit tergelitik di telinga Alberto.
Seketika, Alberto tersenyum senang saat mendengar ucapan Ziya yang terdengar begitu menggelitik dirinya itu, sehingga membuat Alberto merasa bahwa saat ini Ziya merasa cemburu jika Alberto mendekatkan dirinya kepada semua wanita yang akan mendekatinya itu.
" Hahahaha, sayang, semenjak ada kau dalam hidupku, tidak ada wanita lain yang lebih berharga dari dirimu sayang, hanya kau yang selalu ada di dalam hidupku untuk selamanya,," Ucap Alberto sambil tersenyum senang dan mengecup lembut kepalan tangannya Ziya.
Dan, Ziya merasa ucapan Alberto ini menganggap bahwa dirinya itu merasa cemburu terhadap Alberto. Namun sebenarnya, Ziya ingin Alberto bisa menyayangi semua keluarganya bukan hanya dirinya saja.
" Eemmm, Alberto kau salah sangka terhadapku, aku sama sekali tidak pernah merasa cemburu, aku hanya merasa takut jika kau pergi meninggalkan aku dan keluarga kecilmu ini,," Gumam Ziya dengan wajah polosnya dan hal itu membuat Alberto merasa gemas.
" Eeemmm, kau ini sungguh menggemaskan sekali sayangku,," Ucap Alberto sambil memeluk erat tubuh Ziya dan mencium lembut bibir Ziya.
" Uuuummmm, Alberto jangan menciumku,," Ucap Ziya dengan suara yang tersendat karena, bibirnya telah dicium oleh Alberto.
Setelah merasa puas menciumi bibir seksi miliknya Ziya barulah Ziya bisa merasakan ketenangan yang ada di dalam dirinya ini. Dan, juga mual muntah yang ia rasakan itu tidak lagi terasa karena minuman hangat yang baru saja diseduh oleh Vena untuk dirinya.
Karena, melihat Ziya sudah terlihat membaik, sebenarnya Alberto ingin sekali langsung menanyakan sesuatu yang terjadi dalam diri Ziya kepada Axeloe, namun, Alberto tidak ingin meninggalkan Ziya sendiri di dalam kamarnya ini.
" Eemmm, Sayang apa yang sedang kau rasakan saat ini ? Tanya Alberto serius pada Ziya sambil memutar ujung rambut Ziya.
" Maksudnya ?" Tanya Ziya balik dengan mata yang penasaran.
" Apakah masih terasa mual dan ingin muntah ?" Tanya Alberto lagi kepada sambil mempraktekkan seseorang yang ingin muntah.
" Tidak, tubuhku terasa sedikit enakan setelah minum ini,," Bilang Ziya sambil menunjuk minuman hangat yang ada di samping tempat tidurnya.
" Baguslah kalau begitu sayang, aku tidak ingin melihat tubuhmu menderita lagi, karena,," Ucap Alberto lagi yang membuat Ziya kembali menutup mulutnya menggunakan jari tangannya itu.
" Ssshhhuuttt, aku tahu Alberto, bahwa kau begitu menyayangiku, hingga kau merasa tidak sanggup jika melihat tubuhku dalam keadaan sakit." Gumam Ziya sambil tersenyum lembut menatap wajah Alberto.
" Dan, ternyata Albertoku ini begitu menyayangiku, terima kasih sayang,," Ucap Ziya sambil melepaskan jarinya dan menciumi Alberto.
Karena, melihat Ziya yang begitu agresif tindakannya itu terhadap dirinya dengan segera Alberto membalas keagresifan ciuman Ziya yang terlalu lembut terhadap bibirnya itu. Karena, merasa bahwa Alberto telah menaikkan tubuhnya itu, sambil tersenyum senang dan tetap menciumi bibirnya Alberto, Ziya semakin agresif dan melingkarkan kedua tangannya pada leher Alberto.
" Uuuummmm Alberto teruskan sayang,," Ucap Ziya disela perbuatan Alberto yang sedang menciuminya itu.
Saat mendengarkan ucapan Ziya begitu lembut dan meminta Alberto melanjutkan tindakannya itu, tentu saja Alberto semakin bergairah untuk melakukan hasrat tubuhnya yang selama ini terpendam terhadap Ziya.
" Eemmm, sayang kau menginginkannya ?" Tanya Alberto lembut sambil membisikkan sesuatu kata-kata romantis tepat di telinga Ziya.
" Heemmm ya, Alberto, aku sangat merindukanmu, lakukanlah,," Ucap Ziya dengan suara lembutnya yang terdengar merengek meminta kehangatan tubuh dari Alberto.
" Baiklah, aku juga sangat merindukanmu sayang, bahkan melebihi kerinduan yang ada pada hatimu terhadapku,," Gumam Alberto sambil membuka semua pakaian yang dikenakan oleh Ziya.
" Heemmm, benarkah kau begitu merindukanku ?" Tanya Ziya yang masih melingkarkan kedua tangannya tepat di telinga Alberto.
" Heemm, tentu saja sayang,," Ucap Alberto lagi dengan lembut melepaskan kain penutup bagian kembar di hadapan dadanya Alberto saat ini.
Karena, sudah terbuka kain penutup bagian kembar milik Ziya, tentu saja dengan segera Alberto mengecap bagian yang indah itu. Karena, jika hanya dipandang bagian kembar yang berwarna kemerahan di bagian ujungnya hanya membuat Alberto merasa semakin besar hasrat nafsu tubuhnya terhadap Ziya. Oleh sebab itu, tanpa berpikir panjang lagi dengan segera Alberto melu.mat habis salah satu gunung kembar yang berwarna merah itu.
" Eemmm, Alberto teruskan,," Gumam Ziya sambil menggigit bibirnya sendiri menahan rasa nikmat dalam tubuhnya itu.
" Iya sayang," Jawab Alberto dengan menggantikan hisa.pan bibirnya terhadap gunung kembar yang berwarna merah itu.
Disaat Ziya merasa geli pada bagian tubuhnya yang sedang dinikmati oleh Alberto, seketika Ziya kaget mendengar suara deringan telepon milik Alberto yang ada di dalam saku jasnya itu.
" Eemmm, sayang, sepertinya ada yang menelepon," Gumam Ziya yang masih merasa nikmat pada tubuhnya itu.
" Eemmm biarkan saja sayang,," Jawab Alberto yang masih sibuk melakukan pekerjaannya itu terhadap tubuh Ziya.
Ziya hanya bisa mengangguk atas pernyataan yang disampaikan oleh Alberto terhadap ponselnya yang sedang berdering itu. Namun, seketika ponselnya Alberto kembali berbunyi sehingga membuat Ziya merasa kaget lagi ketika mendengarkan suara ponsel tersebut.
" Eemmm, sayang sepertinya ada telepon penting,," Ucap Ziya sambil memeluk erat kepala Alberto yang masih berada di atas dadanya itu.
" Biarkan saja sayang, nanti aku bisa telepon kembali,," Ucap Alberto yang masih fokus dengan pikirannya terhadap bagian kembar milik Ziya itu.
" Eemmm Alberto angkat saja dulu, siapa tahu penting nanti kita bisa lanjutkan kembali,," Bilang Ziya sambil mengangkat kepala Alberto sehingga membuat hisa.pan mulut Alberto kepada benda kembar itu terlepas dengan lembut.
" Hihihihihihi, jangan marah sayang, setelah selesai menerima teleponnya, kita bisa melakukannya lagi,," Bujuk Ziya lembut terhadap Alberto dengan wajah cemberutnya.
" Heemm, iya, tapi tunggu sebentar,," Ucap Alberto sambil beranjak dari posisinya dan duduk di samping Ziya.
" Kenapa ?" Tanya Ziya penasaran.
" Aku ingin mencium bibir lembut ini dulu,," Ucap Alberto yang langsung melakukan tindakannya terhadap Ziya.
" Uuuummmm, Alberto," Gumam Ziya dengan suara yang tersendat karena bibirnya telah ditutupi oleh bibirnya Alberto.
Setelah merasa puas dan cukup menciumi bibirnya Ziya. Barulah Alberto melepaskan ciumannya itu dan langsung duduk di samping Ziya mengambil ponselnya yang ia letakkan di dalam saku jasnya itu. Sedangkan, Ziya sendiri beranjak bangun dari baringnya sambil mengambil kain penutup bagian kembar miliknya itu dan langsung memasangkannya sendiri. Setelah terpasang barulah Ziya menggeliatkan tubuhnya di dalam pelukan Alberto.
" Siapa sebenarnya yang telah mengganggu pekerjaanku," Gumam Alberto yang membuat Ziya tersenyum.
" Hehehehe, kau ini hanya bisa menuduh orang melakukan kesalahan padamu," Ucap Ziya sambil memasangkan kain penutup bagian kembar miliknya itu.
" Tidak usah ditutup sayang, sambil menelepon balik aku ingin menyentuhnya," Ucap Alberto yang sengaja melarang Ziya memasang kembali kain penutup bagian kembar miliknya itu.
" Aku kedinginan Alberto, jika tidak ditutup,," Ucap Ziya yang masih memasangkannya.
" Heemmm, ya sudah sini," Bilang Alberto sambil menarik tubuh Ziya ke dalam pelukannya dan menutupi semua tubuhnya itu dengan selimut.
" Heemm, kalau begini kau tidak akan kedinginan lagi Sayang,," Ucap Alberto sambil menjawil hidungnya Ziya dengan lembut.
Setelah selesai memasang selimut terhadap tubuh mereka berdua dengan segera Alberto melakukan tugasnya yaitu menelepon balik orang yang telah meneleponnya itu dan memegang peranan penting dalam pekerjaannya tadi. Yaitu memegang lembut dua buah benda kembar milik Ziya yang begitu kenyal sekali.
Sambil membelai tubuhnya Ziya, tidak lupa juga Alberto untuk melihat layar ponselnya yang sedari tadi telah mengganggu kegiatan hangatnya siang ini. Dan, di dalam layar ponsel itu terlihat bahwa Zavier sudah beberapa kali meneleponnya, jika dilihat dari kebiasaan Zavier yang sedang meneleponnya itu, Alberto sudah mengetahui bahwa Zavier sendiri memiliki sebuah laporan yang begitu penting untuk diketahuinya.
" Zavier !" Gumam Alberto saat melihat layar ponselnya yang bertuliskan nama Zavier.
" Eemmm, ada apa, Alberto ?" Tanya Ziya langsung pada Alberto ketika melihat Alberto mengerutkan dahinya.
" Zavier yang sudah melakukan panggilan beberapa kali,," Jawab Alberto yang masih melihat layar ponselnya.
" Sepertinya penting Alberto, kemungkinan ada suatu hal yang terjadi,," Ucap Ziya yang tidak sengaja terungkap karena, Zavier merupakan salah satu teman Alberto yang mendalami tugas bagian penelitian.
" Darimana kau tahu, sayang, jika Zavier menelepon pasti ada suatu hal yang penting ?" Tanya Alberto menatap wajah Ziya dengan tatapan serius.
" Ya, aku tahu, karena, waktu itu kau juga sering melakukan panggilan pada Zavier,," Jawab Ziya dengan jujur tentang suatu hal yang telah didengarnya.
" Benarkah, hanya itu yang kau ketahui ?" Tanya Alberto lagi pada Ziya.
" Iya, Alberto, aku tidak tahu apa-apa lagi, aku hanya tidak sengaja mendengar percakapan yang kau lakukan bersama Zavier saat itu,," Gumam Ziya mengingat suatu hal saat ia mendengar kegiatan Alberto yang sedang menerima telepon dari Zavier.
" Ooohhh, begitu,," Jawab Alberto menganggukkan kepalanya.
" Eemmm, sayang bolehkah aku meminta izin darimu untuk menelepon balik Zavier ?" Tanya Alberto meminta izin dari Ziya.
" Ya, boleh, karena, itu bersangkutan dengan pekerjaanmu, Alberto,," Jawab Ziya menganggukkan kepalanya.
" Heemm apakah kondisi tubuhmu sekarang sudah membaik ?" Tanya Alberto lagi pada Ziya untuk memastikan keadaan Ziya sebenarnya.
" Heemm, ya, seperti apa yang kau lihat,," Jawab Ziya sambil tersenyum menatap wajah Alberto.
" Tapi, aku belum bisa untuk meninggalkanmu sendiri dan kembali melakukan pekerjaanku, aku takut terjadi apa-apa lagi padamu, sayang,," Ucap Alberto dengan wajah yang terlihat seperti kekhawatiran yang tinggi terhadap Ziya.
Ketika mendengarkan ucapan Alberto yang begitu besar tingkat kekhawatirannya membuat Ziya sontak langsung tertawa geli. Karena, tidak disangka Alberto begitu mencemaskan kondisi tubuhnya itu, dengan segera Ziya membujuk Alberto memberikan sebuah keyakinan bahwa tubuhnya memang sudah membaik dan tidak perlu dicemaskan lagi.
" Hahahaha, kau ini, apakah kau begitu mencintaiku ?" Tanya Ziya kepada Alberto setelah tawanya berhenti.
" Ya, sayang itu pasti, bahkan rasa cintaku lebih besar dibandingkan apapun,," Jawab Alberto begitu meyakinkan Ziya dengan tatapan lembutnya.
" Heemm, kalau kau benar mencintaiku, berarti kau juga percaya dengan ucapanku bukan,," Ucap Ziya lagi memberikan sebuah pernyataan pada Alberto.
" Ya, tentu sayang aku begitu mempercayai ucapanmu, jika aku tidak percaya pada ucapanmu tidak mungkin aku begitu takut atas semua ancaman yang kau lakukan padaku,," Jawab Alberto begitu lembut pada Ziya dengan tatapan yang begitu serius.
" Heemmm, terima kasih sayang, jika benar hal itu ada,," Bilang Ziya sambil menjawil hidungnya Alberto.
Ketika melihat Ziya menjawil hidungnya, Alberto segera menangkupkan kedua tangannya pada wajah Ziya dan langsung menciumi bibirnya Ziya. Setelah selesai mencium bibir lembut itu barulah Alberto melepaskan ciumannya dengan perlahan.
" Seperti apa yang kau katakan sayang, rasa cinta dan sayang itu akan selalu ada dari hatiku ini dan tidak bisa dimiliki oleh siapapun selain kau seorang Ziya." Gumam Alberto menatap lembut wajah Ziya.
Ziya merasa ucapan yang dikatakan Alberto begitu benar adanya dan memang tulus dikatakan pada dirinya. Dengan senyuman simpul nan mempesona, Ziya menjelaskan tentang keadaan tubuhnya yang memang benar sudah membaik.
" Alberto sayangku, karena, kau sudah mempercayai semua ucapanku, aku ingin saat ini kembali ke ruang penelitianku untuk melakukan suatu hal dalam penelitianku itu. Nah, sekarang kau lakukanlah pekerjaan yang telah tertunda sayang,," Ucap Ziya sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher Alberto.
" Heemm, apakah benar aku boleh melakukan pekerjaanku sayang ?" Tanya Alberto lagi pada Ziya.
" Heemmm, benar, karena, aku juga ingin melakukan pekerjaanku, Alberto,," Jawab Ziya sambil tersenyum.
" Ya sudah kalau begitu, aku akan pergi ke ruang kerjaku dan ingat jangan sampai kelelahan jika melakukan penelitianmu sayang,," Bilang Alberto sambil mengecup lembut puncak kepala Ziya.
" Heemm, iya, Alberto," Jawab Ziya sambil mengangguk.
" Selalu berhati-hati ya sayang,," Ucap Alberto sambil mengecup lembut puncak kepala Ziya.
Karena, sudah mendapatkan sebuah kepastian dari Ziya, setelah mengecup lembut puncak kepala Ziya, barulah Alberto beranjak bangun dari tempat duduknya dan segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar pribadinya itu. Namun, Ziya sendiri seketika teringat bahwa ia lupa untuk mengucapkan hati-hati kepada Alberto. Dan, dengan segera Ziya langsung memanggil kembali Alberto sambil mengucapkan kata hati-hati.
" Alberto,," Panggil Ziya terhadap Alberto yang sedang melangkahkan kakinya menjauhi kamar pribadinya itu.
" Iya sayang,," Jawab Alberto sambil menolehkan wajahnya kepada Ziya.
" Hati-hati ya sayang,," Ucap Ziya sambil tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Alberto.
" Iya sayangku," Jawab Alberto dengan segera melangkahkan kakinya dan kembali lagi mendekati Ziya lalu menciumi bibir istrinya itu.
Setelah selesai mencium bibir istrinya itu, sambil tersenyum Alberto kembali meminta izin kepada Ziya untuk segera pergi ke ruangan kerjanya. Dan, Ziya sendiri tersenyum melihat kelakuan Alberto kembali lagi mendekatinya itu.
" Sayang, aku langsung ke ruang kerja," Ucap Alberto lembut sambil membantu Ziya mengaitkan kancing bajunya.
" Heemm, ya, Alberto." Jawab Ziya tersenyum.
Setelah selesai membantu Ziya ikut memasangkan kancing bajunya itu barulah Alberto melangkahkan kakinya keluar dari kamar pribadinya itu sambil bergandengan dengan Ziya. Saat di pintu luar, Alberto sendiri diiringi oleh beberapa pengawalnya sedangkan Ziya langsung diiringi oleh Vena yang sedang menunggunya di luar pintu kamar pribadi itu.
Dengan segera Alberto masuk ke dalam ruangan pribadinya yang hanya diikuti oleh pengawal pribadinya yaitu Frengky. Di dalam ruangan itu barulah Alberto bisa melakukan panggilan telepon balik pada Zavier yang telah menghubunginya berkali-kali.
" Ada apa Zavier, meneleponku, apakah ada suatu hal yang terjadi di Australia ?" Tanya Alberto sambil menghubungi kembali nomor ponsel Zavier.
Tak lama kemudian, panggilan yang dilakukan oleh Alberto terhadap Zavier langsung diterima oleh Zavier sendiri.
" Halo Dude,," Suara Zavier yang terdengar dari ponselnya.
" Ada apa, apa yang terjadi ?" Tanya Alberto pada Zavier langsung tepat dalam intinya.
" Ada sesuatu hal besar yang sedang terjadi, Dude,," Bilang Zavier spontan kepada Alberto yang membuat wajah Alberto sedikit penasaran.
" Sesuatu besar, apa ?" Tanya Alberto lagi dengan wajah penasarannya.
Jelas saja jika Alberto merasa penasaran dan terkejut atas panggilan yang dilakukan oleh Zavier dalam waktu tiba-tiba dan berulang kali. Karena, biasanya jika Zavier tidak mendapatkan sebuah hal yang besar dan Zavier mampu dalam melakukannya sendiri, sangat jarang sekali Zavier menghubungi Alberto. Tapi, kali ini, sudah terlihat jelas pasti ada suatu hal yang telah terjadi hingga Zavier langsung menelepon dirinya itu.
****