
Update yang kemarin
Karena, Ziya dengan spontan terbangun dari tempat tidurnya dan melompat turun dari tempat tidur menuju ke lantai hingga hal itu membuat Erwin sedikit kaget dan juga membuat Erwin memberikan sebuah kode kepada para pengawalnya untuk segera menjatuhkan Ziya kembali.
" Ya, Putriku kau memang Ziya bukan Zoya, tapi kau juga adalah Putriku,," Ucap Erwin dengan bibir manisnya agar bisa meluluhkan hatinya Ziya.
" Tapi, kenapa Paman sengaja menculik Ziya dan melakukan Ziya di tempat seperti ini ?" Tanya Ziya pada Erwin dengan wajah yang begitu terlihat waspada terhadap keadaan di sekitarnya.
" Hahaha,, Paman sama sekali tidak menculik kau sayang, Paman datang kesini untuk menolong kau, agar kau bisa terlepas dari orang yang akan berniat jahat padamu, Putriku,," Ucap Erwin lagi dengan mulut manisnya lagi.
" Ziya sangat mempercayai Paman, karena, Paman adalah adik Papa, tapi, jika cara Paman memperlakukan Ziya seperti ini, sampai kapanpun Ziya tidak akan pernah lagi mempercayai Paman,," Bilang Ziya lagi dengan wajahnya yang terlihat begitu tegas kepada Pamannya.
" Hehehehe, kau tidak bisa mengelak, apa yang Paman inginkan Ziya,," Ucap Erwin dengan segera memberikan kode kepada semua pengawalnya.
" Tangkap dia,," Ucap Erwin memberi perintah kepada beberapa pengawalnya.
Tentu saja dengan gerakan cepat semua anak buah Erwin yang sedang berada di dalam kamar tempat penahanan Ziya cukup mudah untuk mendapatkan Ziya kembali. Walaupun Ziya melawan semua anak buah Pamannya itu dengan kekuatan penuh yang ia miliki, tapi, karena, Ziya masih dalam pengaruh obat bius oleh sebab itu Ziya tidak terlalu mampu untuk melawan semua orang yang ada di dalam ruangan ini.
Dengan perlawanan yang penuh dan kekuatan yang digunakan sudah cukup dilakukan oleh Ziya, pada akhirnya Ziya juga tetap kalah dari semua tindakan yang dilakukan oleh beberapa anak buah Pamannya ini. Malah saat ini Ziya telah berhasil dilumpuhkan oleh beberapa pengawal dari Pamannya itu.
Terlihat begitu jelas bahwa wajah Ziya sangat marah karena, perlakuan dan tindakan yang dilakukan oleh Erwin terhadap dirinya, karena, tanpa sepengetahuan siapapun dengan seenaknya Ziya diculik dan dipaksa untuk menjadi sebuah alat untuk dirinya dalam melancarkan rencananya yang sama sekali tidak diketahui oleh Ziya.
" Heeehh lepaskan Ziya Paman, Paman tidak berhak akan diri Ziya,," Seru Ziya ketika tubuhnya sudah ditahan oleh beberapa pengawal Erwin.
" Tidak semudah itu Putriku sayang,," Ucap Erwin dengan melangkahkan kakinya mendekati tempat Ziya yang telah diikat di sebuah kursi sambil tersenyum manis menatap putri dari kakaknya sendiri.
" Kau adalah putri Zalina jadi, siapapun dan berapapun anak yang lahir dari perempuan itu, maka anaknya harus menjadi prioritas milikku, semua anak yang terlahir dari rahim Zalina harus tunduk padaku dan menuruti semua keinginanku,," Ucap Erwin sambil menghisap sebatang rok.ok yang telah ia selipkan di bibirnya.
" Termasuk kau putriku yang cantik dan cerdas, karena, kau adalah putri Zalina jadi kau adalah milikku juga dan pantas untuk diberikan sebuah perintah dariku,," Ucap Erwin lagi sambil menyentuh dagu Ziya dengan wajah tersenyum penuh arti.
Saat ini memang Erwin melihat Ziya begitu marah sekali, namun, sebentar lagi rencana yang selama ini telah menjadi idamannya akan berhasil jika Ziya sudah masuk dalam bagian rencananya itu. Sambil tersenyum senang Erwin menatap wajah putri kembar dari kakak kandungnya itu dan memberikan kode perintah untuk para pengawalnya yang bertugas memberikan obat kepada Ziya.
" Lakukan,," Ucap Erwin yang sengaja memberikan sebuah perintah kepada anak buahnya.
Dan Ziya sendiri jelas saja menolak atas semua apa yang sedang dilakukan oleh beberapa pengawal terhadap dirinya itu. Sambil berteriak-teriak meminta permohonan kepada Pamannya agar tidak melakukan tindakan yang salah pada dirinya itu, Ziya meronta-ronta menangis karena, tidak bisa bergerak sedikitpun dari tempatnya saat ini.
" Paman, jangan lakukan ini, Ziya tidak mau,," Ucap Ziya yang menangis memohon kepada Erwin.
" Paman, tolong Ziya tidak mau,," Teriak Ziya yang masih saja memohon pertolongan kepada Pamannya agar Erwin luluh melihat dirinya yang sedang menangis.
Percuma saja hal itu dilakukan oleh Ziya, karena, Erwin masih saja bersikeras dan kukuh untuk melakukan rencana yang selama ini dimimpikannya itu. Jadi, walaupun Ziya sudah berteriak sekeras mungkin, bagi Erwin suara Ziya tidak akan meluluhkan hatinya dan mengurungkan niatnya untuk melakukan rencana besar miliknya saat ini.
" Paman Erwin, jangan lakukan ini,," Teriak Ziya terakhir saat tubuhnya sudah dimasukkan beberapa jarum suntik yang berisi obat.
Dengan kondisi tubuh yang masih bergetar dan berkeringat yang bercucuran membuat Ziya akhirnya berteriak dengan suara yang terdengar begitu kuat dan jelas dalam menyebutkan nama Erwin dengan sebutan Paman. Sehingga hal itu membuat Vena yang mendengarkan ucapan igauan Ziya bertanya heran dengan rasa yang begitu penasaran.
Karena, sepengatahuan publik Erwin adalah orang tua tunggal dari Zoya Andricha, tapi, kenapa majikannya yang bernama Zoya ini memanggil Erwin dengan sebutan Paman dan panggilan itu terdengar begitu jelas sekali dalam igauan yang dilakukannya saat ini.
" Paman Erwin jangan lakukan itu,," Teriak Ziya dengan suara yang sangat keras dan jelas sekali hingga membuat Vena serta Axeloe sedikit kaget saat mendengar suara Ziya.
" Apa ?" Gumam Vena yang seketika kaget mendengar ucapan Ziya saat mengigau menyebutkan nama Erwin.
" Paman Erwin,," Gumam Vena lagi dengan mata yang sedikit terbelalak saat mendengar ucapan Ziya.
Namun hal itu, membuat Axeloe terlihat biasa saja, karena, Axeloe lebih mengetahui bahwa saat ini pasti obat yang telah dimasukkan olehnya itu sedang bekerja di dalam tubuh Ziya, bisa dilihat saat ini Ziya sedang dalam keadaan tidur dan bermimpi bahwa Ziya mengingat kembali apa yang pernah terjadi pada dirinya waktu dulu.
Dan juga Axeloe sama sekali tidak menghiraukan rasa penasaran dan heran yang sedang ada pada Vena saat ini, karena, bagi Axeloe tindakan yang dilakukan untuk Ziya sajalah hal yang paling utama dan untuk menghilangkan rasa penasaran Vena akan ia lakukan setelah ia selesai melakukan tindakannya terhadap Ziya.
" Bagus, sepertinya obat ini bereaksi,," Ucap Axeloe dengan wajah senangnya saat mendengar suara Ziya yang berteriak jelas menyebutkan nama Erwin.
Saat kondisi tubuh Ziya dalam kondisi bergetar hebat dengan tiba-tiba Ziya terbangun dari tidurnya itu dengan posisi duduk dan mata menatap ke depan hingga hal itu membuat Vena sangat terkejut sekali, bisa dilihat bahwa rasa terkejut Vena itu ditunjukkan dengan tindakan tubuhnya yang seketika mundur beberapa langkah ke belakang.
****