
Karena, cairan dari bagian bawah milik Ziya sudah dikeluarkan, Alberto berpikir bahwa rasanya milik Ziya saat ini tidak akan terasa sakit jika dimasukkan adek kecil yang sudah menegang lama, karena, terasa sudah cukup licin untuk segera dimasukkan.
Dengan segera Alberto naik ke atas tubuh Ziya, namun walaupun sudah terasa licin Alberto masih saja memainkannya menggunakan adek kecil miliknya pada bagian surga milik Ziya. Dengan sengaja Alberto mengelus lembut adek kecil miliknya tepat di atas bagian surga milik Ziya, Ziya merasakan sentuhan dedek kecil Alberto itu begitu lembut menyapa miliknya.
" Aaakkkhh,, Alberto, kenapa geli sekali,," Ucap Ziya tersenyum lembut menatap wajah Alberto.
" Geli dan nikmat sayang,, enjoy with me my wife,," Bisik Alberto sambil mencium lembut bibir Ziya.
Alberto masih saja memainkan adek kecilnya itu menyapu lembut kacang kecil bagian bawah tubuh Ziya. Memang Alberto sengaja melakukan itu, supaya Ziya tidak kaget saat bagian inti miliknya itu menerobos masuk ke dalam gawang surga milik Ziya. Sambil tersenyum nakal dan begitu menggoda, Alberto membisikkan sesuatu yang mesra dan lembut pada Ziya.
" Sayang, bolehkah milikku ini masuk ke dalam tubuhmu,," Tanya Alberto lembut di telinga Ziya.
Ziya yang sudah merasakan keindahan buaian lembut dari bagian inti milik Alberto mengangguk akan keinginannya itu.
" Lakukan,, Lakukanlah Alberto,," Jawab Ziya yang sudah tidak bisa lagi menahan sapuan lembut adek kecil yang sengaja bermain-main halus di bagian inti miliknya itu.
Karena, telah mendapatkan respon dari Ziya sendiri, Alberto segera meletakkan kedua tangan Ziya di atas punggungnya dan mulai memeluk lembut kepala Ziya lalu, dengan begitu lembut Alberto mulai memasukkan adek kecil miliknya itu ke dalam gawang surga milik Ziya.
" Aaakkkhh,, Alberto,," Ucap Ziya sedikit memundurkan tubuhnya.
Karena, merasa bahwa tubuh Ziya sedikit mundur, Alberto segera berbisik agar Ziya tidak memundurkan tubuhnya lagi.
" Sedikit lagi sayang,, bantu aku, please,," Ucap Alberto lembut di telinga Ziya.
Mendengar ucapan Alberto terlihat seperti memohon sekali untuk mencapai puncaknya juga itu, dengan lembut tubuh Ziya menerima dorongan bagian inti milik Alberto.
Dengan perlahan demi perlahan Alberto menekan dan menghunus sempurna pedang tajam miliknya itu ke dalam gawang surga milik Ziya yang masih terasa sempit, begitu sempurna keindahan yang dirasakan oleh Ziya saat ini.
" Akkkhhh,," Suara Ziya dan Alberto bersamaan terucap karena tubuh mereka saat ini sudah menyatu dengan bersatunya bagian inti milik mereka berdua.
Alberto yang merasakan bahwa adek kecilnya sudah masuk ke dalam sedikit menggesek-gesekannya untuk mulai memompa tubuh Ziya.
" Aaaakkhhh,, Thank You, Baby,," Suara Alberto mende-sah saat adek kecilnya sudah masuk ke dalam.
" Aaakkkhh,, ya, Al,, ber,, to,," Suara desa-han Ziya yang keluar bersamaan dengan saat masuknya pedang tajam dan penuh kenikmatan ke dalam bagian inti miliknya.
Alberto merasa senang saat Ziya juga merasa tidak sakit akan kelakuannya ini. Dengan lembut Alberto mulai memompa punggungnya dan mendorong-dorong lembut tubuh Ziya. Sehingga mengalun indah irama yang dilakukan oleh punggung Alberto saat ini. Ziya sudah merasa bahwa bagian bawah miliknya itu memberikan sensasi yang begitu indah membawanya terbang ke angkasa. Semakin lembut Alberto memompa punggungnya untuk mendorong tubuh Ziya semakin nikmat juga Ziya merasakannya.
Begitu indah !!
Begitu nikmat !!
Sensasi sentuhan yang dilakukan Alberto pada tubuhnya ini.
Di dalam kamar Alberto yang begitu luas ini, hanya terdengar suara desa-han Ziya dan juga suara desisan dari mulut Ziya. Alberto sangat menyukai keindahan yang terngiang di telinganya itu, Alberto merasakan tidak ada suara yang lebih indah daripada suara Ziya yang sedang mende-sah merasakan kenikmatan di dalam tubuhnya ini.
" Aaaakkhhh,, Alberto,, Aaakkkhh,," Suara Desa-han Ziya semakin lama semakin indah dan semakin serak.
Karena, mendengar suara Ziya yang selalu mende-sah, Alberto dengan segera untuk semakin meningkatkan daya pompa punggungnya untuk mendorong tubuh Ziya. Karena, mendapatkan dorongan yang begitu nikmat dari Alberto suara ******* Ziya pun semakin kuat dan semakin terdengar nikmat oleh Alberto.
" Aaakkkhh,, Alberto,," Suara desa-han Ziya yang terdengar oleh Alberto.
" Terus mende-sah sayang,," Ucap Alberto yang sangat menyukai desa-han Ziya menyebut namanya itu.
" Eeemmm,," Suara Ziya yang terdengar seperti desisan karena, giginya sengaja mengigit bibirnya itu, menahan rasa nikmat yang diberikan oleh Alberto.
" Jangan digigit bibirnya sayang, gigit saja bahuku,," Ucap Alberto sambil memompa tubuh Ziya dan menatap wajah Ziya seakan menikmati permainannya ini.
Karena, mendengar ucapan Alberto yang meminta Ziya untuk tidak menggigit bibirnya tapi menggi-git lembut bagian bahunya, dengan segera Ziya menggi-git lembut dan mengecap bahu Alberto.
Sementara itu tangannya Ziya tidak lagi berada di atas punggung Alberto melainkan membelai lembut punggung itu. Karena, merasa bahwa tangan Ziya membelai lembut punggungnya dan juga bibir Ziya mengecap lembut bahunya, sangat terasa sekali bagi Alberto bahwa Ziya saat ini sudah mulai mengerti akan melakukan hubungan int-im padanya.
" Oooohhhh Baby,, Yes good Baby,, terus belai sayang,," Ucap Alberto yang mendukung tindakan Ziya itu.
" Terus gigit sayang, terus sayang, terusss,," Ucap Alberto begitu senang merasakan kecu-pan dan gigitan lembut Ziya lada tubuhnya itu.
Ziya tidak mengerti akan respon tangannya itu, bagi Ziya saat ini adalah melakukan hal yang lembut pula untuk Alberto. Terlihat Alberto sangat menyukai belaian lembut Ziya, sehingga memacu Alberto untuk semakin sering dan kuat memompa tubuh Ziya.
" Terusss Alberto,," Ucap Ziya yang mulai merasa bahwa saat ini Alberto membawanya terbang ke angkasa.
" Aakkh,, Akkhhh,," Lenguhan suara Ziya tersebar di seluruh ruangan kamarnya ini.
Tidak ada yang bisa mendengar ucapan dan suara yang dikeluarkan oleh mulut Ziya selain Alberto dan juga Ziya sendiri.
Karena, merasa bahwa saat ini Alberto memompa tubuhnya dengan sangat cepat dan teratur akhirnya tangan Ziya tidak bisa lagi membelai lembut punggung Alberto melainkan sudah terlentang ke kiri dan juga ke kanan menarik apapun yang bisa tertarik.
Secepat kilat Alberto menyatukan kedua tangannya dengan tangan Ziya meremas tangan itu memberikan sensasi indah akan sentuhan tangannya, lalu Alberto segera mencium bibir Ziya dengan panas dan penuh gairah, sambil tetap memompa tubuh Ziya dengan sangat cepat, Alberto merasakan saat ini waktu tubuhnya untuk mengeluarkan cairan yang harus keluar dan menyemprotkannya pada bagian rahim tubuh Ziya.
Saat ini Ziya tidak bisa lagi menyeimbangkan tubuhnya atas tubuh Alberto yang begitu kuat saat bermain di malam ini. Ziya melepaskan ciumannya dan terlihat sekali di wajah Ziya bahwa Ziya tidak bisa lagi menahan permainan Alberto. Ziya merasa bahwa tubuhnya lagi-lagi seakan ingin mengeluarkan sesuatu.
Entah kenapa rasanya Ziya ingin buang air kecil di tengah-tengah percintaannya ini.
" Alberto aku ingin pipis,," Ucap Ziya meringis merasa bahwa tubuhnya ingin sekali mengeluarkan sesuatu yang begitu mengganjal pikirannya itu.
Alberto yang mendengarkan ucapan Ziya ingin buang air kecil itu, tersenyum senang, karena, Alberto tahu Ziya bukan berhasrat untuk buang air kecil melainkan sudah sampai ke tahap puncak kenikmatan yang didapatkan dari hasil percintaannya malam ini.
" Keluarkan sayang,, keluarkanlah,, kita keluarkan bersama-sama ya,," Ucap Alberto yang mendominasi Ziya untuk segera menggapai puncak kenikmatannya itu.
Ziya merasa benar saat ini dirinya tidak bisa menahan ganjalan yang ada di dalam hasratnya itu, tidak tahu kenapa, rasa ini begitu mengganjal dan mengganggu pikiran Ziya. Karena, merasa dorongan yang dilakukan oleh punggung Alberto membuat Ziya akhirnya mencapai puncak kenikmatannya itu. Akhirnya cairan yang ingin dikeluarkan oleh Ziya tertumpah sempurna memberikan rasa hangat dan menyiram semua bagian inti milik Alberto yang masih di dalam.
" Aaakkkhh,, Alberto,," Ucap suara Ziya dengan tubuh yang bergetar dan segera memeluk Alberto.
Alberto mengerti bahwa Ziya saat ini sudah mencapai puncak kenikmatannya, sehingga Alberto segera memompa dan mendorong tubuh Ziya dengan kecepatan yang meningkat, membuat tubuh Ziya berguncang hebat terlihat sekali bahwa kedua kaki Ziya terbuka sangat lebar membiarkan tubuh Alberto memompa tubuhnya dengan sangat cepat.
" Aaakkkhh,, sayang izinkan aku menyelesaikannya,," Ucap Alberto sambil memompa tubuh Ziya dengan sangat kencang sekali dan diangguk oleh Ziya.
Ziya tahu bahwa Alberto belum mencapai puncak kenikmatannya, sehingga Ziya juga membantu Alberto untuk segera mencapai puncak kenikmatannya itu. Terlihat dari gerakan Alberto yang begitu cepat memompa tubuh Ziya dan tubuh Ziya juga saat ini berguncang sempurna sehingga bagian dada Ziya bergetar-getar mengikuti alunan tubuh Alberto yang memompanya, dengan segera Alberto menghisap salah satu gunung kembar itu.
" Aakkhhh, Baby,," Ucap Alberto sambil memompa tubuh Ziya.
Tak lama kemudian, Alberto semakin meningkatkan laju pompanya dan terakhir Alberto menekan tubuh Ziya begitu dalam melakukannya lagi, menekannya lagi, akhirnya tercapailah puncak kenikmatan dari tubuh Alberto saat ini.
Alberto merasakan bahwa cairan panas dari dalam tubuhnya sudah keluar, lalu, tertumpah semua dan menyemprot sempurna ke dalam rahim Ziya.
" Aaakkkhh,," Suara desa-han panjang dari Alberto bersamaan dengan keluarnya cairan panas dari tubuhnya itu.
" Thank you baby,," Ucap Alberto dengan tubuh bergetar sambil mengecup lembut puncak kepala Ziya.
" Yaaahhh,," Jawab Ziya mengangguk dan memejamkan kedua matanya.
Ziya terpejam dan menganggukkan kepalanya. Alberto tersenyum menatap wajah Ziya yang berada di bawah tubuhnya saat ini, terlihat ada sedikit air mata yang mengalir di sisi sudut mata Ziya. Alberto merasa bahwa dirinya dahulu sudah menyakiti perasaan Ziya. Alberto segera menyeka air mata Ziya yang mengalir di sudut matanya saat ini.
" Maafkan aku dulu yang pernah menyakitimu,," Ucap Alberto dengan suara lembutnya sambil mencium lembut kedua pelupuk mata Ziya.
Setelah menciumi kedua mata Ziya Alberto memeluk tubuh Ziya dalam keadaan bergetar seperti saat ini.
" Hiks, hiks, hiks,, Alberto,," Suara Ziya terdengar menangis sambil memeluk erat tubuh Alberto.
Ziya menangis di dalam pelukan Alberto, mengingat semua ucapan Alberto terdahulu yang menyatakan dirinya tidak perawan lagi.
" Cup, cup sayang, jangan menangis,," Ucap Alberto yang segera mencium puncak kepala Ziya.
" Maafkan aku telah menghinamu,," Ucap Alberto lagi menyesali perbuatannya itu.
Ziya yang mendengarkan ucapan Alberto minta maaf kepada dirinya itu sedikit mendongakkan kepalanya menatap Alberto. Dan, Alberto yang menatap wajah Ziya segera menyeka air mata Ziya yang begitu banyak tergenang.
" Cup,, jangan menangis lagi, apa kau bersedia memaafkan aku,," Tanya Alberto sambil menyeka air mata Ziya yang mengalir.
" Ya,," Jawab Ziya segera mengangguk.
" Ooohhh, terima kasih,, sayang,," Ucap Alberto segera memeluk kepala Ziya.
Ziya juga memeluk erat tubuh Alberto. Sesaat Ziya meminta sesuatu pada Alberto yang sedari tadi belum diucapkannya.
" Alberto,, aku ingin kau berjanji kau tidak akan lagi mengulangi perbuatanmu itu,," Ucap Ziya di dalam pelukan Alberto.
" Heemm ya sayang, aku berjanji,," Jawab Alberto menganggukkan kepalanya.
Dengan segera Ziya mendongakkan kepalanya menatap dalam wajah Alberto yang juga menatap wajahnya.
" Berjanjilah untuk tidak menyakitiku lagi,," Pinta Ziya menatap dalam wajah Alberto.
" Ya sayang,," Jawab Alberto sambil menyeka lembut air mata Ziya.
" Berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkanku,," Ucap Ziya yang meminta keyakinan dari Alberto.
" Ya sayang, Itu tidak akan aku lakukan,," Ucap Alberto yang meyakinkan Ziya.
" Berjanjilah untuk tidak memisahkan aku dari Demian,," Pinta Ziya tulus menatap wajah Alberto.
" Baik, itu tidak akan aku lakukan,," Ucap Alberto sambil menge-cup lembut kening Ziya.
" Berjanjilah untuk tidak membenciku dalam keadaan apapun yang akan terjadi di antara kita,," Pinta Ziya terakhir sambil memejamkan matanya seakan takut akan jawaban dari Alberto yang tidak sanggup menerima janjinya ini.
Alberto tersenyum senang saat Ziya memintanya berjanji untuk tidak membencinya dalam keadaan apapun. Alberto sengaja belum menjawab pertanyaan Ziya kali ini, karena, Alberto ingin menatap dalam wajah cantik di hadapannya itu. Begitu indah, begitu menarik dan begitu menawan saat Alberto menatap wajah Ziya yang terpejam itu.
" Begitu indah wajahmu sayang, begitu tulus rasa kasihmu pada putraku, begitu baik sifatmu pada diriku yang telah menyakitimu,," Gumam Alberto yang mengagumi dan menatap wajah Ziya begitu dalam.
Ziya merasa bahwa pertanyaannya yang terakhir ini kenapa lama sekali Alberto menjawabnya. Akhirnya Ziya segera membuka matanya dan melihat wajah Alberto yang tersenyum pada dirinya. Dalam seketika Alberto mengecup bibirnya, membuat Ziya terkejut akan tindakan Alberto ini.
CUP !!
Walaupun terkejut akan tindakan Alberto yang telah menciumnya, Ziya cukup diam dan menikmatinya saja, karena, Ziya seakan mengetahui jawaban dari Alberto. Setelah puas mengecup lembut bibir Ziya Alberto segera menjawab pertanyaan Ziya yang terakhir kali Ziya ucapkan.
" Ya, aku berjanji semuanya, demi dirimu yang akan selalu tetap berada di sampingku,," Jawab Alberto yang membuat Ziya merasa senang.
" Aaakkkhh,, terima kasih, Alberto,," Ucap Ziya dengan segera memeluk erat tubuh Alberto.
Begitu juga dengan Alberto merasa bahagia saat tubuhnya yang dipeluk oleh Ziya seperti saat ini begitu erat sekali. Alberto merasakan bahwa tubuh Ziya yang belum memakai sehelai benangpun terasa sangat hangat dan begitu istimewa saat tersentuh dengan tubuhnya yang juga belum memakai baju itu.
Setelah merasa puas memeluk tubuh Alberto, Ziya mulai perlahan demi perlahan mengendurkan pelukannya itu dan segera menatap wajah tampan Alberto ini. Rasanya saat ini Ziya tidak bisa lagi mengelak akan perasaan yang telah dirasakannya itu bahwa dengan kejujuran hatinya, Ziya mengakui bahwa dirinya mencintai laki-laki yang berada di hadapannya ini yaitu Alberto Alexandre.
****